Senin, 08 Januari 2018

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran

Subang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Salah satu kegiatan tahunan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami Al-Huda, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat adalah ngabuburit yang diisi dengan ngaji pasaran untuk para orangtua dan pemuda.

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran

Tahun ini, kitab yang dikaji dalam pengajian yang digelar bada ashar ini adalah Kitab Risalah al-Muawanah wal Mudzoharoh wal Muazaroh karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adapun yang didaulat sebagai pembaca kitab adalah Kiai Adang Kosasih, Rais MWCNU Patokbeusi yang juga pengasuh pesantren Al-Huda.

"Biasanya yang ngawuruk (ngajar-red) ngaji itu ketua MWCNU, cuma beliau belum sembuh total dari sakitnya jadi diputuskan yang ngajinya Rais syuriyah, insya Allah pengajian ditutup pada H-3," kata Dedi Setiawan, salah seorang peserta pengajian yang juga Ketua Irmada (Ikatan Remaja Masjid Al-Huda) ini, Kamis (25/6).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dedi menambahkan, kegiatan ini sekaligus untuk mengakomodir kalangan bapak-bapak dan para  pemuda setempat yang masih haus akan ilmu agama Islam.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Yang ikut ngaji tidak menentu tapi biasanya 30 sampai 50 orang,  Bapak-bapak disini usianya boleh tua, tapi semangat ngajinya tetap muda," tambahnya

Pantauan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, peserta pengajian itu didominasi oleh kalangan orangtua, sebagian peserta ada yang membawa kitab dan meloghatnya, sebagian lagi hanya jiping (ngaji kuping) yaitu peserta pengajian yang tidak membawa kitab dan hanya mendengarkan materi pengajian. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Muslimat NU Makassar Bantu Korban Kebakaran

Makassar, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap sesama, Muslimat NU kota Makassar memberikan bantuan pada korban kebakaran di jalan Kandea kota Makassar, Jumat(21/05).

Kebakaran yang terjadi Kamis (14/05) pekan lalu membuat sekitar 40 Kepala Rumah Tangga kehilangan tempat tinggal.

Muslimat NU Makassar Bantu Korban Kebakaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Makassar Bantu Korban Kebakaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Makassar Bantu Korban Kebakaran

Hj. Syukriah Ahmad, Ketua Muslimat NU Kota Makassar yang memimpin lansung penyerahan bantuan, turut prihatin terhadap musibah yang dialami oleh masyarakat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kami warga Muslimat NU Kota Makassar sangat perihatin dan turut merasakan kesedihan masyarakat yang tertimpa musibah ini," ungkap Hj. Syukriah.

"Bantuan ini secara materi tidak seberapa nilainya namun mudah-mudahan sedikit bisa meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah," tambahnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Adapun bantuan berjumlah 50 paket, tiap paketnya terdiri dari beras, gula dan teh, diserahkan langsung kepada panitia penerimaan bantuan kebakaran. (rahman hasanuddin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh, Makam, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi

Semarang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori mengatakan, hari ini ada kesadaran di masyarakat bahwa punya anak kalau hanya sekolah formal tinggal menunggu kerusakannya.

Menurut dia, banyak orang tua sadar bahwa anaknya, disamping sekolah formal, harus di pesantren. “Animo masyarakat mengembalikan anak ke pesantren ini sebetulnya luar biasa,” katanya pada diskusi rutin yang diselenggarakan Fraksi Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah pada? (25/11).

Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi

Pada kesempatan itu kiai yang akrab disapa Gus Yusuf didaulat membincang pesantren dengan tema "Pesantren Minim Perhatian Dimana Peran Pemerintah?". Gus Yusuf hadir sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Gus Yusuf, keadaan tersebut sebagai perhatian masyarakat terhadap kemerosotan moral bangsa. Kesadaran itu muncul karena lembaga pendidikan pesantren tidak hanya menjadi lembaga talim namun juga melakukan tarbiyyah kepada santrinya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Masyarakat, tambah dia, sebagai orang tua santri akan merasakan rugi bila tidak menyantrikan anaknya di pondok pesantren.

Masih menurut Gus Yusuf, ada berbagai macam pilihan pondok pesantren yang bisa dipilih wali santri dalam menyelamatkan akhlak anaknya. Bahkan ada beberapa wali santri yang hanya memondokkan anaknya tidak diimbangi dengan sekolah formal terlebih dahulu.

Ia berharap ke depan pesantren masih menjadi penjaga moral bangsa.? "Tidak hanya sebatas pinter tetapi juga melahirkan orang-orang bener," ungkap Gus Yusuf.

Ia juga mendukung dengan kerja yang dilakukan PW RMI Jateng yang melakukan database pesantren di provinsi tersebut.

Hal ini juga dikuatkan Muh Zen Adv sebagai bagian dari FKB Jateng. Database pesantren menjadi dasar untuk menentukan berbagai macam kebijakan organisasi. (M. Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba, Pertandingan, IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Mus: Pintar Tak Terdidik Bisa Menyimpang

Rembang,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rais Aam PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menyebut bahwa pendidikan nasional masih sebatas melakukan pengajaran, belum melaksanakan pendidikan. Justru mendidik masih dijumpai di Raudlatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-kanak (TK).

"Saya melihat, mengamati, dan mencocokkan, pendidikan nasional kita masih sebatas pengajaran, kecuali di RA atau TK," ungkap Gus Mus saat bertaushiyah pada peresmian gedung RA dan Kelompok Bermain Masyithoh di bilangan Jalan KH Bisri Mustofa Kelurahan Leteh Kecamatan Rembang, Kamis (1/1).

Gus Mus: Pintar Tak Terdidik Bisa Menyimpang (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pintar Tak Terdidik Bisa Menyimpang (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Pintar Tak Terdidik Bisa Menyimpang

Namun Gus Mus menyesalkan di jenjang berikutnya, mulai Sekolah Dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi, lebih banyak melakukan pengajaran.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih lanjut dia menjelaskan, pendidikan itu lebih pada tarbiyah, sedangkan pengajaran itu lebih bermakna taklim. Makanya tidak heran, karena pengajaran yang diuber, pendidikan menjadi terabaikan.

"Jadi kalau hanya dipintarkan dengan pengajaran, bisa bahaya. Perbanyak mendidik, jangan sekadar memberikan pengajaran atau memberikan informasi. Mereka yang pintar tetapi tidak terdidik, bisa melakukan hal-hal yang justru menyimpang," tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dia mencontohkan, sejumlah pejabat negara dan daerah yang terlibat dalam kasus korupsi, bukan orang-orang bodoh karena mendapat pengajaran hingga di universitas. Namun bagaimana pendidikan para pejabat itu, sehingga tidak mencerminkan sikap dan perilaku seorang yang terdidik.

"Bahkan secara ekstrem saya katakan, lebih baik bodoh daripada tidak terdidik. Program tertentu di komputer bisa jadi akan secara cepat menjawab setiap kebutuhan informasi, namun pendidikan akan memberikan perilaku yang baik kepada orang dalam menggunakan informasi," paparnya.

Secara khusus, Gus Mus berharap kepada setiap guru, terutama di level usia dini, agar benar-benar hadir menjadi pendidik. Meski umur pendidikan di RA atau TK berlangsung hanya dua tahun, menurutnya, itu sudah lumayan untuk meletakkan dasar pendidikan.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Di kelompok bermain pun, guru mesti memasukkan pendidikan. Guru yang kreatif tidak mengajar menggambar, tetapi hubungan gambar itu dengan ciptaan Allah yang lain," tuturnya.

Namun, pendidikan di RA atau TK tetap perlu diimbangi dengan hal yang sama di lingkup keluarga atau orang tua. Menurut Gus Mus, jangan sampai anak yang sudah dididik di sekolah, justru mendapatkan contoh pendidikan yang keliru di keluarga dan lingkungan.

Dengan demikian, lanjut dia, harus ada kerja sama antara lembaga pendidikan, guru, anak didik, dan orang tua. Pendidikan di rumah baik, tapi di sekolah tidak, akan rusak. Misalnya soal tata krama, dididik di sekolah baik, tapi di rumah dididik buruk, ya sama saja rusak," tegasnya.

Gedung baru Raudlatul Athfal dan Kelompok Bermain Masyithoh diresmikan, Kamis (1/1) ditandai dengan pemotongan pita oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri dengan didampingi Nyai Hj. Muhsinah Cholil. Acara tersebut digelar sekaligus dalam kemasan tasyakuran ulang tahun ke-45 RA Masyithoh.

Pembangunan gedung tiga lantai itu mulai dirintis sekitar tahun 2012. Ketua Pengurus RA Masyithoh Nyai Hj. Muhsinah Cholil menyatakan harapannya agar RA dan Kelompok Bermain Masyithoh bermanfaat.

"RA Masyithoh sebenarnya lahir tahun 1969, namun untuk mudahnya, saya catatkan tahun 1970. Saat pertama kali dibuka muridnya 10 orang, kini 120 orang. Dan alhamdulillah setelah beberapa kali menumpang, kini punya gedung sendiri yang representif," ujarnya.

Dia menyebut TK atau RA dan Kelompok Bermain Masyithoh sebagai tempat mendidik generasi penerus yang baik dan berguna bagi bangsa.

"Mudah-mudahan lulusan RA ini nanti, bisa jadi orang yang berguna, manfaat, dan amanah. Jadi jenderal, kyai, kapten, atau pengusaha. Jadi apa saja yang penting amanah," pungkasnya.(Moh. Lilik Wijanarko/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib, Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Inilah Rangkaian Acara Peringatan Hari Santri di Yaman

Yaman, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. PPI Hadhramaut dan PCI NU Yaman yang tergabung dalam Panitia Hari Santri Yaman mengagendakan rangkaian acara untuk menyambut dan memeriahkan peringatan kedua Hari Santri & Hari Pahlawan tahun 2016.?

Secara garis besar rangkaian acara sudah dimulai sejak awal Oktober s/d 30 November mendatang dengan mengusung tema besar Revitalisasi Jihad Santri dan Nasionalisme.

Inilah Rangkaian Acara Peringatan Hari Santri di Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Rangkaian Acara Peringatan Hari Santri di Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Rangkaian Acara Peringatan Hari Santri di Yaman

Setidaknya ada lima agenda yang akan menghiasi momen akbar santri tahun ini, pertama, Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) IX 2016, yang sudah bergulir mulai tanggal 1 Oktober lalu hingga 15 November nanti dengan mengangkat 3 topik berbeda, sedangkan hasilnya akan diumumkan pada tanggal 30 November.

Kedua, lomba status dan fotografi di media sosial, Facebook, yang berlangsung selama satu minggu, yaitu mulai hari Kamis (13/10) sampai Kamis (20/10). Pemenang dalam lomba ini diumumkan pada malam acara Indonesia Santri Club (21/20).

Ketiga, seminar ilmiah internasional yang digelar pada hari Selasa, 18 Oktober, pukul 20:00 KSA di Auditorium Univ. al Ahgaff dengan mendatangkan dua narasumber mumpuni, Dr Muhammad bin Abdul Qodir al ‘Idrus dan Dr Zeid Abdurrahman bin Yahya. Tema yang akan dibahas adalah al Islam wa Hubbu al Wathon.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Keempat, pembacaan Shalawat Nariyah dan Tahlil untuk para pahlawan, yang dilakukan di Asrama Dakhili Univ. al Ahgaff pada hari Rabu, 19 Oktober, pukul 18:00 KSA. Agenda ini merupakan instruksi resmi dari PBNU untuk semua cabang dan ranting NU.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kelima, ISC (Indonesia Santri Club), acara yang bertemakan Aktualisasi Subtansi Jihad di Era Modern ini disajikan pada malam Hari Santri Nasional II, yaitu pada tanggal 21 Oktober, pukul 20:00 KSA di Auditorium Univ. al Ahgaff. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bus Haram

Saat baru tiba di tanah suci Makkah, Marno ingin menjalankan ibadah sunnah di Masjidil Haram. Karena jarak antara pemondokan dan masjid sangat jauh, ia harus menaiki bus umum untuk yang pertama kalinya di Makkah.

Marno pun menghadang bus jurusan Masjidil  Haram di pinggir jalan. Setiap bus yang menuju arah jalur masjidil haram, sang kernet bus menawarkan kepada calon penumpang termasuk Marno.

 “Haram, haram...” kata kernet bus kepada pada penumpang di pinggir jalan.

Ditawari demikian, Marno hanya geleng-geleng kepala. Begitu pula bus lainnya dengan jurusan yang sama, Marno tetap enggan menaikinya.

Bus Haram (Sumber Gambar : Nu Online)
Bus Haram (Sumber Gambar : Nu Online)

Bus Haram

Mendengar kalimat ‘haram’, Marno jadi ragu. “Masa iya naik bus haram,” katanya dalam hati.

Karena ragu, akhirnya Marno kembali ke pemondokan. Ia pun ditanya temen-temennya satu kamar,”kenapa tidak jadi ke Masjidil Haram?.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Bus-nya haram semua,” katanya jengkel. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan, Olahraga PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Islam Nusantara Respon Tepat atas Ekstremisme Global

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ektremisme agama tidak hanya menjadi persoalan di sebuah negara, namun ia merupakan masalah global yang harus diselesaikan melalui kerja sama antar negara. Hal itu yang kerja sama antar pemerintah Denmark dan Wahid Foundation dalam menyelenggarakan Tur Dialog Lintas Agama ke Denmark pekan lalu.?

Salah satu pertanyaan yang kerap mengemuka di dalam pertemuan-pertemuan di Denmark adalah bagaimana cara menghentikan laju ektrimisme agama di dunia.?

Islam Nusantara Respon Tepat atas Ekstremisme Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Respon Tepat atas Ekstremisme Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Respon Tepat atas Ekstremisme Global

Dalam hal itu, Direktur Utama Wahid Founation, Yenny Wahid mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia termasuk negara yang berhasil membendung laju ektremisme agama.?

Keberhasilan tersebut tidak hanya mengangkat nama Indonesia sebagai negara damai, namun sekaligus membantah persepsi dunia tentang agama Islam, yang selalu diidentikkan dengan agama teror dan kebencian.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Yenny mengungkapkan, salah satu kunci keberhasilan Indonesia adalah kerja sama yang baik antara pemerintah dan kelompok agama dalam mengatasi masalah keagamaan termasuk ektrimisme agama.?

“Kerja sama dengan komunitas agama atau masyarakat sipil dengan pemerintah adalah kunci mengatasi radikalisme agama di Indonesia,” kata Yenny Wahdi di Denmark beberapa waktu lalu.?

Tanpa keterlibatan masyarakat sipil terutama melalui lembaga keagamaan, pemerintah akan kewalahan menghadapi gelombang ekstrimisme agama.

Islam model Indonesia atau dikenal luas dengan Islam Nusantara merupakan sebuah sistem ajaran keislaman yang moderat dan tidak ekstrim. Ajaran Islam ini sudah teruji sepanjang Indonesia, bahkan sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah negara.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gagasan global?

Ungkapan serupa juga disampaikan oleh Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Stafuq, yang juga ikut berkunjung ke Denmark. Lebih lagi, Islam Nusantara dengan konsep Islam berkemajuan dianggap dapat menjadi model gagasan Islam yang paling pas untuk merespon radikalisme dunia.?

“Islam Nusantara ini perlu dijadikan percontohan untuk melawan radikalisme oleh masyarakat dunia,” ujar Gus Yahya, sapaanya.?

Sementara itu, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge menganggap bahwa Indonesia merupakan mitra yang penting bagi Denmark untuk memperkuat dan memperdalam hubungan kerjasama di berbagai aspek termasuk penanggulangan terorisme agama.

“Di dunia dimana agama, sayangnya, dijadikan alat untuk memicu konflik, Indonesia menjadi suara yang penting bagi keberagaman, toleransi beragama dan dialog lintas agama,” ujar Casper Klynge.?

Sebelumnya, Kedutaan Besar Denmark di Indonesia bekerja sama dengan Wahid Foundation menyelenggarakan Tur Dialog Lintas Agama ke Denmark pada 20-24 Maret 2017 lalu. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral dan hubungan antar individu Indonesia dan Denmark, mempromosikan keberagaman, dialog lintas agama dan toleransi.?

Yenny Wahid dan Yahya Cholis Staquf merupakan dua dari delegasi Indonesia yang berkunjung ke Denmark selain KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal), Frans Magnis Suseno (Pastor dan Direktur Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara), Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah), dan Sakdiyah Ma’ruf (Komikus).

Selama di Denmark, tim mengunjungi kota Kopenhagen dan Aarhus. Kendati Denmark sedang musim dingin, namun tak menyurutkan niat tim untuk mengunjungi pemerintah Denmark, akademisi di Aarhus University, Copenhagen University, kelompok Islam setempat, hingga siswa sekolah untuk mempromosikan Islam Nusantara. (Ahmad Rozali/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Lomba PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah