Rabu, 17 Januari 2018

Merumuskan Gus Dur Muda

Gagasan dan pemikiran Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid yang dituangkan dalam bentuk tulisan sejak tahun 1970-an tak habis digali. Pemikirannya masih tetap relevan hingga sekarang. Tak heran, beraragam buku dengan berbagai pendekatan telah terbit. Beragam diskusi dan seminar tak habis-habis digulirkan.

Sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan dan melanjutkan gagasan kiai yang biasa disapa Gus Dur, salah seorang santrinya di Pondok Pesantren Ciganjur Jakarta, Syaiful Arif, merumuskan kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur”. Kursus tersebut menggali detail-detail gagasan Gus Dur.  

Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Merumuskan Gus Dur Muda

Dalam kursus tersebut, lebih menekankan gagasan Gus Dur saat muda. Syaiful Arif menyebutnya Gus Dur Muda, yaitu antara 1970 hingga 1999 (ketika Gus Dur jadi Presiden RI keempat). Dalam istilah lain disebut Gus Dur teoritis.  

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kursus pemikiran Gus Dur Abdullah Alawi dari PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mewawancarai anaka muda kelahiran Kudus, Jawa tengah, 1981. Syaiful Arif termasuk anak muda NU yang cukup produktif dalam menulis buku. Berikut petikan wawancaranya. 

Asal mula muncul ide kursus pemikiran Gus Dur?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Dur kan sudah wafat, kalau tidak diterusin pemikirannya kan sayang. Selama ini kan gerakan-gerakan Gus Durian itu hanya menenmpatkan Gus Dur sebagai pribadi, bukan sebagai pemikiran.

Kenapa bisa berkesimpulan seperti itu?

Karena di dalam gerakan gerakan Gus Durian selama ini, penggalian pemikiran itu kayaknya kurang belum maksimal. Menempatkan Gus Dur sebagai pribadi, ya bagus, karena memang Gus Dur pribadi. Artinya, yang kita diskusikan, kita ingat, yang ingin kita teruskan itu kan perjuangannya sebagai pribadi. Tapi kan di dalam pribadi Gus Dur itu, ada Gus Dur praktis, ada Gus Dur teoritis.

Gus Dur praktis itu, Gus Dur di dalam praktik politik dan praktik perjuangannya, baik di PKB, di negara, maupun di NU. Nah, tetapi praktik Gus Dur, praktik perjuangannya dilandasi oleh Gus Dur yang teoritis. Artinya dilandasi oleh pemikiran. Nah, saya lihat selama ini, -ya ini mungkin pembagian wilayah kerja aja ya, teman-teman yang memang masuk di dalam praktik Gus Dur, saya memilih di ruang-ruang teoritisnya. Itu yang pertama. 

Yang kedua, jelas sekali selama ini kan Gus Dur itu pemikir. Kalau tidak kita tidak dijaga pemikirannya melalui diskusi-diskusi yang intens, ya warisan itu akan jadi warisan “berdebu” di dalam buku-bukunya yang mungkin hanya sekilas sekali ditengok dan dibaca. Padahal kan kalau pemikiran terhenti pada teks, dia hanya terhenti pada teks. Bukan menjadi pemikiran. Menjadi pemikiran itu kan ketika diperbincangkan. Dari perbincangan itu bisa kemudian ditindaklanjuti, bisa dikritisi, bisa menjadi inspirasi. Jadi, aku kebetulan pernah nyantri dengan beliau, ya merasa beban moral. Makanya kemudian yang kupilih kan kursus. Kursus ini kan artinya satu langkah menuju, kita bedakan antara diskusi dengan kursus ya. Diskusi kan tidak ada silabus, hanya sekadar berbagi informasi. Tapi kalau kursus itu ada silabus, dan metodenya juga metode klasikal. Artinya di situ tidak hanya ada pembicara, tetapi ada tutor, pengajar. 

Nah, kalau seseorang sudah memastikan diri sudah siap untuk menjadi pengajar atau tutor di dalam kursus itu kan dia punya konsekuensi kan, ya dia harus menguasai betul, detail dari pemikiran Gus Dur karena kan sebelum kursus ini aku menawarkan sama teman-teman Gus Durian ya.

Metode kursus kan mengkelaskan Gus Dur karena selama ini kan pemikiran Gus Dur hanya terserak-serak, bercerai-berai di opini di koran. Kemudian aku memiliah Gus Dur muda dan Gus Dur tua. 

Bagiamana penjelasannya?

Gus Dur muda itu Gus Dur dari tahun 1970 sampai pertengahan 90. Gus Dur tua itu Gus Dur sejak menjadi presiden sampai wafat. Nah, Gus Dur muda, yaitu Gus Dur yang pemikirannya layak menjadi diskursus intelektual karena tulisan-tulisannya tidak hanya dalam bentuk opini di koran, tapi di makalah-makalah panjang. Baik dalam jurnal seperti Prisma, jurnal Pesantren, maupun makalah-makalah seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Nah, dengan tulisan-tulisan panjang itu kan kita bisa merumuskan pemikiran Gus Dur sebagai wacana intelektual dan materi-materi akademis. Nah, kursus pemikiran Gus Dur itu masuk di ruang itu. Jadi, menempatkan Gus Dur dalam wacana intelektual dan khususnya materi-materi akademis. 

Kenapa disebut kursus?

Karena kan ya memang sampai saat ini belum ada kurikulum pemikiran Gus Dur. Karena itu aku kemudian merumuskan materi, silabus pemikiran Gus Dur yang aku harapkan sistematis dan menjadi satu langkah menuju yang akademis, atau akademisasi Gus Dur. 

Sementara Gus Dur tua itu kan sejak menjadi presiden sampai lengser, itu kan Gus Dur yang tulisan-tulisannya hanya dipercikkan di koran. Gus Dur yang sudah sepuh itu, ya Gus Dur yang sudah  praktis. Tulisan-tulisan di koran adalah refleksi dari peristiwa-peristiwa aktual atau penggalian kembali memori pemikiran yang masih ada dalam endapan di pemikiran beliau. Selama ini banyak orang menempatkan Gus Dur hanya di dalam Gus Dur di era tua. Mereka tidak masuk di dalam pemikiran Gus Dur di era muda. 

Gus Dur muda? 

Itu terkait materi. Gus Dur muda itu Gus Dur yang terinspirasi dari teologi pembabasan Amerika Latin. Dari situ Gus Dur kemudian mengolah tradisi Islam, khusunya tradisi Islam pesantren dan NU, untuk menghadapi developmentalisme Orde Baru . Gus Dur muda itu kan Gus Dur era Orde Baru. Dalam era Orde Baru itu, Gus Dur yang masih muda, merumuskan tradisi; mengolah tradisi intelektual Islam tradisional pesantren dan NU dalam wacana-wacana teologi pembebasan untuk menghadapi developmentalisme dan modernisasi. Jadi, kalau developmentalisme itu kan wacana ekonomi politik, kalau modernisasi kan wacana kebudayaan. Nah, Gus Dur mencoba mengolah tradisi-tradisi Islam pesantren dan NU untuk menanggapi modenisasi dan developmentalisme.

Nah, salah satu hasil prodak pemikirannya seperti Islam sebagai etika sosial. Islam sebagai etika sosial itu kan jarang dilihat banyak orang karena selama ini orang melihat pemikiran Islam Gus Dur itu kan hanya dua, pribumisasi Islam dan pluralisme agama. Padahal ketika aku telusuri di dalam teks-teks Gus Dur muda itu ada dua pemikiran lain yang selama ini belum dibaca orang. Yang pertama, Islam sebagai etika sosial dan kedua, negara kesejahteraan Islam.

Bagaimana penjelasannya kedua-duanya? 

Nah, itu kemudian aku jadikan materi ya. Islam sebagai etika sosial. Di kursus itu kan, pemikiran Islam Gus Dur; kalau kita pinjam istilah Marx, ya itu kan basis struktur, ada struktur ada suprastruktur. Ada lantai, ada tiang, ada dinding ada langit-langit, ada atap. Nah, pribumisasi Islam itu, lantai dari pemikiran Gus Dur karena ia mempertemukan Islam dan budaya. Nah, budaya itu kemudian menjadi landasan dari masyarakat dan landasan dari negara. Nah, prbumisasi Islam sebagai basis struktur dari pemikiran Islam Gus Dur itu kemudian menopang struktur pemikiran Islam Gus Dur, yakni Islam sebagai etika sosial. Kenapa? Karena Islam sebagai etika sosial adalah pemikiran Islam Gus Dur yang menempatkan Islam sebagai etika masyarakat; akhlak sosial. Jadi Gus Dur itu selalu memaknai akhlak sebagai etika sosial. Beliau tidak pernah menafsiri di luar konteks itu, umpamanya akhlak adalah pribadi. Itu nggak pernah, beliau. Jadi, akhlak itu pasti dalam kurung etika sosial.

Etika sosial itu bagaiamana?

Etika sosial itu sederhana, Gus Dur mencoba menggali kemudian merumuskkan prinsip-prinsip etis kehiidupan sosial. Prinsip-prinsip etis kehidupan sosial itu sebenarnya letakanya di dalam kewajiban masyarakat untuk menciptakan sturktur masyarakat yang berkeadilan. Struktur masyarakat yang berkeadilan itu merupakan wujud wujud etis masyarakat yang didukung oleh prinsip-prinsip keislaman. Gus Dur menarik dalam hal ini. Beliau punya gagasan tentang rukun sosial. Di Islam itu kan ada rukan Islam ada rukun iman. Rukun iman itu teologis, rukun Islam itu, katakanlah amal ya dari iman. Kata Gus Dur di dalam rukun Islam itu ada dimensi sosial ada zakat, ada haji ada shalat (ketika berjamaah). 

Artinya, amal-amal ritual itu sebenarnya bersifat sosial. Artinya memiliki keberpihakan terhadap pensejahteraan masyarakat. Namun sayangnya, banyak sekali umat Islam yang hanya memahaminya dalam kerangka ritual individual. Akhirnya, rukun sosial itu tidak ada dampak sosialnya. Nah, Gus Dur menggagas kita perlu sebuah rukun sosial, atau rukun tetangga, kata Gus Dur. Rukun sosial itu menjembatani antara rukun Islam dengan rukun iman. Artinya, kita harus menjadikan kepedulian sosial itu sebagai bagian dari rukun Islam dan rukun iman, menjadi bagian dari teologi. 

Jadi, Gus Dur menggagas teologi sosial. Nah, ini Islam sebagai etika sosial. Ini struktur. Struktur sosial dari basis yang ditopang pribumisasi Islam. Kenapa? Karena, tanpa pribumisasi Islam, Islam tidak akan menjadi etika sosial. Kenapa? Karena pribumisasi Islam-lah yang kemudian meleraikan ketegangan antara Islam dan budaya. Nah, ketidakmampuan meleraikan Islam dan budaya akan menyebabakan islamisasi budaya atau purifikasi budaya lokal yang kemudian menjadi trade mark dari gerakan-gerakan Arabis. Nah, gerakan-gerakan Arabis itu, kata Gus Dur, terjebak di dalam perjuangan Islam yang simbolik. Kenapa? Karena tujuan mereka hanya menerapkan simbol-simbol Islam di dalam budaya lokal. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, Sholawat PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Idul Fitri dan Halahbihalal

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya istri Nabi, Aisyah, mengenai doa apa yang mesti dibaca saat Lailatul Qadar, Nabi Menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”. Doa ini dalam bahasa Indonesia kira-kira, “Ya Allah, ya Tuhanku; sungguh Engakau Maha Pengampun, suka mengampuni, maka ampunilah aku.”

Maha pengampun-Nya Allah dan kesukaan-Nya mengampuni tidak hanya tercermin dalam asma-asma-Nya seperti Al-Ghafuur, al-Ghaffaar, dan Al-‘Afwu, tetapi juga dapat diketahui melalui banyak firman-Nya di al Quran dan sabda Rasul-nya dalam hadis-hadis-Nya.

Idul Fitri dan Halahbihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Idul Fitri dan Halahbihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Idul Fitri dan Halahbihalal

Salah satu firman-Nya bahkan menyeru hamba-hamba-Nya yang berdosa agar tidak berputus harapan akan pengampunan-Nya dan menegaskan bahwa Dia mengampuni dosa-dosa, semuanya (Q39:53).

Bahkan sedemikian sukanya Allah mengampuni sehingga Rasul-Nya dalam bahasa sahih bersumber dari sahabat Abu Hurairah dan riwayat imam Muslim-bersumpah bahwa seandainya “kalian semua tidak ada yang berdoa, Allah SWT akan menghilangkan kalian dan menggantinya dengan kaum yang berdosa yang memohon ampun kepada Allah lalu Ia pun mengampuni mereka”.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Maka, kita melihat “lembaga pengampunan” Allah yang dapat menghapuskan dosa, begitu banyak. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan banyak amalan sebagai penghapus dosa, mulai dari istighfar, shalat, puasa, hingga berbuat baik lainnya, semuanya dapat menghapus dosa. Ini sangat kontras dengan perangai “khalifah”nya di bumi yang namanya manusia ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Manusia-setidaknya kebanyakan mereka-dari satu sisi suka berbuat kesalahan, dan disisi lain gampang tersinggung dan sangat sulit memaafkan kesalahan.

Bahkan, dalam banyak diantara mereka yang merasa “dekat” dengan Tuhan pun tidak tampak lebih pemaaf daripada yang lain. Malah sering kali justru lebih terlihat sempit dada dan tengik.

Yang aneh, terhadap Allah yang begitu baik dan Maha Pengampun, kita ini begitu hati-hati. Namun kepada sesama manusia yang tersinggung dan begitu sulit memaafkan, kita malah sering sembrono, padahal, dibandingkan dengan dosa yang langsung berhubungan dengan Allah, kesalahan terhadap sesama manusia jauh lebih sulit menghapusnya. Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mengetahui kesalahan kepada saudaranya sesama manusia sebelum saudaranya itu memaafkan.

Makna halalbihalal

Ada sebuah hadis sahih yang sungguh membuat mukmin yang sehat pikirannya akan merasa khawatir merenungkannya. Yaitu hadis sahih-dari sahabat Abu Hurairah yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim-tentang betapa tragisnya orang yang saat datang di hari kiamat membawa seabrek (pahala) amal, seperti shalat puasa, dan zakat, sementara ketika hidup di dunia banyak berbuat kejahatan kepada sesama.?

Digambarkan, nanti orang yang pernah dicacinya, orang yang pernah difitnahnya, yang pernah dimakan hartanya, yang pernah dilukainya, dan pernah dipukulnya akan beramai-ramai menggerogoti (pahala) amalnya yang banyak itu.

Bahkan apabila (pahala) amalnya itu sudah habis dan masih ada orang yang pernah dizalimi dan belum terlunasi dosa orang ini pun akan ditimpukkan kepadanya sebelum akhirnya dia dilempar ke neraka. Orang yang malang ini disebut Rasulullah sebagai orang yang bangkrut yang sebenarnya.?

Lihatlah orang yang bangkrut itu disebutkan membawa seabrek (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Berarti dari sisi ini, dia adalah orang yang taat beribadah. Namun, karena perangainya yang buruk terhadap sesama, justru hasil ibadahnya itu sirna.?

Maka, bagi kaum beriman, berhati-hati dalam pergaulan itu sangat penting. Kaum beriman tidak hanya mengandalkan amal ibadahnya tanpa menjaga akhlak pergaulannya dengan sesama. Apalagi, karena bangga terhadap amal ibadahnya, lalu merendahkan dan menyepelekan sesamanya. Na’idzubillah min dzaalik.

Masih ada satu hadis sahih lagi yang senada dengan hadis di atas yang menganjurkan kita segera meminta halal dari orang yang pernah kita zalimi (falyatahallalhu minhu), apakah itu berkenan dengan kehormatannya atau yang lain.

Saya pikir, bertolak dari sinilah bermula istilah halal bihalal (menulisnya tidak dipisah-pisah). Anjuran Nabi untuk meminta halal dari saudara kita yang penah kita zalimi tentunya berlaku juga bagi saudara kita.

Seperti kita ketahui, kata kita ini assembling dari bahasa Arab. Asalnya halaal-bi-halaal (dalam kamus Arab sendiri, tidak ditemukan entri halaal-bi-halaal ini). Jadi, ini murni rakitan bangsa Indonesia. Semua mempunya makna harfiah halal dengan halal, kemudian menjadi saling menghalalkan.?

Begitulah tradisi silaturahmi (Arabnya silaturrahim) di hari raya Idul Fitri pun diisi dengan acara halalbihalal. Saling menghalalkan alias saling memaafkan. Halalbihalal-lah terutama mendorong orang bersemangat melakukan silaturrahim di hari raya Idul Fitri. Sampai-sampai kemudian melahirkan tradisi lain yang kita sebut mudik.

Kalau tujuannya saling memaafkan, mengapa halalbihalal ini (hanya) dilakukan di hari raya Idul Fitri atau di bulan Syawal, tidak setiap saat.

Boleh jadi ini ada kaitannya dengan “watak” bangsa kita yang sulit mengaku salah dan sulit memaafkan. Jadi, diperlukan timing yang tepat untuk saling meminta dan memberi maaf. Lalu kapan itu? Nah, tidak ada saat yang lebih tepat melebihi saat setelah puasa Ramadhan.

Mengapa? Karena sesuai janji Rasulullah SAW, barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mencari pahala Allah, diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah.

Tentunya ini dosa-dosa yang berkaitan dengan Allah langsung. Orang yang tidak mempunyai dosa kepada Allah karena dosa-dosanya sudah diampuni, dadanya menjadi lapang. Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa setelah usai puasa Ramadhan, orang-orang Islam menjadi terbuka, ringan menerima maaf, dan mudah memaafkan.?

Maka, dosa-dosa berat yang diakibatkan kesembronoan dalam pergaulan hidup dengan sesama hamba Allah diharapkan dengan mudah dilebur. Nah, kesempatan bersilaturrahim di hari raya Idul Fitri ini sangat sampai kita lewatkan untuk berhalalbihalal, saling menghalalkan dan saling memaafkan. Sehingga di Lebaran ini, leburkan semua dosa-dosa kita semoga.

Selamat Iful Fitri 1435 Hijriah. Mohon maaf lahir batin. (artikel ini telah dimuat di harian Kompas, Sabtu, 26 Juli 2014)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Molornya penutupan Muktamar Ke-33 NU membawa berkah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya. Selain muktamirin punya waktu lebih lama bersilaturahim, pedagang punya waktu lebih lama berjualan sehingga bisa untung lebih banyak.

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Daerah (Panda) Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Senin (3/8/2015) malam di media center Muktamar ke-33 NU yang berada di komplek SMA 1 Jombang. Dalam konferensi pers yang dihadiri belasan wartawan dari lokal, nasional dan asing, Gus Ipul tampak ceria dan melemparkan guyonannya.

Menurutnya, jumlah peserta dan panitia Muktamar saja  5.000 orang. Sedangkan pengunjung muktamar selain peserta dan panitia, setiap hari rata-rata berjumlah 10.000 orang. Mereka ini datang bukan karena diundang oleh panitia, melainkan “diundang” oleh NU. Mereka merasa memiliki NU, sehingga tanpa diundang oleh panitia pun mereka pasti datang. Yang penting semuanya bisa menikmati suasana kemeriahan muktamar ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Jika rata-rata setiap orang berbelanja Rp 100.000 dari 15.000 orang tersebut, maka setiap harinya terjadi perputaran uang rata-rata Rp 15 miliar. Jika dipatok Muktamar berlangsung lima hari saja, ya bisa kalikan sendiri berapa jumlahnya. Ini berkah bagi pedagang dan masyarakat Jombang. Kalaupun sempat molor penutupan Muktamar dari jadwal yang sudah ditetapkan, sebenarnya ada juga untung bagi masyarakat," tutur Syaifullah.

"Panitia selain menyelenggarakan rapat-rapat, sidang-sidang agenda muktamar, juga menyediakan arena berbagai kegiatan. Seperti di GOR ada pameran, bazar, pertunjukan musik yang menampilkan Ahmad Dhani, Rhoma Irama, shalawatan dan sebagainya. Sedangkan di sejumlah pondok pesantren juga berlangsung, bazar,  diskusi dan bedah buku dari berbagai tokoh/intelektual NU," tambah Gus Ipul.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari pantauan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berbagai kelompok/organisasi di lingkungan struktural maupun kultural NU menggelar pula banyak kegiatan. Mulai dari sebelum dibukanya Muktamar Ke-33 NU oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, hingga Senin (3/8/2015) malam. (Armaidi Tanjung/Mahbib)     

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, Pendidikan, Hikmah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

GP Ansor Andong Lengkapi Pembentukan 16 Ranting

Boyolali, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menjelang akreditasi yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Boyolali, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Andong, berhasil membentuk kepengurusan di seluruh tingkatan ranting. Total kini telah terbentuk 16 ranting.

GP Ansor Andong Lengkapi Pembentukan 16 Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Andong Lengkapi Pembentukan 16 Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Andong Lengkapi Pembentukan 16 Ranting

Pembentukan tersebut, dikukuhkan dengan acara pelantikan pengurus yang digelar di Kacangan, Andong, Sabtu (11/3) lalu. Sebanyak 7 ranting yang dilantik, melengkapi kepengurusan 9 ranting yang telah dibentuk beberapa bulan sebelumnya.

Ketua PAC Asnor Andong Ali Khamdani mengatakan, meskipun pembentukan ranting ini bertepatan dengan momentum akreditasi, namun pihaknya berharap nantinya dapat berjalan dengan aktif.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Akreditasi memang salah satu tujuannya. Tapi yang paling penting pembentukan ranting sebagai langkah awal merekrut para pemuda untuk bergabung dalam Ansor, khususnya di desa,” kata dia.

Ditambahkan Khamdani, ketujuh kepengurusan ranting baru yang dilantik, yakni : Pakel, Kunti, Pakang, Pranggong, Munggur, Kedungdowo, dan Senggrong.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Sedangkan 9 ranting sebelumnya yang telah dibentuk, yakni Sempu, Gondangrawe, Mojo, Kacangan, Beji, Andong, Semawung, Pelemrejo, dan Kadipaten.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Boyolali Khoirudin Ahmad yang hadir dalam pelantikan tersebut, mengatakan, penguatan gerakan dan kegiatan Ansor, justru ditentukan dari tingkatan paling bawah, dalam hal ini ranting. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Meme Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Aktivis senior yang juga mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden KH Abdurrahman Wahid, Bondan Gunawan memberikan motivasi kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menyatu kembali dalam satu organisasi Nahdlatul Ulama.

Hal itu ia sampaikan saat menyampaikan orasi di hadapan para kader PMII dalam acara peringatan hari pahlawan yang digelar Pengurus Cabang PMII Jakarta Pusat di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (12/11) malam. Ia mendorong PMII Jakpus mendukung hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2014.

Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bondan Gunawan Dorong PMII Kembali ke NU

”Sudah saatnya PMII sebagai organisasi kemahasiswaan kembali kepangkuan NU, karena apapun keputusan yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh NU merupakan suatu bentuk perhatian orang tua terhadap anaknya. Sebab tidak bisa dipungkiri PMII lahir dari rahim NU,” tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Turut hadir pada acara tersebut Ketua Umum PMII DKI Jakarta, PMII Jakarta Timur, PMII Jakarta Utara, dan PMII Jakarta Selatan, serta beberapa perwakilan dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat yang secara bergantian menyampaikan orasi kebangsaan.

Peringatan hari pahlawan berlangsung khidmat, diawali dengan musikalisasi puisi, dan doa bersama. dan orasi kebangsaan.? Selain Bondan Gunawan, hadir pula menyampaikan orasi anggota Majelis Pembina Nasional PB PMII, Amsar A. Dulmanan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, Amsar mengajak seluruh kader PMII untuk memaknai kembali peringatan hari pahlawan ini. Bukan sekadar mengingat dan mengenang, tetapi menjiwai setiap perjuangan yang telah memakan ribuan jiwa yang rela mengorbankan tumpah darah mereka demi bangsa Indonesia.

”Hidup harus belajar dari masa lalu, dengannya kita akan memahami masa kini untuk membaca masa depan. Menghargai para pahlawan berarti menggali pondasi-pondasi nation building. Jadi, hiduplah untuk masa depan, dengan memahami masa kini, dan menghargai masa lalu,” tegasnya.

Ketua Pimpinan Cabang PMII Jakarta Pusat Daud Gerung mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat pergerakan kader-kader PMII dalam merefleksikan dan mengenang perjuangan para pahlawan yang telah gugur membela dan mempertahankan tanah air.

“Kader PMII sudah seharusnya mampu untuk mengaktualisasikan semangat juang para pahlawan nasional, terutama kiai NU dan laskar santri sehingga apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu dengan mudah direalisasikan demi menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia,” kata Daud. (Rico K. Sanjaya/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Ulama, Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 16 Januari 2018

Laskar Aswaja Siap Lawan Perongrong Keutuhan Bangsa

Pandeglang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menyikapi maraknya aksi teror di Indonesia, Laskar Aswaja merumuskan langkah-langkah strategis sekaligus memberikan rekomendasi guna memperteguh dan mengawal NKRI. Hal ini mengemuka pada acara Pelantikan Pengurus Laskar Aswaja se-Provinsi Banten dan Rapat Kerja Wilayah pada 30 April-1 Mei 2016.

Ketua DPP Laskar Aswaja Adhi Thobink Permana mengatakan bahwa saat ini kondisi Indonesia sangat memprihatinkan, meskipun aparat Kepolisian Indonesia dikenal paling sukses dalam menagkap para teroris. Menurutnya, Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang melahirkan banyak kaum radikal dan teroris kelas dunia, termasuk Banten di dalamnya. Ini sebuah paradok yang membanggakan sekaligus memalukan.

Laskar Aswaja Siap Lawan Perongrong Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Laskar Aswaja Siap Lawan Perongrong Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Laskar Aswaja Siap Lawan Perongrong Keutuhan Bangsa

Selain itu, Lukman Hakim, Ketua Laskar Aswaja Provinsi Banten mengatakan, optimisme merupakan kata yang harus dimiliki segenap komponen bangsa. Terlebih dalam menyikapi berbagai gerakan yang akan memperlemah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi Laskar Aswaja, NKRI adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Terorisme dan gerakan radikal atas nama agama harus dilawan, karena ia akan merongrong bangsa dan merusak citra Islam di mata dunia. Merupakan komitmen kami di Laskar Aswaja untuk turut serta menjaga keutuhan bangsa dan lestarinya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil aalamiin (rahmat untuk semua),” sambungnya sebagaimana siaran pers yang diterima PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menyikapi banyaknya aksi teror dan maraknya kaum radikal, Panglima Brigade Laskar Aswaja Muhidir A. Kodir mengatakan bahwa Polri dan TNI harus tegas dalam menyikapi organisasi atau gerakan ideologis yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Penafsiran agama yang kaku dan ditambah ekonomi yang timpang adalah penyebab utama maraknya kelompok radikal di Indonesia. Perlu ada gerakan secara menyeluruh mengenai pentingnya memahami agama dengan baik dan benar,” papar pria kelahiran Tangerang ini.

Pantauan di lokasi acara, Pelantikan dan Rapat Kerja Wilayah ini dilaksanakan di Villa Karoeng Kabupaten Pandeglang. Dihadiri oleh sekitar 180 orang, terdiri dari Pengurus Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Banten.

Selaku Ketua Panitia Indra Irawan mengucapkan terima kasih kepada Adhi Thobink Permana selaku Ketua Umum DPP Laskar Aswaja, Dewan Pembina, Beberapa Pengurus Pusat, Ketua DPC se-Kota/Kabupaten, dan para pengurus yang telah mengikuti jalannya acara ini. “Semoga kegiatan kali ini mampu mengeluarkan beberapa keputusan dan rekomendasi yang berguna bagi Provinsi Banten, dan Indonesia,” sambungnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pondok Pesantren, Sejarah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

RMI Jombang: 22 Oktober Sejarah Perjuangan Pesantren

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdhatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur tengah mempersiapkan peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2015. Peringatan dihelat di Pondok Pesantren KH Wahab Hasbullah, Tambakberas.

RMI Jombang: 22 Oktober Sejarah Perjuangan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Jombang: 22 Oktober Sejarah Perjuangan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Jombang: 22 Oktober Sejarah Perjuangan Pesantren

Ketua RMI NU Jombang Shobih mengatakan, Hari Santri Nasional itu diperlukan sebagai kesadaran sejarah perjuangan pesantren pada zamannya. Dulu mereka berperang fisik melawan penjajah, mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih.

Sekarang, kata dia, santri tetap harus berjuang, yaitu mengisi kemerdekaan dengan penguatan pemahaman keislamannya. “Perlu adanya penguatan pemahaman para santri melalui setiap lembaga pondok pesantrennya, khususnya yang beraliran dengan ahlussunnah wal jamaah (Aswaja),” ungkapnya di kediamannya Jumat (9/10).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Target peringatan Hari Santri Nasional, kata dia, adalah menguatkan ukhwah islamiyah antar-lembaga pesantren. Ia menilai kontribusi Pondok Pesantren sangat menentukan perkembangan NU ke depan.

“Sekarang kan ada istilah NU itu sebagai pondok pesantren besar, sementara pondok pesantren itu adalah NU kecil,” ujarnya sambil tersenyum dan mempersilahkan hidangan yang sudah disediakan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari silaturahim itu RMI NU dapat membedakan pondok pesantren Aswaja NU dan bukan. Karena, sekarang banyak pesantren mengaku Aswaja yang bukan NU. Makanya pada pertemuan itu, akan dilakukan pendataan pesantren se-Jombang.

Masih dalam merayakan Hari Santri, akan diluncurkan website RMI NU yang berisi profil-profil pesantren se-Jombang. “Pondok Pesantren yang sudah didata sebelumnya kami masukkan ke sana,” tutupnya. (Syamsul/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah