Senin, 18 Desember 2017

Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar

Sragen, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Program “Gerakan Koin NU Nusantara Menuju Mandiri” kini telah mencapai angka Rp 2 miliar. Meski telah mendapatkan dana cukup besar, Pengurus NU Sragen akan terus meningkatkan perolehannya dengan target mencapai Rp 5 miliar.

“Tahun ini, target dapat menembus angka Rp 5 milyar,” kata Ketua LAZISNU Sragen, Suranto, saat dihubungi PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (17/4).

Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar

Menurutnya, angka tersebut diharapkan dapat tercapai, mengingat potensi warga NU yang tersebar di 20 kecamatan wilayah Kabupaten Sragen.

Dipaparkan Suranto, program ini telah berjalan hampir satu tahun. “Berjalan bertahap dari 20 kecamatan. Paling awal MWCNU Karang Malang, yakni setahun lalu. Kemudian yang terbaru MWCNU Kalijambe baru mengawali,” ungkap dia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk saat ini, lanjut Ranto, pemanfaatan dana baru digunakan untuk menambah jumlah kotak koin, yang kemudian akan dibagikan ke jamaah secara cuma-cuma. “Ada 38.591 kotak koin yang sudah kita bagikan ke warga dan akan terus bertambah,” terangnya.

Sebelumnya program “Gerakan Nasional Koin NU” di wilayah NU Sragen juga telah mendapatkan apresiasi langsung dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Apresiasi Kiai Said disampaikan langsung saat membuka peresmian“Gerakan Nasional Koin NU” di Sragen, belum lama ini (14/4). (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawii)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Makam, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Klaten,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ribuan jamaah menghadiri peringatan haul ke-60 KH Muhammad Manshur di kompleks Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

Salah satu panitia acara, Darmadji, Senin (22/12), menjelaskan haul diadakan bersamaan dengan putaran pertama kegiatan bersholawat 12 malam Jamaah Muji Rosul (Jamuro) Surakarta.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Acara diawali dengan pembacaan khatmil Qur’an dan tahlil yang dipimpin Mbah Kiai Djablawi dan KH Nasrun. Kemudian dilanjutkan pembacaan maulid kitab al-Barzanji, karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji. Sebagai penutup, mauidlah hasanah oleh Habib Umar Muthahar dari Semarang.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam ceramahnya, Habib Umar menerangkan tentang generasi salafi yang sebenarnya. “Salafi itu generasi yang hidup setelah tabi’it tabi’in seperti Imam Syafi’i dan lainnya,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, mereka itu juga melakukan maulidan, tahlilan. “Lha, zaman sekarang ada orang yang mengaku sebagai kaum salafi, tapi tidak mau mengikuti amalan ulama salaf. Lalu, mereka itu salaf ikut siapa?” tanya Habib Umar.

Habib Umar juga mengajak kepada para jemaah untuk bersama ikut mencintai Nabi Muhammad SAW.

Turut hadir dalam acara tersebut KH A Djablawi, KH Nasrun Minallah dan sejumlah pengurus NU Klaten. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kiprah dan perjuangan melalui Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) hendaknya bukan hanya untuk masa sekarang. Namun juga untuk masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, LPTNU harus tahu apa kira-kira yang akan terjadi di masa depan.

Hal itu diungkapkan Penasihat LPTNU M. Nuh dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LPTNU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (16/11) sore.?

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

M. Nuh: Pendidikan Tinggi NU Harus Berorientasi Masa Depan

“Kalau tidak begitu, kasihan anak-anak kita. Ibarat menugaskan orang pergi ke Jepang begitu sampai di Jepang uang yang dibawa tidak laku,” kata Nuh.

Itu sebabnya, lanjut Nuh, pendidikan tinggi NU harus berorientasi ke depan, agar hasil pendidikan tersebut cocok dengan masa depan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Nuh menyebut ada beberapa alasan mendasar mengapa pendidikan tinggi NU harus mengacu kepada masa depan. Salah satunya berdasarkan hasil sebuah survey yang dirilis tahun 2016 bahwa persoalan makin rumit, sementara waktu yang diperlukan semakin cepat.

“Itu yang harus menjadi dasar dalam membekali anak-anak kita. ? Kalau enggak, anak-anak kita akan menjadi generasi expired,” tegasnya.

Lebih lanjut Nuh menyampaikan hasil pendidikan adalah ilmu dan keterampilan. Sementara ilmu dan keterampilan ada masanya, sehingga bisa saja dibuang.

“Misalnya pesawat televisi tabung besar sekarang sudah ganti semua. Transistor juga sudah enggak dipakai. Kecuali sikap yang nggak akan dibuang sampai mati.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Nuh mendorong agar perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan kemampuan orde tinggi. Anak-anak harus kreatif dan diasah intuisinya. Sering intuisi dulu baru logika. Ada juga logika dulu baru intuisi. Jangan sampai mendidik mereka dengan cara yang tidak sesuai.

Nuh juga mendorong agar perguruan tinggi NU membuka keilmuan hingga jenjang S2 dan S3, khususnya untuk perguruan tinggi yang sudah sehat finansial, organisasi, dan akademik.

Nuh berkeyakinan bahwa peningkatan kapasitas perguruan tinggi adalah bagian dari Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran) yang secara destingtif menjadi kekhasan NU, selain Nahdatul Wathon (kebangkitan tanah air), dan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi). (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Jadwal Kajian, AlaSantri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di Festival Keraton, Ini Tujuh Rekomendasi Raja se-Nusantara untuk Jokowi

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk memperkuat jalinan persatuan bangsa dan meneguhkan kearifan lokal Nusantara, sejumlah kerajaan di Indonesia menggelar Festival Keraton ke-11 di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Di Festival Keraton, Ini Tujuh Rekomendasi Raja se-Nusantara untuk Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Festival Keraton, Ini Tujuh Rekomendasi Raja se-Nusantara untuk Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Festival Keraton, Ini Tujuh Rekomendasi Raja se-Nusantara untuk Jokowi

Dalam kesempatan yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo ini, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dari Cirebon menyampaikan tujuh rekomendasi yang tertuang dalam secarik kertas untuk presiden dan pemerintah.

Rekomendasi yang dibacakan Arief bernama Rekomendasi Musyawarah Agung Festival Keraton ke-11 Tahun 2017. Dalam rekomendasi itu, baik raja, sultan, permaisuri, ratu, dan juga keluarga kerajaan menyatakan tekadnya untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami, raja, pangeran dan ratu se-Nusantara berdasarkan UUD RI 1945 dan UU yang berlaku merekomendasikan kepada Yang Mulia Presiden sebagai berikut," kata Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat di Goa Sunyaragi, Kesambi, Cirebon, Jawa Barat, Senin (18/9) mengawali pembacaan rekomendasi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pertama, keraton se-Nusantara bertekad untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan melestarikan dan memasyarakatkan nilai-nilai luhur Pancasila yang terdapat dalam pembukaan UUD RI 1945.

Kedua, kebudayaan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dilestarikan dan dimajukan. Maka, ditingkatkan anggaran kebudayaan perlu ditingkatkan, minimal sebesar dua persen dari APBN dan APBD.

Ketiga, sebagai sumber-sumber kebudayaan, revitalisasi pelestarian dan pengembangan keraton-keraton se-Nusantara, perlu ditingkatkan agar bisa meningkatkan peran serta pembangunan pariwisata nasional yang terbukti bisa menjadi sumber pendapatan negara, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan ekonomi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Keempat, dua per tiga luas Indonesia adalah lautan yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Maka, keraton se-Nusantara bersama pemerintah perlu meningkatkan budaya maritim sebagai jati diri bangsa Indonesia yang berwawasan Nusantara.

Kelima, Indonesia merupakan masyarakat agraris, terdiri dari nelayan dan petani yang perlu ditingkatkan kesejahteraaannya melalui reformasi agraris dengan pengoptimalan tanah keraton dan lahan untuk mencapai swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.

Keenam, sultan dan raja sebagai pemimpin kebudayaan dan penjaga keutuhan persatuan Republik Indonesia di daerah perlu berperan aktif masuk ke dalam forum komunikasi pimpinan daerah. 

Ketujuh, festival Keraton Nusantara yang pertama kali diselenggarakan tahun 1995 di Solo bersama keraton se-Nusantara perlu terus dilanjutkan dan dioptimalkan karena bisa menjalin silaturahmi menjaga kebhinnekaan dan persatuan antarkeraton.

"Tidak hanya itu, diselenggarakannya Festival Keraton Nusantara diharapkan dapat melestarikan dan memajukan kebudayan nasional dan pariwisata Indonesia," ujar Arief Natadiningrat dilansir Kumparan.

Menanggapi rekomendasi itu, Jokowi berniat mengundang para raja, sultan, ratu, permaisuri, dan pangeran datang ke Istana Negara Jakarta untuk bertemu menindaklanjuti tujuh rekomendasi tersebut dalam waktu dekat.

Dari rekomendasi yang telah disampaikan itu, akan dipertimbangkan mana yang bisa dijalankan pemerintah dan mana yang harus diselesaikan bersama-sama. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Aswaja NU Center Jatim Kaji “Keutamaan Bulan Rajab”

Surabaya,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan rutin Kajian Islam ala Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Kiswah di PW Aswaja NU Center Jawa Timur dimulai kembali sore pada Sabtu (25/4). Diskusi ini sebagai kegiatan rutin mingguan yang selalu diselenggarakan kepengurusan ini.

Aswaja NU Center Jatim Kaji “Keutamaan Bulan Rajab” (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center Jatim Kaji “Keutamaan Bulan Rajab” (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center Jatim Kaji “Keutamaan Bulan Rajab”

"Tema yang diangkat pada pertemuan kali ini seputar dasar amaliyah dan keutamaan bulan Rajab," kata koordinator Kiswah, Ustadz Ahmad Muntaha, AM. Sedangkan yang tampil sebagai narasumber atau pemateri adalah KH Abdurrahman Navis yang juga sebagai direktur.

Dalam paparannya, KH Abdurrahman Navis menandaskan bahwa bulan Rajab adalah termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah dari empat bulan yang lain. "Keempat bulan tersebut adalah Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharaam serta Rajab," kata dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Karena begitu mulia keberadaan bulan Rajab ini, maka sebagian ulama memotivasi untuk memperbanyak ibdah. "Ibadah yang dianjurkan bisa berupa dzikir, shalat, puasa dan amal lainnya," katanya sembari mengutip keterangan di kitab Durratun Nasihin.

Dari berbagai sumber hadits yang ada, hampir semuanya menjelaskan tentang keutamaan dan janji pahala puasa Rajab. Kendati ada sejumlah ulama yang mempermasalahkan hadits tersebut, bukan berarti mengemalkan puasa Rajab dilarang, apalagi dianggap sebagai bidah. "Karena pada saat yang sama, banyak hadits yang menganjurkan puasa," tandas Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Karena itu, puasa di sebagian bulan Rajab hukumnya tetap sunnah, lanjutnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bagi kalangan yang ingin tidak terjebak dengan khilafiyah terkait ibadah saat bulan-bulan tertentu, maka dianjurkan untuk mengisi dengan ibadah sunnah yang tidak terikat waktu. "Tidak dengan shalat khusus malam nisfus Syaban, misalnya," kata Kiai Navis, sapaan akrabnya. Sehingga hari-hari dalam bulan tersebut diisi dengan ibadah yang sifatnya umum seperti sedekah, shalat sunnah, dzikir dan sejenisnya, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini.

Kiswah atau Kajian Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah diselenggraakan setiap hari Sabtu dari jam 2 siang hingga 4 sore. Narasumber yang dihadirkan disesuaikan dengan tema yang akan dibahas. "Untuk kajian pertemuan Sabtu mendatang, membahas tentang status negeri dan negara Indonesia dalam perspektif Aswaja, sebagai jawaban atas propaganda Indonesia negara kafir," tandas Ustadz Ahmad Muntaha AM.

Aswaja? NU Center mempunyai lima divisi, yakni divisi Kiswah (Kajian Islam ala Ahlus sunnah wal Jamaah ), Dakwah (Daurah Ahlus Sunnah wal Jamaah), Makwah (Maktabah Ahlu as-sunnah wal Jamaah), Uswah (Usaha Sosialisasi Ahlus Sunnah wal Jamaah), dan Biswah atau Bimbingan Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, Kiai, Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mustasyar PBNU: NU Tidak Berpolitik Praktis

Kudus, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi meminta jajaran syuriah dan tanfidziah menjelaskan hubungan Nahdlatul Ulama dan partai politik secara benar dan utuh. Sebab, hingga kini masih ada penilaian sebagian kalangan bahwa NU masih terlibat kegiatan dengan partai politik.

“Harus kita tegaskan NU tidak berpolitik praktis, tetapi banyak warga NU berada di berbagai partai politik,” ujar Kiai Sya’roni -sapaan akrab KH Syaroni Ahmadi, pada acara peringatan khaul KH Abdurrahman Wahid dan Koordinasi PCNU kabupaten Kudus di Aula kantor PCNU, Ahad (16/1).

Mustasyar PBNU: NU Tidak Berpolitik Praktis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU: NU Tidak Berpolitik Praktis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PBNU: NU Tidak Berpolitik Praktis

Menurut Kiai Sya’roni, penjelasan kedudukan NU-parpol sangat mendesak dilakukan sehingga warga Nahdliyyin tidak mengalami kebingungan. Kiai Kharismatik asal Kudus ini mencontohkan, di daerah Jepara ada sebuah keinginan dari beberapa aktifis parpol yang ingin mengganti nama Muslimat NU dengan Wanita Persatuan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Meski hal tersebut tidak terwujud, namun itu menjadi gambaran akibat kurang paham kedudukan NU dengan  parpol. Ini tugas pimpinan NU untuk menerangkan  yang benar,” tegasnya. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu, tambah Kiai Syaroni, para elit NU tidak perlu membawa kebesaran organisasi dalam kegiatan politik praktis. Karena hal itu, akan menyulitkan Nahdlatul ulama dalam memperjuangkan ummat.

“Kalau NU ikut-ikutan berpartai, maka akan menjadi pembenaran bahwa NU masih punya hubungan dengan partai politik tertentu. Sehingga akan sangat sulit dalam memberi nasehat kepada warga NU,” Tandasnya seraya mencontohkan kongres Ansor di Surabaya yang sebagian besar kandidat ketua umum adalah  politisi parpol.

Didepan ratusan Syuriah Dan Tanfidziah MWC dan Ranting se-Kudus itu, Kiai Sya’roni juga memberi wejangan dalam mengelola Nahdlatul Ulama harus mantap memimpin dan disenangi anggotanya.

“Sebagai pimpinan harus bisa menyenangkan anggotanya baik melalui sikap maupun program-programnya sehingga semangat berjamiyah selalu tumbuh dan berkembang di kalangan Nahdliyin,” ujarnya. (adb)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal, Nasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Bentuk Kelompok Belajar Usaha, NU Gayam Rutin Latih Jamaah

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola organisasi, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengadakan pelatihan administrasi dan keuangan.

Bentuk Kelompok Belajar Usaha, NU Gayam Rutin Latih Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentuk Kelompok Belajar Usaha, NU Gayam Rutin Latih Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentuk Kelompok Belajar Usaha, NU Gayam Rutin Latih Jamaah

Kegiatan tersebut digelar melalui Kelompok Belajar Usaha (KBU) Ismanu yang bergerak di bidang pendidikan wirausaha. Ismanu? adalah akronim dari Islam manut NU.

Sekretaris KBU Ismanu Musran menyatakan, pelatihan yang berlangsung Rabu (25/1) itu merupakan program rutin tahunan. Tujuannya adalah memperkuat manajemen kelembagaan secara administratif.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Selain pelatihan administrasi keuangan, kami sebelumnya juga mengadakan pelatihan wirausaha serta pelatihan pembuatan pakan ternak alternatif dengan memanfaatkan limbah pertanian dan pengaaderan anggota," terangnya.

Dia berharap, program yang telah dilakukan bisa menambah wawasan anggota atau jamaah yang tergabung dalam KBU Ismanu. Pada saat Rapat Anggota Tahunan (RAT), sudah ada kader yang siap ditunjuk untuk menjadi pengurus baru.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Gayam Kiai Muhammad Sholihin menambahkan, kelompok belajar usaha ini bisa menjadi embrio yang bisa dikembangkan di setiap Pengurus Ranting NU yang ada di Kecamatan Gayam.

"Ke depan KBU akan dikembangkan di setiap ranting, maka NU secara jamiyah dan jamaah akan mandiri secara ekonomi," tegas alumni Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Kabupaten Pati Jawa Tengah ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Daerah, Lomba, Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah