Minggu, 18 Februari 2018

Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara

KH Mohammad Najib, biasa dipanggil Gus Najib, adalah sosok yang membanggakan keluarga dan daerahnya, Banjarnegara. Ia dikenal masyarakat tidak hanya sebagai kiai, akan tetapi juga sebagai politisi, pebisnis, dan seniman. 

Ia tegas, keras, penyayang, dermawan. Ia pemimpin dan pengayom masyarakat kalangan bawah. Ia membawa kesan tersendiri di hati para sahabat, keluarga, dan masyarakat Banjarnegara. 

KH Abdul Fatah, kakek buyutnya, adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Fatah Banjarnegara (1860-1941), yang dilanjutkan oleh kakeknya, KH Hasan Fatah (1941-1991). Gus Najib sendiri memimpin Pesanten Al-Fatah (2013-2018), meneruskan kiprah ayahndanya KH Hasyim Hasan Fatah  yang memimpin pesantren sejak 1990-2013.

Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara

Gus Najib menempuh pendidikan di RA dan MI Al-Fatah hingga kelas dua. Kelas tiga sampai empat di Al-Irsyad Purwokerto, lalu pindah ke SD Cokro Banjarnegara kelas lima sampai enam. 

Jenjang menengah pertama di SMP 2 Banjarnegara, dan jenjang menengah atas di SMA 1 Banjarnegara. Kelas dua pindah ke SMA Jember dan mulai mondok. Kelas tiga SMA ia pindah ke Pakistan. Ia kuliah di STIE Banjarnegara semester dan pindah ke UNWIKU Purwokerto sejak semester 2. 

Semasa muda ia belajar ilmu hikmah kepada KH Hamzah yang sekaligus kakek dan menantu dari KH Abdul Fatah dari putri pertamanya, Hj Umu Kultsum. Ia menuntut ilmu kajian kitab Sulam at-Taufiq, al-Taqrib, Daqoiq al-Akhbar, al-Usfurriyah, Qothru al-Ghois sampai Tafsir Jalalain pada KH Ahmad Dailimi. 

Dalam perjalananya menuntut ilmu, ia juga berguru kepada paman dari ibunya, di Lasem. KH Ahmadi adalah guru ilmu tata bahasa arab, ilmu Nahwu. Kemudian kepada Kiai Muhammad Azizi yang juga pamannya, dirinya belajar shorof dan Nashoih al- Ibad. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Najib juga belajar banyak dari seorang kiai dari Yogyakarta. KH Ali Maksum, Krapyak adalah salah seorang guru ia dalam belajar shorof selama 5 hari. Ketika mengaji di Jember, Gus Najib menuntut ilmu kepada KH Ahmad Shiddiq. Ia mengaji kitab tasawuf Riyadh as-Sholihin, Al-Siyasah as-Sariyah. 





PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam tata bahasa Arab, ia juga belajar kepada KH Durmuji Ibrahim, Lirap, Kebumen, di Pondok Pesantren Nahwu-Shorof; dan kepada KH Ahmad Abdul Haq, Watu Congol Magelang, di mana ia belajar mondok Ramadhan sewaktu kecil. 

Setelah ayahnya meninggal, ia meneruskan perjuangan untuk mengurus dan membimbing jamaah sebagai Mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah. Dalam pengetahuan ilmu tauhid, ia juga belajar kepada Syeikh Masud, Kawunganten, Cilacap. Tentang ilmu tauhid, kitab Al-Dasuqy Ummul Al-Baroghin. 

KH M Najib pernah belajar kepada Maulana Arsyad Ubaid, Maulana Abdurruhman, dan Maulana Musa di Jam’iyah Al-Asrofiyah Lahore, Pakistan. Ia mengaji ilmu hadist dan ilmu mantiq. Di Lahore pula, Gus Najib belajar Al-Quran kepada Qori Syarif. 

KH Hamid Baidhowi dan KH Mujtahidi adalah dua guru mengaji Al-Luma lil Imam As-Syairozi, Usul Fiqih. Kepada Abuya Dimyathi, Banten, Gus Najib belajar Ihya Ulum ad-ddin, Awarifu al-Maarif, kitab Syamsiyyah, Tafsir Al-Baidhowi, Tafsir Khozin, Shohih Muslim, Bukhori, Ibnu Majah, Al-Ithqon Fi Ulumil Quran, Manaru al-Huda, al-Asyr Fi Qiroat al- Asyr, al-taisir(Qiroah Sabah), kitab Bahjah, kitab Jabrul Kasar, Mafakhir al- Aliyyah, Al-Mushtashfa, Ushul Fiqh. 

*

Gus Najib adalah sosok yang gemar berorganisasi. Pada tahun 1984 - 1986, ia menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988 Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988, ia masuk dalam kepengurusan DPP II KNPI Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1996-1998, menjabat sebagai Sekjen DPC PPP Kabupaten Banjarnegara. 

Jabatan lainnya tahun 1999 sebagai Ketua DKC Garda Bangsa Banjarnegara. Pada tahun 1999-2012, ia masuk sebagai perwakilan rakyat di DPRD Kabupaten Banjarnegara. Tahun 2002-2012, ia Ketua DPC PKB Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 2012-2017, sebagai Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah.  

Kiai Najib yang kokoh dengan metode pendekatan pendidikan salaf, yaitu identik dengan penyampaian ceplas-ceplos (blak-blakan) untuk pendidikan akidah. Pendekatan pendidikan yang ia terapkan dan sampaikan cenderung apa adanya. Hal ini dinilai baik dari sisi pendidikan karakter, sehingga akar kesantrian juga akidah akan kokoh dan tertanam sampai murid usai belajar di pesantren.

Pendekatan pembelajaran tersebut jika diangkat dalam suatu penelitian maka akan terlihat sedikit keras, tapi justru menanamkan karakter yang baik bagi santri, apalagi saat di bangku kuliah nanti yang berbagai macam pelajaran didapat, khususnya studi keagamaan (keislaman). 

Ia sering memberikan nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau kelak kalian pulang dari pesantren, walaupun kalian alim, jangan sekali-kali ingin dihormati. Dan hormatilah orang-orang yang sudah memperjuangkan agama terlebih dahulu di desamu.”

Sosok yang disegani itu telah wafat dengan tenang pada usia 51 tahun, Selasa (2/1) pukul 17.00 WIB di rumah duka Jl S Parman, Km 3, Komplek Pesantren Al-Fatah, Parakancanggah, Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Sekitar dua minggu sebelum wafat ia berpesan kepada pengurus pondok, “Hormatilah dan muliakanlah gurumu. Kelak hidupmu akan mulia. Contohlah seperti Mbah KH Hasyim As’ary. Akan tetapi, selain memuliakan, kalian juga harus pintar.”

Selain itu pesan Gus Najid pada saat yang sama adalah, ”Kalian juga harus memuliakan tamu dengan cara bertanya dan menjamu seperti yang dilakukan Mbah dan Abah dulu. Insyaallah anak turun kalian tidak akan kekurangan makanan.”

Gus Najib meninggalkan istri Ny Nur Laely Hikmawati dan tiga putra yaitu Tamlikho Tajun Nuhudh, Maksal Mina Fathun Nuhudh dan Syakira Zahiyatal Anjumi.

Tak berlebihan rasanya bahwa kelak semua orang tetap akan mengenang dirinya, perjuangannya, dan pengabdianya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

4 Kunci Surga Kaum Hawa

Perempuan dalam Islam memiliki posisi yang sangat tersanjung. Bahkan dalam bentangan sejarah yang ada, Islam dapat dikatakan sebagai agama pertama yang memiliki visi penghormatan terhadap perempuan.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab Jahiliyah seringkali merasa malu bila melahirkan anak perempuan sehingga tidak segan membunuh dan menguburkannya hidup-hidup. Begitu pula masyarakat Bani Israel berusaha mengalieminasi perempuan dari keluarga dan rumahnya ketika mereka dalam keadaan haidh. Namun tidak demikian dengan Islam yang mempunyai visi perempuan dengan semoyan “la yukrimuhunna illa karimun, wa la ahanahunna illa kahinun” hanya orang mulia yang memuliakan perempuan, dan hanya orang hina yang menghinakan perempuan.

Demikian posisi perempuan dalam Islam sehingga Rasulullah saw merasa penting mengaprsiasinya dengan empat hal yang memudahkan perempuan menikmati surga:

4 Kunci Surga Kaum Hawa (Sumber Gambar : Nu Online)
4 Kunci Surga Kaum Hawa (Sumber Gambar : Nu Online)

4 Kunci Surga Kaum Hawa

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila seorang perempuan melakukan shalat fardhunya yang lima dan berpuasa selama bulan Ramadhan dan menjaga kehormatannya juga ta’at kepada suaminya, maka dikatkanlah kepadanya masuklah ke dalam surga melalui pintu yang engkau mau .(red.Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tiga Pendekatan Menilai Fenomena HTI

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Wakil Ketua Umum Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat Arif Fachruddin menyatakan, ada tiga pendekatan yang seharusnya digunakan dalam menyoroti fenomena HTI. Pertama, pendekatan keagamaan (diniyyah).?

Tiga Pendekatan Menilai Fenomena HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pendekatan Menilai Fenomena HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pendekatan Menilai Fenomena HTI

Menurut dia, konsep khilafah adalah bersifat opsional (bukan keharusan), bukan sesuatu yang pasti ditetapkan dalam ajaran Islam.?

“Namun pemimpin mereka mempropagandakan ide khilafah sebagai sesuatu yang qath’i,” kata Arif saat menjadi narasumber dalam acara seminar nasional dengan tema Penerapan Konsep Khilafah Bertentangan dengan Maqashid Syariah di Bumi Pancasila dan NKRI di Hotel Gren Alia Jakarta, Selasa (16/5) sore.

Baginya, kalau seandainya sistem khilafah diterapkan di Indonesia, maka Indonesia akan mengalami kemunduran. “Kalau sistem khilafah harus diterapakan, berapa abad kita harus mundur?” tegasnya.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kedua, pendekatan kebangsaan (wathoniyah). Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Ma’arif NU itu berpendapat, umat Islam di Indonesia sudah terikat perjanjian suci dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau seandainya ide khilafah diterapkan, maka umat Islam akan mengingkari konsensus tersebut.?

“Umat Islam terikat dengan komitmennya. Indonesia adalah darul ahdi wa syahadah. Rumah perjanjian suci dan rumah persaksian untuk mengisinya dengan nilai-nilai yang baik.” ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Terakhir, pendekatan hukum formal (qonuniyah). Menurutnya, keberadaan HTI terdaftar Kemen Polhukam sebagai ormas, namun pada dasarnya HTI adalah sebuah partai politik.?

Meski demikian, pemerintah memiliki hak untuk membubarkannya apabila ormas tersebut dinilai meresahkan dan merongrong keutuhan NKRI. Namun, pembubarannya harus sesuai dengan koridor hukum yang ada. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Undang Sesepuh, Lakpesdam PBNU Gelar Raker Rumuskan Program

Bogor,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU menghelat penyusunan Renstra (Rencana Strategis) dan Raker (Rapat Kerja) kepengurusan periode 2015-2020 di Hotel Lor In, Bogor, Jawa Barat. Raker di area sirkuit Sentul ini berlangsung mulai 13 sampai 15 November 2015.

Pada pembukaan acara, Ketua Lakpesdam PBNU Dr. Rumadi Ahmad menekankan bahwa Lakpesdam perlu merumuskan rencana program selama lima tahun ke depan dengan penuh kesungguhan dan sesuai dengan peran yang telah dicantumkan PBNU.

Undang Sesepuh, Lakpesdam PBNU Gelar Raker Rumuskan Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Undang Sesepuh, Lakpesdam PBNU Gelar Raker Rumuskan Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Undang Sesepuh, Lakpesdam PBNU Gelar Raker Rumuskan Program

Sesi pembukaan acara juga dihadiri oleh para sesepuh dan mantan ketua Lakpesdam dari beberapa periode. Ini digunakan untuk menyerap masukan, pengalaman, dan cerita plus ‘klangenan’ lintas generasi. Hadir diantaranya KH Abdullah Syarwani, Kiai Helmi Ali, MM.Billah, H.Yahya Ma’shum dan Ulil Abshar-Abdalla.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wejangan para sesepuh yang diselingi canda dan saling lempar sindiran inspiratif itu menghasilkan kesimpulan bahwa Lakpesdam perlu tetap mempertahankan sikap kritis, baik itu kepada kondisi sosial politik di luar (eksternal), maupun kritis terhadap internal lakpesdam itu sendiri, terlebih kepada PBNU.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu, perlu mengingat peran Lakpesdam pada awal kelahirannnya sebagai bagian yang dirumuskan dari ikhtiar khittah NU 1926 setelah muktamar pada tahun 1984 di Situbondo. Dari situlah, Lakpesdam kemudian dilahirkan sebagai respon terhadap pentingnya kebutuhan lembaga yang membidani lahirnya generasi-generasi yang unggul secara intelektual dan moral, atau dalam seloroh MM Billah, tangguh, tanggap dan tanggon.

Usai dialog lintas generasi, forum yang difasilitasi Muntajid Billah berlanjut dengan membuat Renstra Lakpesdam NU 2015-20120, mulai dengan pendalaman identitas lakpesdam dan capaian-capaian yang eksisting, serta bicara peluang dan tantangan.

Hingga esok hari, Raker kali ini diharapkan menyelesaikan analisa stakeholders, merumuskan visi dan misi, memilih strategi, program prioritas hingga membincang peran dan struktur kelembagaan. (Saduddin Sabilurrasad/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Anti Hoax PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Subang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar mengatakan, sudah saatnya kader GP Ansor bangkit dari segala keterpurukan.

"Ketika hari ini orang lain menilai bahwa kemiskinan itu sebuah isu, saya tegaskan bahwa kemiskinan itu sudah nyata," ujar Deni saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Subang di Pondok Pesantren Al-Istiqamah, Kebondanas, Pusakajaya, Subang, Selasa (29/11).

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Dikatakan, sebagai organisasi kaderisasi, GP Ansor harusnya tampil untuk memberikan pembinaan dan pemberdayaan bagi para anggotanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Salah satunya dengan penguatan kapasitas dan revitalisasi pemberdayaan kader. Jika itu dijalankan, niscaya GP Ansor menjelma sebagai organisasi yang besar," katanya.

Dengan penguatan kapasitas tersebut, lanjut Deni, hendaknya bisa memanfaatkan potensi dan peluang yang ada sehingga kader Ansor tidak kesulitan lagi dalam mengembangkan kreativitasnya itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Terlebih, kader-kader Ansor sebetulnya memiliki skill individu yang bisa dikembangkan menjadi sebuah hasil karya yang baik. Tentu didorong dengan semangat yang tinggi," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, AlaSantri, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pembentukan Pagar Nusa di Empat Daerah Diharapkan Jadi Prioritas

Semarang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, ada empat daerah yang belum ada kepengurusan cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa. Empat daerah tersebut adalah Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Purbalingga.

Pembentukan Pagar Nusa di Empat Daerah Diharapkan Jadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembentukan Pagar Nusa di Empat Daerah Diharapkan Jadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembentukan Pagar Nusa di Empat Daerah Diharapkan Jadi Prioritas

Hal itu dilaporkan oleh Ketua Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa Jateng periode 2009-2014 H Sulatin dalam Konferwil II PSNU Pagar Nusa Jateng di Pondok Pesantren Azzuhri, Ketileng, Semarang, Kamis (14/5) lalu.

Ia mengakui hal itu sebagai utang kepengurusan yang dia pimpin. Karena itu Sulatin mengharap pengurus baru periode 2015-2020 yang terbentuk memprioritaskan pembentukan pimpincan cabang di empat daerah tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Empat daerah yang belum ada kepengurusan Pagar Nusa itu justru basis NU. Pengurus baru nanti perlu memprioritaskan hal itu segera,” tuturnya saat membuka sidang.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dia menerangkan, belum adanya kepengurusan di empat daerah tersebut bukan karena tidak ada pendekar Pagar Nusa. Tetapi karena pengurus lama sudah tidak aktif karena faktor usia tua dan ada yang telah meninggal dunia, tetapi belum ada penggantinya.

Karena itulah ia mengharap Pengurus Cabang NU (PCNU) di empat daerah tersebut membantu memfasilitasi pembentukan Pimpinan Cabang PSNU Pagar Nusa.

Adem Ayem

Sementara itu Konferensi Wilayah II Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Tengah berlangsung adem-ayem saja. Tak ada kasak-kusuk pencalonan. Tak ada gerakan melobi peserta konferensi untuk mencari dukungan.

Konferensi yang berlangsug di Pondok Pesantren Azzuhri, Ketileng, Semarang, Kamis-Jumat (14-15/5) lalu menetapkan Heru Harun Supriyanto secara aklamasi Sebagai pemimpin Pagar Nusa Jateng yang baru untuk periode 2015-2020. (Muhammad Ichwan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Khutbah, Kajian Islam, Tegal PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 17 Februari 2018

Hanya Cabang Terakreditasi Punya Hak Suara

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor sebentar lagi akan menggelar Konres ke-XV di Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, pada 25-26 November mendatang. Menurut tata kelola organisasi, tidak semua cabang yang mempunyai hak suara dalam kongres tersebut.

Hanya Cabang Terakreditasi Punya Hak Suara (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya Cabang Terakreditasi Punya Hak Suara (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya Cabang Terakreditasi Punya Hak Suara

Menurut Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor M. Aqil Irham, salah satu badan otonom NU tersebut menerapkan hal itu karena ingin memperkuat organisasi melalui sistem pengkaderan yang mapan terstruktur dan sistematik.

“Kita enggak ingin organisasi kita hanya sekadar papan nama, hanya ikut kongres, atau munas,” katanya ketika diwawancarai di PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Cabang yang punya hak suara, adalah mereka yang telah lolos akreditasi. Ada lima item yang mencerminkan 3 visi besar GAnsor, yaitu revitalisasi nilai-nilai Islam Ahlussunah wal Jamaah, memerpkuat sistem kaderasai, dan memberdayakan potensi anggota.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketiga item itu, kata dia, diperinci dalam lima item yang jadi variabel akreditasi. Pertama, implementasi visi pertama dengan item majelis dzikir dan shalawat Rijalul Ansor. Kedua, konsolidasi organiaasi penguatan struktur dari tingkat pusat sampai ranting dengan variabel keaktifan organisasi bagi Pimpinan Wilayah adalah Pimpinan Cabang, bagi PC adalah Pimpinan Aanak Cabang.

Ketiga, kaderisasi. Keempat, amal usaha produktif yaitu setiap wilayah dan cabang harus memiliki satu unit usaha dan lembaga kursus pelathan. Kelima penguatan Banser.

“Nanti diberi skor. Bukan sekadar lulus. Kita sudah 3 kali pra kongres, mengumukan hasil akreditasi. Ada A, B, C, D, yang C dan C plus. Hal itu disepakati pada Konbes 2012 di Jakarta, di Pondok Pesantren Al-Hamid. Sampai hari ini diperkirakan 370 yang punya hak suara,” terang dia.

Mengingat keaktifan Ansor tidak seragam, Pimpinan Pusat menetapkan 3 kelas akreditasi. Kelas A meliputi Jawa dan Lampung, kelas B, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, sementara kelas C meliputi Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua. Mmasing-masing kelas memiliki tingkat akreditasi berbeda. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Internasional, Ubudiyah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah