Senin, 11 Desember 2017

PBNU Studi Banding Sekolah Lapangan ke Jerman

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Hanns Seidel Foundation (HSF Jerman) setelah menandatangani kerjasama (MoU) dalam pelestarian lingkungan dan pendidikan kepesantrenan antara PBNU dan HSF di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta, pada Rabu (6/10).

Sebagai pelaksana, Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU-PBNU) akan menyosialisasikan program sekolah lapangan berbasis pendekatan spiritual ini untuk menggerakkan konservasi alam dan mengawal pembangunan berkelanjutan, yang akan diawali dengan studi banding ke Jerman.

PBNU Studi Banding Sekolah Lapangan ke Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Studi Banding Sekolah Lapangan ke Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Studi Banding Sekolah Lapangan ke Jerman

“LPPNU akan menyelenggarakan sekolah lapangan itu di seluruh wilayah Indonesia, untuk pembelajaran bagaimana menyikapi usaha pelestarian, teknologi dan lainnya itu dengan dibimbing agama. Karena itu PBNU-Jerman akan menyusun panduan dan modul sekolah lapangan yang berbasis pesantren itu di seluruh Indonesia,”kata Ketua LPPNU Dr. Ir. Ahmad Dimyati yang didampingi Ketua PBNU Prof. Dr. Mochammad Maksum, Sekjen PBNU M. Iqbal Sullam, Marsudi Suhud dan pengurus LPPNU lainnya seusai menerima utusan German Mult Hans Zehetmair tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dimyati yang juga Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian ini optimis di bawah bimbingan PBNU, pesantren dan para ulama, kiai dan mursyid-guru tharikat bersama LPPNU maka kerjasama ini akan segara terwujud. Yang pasti katanya, PBNU akan membuat percontohan sekolah lapangan itu dengan menyontoh di German. Demikian pula secara financial, keuangan yang nantinya bisa dijadikan contoh oleh dunia global.

Sementara itu program prioritas dalam waktu dekat ini targetnya adalah menggali sumber daya manusia, sumber dana dan keterampilan untuk penataan pertanian dan lingkungan yang lebih baik. Oleh sebab itu Dimati berharap penerapan modul sekolah lapangan ini merupakan langkah awal bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hanya saja dalam usaha mewujudkan program ini, Dimyati mennggunakan filusuf Cina bahwa “Memahami adalah melihat ari bawah, cintai mereka mulailah dari apa yang mereka ketahui, bangunlah dengan apa yang mereka miliki. Tapi, jika menjadi pemimpin yang terbaik, setelah kerja keras selesai dan tujuan tercapai rakyat akan berkata, ‘Kita telah melakukannya sendiri”. (nif)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Kyai, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rapat Perdana, Pengurus Harian PBNU Berbagi Tugas

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sedikitnya 40 pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah baru PBNU mengadakan rapat perdana di Jakarta, Jumat (28/8) sore. Pertemuan yang dibuka oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin membahas pembagian tugas dan sejumlah agenda terdekat.

Rapat Perdana, Pengurus Harian PBNU Berbagi Tugas (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Perdana, Pengurus Harian PBNU Berbagi Tugas (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Perdana, Pengurus Harian PBNU Berbagi Tugas

Sebelum rapat dimulai, setiap pengurus baru difoto satu per satu. Pihak kesekretariatan PBNU juga meminta KTP atau SIM mereka. Pihak kesekretariatan PBNU juga menyediakan blangko kosong bermaterai sebagai tanda kesediaan mereka yang ditunjuk oleh tim formatur sebagai pengurus baru PBNU.

“Mari kita pikul amanah ini dengan tanggung jawab. Pertemuan ini sebagai komitmen kerja. Selain kerja dengan semangat, kita juga harus kerja dengan betul,” kata KH Maruf Amin membuka rapat perdana.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyebutkan satu per satu nama-nama pengurus baru baik yang ada di deretan Syuriyah, Tanfidziyah, Mustasyar, maupun A’wan PBNU.

Kang Said juga memberikan tugas kepada Ketua-Ketua PBNU untuk menangani lembaga dan banom NU sesuai dengan bidang masing-masing. Di samping itu, ia juga mengamanahkan kepada mereka untuk memantau kerja PWNU di seluruh Indonesia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Agenda rapat kita ini pertama perkenalan antar pengurus baru PBNU hasil rapat tim formatur di kediaman Rais Aam KH Ma’ruf Amin, Koja pada 21 Agustus kemarin. Untuk tanfidziyah, kerja ke depan sementara adalah sosialisasi hasil Muktamar NU di Jombang,” kata Kang Said.

Sementara mereka sedang melengkapi pengurus lembaga-lembaga NU.

Pengurus baru PBNU ini akan dikukuhkan oleh Rais Aam KH Ma’ruf Amin di masjid Istiqlal, Jakarta Pusat pada 5 September mendatang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Habib, Kajian Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

PKI, Rekonsiliasi, dan Pendekatan Hukum Formalistik

Akhir September selalu dikenang sebagai sejarah gelap dalam perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Konflik yang terjadi pada 1965 tersebut telah membunuh anak-anak bangsa dari berbagai kelompok yang bertikai akibat perbedaan ideologi dan perebutan kekuasaan.

Pertikaian ideologi pra hingga pasca-kemerdekaan telah menimbulkan banyak korban. PKI pada prakemerdekaan telah melakukan perlawanan terhadap Belanda, menelikung pemerintah RI yang sah di Madiun pada 1947 dan terakhir adalah pada 1965 ketika mereka berusaha merebut kekuasaan, namun gagal. Setelah era itu, rezim Orde Baru yang berkuasa berusaha membungkam keberadaan ideologi komunis. Saat upaya perebutan kekuasaan yang mereka lakukan gagal. Seluruh eks-PKI dibersihkan dan didiskriminasi. Mereka yang terlibat dan keturunannya tidak dapat menjadi pegawai negeri, KTP-nya diberi tanda tertentu serta berbagai kesulitan mengurus administrasi negara lainnya. Konteks internasional dengan adanya Perang Dingin membantu melegitimasi agar ajaran komunis tidak berkembang di Indonesia.

PKI, Rekonsiliasi, dan Pendekatan Hukum Formalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
PKI, Rekonsiliasi, dan Pendekatan Hukum Formalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

PKI, Rekonsiliasi, dan Pendekatan Hukum Formalistik

Saat Orde Baru runtuh, kebijakan negara berubah dengan upaya pemulihan hak-hak yang selama ini dihilangkan. Orang-orang yang sebelumnya tidak dapat bersuara kini dapat secara bebas mengekpresikan aspirasinya. Mereka yang sebelumnya merasa ditindas berusaha memulihkan nama baiknya bahkan membela diri atau “meluruskan” bahwa catatan sejarah yang dibuat oleh Orde Baru tidak benar. Mereka menuntut agar negara meminta maaf atas kejadian di masa lalu, bahkan berusaha meminta kompensasi atas penderitaan yang dialaminya. Sejumlah LSM yang fokus pada masalah hukum dan kemanusiaan secara aktif mendukung dan mengawal apa yang dituntut oleh mantan PKI ini. Semua itu dilakukan atas nama kemanusiaan.

Di luar perjuangan mendapat pengakuan secara formal pada eks-PKI sebagai warga negara yang sederajat yang mendapatkan hak-haknya secara penuh, para kiai NU secara kultural telah melakukan rekonsiliasi di akar rumput atas berbagai persoalan yang terjadi. Mereka memberi bimbingan dengan ajaran-ajaran Islam dan mengintegrasikannya dengan kehidupan sosial masyarakat sehingga mereka tidak menjadi warga kelas dua di komunitasnya masing-masing.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pola-pola ini, sebenarnya sudah menjadi pendekatan khas di lingkungan NU. Upaya ini berjalan tanpa terasa dan seolah-olah tanpa desain. Semuanya mengalir secara alamiah dan tanpa disadari, akhirnya semuanya sudah berubah. Eks-PKI tiba-tiba diambil menantu oleh kiai, mereka yang aktif dan punya potensi diberi ruang menjadi tokoh setempat.

Upaya-upaya khas NU ini tetap digunakan saat ini dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Lakpesdam NU, yang kini juga memiliki program pendampingan bagi kelompok minoritas di berbagai daerah, melakukan upaya-upaya yang kelihatannya sederhana tetapi memberi makna yang sangat besar. Pada sebuah konflik agama di Lombok, Lakpesdam membantu kelompok yang dieksklusi dengan memberikan modal gunting atau mesin parut kelapa kepada anggota komunitas tersebut. Tujuan utamanya adalah agar kelompok yang disingkirkan tersebut dapat terus berinteraksi di masyarakat. Dengan menjadi tukang cukur di pasar, mereka dapat bergaul dan saling kenal. Dari situlah mereka bisa saling belajar dan memahami. Dalam konflik antarmasyarakat di Madura, aktivis Lakpesdam mengajak ibu-ibu yang dipisahkan oleh aliran Islam yang berbeda ini diajak masak bersama. Tujuannya juga sama agar tercipta interaksi yang selanjutnya bisa menumbuhkan kebersamaan dan saling memahami.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kelompok LSM yang sama, yang dalam isu lain juga memperjuangkan eks-PKI dengan pendekatan hukum yang formalistik, juga turun ke daerah-daerah konflik tersebut. Mereka meminta kasus ini dibawa ke pengadilan dan pihak yang salah harus dituntut. LSM yang para aktivisnya berbasis di Jakarta menggunakan pendekatan masyarakat kota yang cenderung individualistik sementara kasus yang ditangani terjadi pada masyarakat pedesaan yang komunal. Akibatnya, seringkali timbul masalah baru dengan pendekatan ini, dan itu tidak diketahui oleh aktivis LSM tersebut, karena mereka sudah balik ke Jakarta. Konflik agama memiliki dimensi yang kompleks, yang tidak cukup menggunakan pendekatan hukum formal karena mengandung nilai-nilai keagamaan yang sifatnya transendental dari masing-masing pihak. Upaya ini bisa merusak harmoni sosial yang sudah dibangun dengan susah payah.

Analogi yang sama tampaknya juga berlaku terhadap upaya pemulihan mantan PKI yang mengalami diskriminasi seperti adanya tuntutan agar dibentuk pengadilan atas korban 65 untuk dicari siapa yang harus bertanggung jawab, agar negara meminta maaf, agar para korban mendapat kompensasi dan segala macam tuntutan lainnya. Sebagai sebuah bangsa, kita harus belajar dari kesalahan yang dibuat para pendahulu kita, dan masing-masing pihak harus jujur mengakuinya. Tidak bijak jika hanya menganggap diri tidak bersalah atau memposisikan diri sebagai korban tanpa melihat perspektif lain di mana banyak pula umat Islam yang menjadi korban PKI.   

Hukum itu penting untuk menciptakan ketertiban masyarakat. Tapi pendekatan hukum yang formalistik dan kaku bukan satu-satunya pendekatan atau menjadi pendekatan terbaik dalam manyelesaikan persoalan. Pendekatan hukum cenderung melihat benar-salah, menang kalah, tetapi ujung-ujungnya adalah situasi yang kalah-kalah karena masing-masing pihak akan membela diri tidak bersalah. Jangan sampai upaya untuk membantu masyarakat malah menimbulkan problem baru. Bangsa ini harus segera menyelesaikan persoalan masa lalu dengan bijak untuk melangkah menuju masa depan tanpa beban sejarah yang menghantui. (Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PC IPNU-IPPNU Sleman Dilantik

Sleman, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Sleman masa khidmat 2013-2015, Ahad (16/6) kemarin dilantik di Rumah Dinas Pemerintah Kabupaten Sleman, Jl. Magelang tersebut.

PC IPNU-IPPNU Sleman Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Sleman Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Sleman Dilantik

Kegiatan berlangsung dengan khidmat. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu diisi dengan penampilan grup hadrah PAC IPNU-IPPNU Turi.

"Alhamdulillah, itulah kata yang dapat kami utarakan. Mengingat nikmat yang sangat besar bisa terlimpahkan bagi kami, karena dapat melaksanakan pelantikan PC IPNU-IPPNU Sleman masa khidmat 2013-2015," demikian dalam kata sambutan yang disampaikan oleh ketua PC IPNU Sleman, Biky Uthbek Mubarok, setelah mengikuti prosesi pelantikan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk menjalankan roda kepengurusan, Biky Uthbek Mubarok juga meminta bimbingan dan doa kepada para Kiai, Masayikh dan alumni, sehingga bisa menjalankan kepemimpinan selanjutnya. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kami juga berharap, dengan adanya pelantikan PC IPNU-IPPNU Sleman ini kelak kami dapat mencetak kader NU yang mempunyai jiwa patriotisme yang berlandaskan Ahlus Sunah Wal Jamaah," tandasnya.

Secara terpisah, Nurul Hasanah, selaku ketua PC IPPNU Sleman mengatakan kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah terlebih dahulu akan menguatkan solidaritas antar pengurus. "Setelah itu kami akan membuat gebrakan. Mengingat IPNU-IPPNU merupakan pusat kaderisasi, maka kami juga akan menghidupkan kembali sepuluh PAC yang ada di Sleman," imbuhnya.

Prosesi pelantikan yang mengangkat tema "Menumbuhkan sifat keikhlasan dan kebersamaan dalam berjuang" tersebut selesai pada pukul 11:00. Turut hadir beberapa kader IPNU-IPPNU se-Sleman, perwakilan PP IPNU-IPPNU, PCNU Sleman, Anshor, Fatayat dan Muslimat. Selain itu, hadir pula PW IPNU-IPPNU DIY yang sekaligus melantik kepengurusan baru PC IPNU-IPPNU Sleman.

Masruroh, sebagai perwakilan dari Fatayat yang turut hadir, menekankan bahwa hal yang harus diperhatikan adalah kaderisasi, khususnya bagi IPPNU. "Karena hal itu akan berpengaruh ke depan. Kalau dari PC IPPNU saja sudah kurang, nanti di Fatayat dan Muslimat juga akan kurang," ujarnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Setelah prosesi pelantikan, acara dilanjutkan dengan rapat kerja pengurus PC IPNU-IPPNU Sleman, guna merumuskan program-program selama kepengurusan satu periode ke depan.

Redaktur    : A. Khoirul Anam 

Kontributor: Sholikhin-Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, Warta, Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Om Telolet... Eh, Om Shalawat Om

Solo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Fenomena kalimat “Om telolet om” yang cukup populer di media sosial belakangan ini, juga menjadi perhatian para tokoh, tak terkecuali Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf.

Om Telolet... Eh, Om Shalawat Om (Sumber Gambar : Nu Online)
Om Telolet... Eh, Om Shalawat Om (Sumber Gambar : Nu Online)

Om Telolet... Eh, Om Shalawat Om

Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa tersebut mengajak para jamaahnya untuk memperbanyak sholawat dengan meminjam dari kalimat tersebut.

“Saya berharap Ahbabul Musthofa dan Syecher Mania mengajak yang lainnya : Om shalawat om! Om shalat om!. Kita ajak kebaikan kepada semua,” tutur Habib Syech, pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19 yang dihelat d Masjid Agung Surakarta, Sabtu (24/12) malam.

Ditambahkan Habib Syech, yang juga Mustasyar PWNU Jateng itu, dengan memperbanyak membaca shalawat akan membuat sehat rohani dan jasmani. “Kalau ruh-ruh kita pegal, padha shalawato? (bershalawatlah)! Insyaallah, kalau ruh sudah sehat, jasad juga ikut sehat,” kata dia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, orang yang sehat ruhnya, walaupun sakit jasadnya, akan tetapi hatinya tetap merasa bergembira.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kejar Prestasi STQ Jateng, Brebes Intensif Bina Peserta

Brebes, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Meski pelaksanaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Provinsi Jawa Tengah baru berlangsung pada 16-19 September 2014, tetapi pembinaan terhadap peserta terus dilakukan. Sebagai tuan rumah, Brebes berupaya keras meningkatkan prestasi pada ajang tersebut melalui pembinaan sejak dini.

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kab Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI menjelaskan, pembinaan secara bertahap untuk kafilah (kontingen) Brebes dilakukan dengan mendatangkan pelatih dari luar daerah yang berkelas Nasional.

Kejar Prestasi STQ Jateng, Brebes Intensif Bina Peserta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kejar Prestasi STQ Jateng, Brebes Intensif Bina Peserta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kejar Prestasi STQ Jateng, Brebes Intensif Bina Peserta

“Kami sengaja mendatangkan pelatih dari luar daerah untuk meningkatkan kualitas kafilah,” kata Imam Hidayat disela pembinaan, di Islamic Center, Brebes, Senin (12/5) malam.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pembinaan diberikan kepada 40 orang hasil seleksi tingkat Kabupaten. Namun akan dijaring menjadi 25 orang dan selanjutnya yang mewakili Kafilah Brebes hanya 16 orang. “Mereka akan berebut piala pada caban Tilawah, Tahfidz dan Tafsir,” terangnya.

Selama tiga hari, mereka digembleng oleh KH Abdullah Faqih dari Pati, KH Abdul Ghoni (Pekalongan), KH Ibnu Athoillah (Brebes) dan KH Ahmad Khoeron Al Khafidz (Brebes). Mereka yang dibina antara lain untuk mewakili Brebes pada cabang Tilawah golongan anak-anak putra dan putri, dan golongan Dewasa Putra dan Putri.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu, untuk cabang tahfidz golongan 1 juz dan tilawah putra dan putri, golongan 5 juz, golongan 10 juz, golongan 20 juz dan golongan 30 Juz.

Pembinaan akan terus berlanjut sampai pelaksanaan STQ. “Bila waktunya sudah dekat, kami akan mengadakan karantina untuk mendapatkan peserta yang berkualitas.

STQ tingkat Jateng akan digelar di Brebes pada 16-19 September 2014. Tiap Kabupaten/kota bakal mengirimkan pesertanya masing-masing 16 peserta. Mereka bakal mengikuti 3 cabang dan 9 majelis. Diperkirakan peserta dan pembina serta oficial mencapai 1000 orang. “Sebagai tuan rumah, Brebes diharapkan dapat sukses penyelenggaraan, sukses, prestasi dan sukses administrasi,” tandas Imam. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional, Nasional, AlaSantri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Puluhan ulama dan ribuan pelayan tampak terus berdatangan ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Senin pagi, untuk memberi penghormatan terakhir bagi putra pendiri NU Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, yakni KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).

KH Abdullah Faqih (Langitan, Tuban) menjadi imam sholat jenazah ke-42 di Masjid Pesantren Tebuireng, Jombang. Ulama lain yang datang bertakziah antara lain KH Nurul Huda Djazuli (Kediri) dan KH Ali Masyhuri (Gus Ali) dari Tulangan, Sidoarjo, dan Ketua Umum PBNU DR HC KHA Hasyim Muzadi yang sudah datang sejak semalam.

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud

Sementara itu, pengasuh utama Pesantren Tebuireng Ir KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) sudah datang ke Jombang pada Minggu (14/1) pukul 00.00 WIB, namun mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kakak Gus Sholah dan juga keponakan Pak Ud tak bisa datang karena sakit.

Dari kalangan pejabat yang melayat antara lain Gubernur Jatim H Imam Utomo pada Minggu (14/1) malam dan Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja pada Senin (15/1) pagi.

Sejumlah karangan bunga juga berdatangan, diantaranya dari mantan Presiden HM Soeharto (Pak Harto) dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tak Ada Pesan Khusus

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, mengaku tidak ada pesan khusus sebelum KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud meninggal dunia di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu (14/1) malam.

"Secara eksplisit tidak ada pesan khusus dari beliau, hanya yang paling saya ingat adalah kata-kata beliau pada bulan Februari 2006 lalu, bahwa dirinya sudah tua dan sudah saatnya menyerahkan kepemimpinan ponpes ini," kata Gus Sholah usai mengikuti prosesi pemakaman Pak Ud di Tebuireng, Jombang, Senin.

Pada saat itu, Gus Sholah sendiri mengaku kaget dengan pernyataan Pak Ud yang menyerahkan tampuk kepengasuhan Ponpes kepadanya secara tiba-tiba itu. "Saat itu saya tidak banyak diberi kesempatan bertanya karena beliau hanya mengatakan, kamulah yang pantas memegang pondok ini," ujar Gus Sholah menambahkan.

Setelah secara resmi menyerahkan tampuk pengasuh Ponpes Tebuireng kepada Gus Sholah pada bulan Juni 2006, Pak Ud sudah tidak lagi tinggal di kediaman yang berada di sebelah barat pintu gerbang salah satu ponpes tertua di Jatim itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pak Ud memilih tinggal di sebelah selatan Pasar Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang dengan sesekali mengunjungi Ponpes Tebuireng yang sudah lama diasuhnya itu.

Fenomena yang terjadi pada bulan Juni 2006 itu sangat menarik, lantaran sangat jarang seorang pengasuh ponpes salaf menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada anggota keluarganya ketika masih hidup.

Lazim ditemui, pengasuh ponpes salaf akan berganti dengan sendirinya ketika pengasuhnya sudah mangkat. Namun Pak Ud telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada kalangan ulama.

Lebih lanjut, Gus Sholah mengatakan, khusus untuk mengembangkan pengajaran ilmu di bidang agama, sudah banyak tenaga pengajar yang mampu di lingkungan Ponpes Tebuireng.

"Sekarang tinggal kami kembangkan lebih maju lagi dengan mendirikan Ma’had Ali yang merupakan sebuah lembaga pendidikan tinggi di bidang kajian kitab kuning, mulai tahun ini," ujarnya menjelaskan.

Sedang di bidang ilmu umum, Gus Sholah telah menyusun program tahap awal mengenai perbaikan peningkatan kualitas tenaga pengajar, bahkan kalau perlu diberi kesempatan belajar di luar negeri.

Pak Ud meninggal dunia di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu malam dalam usia 78 tahun akibat menderita radang paru-paru. Sehari sebelum meninggal dunia, Pak Ud dibesuk Wapres Jusuf Kalla di Graha Amerta RSUD dr Soetomo, Sabtu (13/1) sore. (ant/sbh/mad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah