Sabtu, 23 Desember 2017

Rais Aam dan Ketum PBNU Diagendakan Hadiri Istighotsah Akbar NU Jatim

Sidoarjo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Istighotsah akbar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang akan digelar di dalam Gor Delta Sidoarjo, 9 April 2017 mendatang rencananya akan dihadiri tokoh dan ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama di antaranya Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Rais Aam dan Ketum PBNU Diagendakan Hadiri Istighotsah Akbar NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam dan Ketum PBNU Diagendakan Hadiri Istighotsah Akbar NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam dan Ketum PBNU Diagendakan Hadiri Istighotsah Akbar NU Jatim

Pernyataan itu disampaikan oleh panitia PCNU Sidoarjo, KH M. Kirom pada acara rapat kooridinasi persiapan jelang istighotsah akbar di ruang gedung olahraga Delta Sidoarjo, Jawa Timur.

"Sebanyak 45 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama akan memenuhi lapangan Gor Delta Sidoarjo dengan beristighotsah bersama, dan diprediksi sekitar 200 ribu hingga 500 ribu jamaah dari berbagai kalangan," kata KH M Kirom, Senin (20/3).

Ia menjelaskan, sebanyak 45 PCNU yang datang, akan dibagi beberapa zona yaitu mulai dari satu hingga empat. Masing-masing PCNU, tempat parkirnya akan disesuaikan dengan arah domisilinya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Untuk zona satu yakni PCNU Bangil, Situbondo, Jember dan seterusnya parkirnya sebelah timur. Surabaya dan Madura ada di utara dan lain sebagainya. Untuk PKL yang berjualan pada hari Ahad, mohon maaf, agar dirampingkan jualannya di sebelah Taman Pinang," jelasnya.

Pelaksanaan istighotsah akbar mendatang akan melibatkan sejumlah unsur baik dari pemerintah maupun aparat keamanan baik TNI/Polri. Adapun di dalam vvip akan dilakukan penataan yang cukup ketat mulai persiapan lokasi vip tokoh NU dan VIP ulama NU.?

Sedangkan untuk pengaturan masuk para jamaah ke lokasi, akan ditentukan oleh aparat keamanan yakni pihak Kepolisian Sidoarjo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sholawat, Aswaja, IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hukum Aqiqah dengan Sapi

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang kami hormati. Sebelumnya mohon maaf apabila pertanyaan kami tidak berkenan di hati. Kami hendak menanyakan hal yang terkait dengan aqiqah. Kebiasaan yang berlaku aqiqah itu dengan kambing sebagaimana yang kami ketahui selama ini.

Hukum Aqiqah dengan Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Aqiqah dengan Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Aqiqah dengan Sapi

Yang ingin kami tanyakan bolehkah aqiqah dengan sapi? Yang kedua, jika boleh apakah satu sapi bisa untuk aqiqah tujuh anak? Bolehkah menyembelih sapi dengan niat aqiqah sebagian orang dan niat qurban sebagian lainnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Fajri/Pemalang)

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. aqiqah memang masalah yang tak akan lekang oleh waktu. Ia selalu berkait-kelindan dengan kelahiran anak. Sepanjang masih ada kelahiran seorang anak manusia, selama itu pula aqiqah akan tetap melekat dan tak terpisahkan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ajaran tentang aqiqah sudah sangat terang-benderang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan, bahwa seorang bayi itu tergadakan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan dicukur rambutnya dan diberi nama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya, dan diberi nama,” (HR Tirmidzi).

Pesan penting yang ingin dikatakan dalam hadits tersebut adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Dengan demikian aqiqah adalah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah dan manifestasi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan.

Sudah jamak diketahui bahwa aqiqah jika bayi yang lahir adalah laki-laki adalah disunahkan dengan menyembelih dua ekor kambing. Sedang apabila perempuan disunahkan dengan menyembelih seekor kambing. Tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam masalah ini.

Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada persoalan serius. Namun persoalan kemudian muncul jika pihak yang mempunyai anak ingin mengganti aqiqah berupa kambing dengan hewan lain, sapi misalnya. Di sini kemudian muncul pertanyaan, bagaimana hukumnya aqiqah dengan sapi? Lantas, apakah sapi bisa dibuat aqiqah untuk tujuh orang bayi?

Untuk menjawab hal ini ada baiknya kita tengok keterangan dalam kitab Kifayatul Akhyar. Dalam kitab ini dikatakan bahwa menurut pendapat yang paling sahih (al-ashshah) aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing (al-ghanam). Namun pendapat lain menyatakan, yang paling utama adalah aqiqah dengan kambing sesuai bunyi hadits yang ada (li zhahiris sunah).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut pendapat yang paling sahih, aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing. Namun dalam pendapat lain dikatakan bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama, yang saya maksudkan adalah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan, karena sesuai dengan bunyi sunah,” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Beirut, Darl Fikr, halaman 535).

Jika kita cermati penjelasan dalam kitab Kifayatul Akhyar itu, dengan jelas mengandaikan kebolehan beraqiqah dengan unta atau sapi. Bahkan dengan sangat gamblang dikatakan di situ, bahwa pendapat yang lebih sahih adalah yang menyatakan bahwa beraqiqah dengan unta atau sapi lebih utama dibanding dengan kambing.

Selanjutnya menanggapi pertanyaan kedua mengenai soal sapi yang dijadikan aqiqah untuk tujuh anak, apakah boleh? Dalam konteks ini diperbolehkan, bahkan jika ada beberapa pihak dengan niat yang berbeda sekalipun.

Misalnya ada tujuh orang yang patungan membeli sapi, dari ketujuh orang tersebut yang tiga berniat untuk aqiqah, sedang yang lainnya berniat untuk berkurban, atau hanya sekedar mengambil dagingnya untuk dimakan ramai-ramai atau mayoran.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika seseorang menyembelih sapi atau unta yang gemuk untuk tujuh anak atau adanya keterlibatan (isytirak) sekelompok? orang dalam hal sapi atau unta tersebut maka boleh, baik semua maupun sebagian dari mereka berniat untuk aqiqah sementara sebagian yang lain berniat untuk mengambil dagingnya untuk pesta (makan besar/mayoran),” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VIII, halaman 409).

Bagi orang tua yang anaknya belum diaqiqahi dan sudah memiliki rezeki yang lapang, sebaiknya segera diaqiqahi.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaSantri, Kyai, IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tindakan Politik Manusia Indonesia

Oleh Bakhrul Amal

Politik adalah tindakan. Begitulah narasi paling purna dari filsuf ternama Yunani, Aristoteles. Arsitoteles mengatakan hal itu bukan tanpa dasar. Dia terlebih dahulu membagi strata keunggulan makhluk hidup dalam dikotomi, phone dan logos. Binatang, sebagai makhluk yang hanya bisa bersuara manakala terluka, berjingkrak taktala bahagia, dia masukan dalam katagori makhluk yang bisa menerima phone atau suara.

Manusia, dengan kelebihan akalnya, dia masukan dalam sub bagian logos. Manusia tidak hanya mampu merintih, tertawa, dan berwajah murah tetapi juga bisa menerima serta membaca tanda-tanda (logos).

Tindakan Politik Manusia Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tindakan Politik Manusia Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tindakan Politik Manusia Indonesia

Res Privata dan perempuan

Pembagian tersebut membentuk konsekuensi. Sebagai makhluk yang hanya mampu menangkap phone, binatang atau lambat laun ditambahkan olehnya wanita disarankan untuk berada pada ranah eikos (rumah tangga) atau dalam bahasa Cicero res privata. Mereka tidak dianjurkan untuk bersikap tidak lebih jauh dari halaman rumah, urusan dapur, tanpa perlu memperbincangkan politik.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tesis Aristoteles tersebut, pada zaman dahulu, sebelum muncul abad pencerahan sempat bertahan. Hingga marak istilah mengenai patriarki dan matriaki dalam hal politik.

Pada abad ke 18, tesis Aristoteles mengenai logos itu runtuh. Tepatnya di era Revolusi Prancis atau era dimana perempuan, melalui konsolidasi salon yang dipelopori Maddam Roland, menemukan titik perjuangannya sebagai bagian yang mampu memengaruhi kebijakan pada waktu itu. Perempuanlah yang justeru mengorganisir aksi dan melawan diskriminasi atas segala hal.

Pergulatan perempuan dalam hal yang tidak privat pun berkembang semenjak itu. Simone de Beauvoir muncul membawa panji-panji feminisme. Dia mendobrak banyak hal yang tabu, yang semula hanya dipikirkan oleh laki-laki. Hannah Arendt kemudian mengikutinya dengan isu banalisme dalam politik dan kesejahteraan sosial yang lebih dekat dengan paham Anarki. Angela Dorothea Merkel (kanselir Jerman) kemudian menjadi simbol dari runtuhnya tesis phone dan res privata Aristoteles di Eropa.

Di Indonesia sendiri, pada era globalisasi sekarang, kewajibikutsertaan perempuan dalam hal politik bahkan diperkuat oleh regulasi-regulasi yang mengikat. Seperti dalam UU No 8 Tahun 2012 Pasal 8 Ayat (2) Poin e berbunyi “menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat”.

Res Publika dan tindakan

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Konsekuensi kedua, setelah phone yang berujung eikos, adalah logos yang kemudian berujung pada kebolehan masuk dalam ranah polis, atau locus dimana keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan diperbincangkan.

Robertus Robet, Sosiolog UNJ, mengatakan bahwa polis sesungguhnya adalah wahana tindakan. Dia menolak asumsi beberapa pengajar politik atau pun pelaku politik yang mengatakan bahwa politik adalah sarana memeroleh kekuasaan. Baginya, politik yang berakar dari polis adalah wahana tindakan untuk mencapai suatu keadilan bersama.

Atas dasar itu, ketika ada yang mengatakan bahwa “ya itulah politik” dalam upayanya ‘menggunting’, mempersulit, dan menghalangi orang lain sesungguhnya hal itu bukanlah politik melainkan kriminil. Atau juga gojekan menyoal “mau jadi pemimpin ya harus punya modal banyak” sesungguhnya bukanlah politik, melainkan transaksi disertai hipotesa yang keliru.

Tindakan politik manusia Indonesia

Uraian tadi setidaknya memberikan kita gambaran bahwa, baik perempuan maupun laki-laki, dalam hal berpolitik haruslah mengutamakan tindakan. Tindakan yang tidak hanya tepat, tetapi juga untuk kebaikan bersama.

Politik tentunya tergantung pada dimana kaki dan matanya berada. Tindakan politik dalam lingkup Indonesia artinya haruslah mengacu pada universum simbolic, atau juga weltanschauung dari Indonesia yakni Pancasila.

Pertama, tindakan politik dari manusia politik Indonesia haruslah mempercayai keberadaan Tuhan yang Esa. Pada setiap rencana keputusan serta kebijakan tidak boleh bertentangan dengan kaidah agama-agama yang telah disepakati bersama.

Kedua, tindakan politik perlu melihat sisi kemunasiaan. Pencapaian akan keadilan tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi keberlangsungan peradaban. Ketiga, upaya merekatkan persatuan haruslah dijadikan pandangan utama dalam mempertimbangkan tindakan politik.

Setiap rencana tindakan politik, baiknya, harus melalui proses deliberative atau dalam nomenklatur politik Indonesia disebut sebagai musyawarah. Dan yang terakhir, atau kelima, tindakan politik harus pula mengupayakan keadilan sosial seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan keadilan di bidang hukum.

Tindakan itu pun selaras dengan syarat yang ditentuntan dalam setiap pemilihan pemimpin; yakni setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Penulis adalah pemerhati politik.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Solo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengasuh majelis Rijalul Ansor Solo Habib Muhammad Al-Habsyi mengimbau umat Islam untuk tetap menaruh rasa hormat kepada para kiai yang berbeda wadah partai dengan mereka. Karena, sebagai warga negara para kiai memiliki hak berpolitik di partai mana pun.

“Orang tidak lagi hormat dan patuh pada ulama. Apabila ada ulama di partai A, maka sebagian umat yang di partai B tidak menyukai ulama tersebut,” terang Habib Muhammad yang merupakan cucu penulis kitab Simthud Durar Habib Ali Al-Habsyi menyayangkan sikap umat Islam demikian, Rabu (5/3).

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Menurutnya, keterlibatan para kiai di ranah politik praktis menjadi berkah tersendiri. Sekurangnya mereka dapat memperbaiki kondisi politik, yaitu mengisi pemerintahan dengan jiwa keulamaan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia berharap, para ulama yang terjun dalam lingkar kekuasaan dapat meniru jejak para khalifah yang sukses menggabungkan kesalehan dan kekuasaan kendati tidak menutup fakta bahwa sebagian kiai belum berhasil mengharmoniskan keduanya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh, Kajian Islam, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

NU Pacitan Fokus Kesejahteraan Umat

Pacitan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pacitan-Jatim menggelar Rapat Kerja Cabang I (Rakercab) Kamis, 24 Januari 2013 di aula kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Pacitan (STAINUPA).

Rekarcab yang diikuti sekitar 150 orang yang terdiri dari Pengurus Cabang, Majelis Perwakilan Cabang (MWC) dan perwakilan Badan Otonom NU se-kabupaten Pacitan ini dirangkai dengan acara Orientasi Pengurus Cabang, kemudian sidang komisi dan sidang pleno. Rakercab tersebut dibuka langsung oleh Rais Suriyah NU Pacitan H. Imam Faqih.

NU Pacitan Fokus Kesejahteraan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pacitan Fokus Kesejahteraan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pacitan Fokus Kesejahteraan Umat

Dalam sambutanya Ketua Tanfidziah NU Pacitan Mahmud menegaskan bahwa dengan potensi kemampuan kader-kader Nahdliyin Pacitan harus mampu mengantarkan organisasi NU menjadi tumpuan harapan sebagian besar umat. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Umat mendambakan adanya terobosan-terobosan baru bagi perbaikan tata kehidupan warga masyarakat, termasuk upaya perbaikan ekonomi, moral, tatanan sosial dan pendidikan ditengah-tengah tandusnya pemahaman dan pengamalan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah di kabupaten Pacitan," jelasnya.

Dikatakan Mahmud, Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi sosial keagamaan besar dituntut untuk mengembangkan diri, mengisi celah kosong yang belum dilakukan oleh komponen bangsa ini, melalui sentuhan-sentuhan  langsung yang mampu memberikan jawaban terhadap pasang surut dan gelombang masalah serta tantangan yang senantiasa muncul silih berganti, baik dibidang ekonomi, politik, budaya, sosial, dan keagamaan tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam Rakercab tersebut ketua lembaga perekonomian NU Cabang Pacitan M. Zafri Wicaksana, juga mensosialisasikan Koperasi Mabadiqu Bintang Sembilan yang bekerjasama dengan BRI Syariah sebagai tempat menyimpan dana anggota serta asuransi Jasindo Takaful sebagai lembaga penjamin anggota koperasi dengan bank. 

"Setiap anggota koperasi Mabadiku Bintang Sembilan nantinya akan diberi kartu NU gratis dari BRI Syariah. Kartanu sebagai ini Kartu NU ini multi fungsi karena menyangkut data anggota NU, rekening di BRI, asuransi Jasindo dan Koperasi itu sendiri," kata ketua lembaga perekonomian itu.

Selain itu ketua lembaga kajian dan pengembangan sumber daya manusia (Lakpesdam) Muhammad Munaji dan Dani Patria Krisna memaparkan program unggulan mendesak yang harus dilaksanakan, yaitu program pendalaman konstitusi yang selama ini masih lemah di tataran struktural maupun kultural NU Serta program diskusi rutin berkala, dua program itu dimaksud untuk meningkatkan SDM pengurus dan warga NU Pacitan.

Semua gagasan program kerja yang telah dirumuskan pada sidang komisi dan disahkan pada sidang pleno Rakercab Nahdlatul Ulama Cabang Pacitan tersebut semuanya tidak lain untuk kesejahteraan warga NU Pacitan pada khususnya dan umumnya pada seluruh warga negara.

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Zaenal Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Tokoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta

Majalengka, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Lembaga Pemberdayaan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Majalengka Jakfar menyatakan prihatin atas terendamnya ribuan hektare sawah milik petani di empat desa di kecamatan Ligung dan kecamatan Sumberjaya, Majalengka. Banjir akibat luapan sungai Cikamangi ini, menyebabkan kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Banjir merendam empat desa itu seperti desa Sukawera, desa Leuweunghapit, desa Majasari kecamatan Ligung, dan desa Lojikobong kecamatan Sumberjaya.

Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta

Jakfar menjelaskan, jika musim hujan tiba sungai Cikamangi meluap dan tanaman padinya dipastikan terendam banjir. Masalah banjir ini terjadi setiap tahunnya. Lazimnya air baru surut setelah empat hari. Ironisnya, pemerintah daerah maupun instansi terkait lainnya belum menangani masalah klasik ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kalau sering terendam banjir, tanaman padi menjadi rusak dan kami selalu gagal panen hingga rugi puluhan juta rupiah,” kata Jakfar saat ditemui PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah di mushola samping Gedung PCNU Majalengka, Selasa, (3/2) siang.

Dulu, Jakfar bercerita, para petani sempat menormalisasikan sungai tapi itu sudah berlangsung lama. "Kalau sekarang belum digaruk lagi, jadi air sungai meluap lagi," katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut para warga, banjir luapan sudah terjadi setiap tahun terhitung dari tahun 2000 hingga merendam ratusan tanaman padi. "Sampai sekarang masih turun hujan, airnya masih menggenangi ribuan hektare tanaman padi milik petani," tuturnya.

Pihak LPPNU Majalengka menuntut Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) segera menormalisasi aliran sungai Cikamangi karena selalu merugikan petani. "Kami harap BBWSC segera turun tangan, agar kerugian petani tidak terjadi setiap tahunnya,” jelasnya. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Olahraga, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

Oleh Aswab Mahasin

Judul tulisan ini mengambil dari tema ‘Hari Santri’ 2017 yang digagas Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag)—menarik untuk digali lebih dalam. Tidak lain, tema tersebut ingin menggambarkan bahwa pesantren identik dengan Indonesia, baik secara kultur, pendidikan, nilai yang dibangun, dan jiwa para santrinya.

Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

Bagi saya ada sesuatu yang menggelitik dari tema itu, yakni penggunaan kata “wajah”—di sini Kemenag memakai dua kata “wajah”; wajah pesantren dan wajah Indonesia. Secara langsung atau tidak, Kemenag ingin memunculkan pesan, ada dua wajah yang identik sama/kembar antara pesantren dan Indonesia.

 

Bisa juga dua kata “wajah” ini saling berkaitan. Maksudnya, berbicara wajah Indonesia tidak bisa lepas dari wajah pesantren, begitupun sebaliknya, berbicara wajah pesantren tidak bisa lepas dari wajah Indonesia. Artinya, dua wajah ini berhadapan melebur menjadi satu kesatuan, melahirkan tatanan lain dalam irama keindonesiaan, khususnya altar keislaman. Wajah keislaman Indonesia dibentuk oleh transmisi nilai yang dilakukan para santri tradisionalis, reformis, maupun modernis. Sehingga melahirkan tatanan nilai, norma, dan kebiasaan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Lebih jelasnya begini, dalam perkembangan sejarahnya Indonesia selalu berganti wajah, dari mulai wajah pra-sejarah, wajah hinduisme-budhisme, sampai pada wajah kerajaan Islam, dan dakwah para Wali. Masa-masa ‘wajah’ tersebut melahirkan standar nilai yang tidak sama dalam kultur Indonesia. Proses ‘produksi wajah’ pun berjalan dalam jenjang waktu yang tidak sebentar. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Puncaknya adalah dakwah para Wali menggeser dominasi wajah sebelumnya, pun dibarengi dengan lahirnya pesantren (terlahir di masa para wali) dan pesantren terlahir kembali di masa penjajahan dengan mengusung misi tambahan, yaitu kemerdekaan. Standar nilai yang digunakan tidak hanya pengislaman, melainkan nilai-nilai perjuangan pula (Perang Jawa, Perang Aceh, Resolusi Jihad, dan masih banyak lainnya). Jadi, tidak ada yang salah jika Kemenag mengatakan “Wajah Pesantren, Wajah Indonesia”, di dalam tubuh para santri ada semangat “merah-putih”.

Perkembangannya, wajah pesantren yang berwajah Indonesia menjadi standar etika kaum santri, setiap santri harus memberikan sumbangsih terhadap bangsanya (Indonesia) dalam bidang apapun (sesuai kemampuannya). Sebaliknya, wajah Indonesia yang berwajah pesantren ini menghasilkan kultur yang damai dan tentram, saling menghormati perbedaan, dan bisa hidup berdampingan. Kenapa demikian? 

Ada “penampakan wajah” antara pesantren dan Indonesia, keduanya saling bermuwajahah. Dalam aktifitas sosial, wajah keduanya bukanlah wajah individual (satu orang), melainkan komunal (banyak orang). Di mana tanggung jawab saling mengisi kebaikan/kemanfaatan, saling memberi, dan saling mengasihi. 

Levinas dalam diskursusnya menuliskan, “Penampakan wajahbukan bagian dari aku, bukan pula diukur dari tolok ukurku. Yang lain itu sama sekali berbeda dari aku. Namun demikian, hubungan dengan yang lain tidak melahirkan kekerasan karena kehadiran yang lain menghadirkan tanggung jawabku terhadapnya. Jadi kehadiran yang lain membuahkan kedamaian dan menumbuhkan struktur positif kehidupan, yaitu etika.”(Haryatmoko, Dominasi Penuh Muslihat: Akar Kekerasan dan Diskriminasi, [Gramedia: Jakarta, 2010]. Hlm. 116)

Wajah pesantren tidak akan berpaling dari wajah Indonesia, pesantren akan terus memberikan gizi kebaikan dan kedamaian terhadap wajah Indonesia. Sekarang ini, wajah Indonesia yang begitu kompleksnya telah ditumbuhi banyak jerawat, nampak kecantikannya mulai pudar, tapi pesantren dan santrinya (sekaligus kiai-nya) tidak akan pernah bosan-bosan untuk membersihkan jerawat-jerawat yang menempel di wajah Indonesia, entah itu jerawat koruptor, jerawat narkoba, jerawat kenakalan remaja, jerawat terorisme, jerawat hoaks, jerawat mengatasnamakan agama (untuk tindakan yang tidak pantas), dan jerawat-jerawat lainnya yang bisa saja mengancam keindahan wajah Indonesia.

  

Wajah Indonesia tidak butuh kosmetik yang hanya bersifat sementara atau kadang memanipulasi kecantikan wajah. Dengan kata lain, Indonesia tidak butuh nasionalisme yang selalu menuntut tumbal. Hukum kita kadang mengajarkan nasionalisme keliru (dengan pasal-pasal karetnya), setiap aktifitas politik (entah itu berupa gerakan massa atau gerakan politik) ketika berbicara keadilan hukum, keadilan sosial, dan keadilan-keadilan lainnya maka mereka menuntut “tumbal”.

‘Malapraktik nasionalisme’ ini membuat wajah Indonesia semakin kehilangan daya tariknya. Wajah Indonesia butuh sentuhan kebaikan yang konsisten/istiqomah. Agar wajah Indonesia tetap terjaga, karena ‘wajah’ adalah representasi dari kondisi yang sedang dialami, baik secara fisik maupun mental, terlihat di wajah—ketika murung, gembira, bahagia, sakit, dan sedih. 

Seharusnya kompleksitas wajah di Indonesia tidak menjadi penghalang bagi “wajah lain”. Kehadiran banyak wajah lain bagian dari realitas yang konkret dan takdir pasti yang tidak bisa dielakkan. Ini harus disadari sebagai tanggung jawab dan sikap simpati/empati terhadap berbagai perbedaan wajah. Bukan malah meniadakan wajah lain. 

Karena Tuhan selalu menciptakan wajah yang berbeda, adapun yang kembar secara fisik belum tentu kembar secara pemikiran. Begitupun dalam agama, agama bisa berbeda pola pikir, berbeda madzhab, dan berbeda pandangan—walaupun keyakinan imannya sama. Namun, bukan berarti harus saling meniadakan, melainkan merawatnya sebagai keniscayaan.

Levinas menggambarkannya lagi dalam filsafat wajahanya, “Wajah sebagai penampakan ‘yang lain’ adalah wujud sempurna yang bukan kekerasan karena ia tidak melukai kebebasanku, melainkan mengundang bertanggung jawab untuk meneguhkan kebebasanku. Dengan demikian, ia merupakan bentuk penerimaan pluralitas. Ia adalah kedamaian. ‘Yang lain’ tidak menjadi penghalang ‘yang lain’. Yang lain akan menjadi penghalang ketika ia merasa benar.” (Haryatmoko, Dominasi Penuh Muslihat: Akar Kekerasan dan Diskriminasi, [Gramedia: Jakarta, 2010]. Hlm. 118)

Karena banyaknya “wajah lain”, Kemenag membuat tema “Wajah Pesantren, Wajah Indonesia”. Berharap wajah pesantren mampu mengimbangi ‘wajah lain’ dalam aktifitas berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, wajah pesantren harus selalu menghiasi wajah Indonesia. Inilah waktu yang tepat, Hari Santri 22 Oktober 2017 bisa dijadikan momentum oleh para santri, bermimpi, bercita-cita, dan berjanji untuk selalu mengukir prestasi diberbagai bidang, seperti; olah raga, pendidikan, seni, dan sebagainya dengan membawa nama bangsa Indonesia. Jadi, “Kita bersatu dalam prestasi bukan bercerai dalam emosi.”

Saya tutup dengan sebuah Hadits. Diriwayatkan dari Amar an-Naqid, dari Katsir Ibnu Hisyam, Ja’far Ibnu Burqan, dari Yazid Ibnu al-Asham, dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Allah tidak melihat tubuh dan bentuk rupa kalian; Dia hanya melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Penulis adalah pembaca setia PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, Bahtsul Masail, Ubudiyah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah