Sabtu, 09 Desember 2017

Perjuangan Aswaja harus Inovatif dan Modern

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dewan Pakar Aswaja NU Center Jawa Timur Ustadz Idrus Ramli menyampaikan bahwa dalam menghadapi ajaran atau aliran yang menyimpang, para pejuang aswaja diniscayakan menempuh cara-cara yang inovatif atau modern.

Perjuangan Aswaja harus Inovatif dan Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Aswaja harus Inovatif dan Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Aswaja harus Inovatif dan Modern

"Perlu pendekatan modern dari dalil aqli dan naqli," ujarnya dalam bedah buku Sejarah Pengantar Ahlussunnah wal Jamaah pada Ahad (07/06/2015) di Jombang.?

Ia menyarankan agar Aswaja Center Jombang mengembangkan dakwah lewat film dengan segmentasi anak-anak dan disebarkan dalam bentuk CD.

"Sudah mendesak, inovasi harus dilakukan karena CD atau media pembelajaran yang ada ditengarai berbeda dengan praktik keagamaan muslim Nusantara," katanya.

Hadir sebagai peserta yang dari Muhammadiyah, MIUMI, pesantren, dan para guru PAI yang tergabung dalam Pergunu, dan delegasi MWC NU.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ustadz Idrus Ramli menyatakan bahwa pergerakan apapun itu membutuhkan ulama, termasuk dulu ketika umat Islam dalam menaklukkan Palestina itu memerlukan ulama, bahkan dipimpin ulama.

"Jadi, kunci kemenangan umat Islam itu da di tangan ulama," ujar Dewan Pakar Aswaja NU Center Jawa Timur ini dihadapan puluhan peserta bedah buku di hall KH Abdurrahman Wahid, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang..

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mengutip Imam Ghazali, Ustad Idrus menyatakan bahwa kerusakan masyarakat itu karena kerusakan para pemimpin, kerusakan pemimpin itu karena kerusakan ulama, dan kerusakan ulama itu karena cinta popularitas dan harta.

"Kami berharap ustad Idrus membuat buku tentang dalil lengkap aqaid khamsin, dan tentang tradisi, misalnya nogo dino," ujar salah seorang peserta.

Ditegaskan ustadz Idrus bahwa klenik itu ada dua. Ada yang boleh, dan ada yang tidak boleh. Namun ia menekankan bahwa semuanya itu terserah takdirnya Gusti Allah. Karena itu tak boleh ragu. Kepercayaan kenaasan ini sudah ada sejak dulu. Pada masa Sayyidina Ali pun demikian. Dan Ali menolak pandangan orang yang mempercayai hari. Dan ternyata Sayyidina Ali menang dalam peperangan dengan Khawarij.

"Hitung-hitungan itu adalah ikhtiar saja. Namun, semuanya adalah terserah takdir dari Allah." ? ?

Kegiatan bedah buku ini menurut ustadz Yusuf Suharto sebagai bagian dari kegiatan kajian Aswaja NU Center Jombang yang dilaksanakan rutin tiap bulan. Pada bulan Mei lalu, kajian rutin Aswaja diisi oleh Dr Kiai Makshum Zen, Syuriyah PCNU Jombang yang juga mantan ketua Aswaja NU Center Jombang dalam Pesantren Kilat (Sanlat). Bersama para asatidz Aswaja NU Center, para siswa digembeleng materi aswaja selama setengah bulan, dan berakhir pada 31 Mei, di Aula SMK Bisri Syansuri Denanyar Jombang.

Saat ini Aswaja NU Center sedang bekerja sama dengan PC Fatayat Jombang di bawah pimpinan Neng Ema, cucu Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Saat ini juga menjadi pemateri aswaja di 21 kecamatan di Jombang kerja sama denga PC Fayatat Jombang. Bertepatan dengan bedah buku pada Ahad (07/06), dilaksanakan juga pengisian aswaja oleh ustadz Abdul Majid dari Aswaja Center di LDK di kecamatan Kudu. (red: mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Habib, Khutbah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara

Proses penyebaran Islam di Nusantara telah melalui babakan sejarah yang sangat panjang. Perihal waktu yang menjadi permulaan tersebarnya agama yang pertama kali diperkenalkan di jazirah Arabia ini, para sarjana berbeda pendapat. Ada yang mengatakan sejak abad ke-7 M, yakni sejak permulaan perkembangan Islam di tanah kelahirannya, abad ke-12 M, dan seterusnya. Namun menurut Azyumardi Azra, proses laju islamisasi Nusantara yang paling cepat baru dimulai sejak abad ke-12 dan 16 M.

Dalam rentang abad ke-12 dan 16 M ini penyebaran Islam di Nusantara mulai terlihat. Sumanto Al Qurtuby yang secara khusus meneliti “islamisasi Nusantara” pada abad ke 15 dan 16 M mulai dari proses penyebarannya hingga agen-agennya menghasilkan kesimpulan yang sangat memukau. Menurutnya, islamisasi di dalam rentang waktu abad 15 dan 16 yang menjadi babakan pertama dan utama tersebarnya Islam secara luas dilakukan oleh “orang-orang Cina Muslim”.

Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara

Hasil penelitian Sumanto itu ditulis dalam bukunya yang berjudul “Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16” yang diterbitkan oleh penerbit buku-buku pemikiran progresif di Semarang, eLSA Press.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam buku yang berasal dari tesisnya di program magister jurusan Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu, secara apik dan teliti Sumanto menyajikan data-data yang sangat lengkap berkaitan dengan penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-15 dan 16 M. Tidak hanya menggunakan sumber-sumber lokal Nusantara seperti Babad Tanah Djawi, Babad Gresik, Babad Tuban, dan yang lainnya, ia juga mendapuk sumber-sumber lain yang berkaitan, seperti sumber-sumber Cina: Ying-yai Sheng-lan, Hsin-cha Sheng-lan, Ming Shi, dan lain-lain, sumber Portugis: Summa Oriental, sumber Arab: ‘Ajaibil Hindi, dan yang lainnya.

Selain menggunakan sumber-sumber tertulis di atas, karya intelektual NU yang kini menjadi pengajar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi, juga diperkuat dengan cerita lisan yang berkembang di masyarakat dan situs-situs sejarah seperti makam, masjid, keraton, dan peninggalan sejarah lainnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam buku setebal 300 halaman, Sekretaris Jenderal Komunitas Nahdlatul Ulama Amerika dan Kanada itu mendedahkan bahwa keberhasilan islamisasi di Nusantara lebih banyak diperankan orang-orang Cina Muslim yang melakukan perlawatan ke Nusantara pada abad ke 15 dan 16 M, baik karena kepentingan ekonomi, politik, maupun murni untuk berdakwah (hal. 39).

Perjumpaan orang-orang Cina dengan penduduk Nusantara sendiri dimulai sejak awal abad ke 5 M, dua abad sebelum Islam datang di jazirah Arabia. Islam hadir pada abad ke-7 M dan langsung dikenal penduduk Cina pasca Nabi Muhammad wafat. Penyebaran Islam di Cina dimulai ketika Khalifah Utsman bin ‘Affan (644-656 M) mengirim delegasi ke Changan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash yang oleh sumber Cina disebut dengan “utusan Tan-mai-mo-ni” atau dalam bahasa Arab disebut “utusan amirul mukminin” (hal. 56-57).

Bukti-bukti historis penyebaran Islam di Cina abad ke-7 ini antara lain dengan peninggalan Masjid Huaisheng di Kanton (Arab: Kanfu) yang dibangun pada tahun 627 M. Masjid ini menurut para sejarawan seusia dengan Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Selain itu di Guangzhou Cina sendiri dipercaya terdapat makam Sa’ad bin Abi Waqqash yang hingga kini ramai diziarahi umat Islam (hal. xix, 56-57,).

Melalui penelusuran sejarah Islam di Cina, senior scholar di Middle East Institute National of Singapore ini, kemudian membuktikan penyebaran Islam di Nusantara yang disebarkan oleh orang-orang Cina Muslim yang melawat ke negeri ini. Para penyebar Islam di Jawa yang dikenal dengan “Walisongo” sebagian di antaranya adalah orang Cina, dan sebagian lain menikah dan dibantu orang-orang Cina. Pun dengan para raja di Jawa, banyak di antaranya yang orang Cina. Bahkan, Kerajaan Demak yang ditengarahi sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah “rezim Cina” (hal. 243).

Perihal kontribusi Cina Muslim dalam penyebaran Islam di Nusantara ini berhasil didedah secara nyata oleh Sumanto Al Qurtuby, baik melalui penelusuran terhadap “teks-teks kuno” maupun situs-situs sejarah dan keterpengaruhan budaya atau yang disebutnya dengan “Sino-Javanese Muslim Culture”.

Pertanyaannya kemudian, kenapa masyarakat Muslim Indonesia lebih banyak yang meyakini peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara? Buku yang diberi kata pengantar oleh almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid ini memberikan jawaban: karena sejak kedatangan penjajah Belanda ke Nusantara, orang-orang Cina selalu dijadikan “kambing hitam” atas segala kekacauan yang sebenarnya dilakukan para penjajah Belanda sendiri demi meraup keuntungan ekonomi dan politik (hal. 224-233).

Sedangkan keberadaan Arab-Muslim di Nusantara memiliki sejarah yang “mulus” tanpa ada narasi kekerasan di dalamnya, sehingga seakan-akan perannya dalam islamisasi sangat besar, padahal orang-orang Arab sendiri baru datang ke Nusantara pada akhir abad ke-18. Karena itu kontribusinya dalam penyebaran Islam di Nusantara dipertanyakan, alasannya antara lain watak Arab yang eksklusif, yakni tertutup dan tidak membuka diri untuk bersosialisasi dengan bangsa lain. Selain itu Arab Muslim juga selalu merasa superior, yakni sebagai “trah Islam tertinggi”. Dalam relasinya dengan non Arab, Arab Muslim selalu memposisikan dirinya sebagai “kelas superordinat”, sedangkan Nusantara Muslim berada di “kelas subordinat”. Relasi demikian menurut analisis penulis buku ini, tidak mungkin akan terjadi transformasi kultural dalam kehidupan masyarakat Islam Jawa (hal. 234-236).

‘Ala kulli hal, buku Arus Cina-Islam-Jawa menemukan relevansinya bagi masyarakat Indonesia saat ini yang sedang “demam keturunan Arab” dan mudah terprovokasi dengan isu-isu SARA yang terus direproduksi. Akhirnya, seperti dikatakan Ir Soekarno, bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Data Buku

Judul Buku: Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16

Penulis: Sumanto Al Qurtuby

Penerbit: eLSA Press, Semarang

Cetakan: I, Januari 2017

Tebal : Iv + 300 Halaman

Peresensi: Siti Nur Halimah, Pemimpin Redaksi Majalah Justisia LPM Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, Berita, Makam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Warga Mojokerto Padati Haul ke-13 KH Basyarudin Ismail

Mojokerto, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Haul ke-13 pendiri pesantren Darul Hikmah KH Basyarudin Ismail, sekaligus tokoh agama dan masyarakat Mojokerto, diikuti ribuan masyarakat dan santri Mojokerto, Rabu (14/5). Sejak pagi kompleks pesantren di Kedungmaling kecamatan Sooko, Mojokerto, sejumlah kegiatan digelar seperti khotmil Qur’an, tahlil, dan istighotsah.

Warga Mojokerto Padati Haul ke-13 KH Basyarudin Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Mojokerto Padati Haul ke-13 KH Basyarudin Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Mojokerto Padati Haul ke-13 KH Basyarudin Ismail

Tampak hadir dalam haul ini pengasuh pesantren Tahfidzul Qur’an kota Mojokerto KH Hafidz. Haul ini ditutup dengan taushiyah yang disampaikan Rais Syuriyah PCNU Mojokerto KH Chusain Ilyas.

“Kegiatan semacam ini rutin diselenggarakan setiap tahun. Tahun ini sengaja digelar agak berbeda dan lebih meriah tanpa meninggalkan esensi haul,” kata ketua panitia haul Rianto.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Masih menurut Rianto, haul tahun-tahun sebelumnya biasanya diperingati para santri yang berjumlah ratusan. Sedangkan tahun ini haul juga melibatkan ribuan warga Mojokerto yang turut mendoakan almarhum.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Basyarudin Ismail adalah seorang yang gigih menyebarkan Islam di Mojokerto khususnya di kawasan Sooko. Ia tokoh yang disegani masyarakat.

Sementara alumni pesantren Darul Hikmah Adam Faisal mengatakan, ketika para tokoh dan ulama masih berdebat perihal sekolah formal di pesantren, Kiai Basyarudin menjadi orang pertama di Mojokerto yang mengawali pendirian pendidikan formal mulai sekolah dasar hingga aliyah.” (Iqbal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam, Olahraga, Tegal PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar”

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) meluncurkan kembali program beasiswa “Pintar” (Pelajar Indonesia Tangguh Religius) tahun 2010-2011 sebagai upaya untuk memfasilitasi para kader NU yang pintar dan potensial tetapi berasal dari kalangan kurang mampu.



IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar”

Peluncuran program beasiswa ini dilakukan pada acara buka puasa bersama IPNU yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (24/8).

Dari rilis yang disampaikan oleh panitia, ditargetkan mampu menjangkau 200 orang, yang masing-masing per satu orang mewakili satu cabang IPNU. Beasiswa ini dilakkan dalam waktu satu tahun dalam disalurkan setiap bulannya sebesar 100 ribu rupiah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IPNU lebih memprioritaskan pemberian beasiswa untuk pelajar Madrasah Aliyah dengan proporsi 70 persen, sementara 30 persennya dialokasikan untuk pelajar SMU.

Mereka yang berhak mendapat beasiswa merupakan pelajar kelas X MA atau SMU di daerah atau cabang yang ditunjuk sebagai zona binaan, rangking satu di kelasnya dan jika memungkinkan memiliki nilai akademik tertinggi di sekolah, memiliki kemampuan bahasa asing, memiliki pengalaman berorganisasi, menjadi pengurus cabang IPNU dan berlatar belakang kurang mampu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para penerima beasiswa juga memiliki tanggung jawab, diantaranya membuat diskusi kecil rutin bulanan, minimal diikuti tiga orang dengan tema seputar kepelajaran, fenomena pendidikan, sosial dan keagamaan. Selain itu, mereka juga didwajibkan melaporkan hasil raport ujian akhir kepada pimpinan cabang IPNU yang ditunjuk sebagai pelaksana program.

Selanjutnya, mereka juga diwajibkan aktif di organisasi intra sekolah, mempersiapkan diri untuk menjadi calon ketua OSIS dan siap menerima pembinaan lebih lanjut dari pimpinan cabang IPNU.

Sebelumnya Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi menjelaskan, IPNU telah memposisikan diri ssebagai organisais pembelajar (learning organization). Dalam konsep ini, yang dihasilkan bukan hanya produk, tetapi juga melakukan peningkatan dan terobosan-terobosan.

Ia menjelaskan, secara substansial, melalui pembelajaran, dapat dirasakan hubungan manusia dan dunia dan melalui pembelajaran, dapat memperluas kapasitas untuk menciptakan serta menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan.

“Program beasiswa IPNU ini adalah kontribusi kongkrit terhadap peningkatan mutu pelajar. Selain didedikasikan untuk menciptakan generasi muda NU berkualitas secara kongnitif, prikomotirik maupun afektif, program ini diharapkan dapat mengentaskan nasib pelajar berkualitas yang masih kurang diperhatikan,” katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan

Rembang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada Ramadhan kali ini, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Peajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menggelar program "Ngaji Bareng" di beberapa Ranting atau desa di kecamatan setempat secara bergilir menjelang buka puasa.

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan

Ketua IPNU Kecamatan Kaliori Abdul Rohim, Kamis (3/7), mengatakan, ada delapan Ranting IPNU-IPPNU yang sudah menyatakan kesediaanya sebagai tuan rumah untuk berbuka puasa dan ngaji ini, di antaranya Ranting Desa Kuangsan, Meteseh, Tambak Agung, Karang Sekar, Dresi Wetan, Dresi Kulon, Gunung Sari, dan Dukuh Dresen Desa Tasik Harjo.

"Kegiatan ini merupakan agenda rutinan dari setiap anggota dan pengurus Anak Cabang Kaliori. Dan sekaligus sebagai ajang berbuka puasa bagi para pengurus dan anggota setelah seharian menjalankan ibadah puasa. Hal ini cukup efektif untuk menjaga tali silaturahmi dari para kader pelajar NU di Kaliori," ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rencananya, tambah Abdul Rohim, pihaknya akan mengadakan pengajian kitab seperti tahun-tahun sebelumnya. Yakni, sesudah tadarus, akan diisi ngaji kitab sejenak sambil menunggu adzan Maghrib sebagai tanda berbuka dimulai. Mengenai kitab yang akan dikaji, ia menunggu kesepakatan para pengurus PAC IPNU-IPPNU.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pihaknya masih berharap menerima saran dari pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kaliori. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, para penguruslah yang biasanya menyampaikan kajian kitab di setiap bulan Ramadhan.

Kegiatan ngaji Ramadhan sembari berbuka puasa bersama dijadwalkan akan dimulai pada hari ke sembilan di bulan Ramadhan. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Dur Bantah Diusir Ormas-ormas Islam di Purwakarta

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Menyusul aksi warga nahdliyyin (sebutan untuk warga NU) yang menuntut dibubarkannya FPI, MMI dan HTI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membantah dirinya telah diusir oleh ormas-ormas Islam radikal dalam acara Dialog Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta, Jawa Barat (23/5) lalu. Menurutnya, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman saja.

"Siapa yang diusir, saya dari awal sudah bilang sama panitia bahwa saya tidak bisa mengikuti acara sampai habis. Begitu selesai berbicara dan tanya-jawab, saya langsung pulang. Bukan pengusiran," kata Gus Dur saat hadir dalam acara bincang-bincang di Kedai Tempo, Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (27/5)

Kesalahpahaman terjadi dalam acara yang digelar PC GP Ansor Purwakarta tersebut. Gus Dur dan beberapa anggota FPI saling tuding yang mengakibatkan penandatanganan prasasti kebersamaan yang sedianya dilakukan oleh para pemuka agama, pemerintah dan elemen masyarakat lainnya batal.

Akibatnya, Jumat (26/5) lalu sejumlah massa pendukung Gus Dur dari Garda Bangsa mendatangi Mabes Polri untuk melaporkan FPI, mereka tidak menerima aksi pengusiran yang dilakukan terhadap mantan Presiden RI ke-4 tersebut.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani menyatakan bahwa tuntutan para pendukung Gus Dur tersebut tidak bisa dipenuhi. “FPI tidak bisa dibubarkan. Ada kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat," katanya kepada wartawan di Jakarta, Jum’at (26/5) lalu.

Firman menolak pernyataan bahwa polisi memberi angin segar bagi FPI sehingga dua organisasi tersebut bisa bertindak anarkis. "Kami memberikan angin segar kepada mereka yang berserikat secara baik," ujarnya.

Bahkan, kata Firman, polisi masih menahan 21 anggota FPI di Bekasi karena bertindak anarkis, walau ada sejumlah anggota FPI yang berunjukrasa meminta 21 anggota yang ditahan dibebaskan. Menurut Firman, mereka tidak akan dilepaskan. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian Islam, Halaqoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Dur Bantah Diusir Ormas-ormas Islam di Purwakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Bantah Diusir Ormas-ormas Islam di Purwakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Bantah Diusir Ormas-ormas Islam di Purwakarta

Hikmah Moralitas dalam Maulid Nabi

"Alangkah agungnya Rasul yang selalu dihiasi oleh budi pekerti yang sangat mulia itu. Kepribadiannya selalu diselimuti kebaikan. Wajahnya selalu dihiasi oleh senyum keramahan yang menawan. Dia lemah lemah lembut ibarat bunga, mengundang pesona ibarat bulan purnama, luas kedermawanannya ibarat samudera, dan sangat pasti cita-citanya ibarat perjalanan masa." Demikian gambaran Imam al-Busyiri tentang kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW.



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?  ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Hikmah Moralitas dalam Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikmah Moralitas dalam Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikmah Moralitas dalam Maulid Nabi

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah

Marilah kita bersama-sama berdo’a kepada Allah SWT agar kita senantiasa berada di bawah naungan rahmat-Nya. Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada-Nya, Sebab taqwa merupakan jembatan bagi kita untuk menggapai ridha dan kemulian di sisi-Nya, baik di dunia maupun akhirat. Sebagaimana firman Allah:

? ? ? ? ?.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisiku ialah orang yang bertaqwa.” (QS: al-Hujurat, 14)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Selasa 12 Rabi’ul Awal 1435 H, kita bersama-sama memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adalah sudah menjadi tradisi mayoritas umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi tersebut. Bagi muslim Indonesia, tradisi maulid  sudah membumi di benak kolektif masyarakat. Peringatan maulid merupakan salah satu bukti kecintaan kita terhadap Nabi SAW. Ungkapan cinta itu diluapkan dengan ekpresi yang beraneka ragam. Misalnya, di Yogyakarta dan Surakarta kita menemukan sekaten, di banjar ada istilah Baayun Maulid, demikian pula di daerah-daerah lain, mereka memiliki istilah dan tradisi sendiri dalam memperingati maulid Nabi SAW.

Peringatan maulid Nabi memiliki dampak positif dalam pembentukan karakter umat Islam. Pada acara itu kita bisa mendengar berbagai macam ceramah yang menjelaskan tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Mungkin saja, bayangan Nabi SAW itu sudah terlupakan dalam benak kita, lantaran kesibukan dunia. Seorang pemimpin bisa jadi sudah lupa bagaimana cara memimpin masyarakat yang benar, wakil rakyat mungkin saja lupa dengan janji-janjinya selama ini, para pejabat yang sudah lupa bagaimana cara menyimpan uang rakyat, sehingga banyak uang rakyat yang tercecer ke kantong pribadinya,  dan bisa jadi sebagai muslim kita sudah lupa bagaimana berakhlak mulia. Momentum maulid Nabi ini sangat tepat dijadikan sarana untuk melawan penyakit amnesia yang tengah mewabah itu. 

 

Jama’ah Jum’at yang berbahagia

Ada banyak contoh yang dapat kita tiru dari Rasulullah SAW. Jika al-Qur`an diibaratkan mutiara yang memantulkan beraneka ragam warna cahaya, demikian pula dengan Nabi SAW. Kita bisa memetik hikmah apasaja yang terdapat dalam diri beliau. Terutama perihal akhlak dan budi pekertinya. Allah SWT berfirman.

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS: al-Ahdzab ayat 21)

 Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

 ? ? ? ? 

Dan sesungguhnya, kamu (muhammad) benar-benar berbudi perketi yang agung (QS. Al-Qalam 68: 4)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa dalam diri Nabi tertanam akhlak yang mulia. Keelokan perangainya itu tidak hanya diakui kalangan Islam saja, non-muslim pun memuji akan akhlaknya tersebut. Tak heran di usia belia rasul dijuluki dengan gelar al-Amin, dan kejujurannya tersohor ke saentaro dunia. Kebaikan akhlaknya itu digambarkan  Imam al-Bushiri dalam gubahan syairnya: “Alangkah agungnya Rasul yang selalu dihiasi oleh budi pekerti yang sangat mulia itu. Kepribadiannya selalu diselimuti kebaikan. Wajahnya selalu dihiasi oleh senyum keramahan yang menawan. Dia lemah lemah lembut ibarat bunga, mengundang pesona ibarat bulan purnama, luas kedermawanannya ibarat samudera, dan sangat pasti cita-citanya ibarat perjalanan masa.”

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Misi utama diutusnya Nabi SAW ke permukaan bumi ini ialah untuk memperbaiki akhlak manusia. Syeikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul kaifa nata’amal ma’a al-Qur`an, menyebutkan salah satu tujuan dari syari’at Islam ialah untuk menyucikan hati manusia dan meluruskan akhlak. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah disampaikan bahwa Nabi bersabda:

? ? ? ? ?. “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan (memperbaiki) akhlak manusia.” (HR: al-Baihaqi)

 

Dengan modal akhlak yang mulia itu pula Islam menyebar dalam tempo yang sangat singkat di Jazirah Arab. Praktik kehidupan Nabi, baik di Mekah ataupun Madinah, memberi gambaran kepada kita bahwa peranan akhlak dalam kehidupan ini sangatlah urgen. Penerimaan masyarakat terhadap kebenaran yang disampaikan sangat berkaitan dengan moral si penuturnya. Kebenaran akan meresap cepat ke dalam hati sabubari apabila disampaikan dengan cara-cara yang santun seperti yang dicontohkan Nabi SAW.

 

Hadirin yang berbahagia

Berbicara mengenai moral atau akhlak pada hari ini membuat  air mata kita menetes. Bagaimana tidak, hampir setiap hari media cetak maupun elektronik mengabarkan kepada kita perihal kemungkaran sosial yang terjadi di negeri ini. Bukan berati negeri ini penuh dengan penjahat, tidak. Namun, suara kejahatan  lebih masih ketimbang kebaikan. Menengok kembali  kepribadian Nabi SAW adalah solusi nyata untuk keluar dari jeratan masalah ini. Rasul telah mencontohkan kepada kita bagaimana mengatur negara yang baik dan masyarakat yang bermoral. Dalam menjalankan kekuasaan Rasulullah SAW selalu menekankan aspek kebaikan, kejujuran, kaselahan, dan keadilan bagi semua kalangan tanpa memandang warna kulit, keyakinan, serta ras.

Selain itu, Rasulullah SAW selalu mewanti-wanti agar umatnya tidak selalu menuruti hawa nafsunya. Karena hawa nafsu sumber kemungkaran dan kemerosotan akhlak. Orang akan mudah terjerumus untuk korupsi, menipu, dan kemungkaran sosial lainnya jika terlalu menuruti nafsu rakusnya.  Bahkan Rasulullah mengancam status keimanan umatnya yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan ‘Amr bin al-‘Ash, Nabi berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”     

 Jama’ah jum’at yang dirahmati Allah SWT

 

Demikianlah khutbah jum’at kali ini. Semoga dengan peringatan maulid Nabi ini dapat membawa perubahan dalam tingkah laku kita. Peringatan maulid bukan hanya sekedar formalitas atau seremonial belaka. Lebih dari itu, peringatan maulid sebagai sarana bagi kita untuk menambah wawasan tentang kehidupan Nabi SAW, kemudian  mengamalkan dan mengkontekstualkan dalam kehidupan sehari-hari.      

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. . Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

(Pen. H.Ferdiansyah/Red. Ulil H)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Hadits, Nasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah