Kamis, 07 Desember 2017

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko

Menkes, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di penghujung tahun 2012, negeri terbenamnya matahari, Maroko. Kembali melahirkan seorang doktor untuk Indonesia. Jum’at sore, 21 Desember 2012 bertempat di auditorium Az-Ziyani, Fakultas Sastra dan Humaniora, Universitas Moulay Ismail-Meknes. Sekitar pukul 15.30 waktu setempat, digelar sidang disertasi doktoral Ust. M Helmi Basri, MA.

Tema disertasi yang diujikan ialah tentang maqasid syariah, dengan judul " At-Taamul al Maqaasidy maa as-Sunah an-Nabawiyah wa Tanziiluhu ala Badli al-Waqaaii al-Muaashiroh fi Indonesia" (Interaksi Maqasid terhadap Sunnah Nabawiyah dan Pengaplikasiannya terhadap beberapa Realita Kontemporer di Indonesia) dengan didampingi tiga tim penguji.

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko

"Team penguji terdiri dari tiga orang, yakni Dr Mohammed As-Saisie (ketua), Dr Farid Syukri (anggota), dan Dr Moulay Umar Bin Hammad (anggota). Sedangkan sebagai pembimbing yakni Dr Khalid Muqali," ujar Herdiyansah Amran salah satu mahasiswa Indonesia di Maroko yang menghadiri acara tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sidang juga dihadiri oleh Pelaksana Pensosbud KBRI Rabat, Suparman Hasibuan, serta sejumlah perwakilan anggota PPI Maroko dari tiap-tiap daerah masing-masing. Diantaranya, dari kota Rabat, Casablanca, Mohammedia, Kenitra, Fes, dan dari kota Meknes sendiri. Tampak pula sebagian mahasiswa Maroko juga ikut menghadiri acara tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sidang disertasi yang berjalan cukup menarik dan sedikit menegangkan ini, berjalan lancar dan sukses. Walau ada beberapa kritikan dari dewan penguji, namun Ust. Helmi Basri, MA. berusaha mempertahankan apa yang beliau tulis dalam disertasinya.?

Setelah break sejenak untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil keputusan sidang. Dalam keputusan ini, dewan penguji menganugerahkan predikat "Summa Cum Laude" (Musyarrof Jiddan) kepada Dr Helmi Basri, MA.

Herdi juga mengatakan bahwa, dengan gelar Doktor yang diraih oleh Ust. Helmi Basri sore kemarin. Maka, selama tahun 2012 ini, Maroko telah menelorkan sebanyak 11 serjana-serjana muda untuk tanah air tercinta. Dengan rincian 6 orang Strata 1 (LC), 3 orang Strata 2 (Master), dan 2 Orang Strata 3 (Doktor).

Dalam kesempatan, ini ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko H Habib Chairul M, Lc. Serta anggota PPI Maroko dan warga Indonesia di Maroko memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Ust, Helmi Basri.

Ketua PPI Maroko H.Habib Chairul M, Lc. Menyampaikan bahwa hal ini tentu menjadi kebanggan kita bersama sebagai bangsa Indonesia. Semoga dengan semakin banyaknya alumni lulusan Negeri Maghribi ini, dapat menambah warna baru dalam khazanah keilmuan dan pemikiran keislaman di tanah air. Amiin.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser

Lampung Tengah, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Diprediksi sekitar seribuan lebih, kader Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) se Kabupaten Lampung Tengah akan memadati halaman kompleks gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lampung Tengah.

Insya Allah besok, Jumat (21/7) kami segenap keluarga besar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Tengah akan bersilaturahmi di kompleks gedung NU Lampung Tengah dalam rangka akan mengadakan pelantikan pengurus baru sekaligus Apel Banser dan dilanjutkan Rapat Kerja Cabang (Rakercab),” kata Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono di sela-sela persiapan pelantikan dan apel Banser di kompleks gedung NU Lampung Tengah, Jalan Proklamator Raya Nomor 134 Seputih Jaya Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah, Kamis (20/7).

GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser

Ketua panitia pelaksana Gus Sholihin menambahkan, agenda pelantikan dan apel Banser pada tahun 2017 ini mengusung tema Berkhidmat Membangun Lampung Tengah: Berkarya Untuk Kemandirian Ekonomi Pemuda, Berjuang Untuk Agama dan Negara.

“Dalam konteks kekinian, apel Banser se-Kabupaten Lampung Tengah bertujuan menjaga dan memperteguh kembali semangat (ghirah) soliditas dalam mengawal dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” imbuh alumni IAIN Jurai Siwo Kota Metro ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Insya Allah, agenda pelantikan dan apel Banser mengundang para kiai pengasuh pesantren, pengurus NU Kabupaten Lampung Tengah, Pimpinan Pusat GP Ansor, Pimpinan Wilayah GP Ansor Propinsi Lampung, para mantan ketua pimpinan cabang GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah, badan otonom di lingkungan NU Kabupaten Lampung Tengah, Bupati Lampung Tengah, Kapolres Kabupaten Lampung Tengah, Dandim 0411 Lampung Tengah, dan para tokoh masyarakat dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Khutbah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IPNU Jateng: Periode Kepengurusan di IPNU Perlu Diseragamkan

Pemalang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menghadapi Kongres IPNU XVIII 4-8 Desember 2015 mendatang di Asrama Haji Donohudan Boyolali, PW IPNU Jawa Tengah menggelar Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) di Pemalang, Sabtu (21/11). Kegiatan yang dihadiri ketua-ketua cabang IPNU se-Jawa Tengah ini banyak mengangkat isu-isu yang akan diperjuangkan di Kongres.

IPNU Jateng: Periode Kepengurusan di IPNU Perlu Diseragamkan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jateng: Periode Kepengurusan di IPNU Perlu Diseragamkan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jateng: Periode Kepengurusan di IPNU Perlu Diseragamkan

"Periode kepengurusan di IPNU perlu diseragamkan, misalnya dua tahun atau tiga tahun sekalian. Saya sendiri, hampir tiga tahun menjadi ketua, seringkali menghadiri konfercab atau melantik dua kali di cabang yang sama," kata ketua IPNU Jawa Tengah, Amir Mustofa Zuhdi dalam sambutannya.

Selain itu, problem revitalisasi organisasi juga banyak disuarakan oleh peserta Rapim di antaranya, penggunaan database online, mengaktifkan kembali website, pembuatan materi kaderisasi, digitalisasi materi-materi kaderisasi melalui slide dan film serta memaksimalkan distribusi PD/PRT, dan PO/PA IPNU.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kita yang ada di daerah banyak yang belum mendapat hasil-hasil Kongres dan Rakernas. Kita minta, pimpinan pusat merespon ini dengan cepat, mengingat banyak dibutuhkan kader. Minimal publikasikan di internet, agar kita bisa mengunduh," kata Aan, Ketua PC IPNU Klaten.

Adapun kaitannya dengan kaderisasi, peserta Rapim meminta pasca Lakut (Latihan Kader Utama) ada kaderisasi formal, atau minimal non-formal yang wajib diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam rapim tersebut, PW IPNU Jawa Tengah juga berkonsentrasi menyiapkan bagaimana menjadi tuan rumah yang baik.

"Ini hajat kita bersama selaku kader IPNU, khususnya kader Jawa Tengah. Kita harapkan, semuanya turut serta menjadi tuan rumah yang baik, yaitu melayani," ungkap Nahdlatul Ulum, Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah. (Dhuha Aniqul Wafa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Budaya PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Idham Chalid Tokoh Utama dari Kalsel

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Almarhum KH Idham Chalid dianggap sebagai salah satu tokoh utama dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan selatan tempo dulu dan sekarang yang diterbitkan dalam buku “Apa dan Siapa dari Utara”.

KH Idham Chalid dianggap istimewa karena peranannya dalam tingkat nasional, bahkan internasional. Tokoh yang dilahirkan di Satui, Kabupaten Kotabaru (kini masuk Kabupaten Tanah Bumbu), 27 Agustus 1922 itu pernah menjabat orang penting di republik ini yaitu sebagai Wakil Perdana Menteri saat pemerintahan Presiden Soekarno.

KH Idham Chalid Tokoh Utama dari Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Idham Chalid Tokoh Utama dari Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Idham Chalid Tokoh Utama dari Kalsel

Selain itu, tokoh ini memegang beberapa jabatan penting kenegaraan, seperti Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Menko Kesejahteraan Rakyat, disamping sebagai orang nomor satu di pucuk pimpinan nasional Nahdatul Ulama beberapa periode.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Namun sangat disayangkan, generasi muda Kalsel kini banyak yang tak kenal terhadap tokoh tersebut ketika diperlihatkan fotonya. Itulah salah satu latar belakang pemikiran terbitnya buku berjudul ’apa & siapa dari utara’ tersebut," ujar H Ahmad Makkie BA, tokoh asal Kalsel yang memprakarsai penerbitan buku tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam buku yang memuat 186 orang tersebut, pemrakarsa dan penulis naskah membagi kelompok para tokoh dari HSU itu terdiri tokoh terkemuka sembilan antara lain Idham Chalid, H.Mohammad Hanafiah (Menteri Agraria pertama), Adenansi dan mantan Gubernur Kalsel, H.M. Sjachriel Darham. (nam/mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional, Bahtsul Masail, Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

ISNU Sumenep Luncurkan Sekolah Riset

Sumenep, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Sumenep, Madura terus memantapkan diri dalam melakukan penguatan keilmuan, utamanya yang berkaitan dengan penelitian.

Organisasi yang dinakhodai salah seorang kiai muda Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, KH Mohammad Husnan A Nafi’ tersebut meluncurkan sekolah riset, Sabtu (1/11) di Hotel Dreamland Sumenep. Dalam kesempatan tersebut, digelar pula workshop riset dengan tema "Sumenep Mencari Pemimpin".

ISNU Sumenep Luncurkan Sekolah Riset (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sumenep Luncurkan Sekolah Riset (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Sumenep Luncurkan Sekolah Riset

Lembaga penelitian tersebut diberi nama Sekolah Riset "L?rrês NU". Nama tersebut merupakan kepanjangan dari Lembaga Riset Sarjana Nahdlatul Ulama.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Hosnan berharap, kehadiran Sekolah Riset L?rrês NU PC ISNU Sumenep bisa memberikan warna tersendiri dalam bidang keilmuan. Serta, produk penelitian yang dihasilkan nantinya bisa menjadi acuan kebijakan bagi pemerintahan Kabupaten Sumenep.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Semoga semuanya membawa keberkahan bagi umat,” terang mantan aktivis PMII Yogyakarta tersebut.

Sementara itu, Damanhuri selaku Direktur Sekolah Riset L?rrês NU berharap adanya keterlibatan banyak pihak untuk memajukan NU melalui bidang penelitian. Utamanya pihak-pihak yang memang hobi melakukan penelitian.

“Alhamdulillah, Sekolah Riset L?rrês NU telah dikukuhkan. Atas semua pihak yg terlibat, terima kasih kontribusinya. Dan mari kita jadikan lembaga ini sebagai bentuk penguatan intelektual, perekat komunikasi, dan penyerap aspirasi menuju Sumenep yang lebih baik,” tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, PonPes PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Enam Syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jum’at

Seperti ibadah-ibadah lainnya, shalat jum’at memiliki beberapa ketentuan atau syarat keabsahan yang harus dipenuhi. Sekiranya tidak terpenuhi, maka shalat jum’at dihukumi tidak sah. Berikut ini adalah syarat-syarat sah pelaksanaan shalat jum’at:

Pertama, shalat jum’at dan kedua kutbahnya dilakukan di waktu zhuhur. Hal ini berdasarkan hadits:

Enam Syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jum’at

? ? ? ? ? ? ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Sesungguhnya Nabi Saw melakukan shalat jum’at saat matahari condong ke barat (waktu zhuhur)”. (HR.al-Bukhari dari sahabat Anas).

Maka tidak sah melakukan shalat jum’at atau khutbahnya di luar waktu zhuhur. Bila waktu Ashar telah tiba dan jamaah belum bertakbiratul ihram, maka mereka wajib bertakbiratul ihram dengan niat zhuhur. Apabila di tengah-tengah melakukan shalat jum’at, waktu zhuhur habis, maka wajib menyempurnakan jum’at menjadi zhuhur tanpa perlu memperbaharui niat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apabila waktu zhuhur menyempit, maka wajib melakukan takbiratul ihram dengan niat zhuhur. Apabila waktu zhuhur keluar sementara jamaah berada di dalam ritual shalat jum’at, maka mereka wajib menyempurnakannya menjadi shalat zhuhur tanpa mengulangi niat”. (Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal.236)

Kedua, dilaksanakan di area pemukiman warga.

Shalat jum’at wajib dilakukan di tempat pemukiman warga, sekiranya tidak diperbolehkan melakukan rukhsah shalat jama’ qashar di dalamnya bagi musafir. Tempat pelaksanaan jum’at tidak disyaratkan berupa bangunan, atau masjid. Boleh dilakukan di lapangan dengan catatan masih dalam batas pemukiman warga.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jum’at tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka jum’at tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut”. (al-Ghazali, al-Wasith, juz.2, hal.263, [Kairo: Dar al-Salam], cetakan ketiga tahun 2012).

(Baca juga: Shalat Jum’at di Perkantoran)

Ketiga, rakaat pertama jum’at harus dilasanakan secaraberjamaah.

Minimal pelaksanaan jamaah shalat jum’at adalah dalam rakaat pertama, sehingga apabila dalam rakaat kedua jamaah jum’at niat mufaraqah (berpisah dari Imam) dan menyempurnakan jum’atnya sendiri-sendiri, maka shalat jum’at dinyatakan sah.

Keempat, jamaah shalat jum’at adalah orang-orang yang wajib menjalankan jum’at.

Jamaah jum’at yang mengesahkan jum’at adalah penduduk yang bermukim di daerah tempat pelaksanaan jum’at. Sementara jumlah standart jamaah jum’at adalah 40 orang menghitung Imam menurut pendapat kuat dalam madzhab Syafi’i. Menurut pendapat lain cukup dilakukan 12 orang, versi lain ada yang mencukupkan 4 orang.

Al-Jamal al-Habsyi sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Berkata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Bila orang awam mengetahui di dalam hatinya bertaklid kepada ulama dari ashab Syafi’i yang mencukupkan pelaksanaan jum’at dengan 4 atau 12 orang, maka hal tersebut tidak masalah, karena tidak ada kesulitan dalam hal tersebut”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.18).

Tidak termasuk jamaah yang mengesahkan jum’at yaitu orang yang tidak bermukim di daerah pelaksanaan jum’at, musafir dan perempuan, meskipun mereka sah melakukan jum’at.

Kelima, tidak didahului atau berbarengan dengan jum’at lain dalam satu desa

Dalam satu daerah, shalat jum’at hanya boleh dilakukan satu kali. Oleh karenanya, bila terdapat dua jum’atan dalam satu desa, maka yang sah adalah jum’atan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram, sedangkan jum’atan kedua tidak sah. Dan apabila takbiratul ihramnya bersamaan, maka kedua jum’atan tersebut tidak sah.

Hal ini bila tidak ada kebutuhan yang menuntut untuk dilaksanakan dua kali. Bila terdapat hajat, seperti kedua tempat pelaksanaan terlampau jauh, sulitnya mengumpulkan jamaah jum’at dalam satu tempat karena kapasitas tempat tidak memadai, ketegangan antar kelompok dan lain sebagainya, maka kedua jum’atan tersebut sah, baik yang pertama maupun yang terakhir.

Syekh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Kesimpulannya, sulitnya mengumpulkan jamaah jum’at yang memperbolehkan berbilangannya pelaksanaan jum’at adakalanya karena faktor sempitnya tempat, pertikaian di antara penduduk daerah atau jauhnya tempat sesuai dengan syaratnya”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.4).

(Baca: Dua Shalat Jum’at dalam Satu Komplek)

Keenam, didahului kedua khutbah.

Sebelum shalat jum’at dilakukan, terlebih dahulu harus dilaksanakan dua khutbah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Rasulullah Saw berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi melanjutkan khutbahnya”. (HR. Muslim).

(Baca: Kenapa Khutbah Jumat Didahulukan Dibanding Shalatnya?)

Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam menjalankan shalat jum’at. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, News, Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Agus Sunyoto Sampaikan Tantangan Pesantren di Pertemuan Pesantren Rakyat

Malang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk menguatkan kelembagaannya, Pesantren Rakyat Malang menggelar pertemuan nasionalnya yang kedua di Rumah Singgah Pascasarjana UIN Malang selama tiga hari, yakni Jum’at-Ahad (18-19/9). Kegiatan yang didukung penuh oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maliki Malang ini diikuti oleh perwakilan Pesantren Rakyat yang telah berdiri di berbagai daerah di Indonesia.?

Rektor UIN Maliki Malang H Mudjia Rahardjo berkesempatan membuka kegiatan yang fokus pada pemberdayaan masyarakat ini. Tak hanya itu, berbagai tokoh menjadi pembicara untuk memotivasi para ‘Kiai Rakyat’ guna menguatkan kelembagaan Pesantren Rakyat.

Agus Sunyoto Sampaikan Tantangan Pesantren di Pertemuan Pesantren Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto Sampaikan Tantangan Pesantren di Pertemuan Pesantren Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus Sunyoto Sampaikan Tantangan Pesantren di Pertemuan Pesantren Rakyat

Pada kesempatan ini, Ketua PP Lesbumi Nahdlatul Ulama, KH. Agus Sunyoto juga memberikan pengetahuan tentang prospek pesantren alternatif di Indonesia berkenaan dengan tantangan dan harapannya.?

Dalam materinya, kiai yang juga pengasuh Pesantren Global di Jalan Anggodo, Dusun Lowoksuruh, Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang ini menuturkan, Pesantren Rakyat yang dikembangkan santri-santri lulusan pesantren ini tujuan utamanya adalah untuk membina, mendidik, membimbing masyarakat agar dapat menjadi muslim yang mengerti, memahami, melaksanakan nilai-nilai lslam dalam kehidupannya sehari-hari.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kurikulum pendidikan, lanjut Agus Sunyoto, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, dengan menekankan pada pendidikan akidah, akhlak, ibadah, dan pengetahuan terapan sehari-hari. Uniknya, menurut Agus, kegiatan Pesantren Rakyat ini tidak harus melulu dilakukan di pesantren, tetapi bisa di tempat-tempat di mana komunitas orang lslam berkumpul seperti tempat cangkruan, warung kopi, mushola, sawah, pabrik, arena bermain, hingga poskamling. Pesertanya pun juga bisa lebih bermacam-macam, bisa anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua.?

”Metode pembelajaran harus fleksibel sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan, mulai role playing, ceramah, mendongeng, main peraga wayang, dan apresiasi film misalnya,” ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

?

Pesantren Rakyat yang ada di desa pinggir hutan di Ponorogo, Agus Sunyoto mencontohkan, penduduknya memiliki masalah keterbelakangan mental. Dengan pendekatan yang sesuai, penduduk diajari menanam singkong, ubi, jahe, laos, dan kunyit dengan memanfaatkan area hutan. Penduduk juga diajari mengolah hasil tanamannya sekaligus cara menjualnya, termasuk menghitung uang. Pembinaan dilakukan dalam acara tahlil, slametan, sholawatan.

”Lepas dari penilaian positif dan negatif yang pasti Pesantren Rakyat sudah berkembang di 120 lokasi dengan ciri khusus; semua kegiatan pendidikan dilaksanakan secara sukarela dan gratis,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Jaringan Pesantren Rakyat ini telah berdiri di berbagai kota di Indonesia, dengan salah satu inisiatornya adalah Kiai Abdullah Sam, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Malang. Pesantren Rakyat fokus pada praktik pribumisasi, dakwah di berbagai segi kehidupan, bukan hanya yang terkait dengan pendidikan agama, namun juga dalam peningkatan ekonomi masyarakat sekitar yang melahirkan Panca Rukun Pesantren Rakyat, yakni, Jagong Maton, Lumbung Perak, Celengan, Ngaji Ngluruk, dan Al Fatehahan. (Muhammad Faishol/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah