Rabu, 13 Desember 2017

Sesama Mukmin Ibarat Satu Badan

Yogyakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar Forum Silaturrahim Ulama dan Ormas Islam se-DIY pada Kamis, 30 Agustus 2012, di Hotel Ruba Graha Yogyakarta.?

Kegiatan yang dihadiri kalangan pesantren dan pengurus ormas di DIY ini mengusung tema Revitalisasi Peran Ormas dan Pondok Pesantren dalam Transformasi Politik Kebangsaan dan Penguatan Masyarakat Madani (civil society) dalam Bingkai NKRI.

Sesama Mukmin Ibarat Satu Badan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesama Mukmin Ibarat Satu Badan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesama Mukmin Ibarat Satu Badan

Dalam sambutannya sebagai Rais Syuriyah PWNU DIY, KH Asyhari Abta mengatakan bahwa sesama mukmin di dalam tolong menolong dan saling menyayangi, itu bagaikan satu badan. Jika salah satu anggota sakit, maka seluruh tubuh akan bela sungkawa.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ketika kita merasakan sakit gigi, maka semua anggota badan ikut bela sungkawa,” tegasnya.

KH Asyhari Abta juga menjelaskan bahwa di zaman rasul terbukti persaudaraan kuat. Ini terbukti di zaman nabi ketika terjadi kehausan, rasul membawa air. Semua dikasih, tetapi saling mendahulukan kawannya sampai mereka mati.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ada anekdot, di malam hari raya ada sahabat yang tidak punya apa-apa. Lalu di pinjam gandum ke kawannya. Kawannya meminjami gandung sekantong kecil. Baru minjam, lalu dipinjam lagi. Dan dipinjam lagi. Sampai yang terakhir adalah pemilik kantong tersebut,” lanjutnya. ?

Namun, KH Asyhari Abta menyayangkan ? sekarang ini ukhuwah yang terjadi di kalangan umat Islam semakin lemah. Banyak da’i muda yang suka menyalah-nyalahkan dan merasa benar sendiri, sehingga yang sering dimunculkan adalah perbedaan. Kita harus makin dewasa untuk memajukan umat dengan menghindari sikap saling menyalahkan.

“Terkait pentingnya ukhwah dalam Islam, Rasulallah saw. menggambarkan “Jadilah seperti dua tangan, jangan seperti dua telinga. Dua tangan tidak saling iri, bahkan saling membantu. Sedang dua telinga saling iri, tidak pernah bertemu,” tegas Kiai Asyhari.

?

Persaudaraan kokoh, negeri makmur

KH Asyhari Abta juga menjelaskan bahwa jika persaudaraan, baik ukhuwah islamiyah, wathaniah, dan basyariah itu kokoh, maka negara ini akan makmur. “Sayangnya kita masih mempersoalkan perbedaan, misalnya penggunaan doa qunut, dan doa iftitah,” tegasnya.

Agar persaudaraan semakin kokoh, Kiai Asyhari menggambarkan agar umat Islam jangan sampai seperti buih. Gambaran ini sudah ditegaskan Rasulullah, bahwa: “Besok kamu akan dikepung oleh musuh seakan nasi satu piring yang diserbu banyak serigala. Sahabat bertanya apakah besok kita minoritas? Rasulullah menjawab, Tidak! Bahkan mayoritas. Tetapi Islam seperti buih di lautan, karena sangat mencintai dunia, tapi takut akan mati.”

Kiai Asyhari mengingatkan agar jangaumat Islam jangan sampai terjebak hanya mencari dunia. Oleh karena itu, lanjut beliau, umat Islam jangan mencari perbedaan, tetapi persamaan. Sebab perbedaan pasti ada. Tetapi jika mencari persamaan yang positif, pasti ada ukhuwah.

Revitalisasi peran ormas

Sementara itu, KH Hasan Abdullah dalam sambutannya sebagai ketua panitia menjelaskan bahwa diadakannya kegiatan ini didorong atas kesadaran manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, baik di bawah payung organisasi maupun payung kultural. Beliau menegaskan bahwa watak manusia suka berkumpul dalam berkelompok, baik kecil maupun besar. Hal itu terbukti dengan banyaknya ormas Islam di Indonesia, seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah.

KH Hasan juga menjelaskan bahwa tidak sedikit umat yang tidak masuk ke organisasi masyarakat Islam, entah karena tidak tahu atau enggan, sehingga perlu dilakukan revitalisasi ormas Islam, agar dapat menaungi semua elemen masyarakat.

“Saatnya ormas-ormas Islam dan pesantren untuk tidak hanya menaungi warga masing-masing, tetapi juga menaungi semua warga negara. Karena posisi negara itu sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang berbunyi, ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib. Dengan begitu, ormas Islam dan pesantren juga harus membimbing masyarakat agar beragama dengan baik, berbangsa dan bernegara dengan baik,” tegasnya.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Anas/Suhendra?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, News, AlaNu PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Muslimat NU Rembang Ajak Perangi Tiga Hal Ini

Rembang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Rembang, Hj Munisah Ridwan mengajak kepada segenap anggotanya untuk memerangi tiga hal yang menjadi permasalahan di masyarakat. Ketiga hal itu diantaranya, kebodohan, kemiskinan, dan narkoba yang mempunyai potensi dapat menyerang siapa saja.





Muslimat NU Rembang Ajak Perangi Tiga Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Rembang Ajak Perangi Tiga Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Rembang Ajak Perangi Tiga Hal Ini

Menurut Munisah, kebodohan, kemiskinan, dan penyalahgunaan narkoba merupakan pokok permasalahan krusial yang perlu diwaspasai karena dapat merusak dan melemahkan generasi bangsa dan negara. Sebagai persiapan menangkal terjadinya penyesalan, ia mengingatkan untuk terus waspada.

"Mari kita senantiasa tidak letih untuk membentengi diri dari prilaku dan perbuatan yang kiranya akan berlaku negatif dilain hari. Oleh karena itu sikap waspada sangat diperlu dilakukan," kata? Munisah saat memperingati Harlah ke-70 Muslimat NU di halaman Masjid Agung Rembang, Ahad (24/4).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain peringatan Harlah Muslimat, kegiatan ini juga dirangkai dengan peringatan hari Kartini ke-137 yang dihadiri ribuan pengurus dan anggota Muslimat NU dari 9 Anak Cabang. Selain itu pada acara ini juga dilakukan deklarasi Laskar Anti Narkoba sebagai upaya untuk menangkal penyebaran narkoba di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. (Ahmad Asmui/Zunus)?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Doa PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Nurani Kemanusiaan yang Universal

“Kemanusiaan itu satu, seperti juga lapar. Tidak ada lapar secara Islam. Tidak ada lapar secara Kristen.” (Muslim Abdurrahman)

Perang dan damai merupakan rangkaian siklus tak terputus. Rotasi kesinambungan ini sangat mengkawatirkan populasi manusia di seluruh dunia. Di satu sisi, keberadaannya bisa dianggap wajar dalam setiap proses interaksi manusia. Namun, berpasrah dengan bencana kemanusiaan ini bukanlah sikap yang harus dikedepankan. Upaya yang serius untuk memutus siklus itu sangat urgen segera dilakukan dengan beragam strategi jitu. Tanggung jawab sebagai aktor perdamaian bukan hanya diemban oleh orang atau komunitas tertentu saja, tapi juga oleh semua manusia yang memiliki nurani kemanusiaan.

Holsti, mengutip hasil penelitian Zeev Maoz, menyebutkan bahwa sejak tahun 1815 (bertepatan dengan Kongres Viena) hingga tahun 1976, telah terjadi 827 macam konflik. Data sebelumnya, berdasarkan data Quincy Wright yang mengidentifikasi perang di negara-negara Barat sejak 1480 hingga 1940, menemukan adanya 278 konflik (Artikel Muhammad Amin Summa, hlm.70). Sampai abad ke-21, gelombang konflik masih terus berlangsung. Diantara dalam lingkup antar suku, intra negara, antar agama, hingga antar negara ? dan kepentingan. Dan tidak ada yang bisa menjamin, konflik dan peperangan itu akan berhenti atau semakin menjadi-jadi di masa yang akan datang.

Nurani Kemanusiaan yang Universal (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurani Kemanusiaan yang Universal (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurani Kemanusiaan yang Universal

Menyadari dampak negatif yang luar biasa dari beragam kasus tersebut, maka buku ini hadir sebagai salah satu “alarm” untuk penyadaran segenap elemen. Bagaimana seharusnya pensikapan terhadap dialektika, bagaimana menumbuhkan rangsangan pensikapan secara tepat, landasan orientasi, dan hal lain yang melingkupi konflik, perdamaian, dan filantropi akan dibahas dalam buku ini.Utamanya adalah kalangan muslim Asia Tenggara, yang memiliki kekhasan, menjadi keunikan dan sekaligus kelebihan. Dibanding dengan negara-negara Arab tempat awal mula berkembangnya Agama, keberadaan perang seolah sudah menjadi karakter atau hobi mereka. Sementara bagi kalangan rumpun Melayu secara umun, watak “kemayu” terasa lebih kentara.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari segi respon terhadap keberadaan bencana kemanusiaan, baik yang berupa bencana alam secara langsung atau pun bencana yang disebabkan oleh tangan manusia layaknya perang, masyarakat Asia Tenggara juga memiliki keunikan. Bencana tsunami Aceh, gempa bumi Yogyakarta, konflik di Maluku, Perang di Timor Leste, ketegangan antar kelompok Muslim dan Budha di Myanmar, peperangan di Mindanau dan Thailand selatan merupakan di antara peristiwa yang telah menelan korban manusia yang tidak sedikit. Jatuhnya korban sipil yang tidak bersalah, telah menstimulasi lahirnya berbagai lembaga kemanusiaan dan filantropi di kawasan ASEAN, utamanya Indonesia. Mereka lahir dari kumpulan berlatar agama atau latar ideologi organisasi atau bahkan kesamaan visi misi sebagai aksi kemanusiaan.

Tulisan Hajriyanto Y Thohari di bagian awal buku ini mengemukakan pentingnya merawat benih-benih kemanusiaan dan filantropi yang mulai tumbuh subur di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menguatkan ikatan dan menyamakan persepsi para tokoh agamawan dan pemuka Islam. Mereka adalah orang-orang yang sanggup mempengaruhi opini publik untuk penegakan kemanusiaan dan kebangsaan. Dakwah Islam kontesktual harus berorientasi pada prinsip pengentasan ketidakadilan, konflik, kemiskinan, dan keterbelakangan, serta menjunjung kebinnekaan dan anti kekerasan. Hal ini sesuai dengan argumen Farish Noor, ang menyatakan bahwa kemenangan dan kejayaan Islam akan segera nyata dan bersinergi dengan komitment umatnya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, kebhinnekaan, pemenuhan hak-hak kaum minoritas, keadilan gender, dan prinsip-prinsip kebangsaan (Artikel Hajriyanto Y Thohari, hlm. 62).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Buku ini terasa lebih lengkap dengan adanya bahasan tentang perspektif Muslim tentang jihad, konflik, dan perdamaian yang diulas pada bagian kedua. Selama ini, kalangan tertentu sering “mengkambinghitamkan” doktrin agama Islam merupakan pemicu utama tersulutnya api konflik di berbagai belahan dunia. Sebelumnya, di bagian pertama buku ini terlebih dahulu memaparkan prinsip umum tentang hukum humaniter Islam, yang memberi gambaran tentang bagaimana Islam memaknai fiqhal-siyar, serta bukti-bukti ketidakterlibatan antara ideologi Islam dengan kekerasan dan terorisme. Dalam bab ketiga dan keempat, pembahasan terasa lebih membumi dan menyangkut pengalaman langsung di ranah grassroot. Bab ketiga mengupas tentang ragam rekonsiliasi perdamaian pascakonflik, dengan latar ulasan kasus perseteruan Tanjung Priok dan Talang Sari. Artikel kedua bagian ini mengupas perdamaian yang digagas AMAN (Asian Muslim Action Network-Thailand), terhadap rekonsiliasi kerusuhan masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah. Bab keempat mengupas tentang filantropi dan kegiatan kemanusiaan yang berkembang di masyarakat dengan lembaga konkrit; semisal lembaga di bawah NU dan Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, dan Komunitas Tionghoa Muslim.

Terakhir, buku ini mencoba menyempurnakan dan menggabungkan prinsip-prinsip hukum Humaniter Internasional dengan ajaran agama Islam. Karena bagaimana pun juga masa depan dunia dengan wajah perdamaian, konflik, bencana, ketidakadilan, dan lainnya sangat ditentukan oleh watak penghuni planet bumi itu sendiri –tentunya di bawah izin dan ketentuan Tuhan--. Sementara umat Islam yang secara kuantitas lebih dari satu miliar, memiliki pengaruh dan tanggung jawab moral yang besar untuk ikut serta mewujudkannya. Indonesia sebagai pemegang rekor umat Muslim mayoritas dengan falsafah kebangsaan Pancasila, memiliki potensi untuk mengambil bagian dalam percaturan urusan kemanusiaan di ranah lokal, nasional, dan international. Termasuk urusan filantropi, kuantitas Muslim yang begitu besar sangat potensial untuk mengumpulkan dana-dana kemanusiaan dari berbagai lapisan, dan kemudian menyalurkan serta membantu setiap manusia yang membutuhkan tanpa memandang perbedaan latar belakang agama, suku, dan bangsa.

Data buku

Judul : Islam dan Urusan Kemanusiaan (Konflik, Perdamaian, dan Filantropi)

Editor : Hilaman Latief dan Zezen Zaenal Muttaqin

Penerbit : Serambi Ilmu Semesta

Tahun Terbit : Cetakan Pertama, ? Februari 2015

Tebal : 413 halaman

ISBN : 978-602-290-024-5

Peresensi : Muhammad Ridha Basri, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Anggota Komunitas Sahabat Pena Nusantara.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menyediakan beasiswa studi S1 dan D3 untuk jurusan Ahwalus Syakhsiyah (Hukum) dan Pendidikan Vokasi Perbankan Syariah. Beasiswa yang ditawarkan adalah bebas biaya studi selama satu tahun.

STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan

Seperti pers rilis yang dikirim STAINU Jakarta, dua studi itu merupakan program terbaru yang ditawarkan satu-satunya perguruan tinggi di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Peluncuran program beasiswa studi dua program itu antara lain menjadi pernyataan komitmen STAINU Jakarta terkait misi pendidikan yang mengarah pada keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Beasiswa program ini terbuka bagi para aktivis sosial keagamaan, pengurus masjid, staf kantor urusan agama (KUA), alumni SMK jurusan Akuntansi Perbankan atau Pemasaran, marbot masjid pegiat koperasi dan baitul mal wat tamwil (BMT) yang belum berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Ketua STAINU Jakarta HM Mujib Qulyubi, program itu diharapkan mendongkrak potensi sumber daya manusia terutama di lingkungan NU yang selama ini dinilai masih sulit mengakses pendidikan tinggi.

Lebih lanjut HM Mujib mengatakan, pada prinsipnya STAINU Jakarta akan terus berusaha memberikan pelayanan terbaik serta mengembangkan pendidikan di lingkungan NU.

Batasan usia maksimal 30 puluh tahun per 1 Oktober 2013. Sedangkan persyaratan peserta mencakup surat keterangan status profesi harian peserta, fotokopi ijazah pesantren, SMK atau sekolah sederajat, fotokopi KTP. Pengiriman berkas ditujukan ke Jl Taman Amir Hamzah nomor lima, Matraman, Jakarta Pusat.

Masa pengumunan berlangsung 4-22 September 2013. Ujian bagi peserta rencananya diadakan pada 26 September. Sedangkan kelulusan peserta diumumkan dua hari setelah ujian. Untuk informasi lebih lanjut, peserta dapat mengunjungi situs STAINU Jakarta di alamat http://stainujakarta.ac.id/pengumuman/139-beasiswa-ahwal-syakhsiyah-dan-perbankan-syariah.html

 

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaSantri, Kajian PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI

Tegal, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal Abdul Aziz mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dijaga keutuhannya. Menurutnya, cara paling tepat adalah menggerakkan GP Ansor lebih aktif dan nyata.

Hal itu dikatakannya usai resmi dikukuhkan oleh Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sabtu (26/8) lalu di MDT Rhoutlotul Muttaqin Desa Sumbarang Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal.

GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatinegara Tegaskan Komitmen Bela NKRI

"Perlu adanya pergerakan yang lebih aktif dan nyata dalam melaksanakan program mengawal ulama demi mencegah pengikisan nasionalisme dan patriotisme bangsa, gerakan radikal menganggap sistem di negara itu salah sehingga perlu adanya revolusi," tegas Abdul Aziz.

Menurut Aziz, mereka (gerakal radikal) sudah menyiapkan rencana secara matang membuat NKRI itu sebagai negara Islam yang akan mengadopsi nilai ketimuran secara pas tanpa memerhatikan budaya yang sudah ada.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Dengan adanya pelantikan ini, saya berharap semua pengurus dapat mengemban tugas suci dalam menjaga keutuhan NKRI dan melestarikan budaya yang sudah ada sejak dulu," kata Aziz.

Pengurus GP Ansor Jatinegara yang juga panitia pelantikan, Amar Budimas menuturkan, ulama merupakan tokoh penting dalam menjaga keutuhan NKRI, pengambilalihan kekuasaan dari penjajah sehingga terbentuknya negara kesatuan yang merangkul semua kerajaan kepulauan ini.

"Munculnya gerakan yang menggerogoti esensi di dalam tubuh NKRI. Sekarang menghawatirkan kaum pemuda, pelantikan ini semoga dapat menyatukan misi demi menjaga keutuhan NKRI di Kecamatan Jatinegara," ujar Amar.

Ia menjelaskan, Ansor merupakan saringan dari kader IPNU yang kompeten karena tidak jarang kader IPNU banyak yang menghilang entah ke mana. Padahal regenerasi sangat dibutuhkan di tubuh NU.

"Ulama NU harus kita dukung dalam menjaga keindonesiaan dan keislaman di negara ini, pergerakan radikalisme sudah bergerak di berbagai bidang, melalui ekonomi, sosial, budaya terapan, dan pendidikan," kata Amar.

Pelantikan dihadiri Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah Gus Ahsin, Pengurus Cabang (PC) Ansor Kabupaten Tegal Didi Permana, Pengurus MWCNU Jatinegara, Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat Jatinegara, PAC Fatayat Jatinegara. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Kajian Islam, Quote PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PMII Bandung Yakinkan Mahasiswa Baru soal Aswaja

Bandung, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus menjalankan proses kaderisasi, di antaranya dengan cara menjaring mahasiswa-mahasiswa baru pada momen masa orientasi, khususnya di Perguruan Tinggi Islam.

PMII Bandung Yakinkan Mahasiswa Baru soal Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung Yakinkan Mahasiswa Baru soal Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung Yakinkan Mahasiswa Baru soal Aswaja

Rahmat Hidayatullah, Ketua 1 Bidang Pengaderan PMII UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengatakan, dalam memenuhi usaha ini di tubuh PMII perlu adanya perekrutan kader-kader anggota baru. Seperti halnya yang dilakukan oleh PMII Cabang Bandung yang memanfaatkan momen orientasi mahasiswa baru.

“Masa-masa orientasi mahasiswa baru sangat efektif dan strategis. Apalagi PMII sebagai organisasi pengaderan tentu memanfaatkan momen ini untuk merekrut kader-kader baru,” ujarnya saat menjaga stan PMII di sela-sela Orientasi Pengenalan Akademik (Opak) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jawa Barat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Teknis penjaringan calon anggota baru, menurut mahasiswa Fakultas Ushuluddin ini mengungkapkan, mahasiswa setidaknya sadar dengan kondisi kampus dengan cara memberikan pernyataan-pernyataan kritis soal cakrawala kampus, baik itu di tataran birokrasi maupun organisasi-organisasi kemahasiswaan. “Baru diberikan formulir pendaftaran anggota baru,” cetusnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rahmat meyakini, penjaringan anggota baru pada masa orientasi menurutnya sangat efektif. “Kita menempatkan koordinator-koordinator anggota PMII di tempat-tempat strategis lingkungan kampus,” tambahnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu sore lalu (30/8).

Selain itu, strategi tim bidang pengaderan dalam merekrut anggota baru, di antaranya dengan cara membawa trik primordial, misalnya hubungan kedekataan kerabat, karena adanya persamaan jurusan, asal pondok pesantren, asal pondok sekolah atau asal daerah, dan lain-lain.

Supaya mahasiswa baru yakin bahwa pilihannya mengikuti PMII itu tepat, Rahmat meyakinkan kepada mahasiswa untuk dapat masuk ke PMII. Misalnya ia mencontohkan memberi pengarahan berfikir kritis kepada mahasiswa baru seputar kondisi kampus lewat diskusi terbuka.

“PMII kan ideologi ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) kita meyakinkan kepada mereka yang notabene mereka yang berasal dari latar belakang kultur ahlussunnah atau nahdliyyin,” imbuh santri pesantren Al-Ihsan, Bandung.

Berangkat dari tujuan PMII yang berbudi pekerti luhur dalam menjaga keutuhan NKRI, Rahmat mengharapkan kepada calon anggota baru supaya memahami kondisi dalam kampus sebagai objek strategis yang ia ibaratkan sebagai miniatur negara.

“Minimal mereka sadar sebagai atas peran, fungsi dan objek kajian mahasiswa dalam berfikir kritis,” pungkasnya. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Cinta Sebiji Atom Allah

Suatu ketika Nabi Isa berjalan melewati sebuah perkebunan di sebuah desa. Di perkebunan itu beliau bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyirami tanaman.

Melihat orang yang datang adalah seorang nabi, pemuda itu berkata, “Ya Nabi Allah, kumohon sudilaah kiranya engkau memohon kepada Allah agar Ia berkenan memberikan cinta-Nya kepadaku, meski hanya sebiji atom.”

Cinta Sebiji Atom Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Sebiji Atom Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Sebiji Atom Allah

Nabi Isa menjawab, “Wahai pemuda, engkau tak akan dapat memikul cinta Allah, meski hanya sebesar biji atom.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Namun pemuda itu tetap berkeinginan untuk didoakan oleh Nabi Isa. Hingga akhirnya ia berkata, “Kalau memang aku tak akan kuat memikul cinta Allah sebiji atom, maka mohonkanlah agar Allah memberiku setengah biji atom saja dari cinta-Nya.” Demikian pemuda itu memohon.

Karena kuat keinginannya maka Nabi Isa mengabulkan dan mendoakannya. Seraya mengangkat kedua tangannya beliau berdoa, “Ya Allah berikanlah setengah biji atom dari cinta-Mu kepada hamba-Mu ini.” Kemudian beliau pergi meninggalkannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah sekian lamanya Nabi Isa meninggalkan perkebunan tersebut, beliau datang lagi ke desa itu. Kepada masyarakat desa beliau menanyakan perihal pemuda yang dahulu pernah didoakannya.

“Di manakah pemuda yang bekerja menyirami kebun ini?”

Orang-orang desa menjawab, “Pemuda itu telah bertingkah layaknya orang gila, sehingga kami mengusirnya dari desa ini.”

“Di mana ia berada sekarang?”

“Ia berada di antara dua bukit itu,” kata mereka sambil menunjuk ke arah bukit yang dimaksud.

Maka Nabi Isa segera menuju ke tempat yang ditunjuk oleh penduduk desa. Setibanya di sana beliau melihat pemuda itu sedang bersembahyang. Ia berdiri di atas sebuah batu besar.

“Assalamu’alaikum,” kata Nabi Isa menyapa. Pemuda itu tak menjawab dan tidak pula menoleh kepada Nabi Isa. Ia tetap dalam sembahyangnya. Untuk kedua dan ketiga kalinya Nabi Isa berucap salam. Namun pemuda itu tetap diam di tempatnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba dari arah langit Allah berfirman, “Wahai Isa, demikianlah orang yang menerima separo biji atom dari cinta-Ku. Ia tak akan dapat mendengar ucapan manusia. Andai saja engkau potong tubuhnya dengan gergaji, ia tak akan merasakannya karena kecintaannya kepada-Ku.” (Yazid Muttaqin)

Sumber: Hadiqatul Auliya karya Tajudin Naufal



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah