Selasa, 05 Desember 2017

PMII Salurkan Bantuan Rp11 Juta untuk Muslim Rohingya

Pamekasan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga Rohingya yang tertampung di Kabupaten Langsa Aceh tampak sumringah dengan datangnya bantuan dari Pengurus Cabang PMII Kabupaten Pamekasan, Senin (19/12). Bantuan tersebut berjumlah Rp11 juta lebih dari hasil penggalangan dana selama seminggu di Kota Gerbang Salam.

PMII Salurkan Bantuan Rp11 Juta untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Salurkan Bantuan Rp11 Juta untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Salurkan Bantuan Rp11 Juta untuk Muslim Rohingya

"Kami salurkan melalui PC PMII Langsa bersama perwakilan Pengurus Besar PMII, yaitu sahabat Sahrul Abrori," ujar Ketua Umum PC PMII Pamekasan Miftahul Munir, Selasa (20/12).

Tujuan sederhananya, ujar Miftah, ialah untuk meringankan beban hidup sesama saudara muslim yang sekarang tidak punya tempat tinggal. Pihaknya merasa terenyuh dan kasihan serta bertanya-tanya apa yang bisa dikerjakan warga Rohingya yang terusir dari negerinya untuk sekadar makan.

"Langkah yang kami tempuh ini juga sebagai implementasi dari Nilai Dasar Pergerakan dalam melihat orang lain dari sisi kemanusian; tanpa harus melihat siapa mereka, dari mana mereka, dan apa suku mereka," tandasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, Cerita, Lomba PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pengasuh Darul Ulum: Ambil Sisi Positif Pembubaran RSBI

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keputusan Mahkamah Konstitusi untuk membubarkan keberadaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) hendaknya diambil sisi positifnya. Yang terpenting adalah tetap memberikan layanan terbaik bagi siswa dan santri potensial agar bisa bersaing di dunia global.

Pengasuh Darul Ulum: Ambil Sisi Positif Pembubaran RSBI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Darul Ulum: Ambil Sisi Positif Pembubaran RSBI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengasuh Darul Ulum: Ambil Sisi Positif Pembubaran RSBI

Hal itu disampaikan KH Dr Zulfikar As’ad kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jombang, Kamis (6/2). “Jangan dilihat pembubarannya, namun yang lebih diperhatikan adalah bagaimana pesantren dan sekolah yang pernah membuka RSBI bisa memberikan layanan terbaik bagi peserta didik,” ungkapnya.

Di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang, semua tingkatan telah berdiri RSBI dari mulai SD, SMP hingga SMA. Awalnya, unit-unit pendidikan tersebut memang dipersiapkan untuk melayani para siswa yang memiliki kelebihan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelum ada RSBI, sekolah-sekolah tersebut berbentuk sekolah unggulan. “Kalaupun akhirnya menjadi RSBI, itu karena sekolah kami memang memiliki keunggulan dari banyak hal,” bangganya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mahasiswa tingkat doktoral  di Universitas Airlangga Surabaya ini menandaskan bahwa bila dibandingkan dengan RSBI di sejumlah tempat, untuk sekolah internasional di pesantrennya lebih terjangkau, khususnya dalam pembiayaan. “Prinsipnya, sekolah tersebut bukan semata mencari keuntungan materi,” sergahnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Karena yang mengemuka dari pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum adalah ingin melayani para santri dan siswa yang memiliki keunggulan. Pada saat yang bersamaan, semua unit pendidikan yang ada ternyata telah memiliki standar yang ditetapkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk menjadi sekolah kelas internasional.

Manfaat saat menjadi RSBI adalah intensitas komunikasi dengan beberapa sekolah di luar negeri. “Sehingga kami bisa mengirimkan siswa dan tenaga pendidik di beberapa sekolah kelas internasional di berbagai negara,” ungkapnya.

Inti dari RSBI kala itu adalah semangat untuk mendorong unit pendidikan yang ada dalam memberikan layanan berkualitas serta fasilitas yang dapat menunjang prestasi siswa.

Kalaupun akhirnya Mahkamah Konstitusi mengamanatkan pembubaran RSBI, pihak pesantren tidak merasa dirugikan. “Kami tetap pada komitmen awal untuk memberikan yang terbaik bagi siswa dan santri unggul tersebut,” katanya. “Karena itu sarana dan prasarana penunjang tetap dioptimalkan agar mereka dapat bersaing dengan para alumnus sekolah luar pesantren,” lanjutnya.

Kepada pemerintah, Gus Ufik –sapaan kesehariannya- berharap agar melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang telah dibuat. Ia berharap, pemerintah dapat melayani seluruh warga negara khususnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak secara adil dan tanpa diskriminasi.

“Itu tugas negara dan telah dijamin oleh undang-undang,” harapnya. “Jangan sampai sekolah berkualitas hanya bisa melayani mereka yang kaya dan menafikan kalangan tidak berpunya namun memiliki kualitas,” pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Warta PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Yogyakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Wakil Ketua PWNU DIY Jadul Maula berpendapat, frame kebangkitan nasional harus dimaknai dari kerajaan di Nusantara. Karena nasionalisme secara kultural sudah dibangun oleh para Wali Songo.

“Akar nasionalisme kita itu terbukti dari kerajaan Demak mengusir penjajah. Nasionalisme bangsa kita itu lahir dari agama. Beda dengan Eropa yang terpisah dari agama,” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema, “Forum Mahasiswa, Santri & Warga: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional” di Lantai 2 Kantor PWNU DIY, Jalan MT Haryono, Rabu (20/5) pagi.

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Jadul melanjutkan, Islam dan budaya itu diharmoniskan oleh para wali, sehingga melahirkan Islam yang khas Nusantara. Sebab itu, persatuan dan kesatuan sudah digalakkan para sultan dengan bahasa agama dan bahasa kebudayaan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Frame kebagkitan itu tidak terpisah dan berdiri sendiri dari sejarah kerajaan masa lampau,” tutur pengasuh Pesantren Kaliopak Yogyakarta ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Akar budaya Nusantara kita, tambah Jadul, mengandung tiga unsur, yakni menyatunya Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Itu hasil dari dakwah para wali yang menyampaikan Islam ke Nusantara.

Kehadiran penjajah tidak bisa dilawan dengan senjata dan perlawanan secara fisik dengan begitu saja. Benteng yang sangat kuat untuk menghalang itu adalah kebudayaan dan spiritualitas. Para wali mempersiapkan hal itu untuk melawan para penjajah.

Peserta yang hadir terdiri atas para santri dan mahasiswa generasi muda nahdliyyin. Acara yang dimoderatori Muhammadun ini juga menghadirkan Mukhtar Salim, Kandidat Doktor UII Yogyakarta. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Khartoum, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beserta rombongan termasuk istri Hj Nurhayati Said Aqil, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Abdul Rashid Tang Abdullah, dan beberapa pengusaha Malaysia melakukan kunjungan kerjasama ke Sudan.

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Menurut beberapa sumber, Kang Said Ke Sudan beserta rombongan yang langsung disambut dengan Seni Hadrah JSQ bertujuan untuk menyepakati sejumlah MoU antara Sudan, Malaysia, China dan Indonesia  yang diwakili oleh NU dalam rangka pengembangan sektor ekonomi dari berbagai bidang budidaya dan potensi.

Acara yang bertajuk Silaturahim dan tatap muka bersama DR KH Said Aqil Siroj ini diselenggarakan di Wisma KBRI untuk Sudan dan Eritrea, atas kerjasama antara Pengurus Cabang Istimewa NU Khartoum Sudan dengan KBRI. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hadir dalam acara tersebut WNI, baik mahasiswa dari berbagai aliansi dan partai, tenaga kerja maupun masyarakat umum yang berada di Sudan. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dubes RI untuk Sudan Sujatmiko dalam pidato penyambutannya menyampaikan optimisme Islam di Indonesia, sebagai  laju kebangkitan Islam dunia. Melansir beberapa data yang menyebutkan bahwa perkembangan Islam di Indonesia adalah nilai nilai Islam di masa kejayaan.

Dikatakannya, Islam dituntut mampu head to head membaca titik strategi dan kebutuhan global. Islam yang dinamis, anti radikal, toleran dan Berkemanusiaan. Ini selaras dengan pidato yang disampaikan sebelumnya oleh ketua tanfidziyah PCINU Sudan, Miftahuddin Ahimy.

Sementara itu KH Said Aqil Siroj (Kang Said) dalam pidatonya lebih bertendensi mensinergikan kembali semangat keilmuan, kemanusiaan dan nasionalis di mata Muslimin Indonesia. Juga beberapa catatan sejarah mengenai perkembangan Islam dan Nusantara, khususnya NU. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Tajul Mafachir

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Habib, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Chalwani: Shalat Tanpa Wiridan Seperti Kapal Tanpa Muatan

Pringsewu, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo KH Ahmad Chalwani mengatakan, shalat tidak dibarengi dengan bacaan wirid setelahnya, maka shalat yang dilakukan tidak memiliki kualitas yang baik.

KH Chalwani: Shalat Tanpa Wiridan Seperti Kapal Tanpa Muatan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Chalwani: Shalat Tanpa Wiridan Seperti Kapal Tanpa Muatan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Chalwani: Shalat Tanpa Wiridan Seperti Kapal Tanpa Muatan

Ia menyampaikan hal itu pada peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ambarawa, Kabupaten Pringsewu,  Lampung pada Ahad Malam (9/4). 

"Shalat tanpa wiridan itu seperti kapal tanpa muatan. Selalu goyang dan tidak tenang terkena ombak," katanya mengutip perkataan salah seorang ulama kharismatik Jawa Tengah KH Dalhar Watu Congol. 

Lebih lanjut Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah ini mengatakan bahwa amaliyah yang mengiringi shalat seperti wiridan dan puji-pujian merupakan bentuk kearifan dakwah para ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia. "Inilah para ulama Aswaja yang dapat mengemas dakwah dengan baik melalui pendekatan sosial dan budaya," jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, ada beberapa kelompok yang tidak suka dengan Aswaja dan berusaha untuk menghilangkan amaliyah-amaliyah ibadah seperti ini. "Orang yang tidak suka Aswaja dengan berbagai cara berusaha menghancurkan amaliyah-amaliyahnya," ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, cara lain yang dilakukan kelompok ini untuk menjauhkan umat Islam dari amaliyah Aswaja adalah dengan mengubah dan menghilangkan tulisan berbagai kitab bermazhab Imam syafii yang merupakan mazhab paling banyak diikuti umat Islam Indonesia.

Berbagai macam kitab saat ini, lanjutnya, dapat dengan mudah ditemukan dan didownload dari internet. Oleh karenanya ia mengingatkan untuk meneliti lagi kitab-kitab yang didownload dari internet.

Fenomena seperti ini, imbaunya, harus sudah menjadi perhatian penting bagi masyarakat khususnya warga NU terlebih dalam memberikan pendidikan keaswajaan bagi putra dan putri generasi penerus. Sehingga Pondok Pesantren berperan penting dalam mempertahankan amaliyah nahdliyyah sekaligus sebagai kawah candra dimuka pendidikan agama pagi para ulama masa depan. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, Khutbah, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Keliru Pahami Al-Quran Bisa Menyesatkan

Sleman, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia. Hal ini tentu saja bila mereka benar mencari petunjuknya. Namun demikian, Al-Quran bisa juga menjadi racun bila seseorang keliru mengambil dan memahami makna dari Al-Quran itu sendiri.

Demikian disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Sunan Pandanaran KH Mutashim Billah (Gus Tashim) saat memberi sambutan pada acara Kuliah Tafsir Pesantren, Kamis, (6/5) pagi.

Keliru Pahami Al-Quran Bisa Menyesatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Keliru Pahami Al-Quran Bisa Menyesatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Keliru Pahami Al-Quran Bisa Menyesatkan

Kajian ini rutin digelar setiap selapan (empat puluh hari sekali) di Kampus STAI Sunan Pandanaran, Kabupaten Sleman.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Gus Tashim, saat ini dalam khazanah keilmuan tafsir, ada yang dalam memahami Al-Quran sepenuhnya berdasarkan ilmu pengetahuan namun tanpa kontrol yang baik sehingga melanggar rambu-rambu ajaran Islam itu sendiri. Ada pula produk tafsir yang tekstualis, apa adanya, sehingga menyebabkan pemahaman terhadap Al-Quran menjadi sempit.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Di tengah situasi yang seperti ini, kita beruntung masih ada pesantren-pesantren dengan misinya, yaitu melanjutkan dakwah dan perjuangan Rasulullah SAW. Harapannya adalah kita dapat menghasilkan produk tafsir Al-Quran yang sesuai dengan misi Rasulullah SAW dan jiwa serta semangat pesantren," kata Gus Tashim.

Menurutnya, visi dan misi Al-Quran yang dibawa oleh pesantren adalah menerjemahkan kehidupan Rasulullah SAW yang penuh dengan kasih sayang. Rasulullah SAW mengajarkan Islam dengan penuh cinta kasih sehingga Islam dipahami sebagai agama yang damai dan membawanya pun dengan cara yang damai pula.

Sementara, narasumber Kuliah Tafsir Pesantren KH Ali Nurdin mengatakan, tafsir pesantren adalah upaya menuju tafsir moderat. Menurutnya, tafsir moderat ini berusaha mempertemukan secara seimbang aspek etika, intelektualitas, serta keterampilan manusia sekaligus tetap bertujuan untuk mengajak dan membuat orang melakukan hal baik. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ribuan Kader IPNU-IPPNU Jateng Ikuti Green Camp

Wonosobo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ribuan Pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se-Jateng menggelar deklarasi cinta tanah air. Deklarasi dihelat melalui Apel kesetiaan yang diikuti oleh 20 ribu pelajar yang dipimpin oleh Kasdam IV Diponegoro Brigadir Jenderal TNI Agus Kriswanto, di Alun-Alun Wonosobo kemarin (17/6).

Ribuan Kader IPNU-IPPNU Jateng Ikuti Green Camp (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Kader IPNU-IPPNU Jateng Ikuti Green Camp (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Kader IPNU-IPPNU Jateng Ikuti Green Camp

Deklarasi Pelajar Cinta Tanah Air ini merupakan rangkaian dari  Green Camp IPNU-IPPNU, Jateng Youth Festival 2012 yang sudah digelar selama tiga hari  diikuti perwakilan pelajar dari 29 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Kasdam IV Diponegoro Brigjen Agus Kriswanto yang mewakili Panglima Kodam IV Diponegoro Ir. Mayor Jenderal TNI Mulhim Asyrof menyampaikan bahwa penanaman cinta tanah air terhadap pelajar harus terus dilakukan sebab, dampak dari arus globalisasi terus mengancam jiwa nasionalisme para generasi muda akibat gempuran arus globalisasi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Penetrasi globalisasi cenderung mengarah pada munculnya nilai-nilai individualisme, kapitalisme dan liberalisme yang menggeser nilai-nilai nasionalisme bangsa indonesia,” katanya.

Oleh karena itu, kata Agus, generasi muda harus bertekad untuk selalu menjaga jati diri sebagai bangsa Indonesia yang kuat dan mandiri. Menurutnya untuk menanamkan itu harus ditumbuhkan jiwa patriotisme dan semangat nasionalisme, menjaga stabilitas politik, ekonomi budaya dan ketahanan serta keamanan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Apabila hal itu terpenuhi maka rakyat tenang dan sejahtera. Sekaligus meminimalisir peluang pihak-pihak yang menginginkan hancurnya NKRI. Semua pelajar harus memiliki jiwa dan semangat yang kuat serta memegang teguh prinsip bahwa NKRI adalah harga mati bangsa Indonesia,” tandasnya.

Dengan deklarasi pelajar ini, lanjut dia, menjadi daya dobrak dalam menumbuhkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. Karena pelajar hari ini akan menjadi garda depan dimasa mendatang.

“Kami menyambut baik deklarasi cinta tanah air ini semoga mampu memperkokoh jiwa patriotisme generasi mendatang,” tegasnya.

Sementara itu Muhaimin Ketua PW IPNU Jawa Tengah mengatakan, bahwa deklarasi pelajar cinta tanah air ini merupakan rangkaian dari kegiatan Green Camp, Jateng Youth Festival 2012 yang sudah digelar sejak tiga hari lalu. Kegiatan diisi dengan berbagai lomba seni budaya serta pekan olahraga. Selain itu dalam acara yang diikuti pelajar se Jawa Tengah ini,  juga dilakukan penanaman 5000 bibit pohon antara pelajar bersama masyarakat di Wonosobo disepanjang sungai Serayu.

“Tujuan acara ini untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme pelajar sekaligus menanamkan kesadaran menyelamatkan lingkungan,”katanya.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Subekti

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah, Kajian Sunnah, Meme Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah