Jumat, 12 Januari 2018

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Oleh: KH  Imam Jazuli MA*

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya! Begitu kata Bung Karno, pada pidatonya di hari pahlawan 10 November 1961.

Dan, mengenang riwayat perjuangan anak bangsa, terutama saat-saat peran pemuda begitu dominan dan sentral untuk sebuah nasionalisme; merebut atau mempertahankan kemerdekaan dengan caranya sendiri dan demi nilai agama sekaligus. 

Maka, kita tentu tak boleh lupa atau alpa pada riwayat apa dan bagaimana Ansor, sebagai barisan pemuda pesantren-islam tradisional itu berdiri dan lahir, dan pada masanya sangat dibutuhkan ketika republik yang kita cintai ini  baru merangkak dan belajar berdiri. 

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Ansor yang sering disebut sebagai anak rahim dari NU (Nahdlatul Ulama) bahkan secara de jure sudah terlahir lebih dulu sebelum NU berdiri. Tahun 1924, ketika organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes mencuat, anak-anak muda yang terdiri dari santri pesantren dan langgar atau masjid mendirikan organisasi kepemudaan bernama: Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaid.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan semakin banyak diminati dan mendapatkan tempat di hati pemuda, saat itulah situasi konflik internal terjadi; antara tokoh-muda tradisional (KH. Abdul Wahab Hasbullah) dan tokoh muda-modernis (KH. Mas Mansyur) yang sama sama berada di tubuh Nahdlatul Wathan. Perbedaan itu muncul dalam cita-cita yang sama-sama mulia, yaitu bagaimana sebaiknya membina kader mubalig dan kemana idiologi mereka arahkan?. Perbedaan ini akhirnya melahirkan arus gerakan yang berbeda dalam mendirikan organisasi kepemudaan. KH. Wahab membawa gerbong cikal bakal Ansor, sementara Mas Mansyur kemudian kelak dikenal sebagai pioner dari Pandu Hisbul Wathan (Muhammadiyah). 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari gagasan KH. Wahab tersebut, secara kongkrit dilanjutkan oleh kader Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 dengan nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan. Abdullah Ubaid kemudian mendirikan organisasi pemuda yang lebih luas yaitu persatuan pemuda Nahdlatul Oelama (PPNO) dan tahun 1934 namanya disempurnakan menjadi Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), sebagai bagian dari NU pada Muktamar ke 9 di bayuwangi 21-26 April 1934. Selanjutnya, melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan barisan berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama). Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser.

Peran Kongkrit Membela Negara

Meski kedua prototipe gerakan tersebut (Subbanul Wathan dan Pandu Hizbul Wathan) sering berbeda haluan, namun menurut catatan Prof. Anthony Ried, ada saat-saat yang mengharukan, dimana kedua gerakan pemuda itu dalam satu barisan, yaitu ketika  KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1944 berfatwa, untuk antara lain mengharamkan pribumi yang muslim menyanyikan lagu kebangsaan “Kimigayo”, dan mengibarkan bendera Hinomaru serta segala bentuk Niponisasi (serba Jepang). Hari berikutnya, dua gerakan pemuda itu, tidak sekedar mengikuti fatwa Kiyai Hasyim, tetapi saling bahu-membahu memerangi kolonialisme Jepang yang sangat kejam. KH. Hasyim bersama KH. Wahab Hasbullah kemudian secara sembunyi-sembunyi mencoba menyatukan dua gerakan anak muda itu dalam kelompok Laskar Hizbullah yang dikomandani Mahfudz Shidiq dan untuk yang tua-tua dalam barisan Laskar Sabilillah yang diketuai oleh KH. Abdul Kholik (Putra KH. Hasyim Asyari). (Anthony Ried. 1974. The Indonesian National Revolution, 1945-1950, Connectitud: GrPenwood Press)

Menariknya, meskipun pada akhirnya jumlah Pandu Hizbul Wathan (Muhammadiyah) tak begitu signifikan yang masuk dalam barisan pasukan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah ini, tetapi usaha menyatukan sudah dicoba dilakukan dengan arif oleh KH. Hasyim Asyari, dan secara mengagetkan, segera saja, pasukan dari kalangan Islam tradisionalis ini jauh lebih banyak daripada pasukan resmi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Bahkan untuk menghadapi Perang Pasifik, kalangan Nasionalis dalam Hokokai pada bulan Agustus 1944, di seluruh Nusantara baru mempunyai anggota sekitar 80.000 pemuda di dalam unit para militernya dengan nama barisan Pelopor dengan komando Soekarno dan Hatta, dan organisasi PETA punya barisan perang dengan jumlah yang sama dengan Pelopor, yaitu sekitar 80.000 pemuda yang terdiri dari tentara dan kaum buruh tani, dengan komando Jenderal Sudirman dan Jenderal A. H. Nasution.

Sedangkan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah yang anggotanya terdiri dari para santri, kaum muslim tradisionalis pedesaan di berbagai wilayah dan daerah dengan anggota di setiap wilayah sekitar 50.000 yang terpencar di kepulauan Nusantara, semuanya mencapai sekitar 500.0000. Jumlah tersebut tiap hari kian meledak, pemuda-pemuda desa  yang berumur sekitar delapan belas tahun sampai duapuluh tahun dengan antusias tergabung, dan  mengikuti pelatihan pusat di Malang. Dari semangat anak muda inilah, kelak kemerdekaan benar-benar terwujud. 

Setelah revolusi fisik (1945-1949) mereda. Tokoh Laskar Hizbullah dari barisan ANO Surabaya Moh. Chusaini Tiway, melegalkan ANO dengan Bansernya secara formal setelah sempat dibekukan oleh pihak Jepang. Ide tersebut mendapat sambutan positif dari KH. wahid Hasyim Menteri agama RIS kala itu, maka pada tanggal 19 desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO, dan secara de facto diakui dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor). 

Tentang Sepenggal Nama

Ansor Nahdlatul Oelama (ANO), adalah nama atas saran KH. Abdul Wahab. Nama ini menurutnya diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Madinah (kaum Ansorin) yang telah berjasa dalam membela dan ikut serta dalam perjuangan dan menegakan agama kaum muhajirin (Islam). Pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam. Kaum Ansor, berarti kaum asli pribumi, yang tak boleh meninggalkan karakter dan tradisi-tradisi arifnya, tetapi juga harus mau merima yang baik dari luar, yaitu dari kaum muhajirin (Makkah). Diktum ini kemudian dikenal luas oleh Nahdliyin dengan al-muhafadzah ala qadim as-shalih wal-akhdzu bil jadid al-ashlah (menjaga tradisi yang baik, dan mengambil baru yang baik). 

Dengan demikian ANO diharapkan dapat mengambil hikmahnya serta tauladan terhadap sikap, prilaku dan semangat perjuangan serta kiprah sahabat nabi dan yang dapat predikat Ansor tersebut. Yakni sebagai penolong perjuangan dan bahkan pelopor dalam menyiapkan gebrakan dan pembentengan kekuatan islam. Inilah komitmen yang sejak awal diperlihatkan anggota ANO (GP. Ansor), misalnya dalam kasus G. 30 SPKI, dan lain sebagainya.

GP. Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikian rupa, bahkan mungkin menjadi organisasi kemasyarakatan yang berbasis pemuda terbesar di Indonesia, dan memiliki watak mecintai tradisi dan bervisi keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 cabang (tingkat kabupaten/kota) di bawah koordinasi 32 pengurus wilayah (tingkat provinsi ). Ditambah dengan kemampuan pengelola keanggotaan khusus BANSER (barisan Ansor serbaguna) yang memiliki kemampuan dan kualitas kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Barangkali tantangan GP. Ansor yang paling kongkrit saat ini dan ke depan adalah ’berperang’ menyelamatkan negeri dengan cara ”meneguhkan kebinekaan dan mengentaskan kemiskinan” dari jarahan para koruptor yang semakin membudaya di kalangan  birokrat! Selamat ultah Ansor yang ke 78, yang saat ini dirayakan di Solo (dengan rencana dibuka oleh Presiden RI), mulai tanggal 13-18 Juli 2012. Semoga terus eksis dalam setiap episode sejarah perjuangan bangsa dan tetap menepati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional. Amin

Jakarta, 10  Juli 2012

* Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabitah Maahid Islamiyah -Asosiasi Pesantren se-Indonesia- (PP RMI)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pondok Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa

Probolinggo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Hafshawaty Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo mewisuda mahasiswanya di Gedung Islamic Centre (GIC) Kota Probolinggo, Kamis (1/10). Ada sebanyak 189 mahasiswa yang lulus pada tahun akademik 2014-2015 dari sekolah tinggi yang bernaung di bawah Yayasan Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong ini.

Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa

Mahasiswa yang diwisuda terdiri dari 64 mahasiswa D-3 Akademi Kebidanan (Akbid), 30 mahasiswa D-3 Akademi Keperawatan (Akper), 29 mahasiswa S-1 Keperawatan dan 66 mahasiswa D-4 Bidan Pendidik. Para wisudawan dikukuhkan oleh Ketua Yayasan Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Probolinggo H. Asy’ari memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wisudawan. Ia berharap, kelulusan para perawat dan bidan itu bisa membawa dampak positif bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo. Khususnya dalam hal pengembangan pembangunan di sektor kesehatan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Tak lupa kami sampaikan terima kasih pada Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong yang bertahun-tahun telah mencetak para perawat dan bidan yang berdedikasi tinggi. Kami mendoakan semoga ikhtiar pondok pesantren ini mendapat rahmat dari Allah SWT,” katanya.

Sementara Ketua Yayasan Hafshawaty Pondok Pesantren Zainul Hasan KH Moh Hasan Mutawakkil Allah mengatakan, wisuda bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh masing-masing wisudawan. Bagi yang ingin terus menuntut ilmu, bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Bagi yang ingin bekerja bisa memanfaatkan mitra kerja Stikes Hafshawaty. Seperti magang di puskesmas dan beberapa rumah sakit. Kami doakan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai profesinya masing-masing,” ujarnya.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur ini berharap, agar ilmu yang didapat selama di bangku kuliah bermanfaat bagi masyarakat. “Ilmu harus diamalkan jika ingin bermanfaat. Amalkan ilmu yang kalian dapat kepada sesama manusia. Semoga para wisudawan dan santri Genggong mendapatkan kemudahan dari Allah dalam mengamalkan ilmunya,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia

Subang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Salah satu hikmah adanya kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi Muslim yang sudah mampu secara materi adalah untuk memanusiakan manusia.

Demikian salah satu poin yang disampaikan KH. Asep Zarkasih dalam taushiyahnya pada acara walimatussafar salah seorang tokoh masyarakat Desa Caracas, Kalijati, Subang, Jawa Barat. Ahad (24/8)

Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia

"Perhatikan postur tubuh manusia: kepala di atas, perut di bawah. Coba lihat binatang domba, kepala dan perutnya sejajar, sama, bahkan kalau lagi makan kepala domba ada di bawah perut," ujar Pengurus MWCNU Kecamatan Cipeundeuy, Subang itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Asep melanjutkan, dalam bersikap dan bertindak seharusnya manusia itu mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan kepala, dalam hal ini adalah akal pikiran, jangan sampai melakukan sesuatu berdasarkan perut dan nafsu belaka.

"Dalam bersikap dan bertindak jangan sampai seperti domba, akal ada di bawah perut. Mau nyari rezeki, lihat dulu, itu halal apa haram? Mau melangkah, pikir dulu, mau mengerjakan pekerjaan halal apa haram? Kalau tidak seperti itu, akan sembarang dan nanti urusannya sama polisi, KPK," tegasnya dengan bahasa Sunda

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu Asep menegaskan, adanya ibadah haji adalah agar manusia menjadi manusia, karena ketika melaksanakan ibadah haji, orang akan melupakan kesenangan duniawi, yang ada adalah sedih dan terharu mengingat kebesaran dan keagungan Allah Swt. sehingga akan memberikan kekhusuan dalam beribadah.

"Pakaian haji itu untuk mengingatkan kita pada kematian dan kehidupan yang akan datang, putih semua, nanti kita kalau sudah mati tidak akan bawa apa-apa, hanya kain putih yang kita bawa," ujarnya

"Biasanya shalat di rumah itu di depannya tembok, sementara di Mekkah, shalatnya langsung menghadap ke kiblat, ke Kabah, bagaimana tidak sedih dan terharu. Di sana baca shalawat, makam Nabi yang dibacakan shalawatnya ada di depan mata," tambahnya

Ketua PGRI Kecamatan Cipeundeuy tersebut mengingatkan kepada ratusan orang yang menghadiri acara itu untuk selalu terus berdoa kepada Allah SWT sekaligus menabung supaya diberi kesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Khutbah, Jadwal Kajian PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 11 Januari 2018

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko

Kenitra, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam rangka kunjungan muhibah, segenap rombongan KH Sholahudin Wahid ? yang tiba di Maroko pada hari Jumat (5/4) langsung disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia Untuk ? Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja dan sebagian besar mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Maroko.

Dalam acara penyambutan ini juga diisi dengan acara diskusi atau tausiyah bersama KH Sholahudin Wahid pengasuh pondok pesantren Tebuireng yang bertempat di Wisma Duta Indonesia.?

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko

Sebelum acara dibuka H. Husnul Amal selaku sekretaris pribadi Dubes RI H. Tosari Widjaja sekaligus pembawa acara menyampaikan bahwa kunjungan rombongan Gus Sholah (panggilan akrab KH Sholahudin Wahid ) tidak bisa lepas dari peran almarhumah Mahsusoh Ujiati istri Dubes H. Tosari Widjaja yang semasa hidupnya pernah meminta Gus Sholah untuk berkunjung ke Maroko, hanya saja baru saat ini Gus Sholah baru bisa meluangkan waktunya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dubes RI Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja dalam sambutannya berharap semoga kedatangan rombongan ini mampu memperkuat hubungan kerjasama antara Indonesia dan Maroko khususnya dalam pendidikan Islam.?

Di dalam tausiyahnya Gus Sholah banyak sekali memberikan motifasi kepada para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indoensia (PPI) Maroko agar bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin serta belajar untuk berfikir secara luas. Agar cakrawala berfikir mahasiswa tidak jumud.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di sisi lain Gus Sholah juga berbicara mengenai keadaan yang sedang terjadi di Indonesia, mulai dari ? kemasyarakatan, keekonomian, kepemerintahan, dan yang sangat menarik adalah ketika beliau berbicara mengenai pendidikan yang ada di Indonesia.

"Penyebab ? dari kemunduran pendidikan yang ada di indonesia ? dikarenakan oleh pihak pengajar yang tidak memahami konsep pendidikan secara benar, karena makna pendidikan yang sebenarnya adalah transfer of knowledge yang di bungkus dengan nilai-nilai sopan santun bukan hanya menyalurkan ilmu saja lalu lepas tangan."

Gus Sholah juga berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus diperhatikan dalam metode pendidikan. Yang pertama guru menguasai dan benar-benar mendalami materi, yang ke dua guru sudah pernah mendapatkan pelatihan pengajaran dan yang ke tiga guru harus mampu memilki akhlak yang baik dan harus di salurkan ke siswa didik.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat muslim di Indonesia, khususnya para santri, jangan pernah mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum.?

“Jangan ? pernah mengatakan bahwa ilmu agama adalah ilmu ukhrowi dan ilmu umum adalah ilmu duniawi, karena semuanya adalah sama dan wajib untuk dipelajari, semisal ketika ilmu umum ? di orientasikan untuk menolong orang lain maka itu juga di sebut dengan ilmu ukhrowi, jadi saya pesankan ? bahwa santri harus mempelajari kedua-duanya.”

? Acara ini juga dimeriahkan dengan group sholawat rebana yang dibawakan oleh mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengikuti program kelas internasional di Univ. Ibnu Tofail Kenitra, Maroko.

Hadir pula segenap jajran home staf dan lokal staf KBRI Rabat, para mahasiswa Indonesia dan masyarakat Indonesia yang ada di maroko.

Kontributor: Nizar Presto

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hentikan Eksploitasi NU

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keresahan warga nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama) atas polemik politik yang seakan semakin tak terkendali belakangan ini tampaknya tak bisa disembunyikan lagi. Ketua Pengurus Besar NU KH Said Aqil Siradj pun turut komentar. Ia meminta, eksploitasi terhadap NU segera dihentikan dan berharap agar para kiai yang terlibat dalam konflik segera bersatu kembali.

“Saya berharap para kiai berekonsiliasi (islah),” kata Kang Said, demikian panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, saat berbicara pada acara halal bi halal yang digelar Pengurus Pusat Muslimat NU di Hotel Bumikarsa, Jakarta, belum lama ini.

Kiai Said juga berharap agar perbedaan pilihan politik tidak sampai mengabaikan komunikasi dan saling memahami antara satu dan lainnya. “Bolehlah pilihan politik berbeda, tapi kita kan tetap NU. Tetap Ahlussunah, jadi harus menjaga ukhuwah dan persaudaraan,” tuturnya.

Hentikan Eksploitasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hentikan Eksploitasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hentikan Eksploitasi NU

Jika memang perbedaan mekanisme perjuangan itu tidak bisa dihindari, Kang Said berharap semua elemen NU tetap bisa menjadi team work yang baik.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, dirinya akan tetap menghormati kebebasan masing-masing individu untuk melakukan afiliasi politik. Termasuk sikap politik para anggota Muslimat NU.

“Tidak harus sama dengan saya, itu merupakan bagian dari perwujudan freedom of expression,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Khofifah menolak jika dirinya dikait-kaitkan dengan keberadaan kendaraan politik baru, PKNU. Dia berharap supaya eksistensi PKNU itu dapat dijadikan sebagai bahan refleksi bersama di internal NU untuk menciptakan rekonsolidasi kadernya guna membangun NU ke depan. Karena itu, Khofifah berharap NU bisa memosisikan diri sebagai pengayom yang baik.

Yang perlu dilakukan partai-partai berbasis NU itu adalah memperhatikan kebutuhan peningkatan pelayanan umat. “Jangan sampai umat dijadikan sasaran eksploitasi dan kooptasi dalam politik praktis, tapi bagaimana umat bisa mendapatkan akses dan manfaat dari semua itu,” tegasnya.

Selain halal bi halal, dalam kesempatan itu ditandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan Bringin Life Syariah terkait program asuransi jiwa melalui kartu tanda anggota Muslimat NU. (gpa/rif)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Nasional, Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

MKQ Nasional, Jaring Mahasiswa Ahli Kaligrafi

Yogyakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Demi terjalinnya silaturahim antarkaligrafer dari kalangan mahasiswa serta menjaring mahasiswa yang ahli dalam desain kaligrafi, panitia festival seni Al-Qur’an menyelenggarakan Musabaqah Khatil Qur’an (MKQ) nasional, Senin (18/2).?

MKQ Nasional, Jaring Mahasiswa Ahli Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)
MKQ Nasional, Jaring Mahasiswa Ahli Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)

MKQ Nasional, Jaring Mahasiswa Ahli Kaligrafi

MKQ yang diselenggarakan di gedung rektorat lama lantai dua UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini diikuti oleh 17 peserta putra serta 12 peserta putri.?

Mereka merupakan delegasi dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Di antaranya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Syarif Hidayatullah, Universitas Gajah Mada serta berbagai perguan tinggi lainnya. ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebagai juri dalam lomba tersebut, hadir Robet Nasrullah, Saiful Adnan, serta Humaidi Ilyas yang mereka merupakan kaligrafer tingkat nasional. ?

Menurut Mustofa, penanggungjawab MKQ ini pada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, peserta diberi alokasi waktu sebanyak delapan jam, yaitu dari jam 09.00-16.00 waktu setempat. Lomba dimulai dengan pengundian maqro (teks yang akan ditulis, red.). Kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama, yaitu pembentukan desain, serta sesi kedua, yaitu menulis maqro’ dan hiasannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mutofa juga menuturkan bahwa lima besar dari putra dan putri akan dipamerkan ketika malam penutupan serta pengumuman para pemenang pada nanti malam, Selasa (19/2).?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Nur Hasanatul Hafshaniyah?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ribuan Santri Sumber Bungur Pusing Lewati Jalan Hancur

Pamekasan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ribuan santri Pesantren Sumber Bungur, Pakong, dibuat pusing tujuh keliling tiap kali turun hujan. Pasalnya, mereka dihadapkan pada jalan hancur. Jalan tersebut merupakan jalan umum dan menjadi rute satu-satunya ke sekolah dan pesantren.

Ribuan Santri Sumber Bungur Pusing Lewati Jalan Hancur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Sumber Bungur Pusing Lewati Jalan Hancur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Sumber Bungur Pusing Lewati Jalan Hancur

Seperti terlihat pada Hari Selasa (22/4), santri, dan masyarakat umum kelimpungan tiap kali hendak lewat di jalan tersebut. Mereka jalan menepi. Jika malam hari, tak sedikit yang jadi korban. Pejalan kaki banyak yang terperosok dan jatuh lantaran becek sekaligus licin.

Perbaikan jalan tersebut sudah mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Rencananya, akan dipaving. Pemerintah telah mendatangkan material atau bahan untuk mem-paving jalan utama tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Sudah lebih seminggu bahan-bahan paving yang dihadirkan. Namun, dibiarkan begitu saja oleh CV atau pelaksana proyek. Ini jalan menuju MTs Model dan MA Sumber Bungur, serta Pesantren Sumber Bungur. Jika tidak segera ditindaklanjuti, kasihan sekali ribuan murid dan santri di sini,” terang Kepala Sekolah MTs.N Model Sumber Bungur, H Mohammad Holis.

Kekesalan juga disampaikan oleh tokoh masyarakat Pakong H Imam Nahrowi. Menurutnya, pemerintah setempat harus bisa bersikap tegas atas kelalaian pelaksana proyek. Sebab, pembiaran tersebut telah melahirkan banyak dampak negatif bagi pengguna jalan, utamanya murid dan santri yang menjalankan tugasnya sebagai penimba ilmu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kami heran pada pelaksana proyek jalan tersebut. Sudah lebih seminggu material paving didatangkan, tapi hingga kini tak juga dilaksanakan. Itu sangat mengecewakan,” tekannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Pamekasan Totok Hartono, tampak terkejut mendengar kabar jalan hancur menuju pesantren tersebut. Juga meradang dan sangat kecewa.

“Jika kabar tersebut memang benar, kami akan segera tindaklanjuti. Kami tidak akan melakukan pembiaran. Jika terbukti menyalahi aturan, pelaksananya pasti kami sanksi,” ancamnya serius.

Tidak hanya itu, Totok berjanji, jika nantinya pelaksana proyek terbukti melakukan pembiaran, pihaknya tidak segan-segan akan mem-blacklist CV yang menangani proyek tersebut. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah