Senin, 04 Desember 2017

Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Imam dan khatib Masjid Nabawi Madinah Syeikh Dr Abdul Muhsin Al Qasim bersama rombongan melakukan kunjungan ke kantor PBNU, Selasa (29/12). Ia diterima oleh KH Hasyim Muzadi, KH Syaifuddin Amsir, Ir Iqbal Sullam dan Dr Arif Zamhari.



Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai

Muhsin menjelaskan, kunjungan ini merupakan silaturrahmi kepada para pimpinan NU yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Hasyim menjelaskan sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang berbeda dengan di jazirah Arab. Dikatakannya, nusantara pada awalnya didominasi oleh agama Hindu dan Budha, yang sampai saat ini peninggalannya masih dipelihara dan dilestarikan seperti candi Borobudur dan Prambanan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selanjutnya datang para walisongo yang mendakwahkan Islam ke bumi nusantara sampai akhirnya Islam terus berkembang dan saat ini dianut oleh sekitar 85 persen penduduk Indonesia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Para wali mendakahkan Islam tidak dengan cara kekerasan, tetapi dengan pendekatan budaya. Inilah kunci keberhasilan dakwah Islam di Indonesia,” katanya.

Karena proses dakwah yang menggunakan pendekatan agama inilah, yang menjadikan Islam memiliki warna yang berbeda dengan yang ada di Arab sebagai tempat kelahiran Islam, tetapi tidak keluar substansi Islam.

Negeri Arab, terdiri dari satu bahasa dan budaya sehingga lebih monoton, sementara Indonesia kondisinya sangat beragam, mulai dari entis, bahasa, budaya dan kondisi geografisnya yang terdiri dari berbagai pulau.

“Merupakan prestasi yang luar biasa bisa mengislamkan lebih dari 80 persen penduduk di nusantara,” katanya.

Setelah masuknya Islam di nusantara, wilayah ini kemudian didatangi oleh para penjajah beserta misionarisnya, tetapi mereka tidak mampu merubah keyakinan yang sudah dipegang teguh umat Islam. Agama nasrani hanya bisa berkembang di daerah-daerah yang belum banyak tersentuh oleh pendakwah Islam, khususnya di Indonesia Timur.

Sementara itu syuriyah PBNU KH Syaifuddin Amsir mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga riset tentang Islam Indonesia di universitas di Saudi Arabia agar bisa memahami kondisi dan perkembangan Islam di Indonesia secara komprehensif, temasuk mengapa tejadi perbedaan-perbedaan dengan di jazirah Arab. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Doa PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ansor Tangerang Diskusikan Islam Nusantara dan Bagi Takjil

Tangerang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor melalui lembaganya Majelis Dzikir Rijalul Ansor menggelar acara Peringatan Nuzulul Qur’an yang di selenggarakan di Sekretariat GP Ansor Kabupaten Tangerang (5/7). Mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara, Membangun Peradaban Bangsa” Ansor Tangerang ingin menegaskan bahwa pilihan Islam Nusantara adalah jalan tengah ditengah maraknya ideologi–ideologi Islam baik yang fundamentalis maupun yang liberalis. 

Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda menjelaskan bahwa pilihan tema tersebut dianggap pas dimana saat ini wacana Islam Nusantara begitu ramai dan menjadi bahan diskusi banyak orang. Banyak kelompok yang “menggugat” dan merasa “terancam” terhadap munculnya wacana ini karena dianggap sebagai sebuah konsep yang tidak jelas atau bahkan penuh dengan muatan asing.

Ansor Tangerang Diskusikan Islam Nusantara dan Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangerang Diskusikan Islam Nusantara dan Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangerang Diskusikan Islam Nusantara dan Bagi Takjil

Padahal, menurut Huda ibarat produk, Islam Nusantara ini produk lama yang dikemas dan dipasar baru, jadi tidak perlu diributin. “Islam Nusantara merupakan cerminan Islam yang Rahmatan lil Alamin, sangat sesuai dengan prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama yakni tawasuth, tasamuh, tawazun dan i’tidal, jadi ya  harus kita dukung,” kata Huda. 

Huda menambahkan bahwa Islam Nusantara telah terbukti mampu merajut dan menjaga keindonesiaan kita yang multi etnik, suku, ras, dan agama. Sebuah capaian yang belum tentu bisa diraih oleh negara Muslim lainya sehingga bukan sesuatu yang mengada-ada jika konsep Islam Nusantara ini ditawarkan kepada dunia sebagai sebuah konsep membangun peradaban dunia Islam.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara KH Rosyidin yang bentindak sebagai penceramah dalam acara tersebut mengingatkan kepada Ansor dan Banser untuk senantiasa ikut mengawal dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal Jamaahsesuai yang diajarkan oleh para pendiri NU. Ia juga mengingatkan agar Ansor dan Banser selalu waspada terhadap berbagai gerakan dan penyebaran paham yang mengancam keutuhan NKRI.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pembagian seribu  takjil, buka puasa bersama kader-kader Ansor dan Banser se-Kabupaten Tangerang,  serta pada malam harinya dilakukan shalat Tarawih berjama’ah..

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pembagian ta’jil yang melibatkan puluhan anggota Banser tersebut dilakukan di depan sekretariat GP Ansor Tangerang. Para Banser membagi-bagikan takjil kepada pengguna lalu lintas di sekitar Jalan Pasar Kemis Tangerang.

Kepala Banser Kabupaten Tangerang Anwari mengatakan kegiatan membagi-bagikan takjil ini dilakukan untuk mempermudah warga dan para pengendara kendaraan motor yang hendak berbuka puasa. 

“Kami menyiapkan seribu takjil untuk buka puasa warga yang melintas di depan Sekretariat Ansor. Kegiatan ini juga sebagai bentuk kepedulian Ansor dan Banser terhadap sesama,” tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Khutbah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 03 Desember 2017

Rasa Syukur Seorang Narapidana

"Bagaimana kabarmu di penjara?" Tanya seorang sufi lewat sebuah surat kepada sahabatnya.

Sahabatnya menjadi tahanan sebuah kerajaan lantaran suatu kesalahan. Para sipir sekali waktu datang bersama seorang Majusi lalu merantainya secara bergandengan dengan teman sufi itu. Apesnya, si Majusi sedang didera penyakit mules. Sehingga, tiap kali si Majusi hendak buang hajat, sahabat sufi tersebut terpaksa menemani di sebelahnya. Selalu. Bau busuk yang menusuk hidung dan gerak serbaterbatas akibat rantai besi itu tentu sangat mengganggu.

Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasa Syukur Seorang Narapidana

Sang sufi paham dengan keadaan sahabatnya ini dan karenanya ingin memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.

"Aku bersyukur kepada Allah," balas surat si narapidana kepada sang sufi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Sampai kapan kau bersyukur? Memangnya ada yang lebih buruk dari keadaanmu sekarang?"

"Seandainya ikat pinggang si Majusi digandengkan dengan perutku tentu keadaannya akan lebih parah. Saudaraku, sebetulnya aku berhak mendapatkan hukuman lebih dari ini."

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lanjut si narapidana, "Jika memang Tuhan mengampuniku melalui takdir semacam ini, bukankah syukur wajib kupanjatkan?"

Ia lalu menjelaskan tentang rasa takut terhadap pedihnya sanksi di neraka seandainya dirinya tak memperoleh ampunan. Demikian kisah yang tercatat dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Ada cara pandang unik yang dimiliki si narapidana. Ia menilai hukuman yang diterimanya saat itu selayak karunia kebaikan. Sebuah pola pikir yang hanya bisa diraih bila seseorang mempunyai pengertian lebih luas tentang anugerah dan musibah. Anugerah tak mesti sebuah kenikmatan, dan tak semua kesengsaraan bisa disebut musibah.

Orang dengan kacamata masa depan akan berpikir tentang pendidikan jiwanya dalam menyesali kesalahan, melapangkan hati menanggung risiko, dan membenahi diri, hingga tentang nasib kehidupan akhirat di masa mendatang. Dengan demikian, mengeluhkan atau menghindari tanggung jawab hukum, terlebih dengan membuat kesalahan baru (misalnya dengan menyuap penegak hukum), adalah sebuah kepicikan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budaya, Pertandingan, News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Matan) Cabang Ciputat menggelar diskusi di Kafe Kuy, Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (16/8), dengan tema “Religiusitas dalam Media Siber, Menggapai Cahaya Kemerdekaan”.

KH Ahmad Shodiq sebagai narasumber pada kesempatan tersebut mengingatkan bahwa siber itu sangat penting. Hal ini mengingatkannya pada para wali dulu yang berdakwah menggunakan berbagai media sebagai alat penyampainya.

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah

“Siber sebagai alat penting, karena para awliya kita bermain alat,” ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siber saat ini menurutnya seperti syairnya Syaikh Hamzah Fansuri. Penulis Zinatul Muwahhidin itu sangat menginspirasi para sastrawan Indonesia. Mengutip Abdul Hadi WM, sastrawan saat ini tidak bisa lepas dari Hamzah Fansuri. Ketokohan Mursyid Tarekat Qodiriyah itu tidak diragukan lagi, mengingat Sunan Ampel saja menitipkan muridnya, yakni Sunan Derajat.

Hamzah Fansuri sebagai seorang sufi, menggunakan syair sebagai media dakwahnya. Hal ini dilanjutkan oleh Syamsuddin Al-Sumatrani dan Raja Ali Haji pada akhir abad ke-19. Sunan Bonang memainkan degung pada saat itu. Sunan Kalijaga memainkan wayang sebagai alatnya berdakwah. Maka Kiai Shodiq berkesimpulan, siber adalah alat dakwah layaknya alat-alat lainnya yang digunakan oleh para wali terdahulu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Posisi siber, saya kira sama dengan dulu para awliya,” ungkapnya.

Sementara itu, Syekh Berni Ahmad mengatakan, bahwa siber sebagai hilir, sedangkan hulunya adalah akhlak. “Media siber adalah hilir, sementara hulunya adalah akhlak,” ujar pria yang mengaku masih mutasyabih dengan murid Tarekat itu.

Senada dengan keduanya, pendiri Tasawuf Underground Abdul Halim Ambiya mengutip pernyataan, ath-thariqatu khoirun minal madah, metode itu lebih penting daripada materi. “Kalau anak pesantren tidak masuk di medsos, bahaya!” tegasnya.

Pria yang berbaiat tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Abah Anom itu mengingatkan, bahwa para pemuda yang bertarekat harus masuk ke dunia siber itu dengan menggunakan bahasa-bahasa anak zaman sekarang. “Pemuda bertarekat harus masuk dengan bahasa gaul,” ujarnya.

Lain halnya dengan Kapolsek Ciputat Kompol. Tatang Syarif. Pria yang tinggal menunggu waktu purnanya itu mengingatkan agar para pemuda Islam menjaga NKRI, sebab negara Indonesia ini didirikan oleh orang-orang Islam. Dari sembilan panitia inti persiapan kemerdekaan Indonesia, delapan di antaranya orang Islam.

“Mari, kita jaga NKRI!” kata polisi yang mengaku sempat tinggal di pesantren selama enam bulan itu.

Kegiatan ini diawali dengan dzikiran dan maulidan bersama diiringi hadrah Himpunan Qari-Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, para peserta datang dari berbagai latar belakang organisasi di Ciputat. (Syakir NF/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen, Tegal, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Sebanyak 30 tim santri berkompetisi untuk menyuguhkan menu sate terbaik. Pelombaan nyate bareng ini diadakan oleh Pesantren Asshiddiqiyyah Pusat Jalan Panjang Nomor 6 C, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (2/9) pagi.

Lomba nyate bareng ini diikuti oleh tim yang mewakili masing-masing kelas santri SMP, Aliyah, dan Ma’hadul Aytam. SMP Asshiddiqiyyah menurunkan 13 tim. Sementara Madrasah Aliyah Asshiddiqiyyah 13 tim. Sementara Ma‘hadul Aytam menurunkan empat kelas.

30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng

Ketua Panitia Divisi Nyate Bareng Mujahidin Abdullah mengatakan, kegiatan perlombaan seperti ini sudah berjalan 3 tahun.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Mentor lomba tim ini adalah masing-masing walikelas,” kata Mujahidin, santri asal NTT.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setiap tim hanya memiliki waktu dua jam untuk menyuguhkan sepuluh tusuk sate ke meja dewan juri. Mereka berlomba-lomba untuk mengolah daging mentah hingga menjadi sate mulai dari jam 9-11 pagi.

Semua tim mengacu pada empat kriteria penilaian, yaitu kreativitas santri dalam dekorasi penyajiannya dengan bobot nilai 30, kekompakan dan kebersihan dengan bobot nilai 20, ketepatan waktu dengan bobot nilai 20, dan citarasa yang akan dicicipi oleh para guru dengan bobot nilai 30.

“Sebenarnya kita memberikan 50 tusuk untuk santri. Sepuluh dari 50 tusuk itu yang disajikan di meja dewan juri,” kata Mujahidin.

Tampak hadir Pengasuh Pesantren Asshiddiqiyyah KH Noer M Iskandar, Dubes Taiwan, Dubes Singapura, dan Polres Jakarta Barat.

Pemotongan hewan kurban dilakukan sejak kemarin, Jumat (1/9). Pihak pesantren membagikan habis sebanyak 300 kupon daging kurban untuk masyarakat, staf, guru SMP, guru Aliyah, guru Mahad Aly, dan guru Ma’hadul Aytam.

“Itupun masih ada 50 masyarakat yang mendapat paket daging kurban tanpa kupon.”

Sementara alumnus Pesantren Asshiddiqiyyah KH MH Bahaudin yang juga Ketua PW RMI-NU DKI Jakarta mengatakan, perlombaan ini diadakan sebagai bentuk syiar kalangan santri atas Hari Raya Idul Adha. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa!

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kecenderungan warga NU, lelah menyelenggarakan kegiatan tanpa kepedulian publikasi di media massa. Publikasi seharusnya dilakukan sebagai syiar dan merangsang berbagai kalangan untuk beraktivitas dengan baik.

Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa! (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa! (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa!

Kondisi ini sangat berbeda dengan di luar negeri. “Kalau di Australia, diskusi kecil saja bisa disebar di sejumlah media baik cetak, maupun elektronik,” kata dr H Zulfikar As’ad MMR kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah (9/5).

Gus Ufik, sapaan akrabnya menandaskan, selama berada di Australia dalam rangka penelitian untuk gelar doktornya, ada perbedaan mencolok dari tradisi menyampaikan informasi para mahasiswa dan dosen. “Hanya dengan diskusi terbatas yang dihadiri sekitar dua puluh orang saja, materi dan isi diskusi bisa disampaikan di berbagai media,” tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para mahasiswa dan dosen sangat sadar bahwa ilmu yang didapat selama kegiatan berlangsung, layak untuk dijadikan rujukan sejumlah pihak. Bisa jadi, hal itu juga demi memantapkan eksistensi dari kelompok diskusi maupun institusi serta tempat diselenggarakannya kegiatan.

“Karena masing-masing lembaga, demikian juga setiap personal sangat butuh eksistensi diri dan agar kapabilitas mereka diketahui publik,” tandas salah seorang pengasuh di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang Jawa Timur ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kondisi ini tentu berbeda dengan di Indonesia. “Kita gemar menyelenggarakan kegiatan besar dengan peserta yang juga banyak bahkan biaya yang tidak sedikit, namun yang mengetahui hanya sebagian kalangan saja,” ungkapnya.

Bahkan putra pengasuh PPDU, KH As’ad Umar ini dapat memastikan kegiatan yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama, termasuk badan otonom, lembaga dan lajnah demikian meriah. “Tapi kita jarang bisa mendengar kegiatan tersebut tersebar di media,” katanya menyayangkan.

Keengganan mayoritas aktivis NU untuk mempublikasikan kegiatan tersebut bisa jadi karena kurangnya kesadaran dalam memaknai pentingnya publikasi. “Padahal andai kegiatan itu dapat menjadi inspirasi bagi kalangan lain, akan jauh lebih bermanfaat,” sergahnya.

Demikian juga akan ada amal jariyah yang dapat diraih lantaran telah merangsang orang lain untuk berbuat baik. “Bukankah ada pesan dari Nabi bahwa siapa yang memberi teladan bagi kebaikan, maka yang bersangkutan juga akan memperoleh pahala dari kebaikan orang lain lantaran meniru kebaikan tersebut?” katanya.

Dengan sejumlah kelebihan dan kemudahan sarana komunikasi yang ada, maka idealnya kendala bagi tersebarnya kegiatan dapat dihindarkan. “Tidak ada lagi alasan bagi kita yang hidup dengan ketercukupan media komunikasi untuk hanya bangga menyampaikan kegiatan di komunitas sendiri,” terangnya.

Kemudahan akses, ketersediaan sarana dan prasarana hendaknya dapat dioptimalkan untuk menyampaikan sejumlah kegiatan dan prestasi kepada khalayak. “Hal ini tentu saja membutuhkan keterampilan dalam mengemas tulisan agar bisa dicerna dengan baik, sesuai kaidah yang ada,” lanjutnya.

Pembantu Rektor di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) ini juga mengajak semua elemen kampus yang dikelolanya untuk tidak segan memberikan informasi atas berbagai kegiatan yang diselenggarakan. Baik yang dilakukan mahasiswa, dosen, hingga pimpinan kampus agar menyampaikan aktifitas penuh manfaat itu kepada masyarakat luas.

“Apalagi di UNIPDU sudah ada website dan majalah sendiri yang bisa dioptimalkan untuk tujuan mulia tersebut,” ungkapnya. Belum lagi media sosial, kedekatan dengan sejumlah insan media atau portal berita daerah dan nasional yang sangat terbuka dengan hal tersebut.

“Selama kegiatan itu baik dan bermanfaat, pasti akan banyak kalangan yang terbuka untuk menyebarkannya,” pungkas Gus Ufik. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara, News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain

Suatu ketika saat mengajar di kelas, ahli Matematika, filsuf dan peletak dasar ilmu mantiq, Aristoteles membuat sebuah garis. Ia lalu berkata kepada para muridnya, “Wahai muridku, siapa yang bisa memperpendek garis yang aku buat ini?”

Para murid lalu maju satu per satu dan mencoba memecahkan teka-teki yang diberikan gurunya. Ada seorang murid yang segera menghapus setengah dari garis itu. Melihat itu, sang guru tampak belum membenarkan jawaban si murid.

Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain

Lalu majulah murid yang lain. Murid ini juga menghapus setengah dari garis yang sudah dihapus, sehingga sekarang garis itu tinggal seperempat panjangnya darigaris yang dibuat Aristoteles.

Ternyata jawaban itu pun belum dianggap tepat oleh sang guru. Aristoteles pun kembali menantang muridnya. Hingga majulah salah satu muridnya yang tak lain adalah Iskandar Zulkarnain.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berbeda dari murid-murid sebelumnya yang mengambil penghapus dan segera menghapus garis yang ada, Iskandar Zulkarnain malah membuat garis yang lain yang lebih panjang daripada yang dibuat gurunya. Dibandingkan dengan garis baru ini, tampaklah garis yang dibuat Aristoteles semakin pendek.

Melihat garis yang dibuat Iskandar Zulkarnain, barulah sang guru terlihat puas. Jawaban Iskandar Zulkarnain sebagai jawaban yang benar.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kejadian tersebut membawa pesan bahwa untuk mengatasi persoalan atau menghadirkan maslahat, tak harus dengan merusak. Kita dapat membuat kebaikan tanpa menjelek-jelekkan orang lain. Kita juga bisa memperoleh kebahgiaan tanpa harus menyakiti sedikit pun perasaan orang lain.

Di dalam Islam, kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Dan demikianlah hendaknya yang selalu kita lakukan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Kendi Setiawan)

(Cerita ini disarikan dari ceramah Ajengan Yayan Bunyamin pada pengajian Rijalul Ansor yang digelar PAC GP Ansor Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 April 2017)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah