Minggu, 03 Desember 2017

Rasa Syukur Seorang Narapidana

"Bagaimana kabarmu di penjara?" Tanya seorang sufi lewat sebuah surat kepada sahabatnya.

Sahabatnya menjadi tahanan sebuah kerajaan lantaran suatu kesalahan. Para sipir sekali waktu datang bersama seorang Majusi lalu merantainya secara bergandengan dengan teman sufi itu. Apesnya, si Majusi sedang didera penyakit mules. Sehingga, tiap kali si Majusi hendak buang hajat, sahabat sufi tersebut terpaksa menemani di sebelahnya. Selalu. Bau busuk yang menusuk hidung dan gerak serbaterbatas akibat rantai besi itu tentu sangat mengganggu.

Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasa Syukur Seorang Narapidana

Sang sufi paham dengan keadaan sahabatnya ini dan karenanya ingin memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.

"Aku bersyukur kepada Allah," balas surat si narapidana kepada sang sufi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Sampai kapan kau bersyukur? Memangnya ada yang lebih buruk dari keadaanmu sekarang?"

"Seandainya ikat pinggang si Majusi digandengkan dengan perutku tentu keadaannya akan lebih parah. Saudaraku, sebetulnya aku berhak mendapatkan hukuman lebih dari ini."

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lanjut si narapidana, "Jika memang Tuhan mengampuniku melalui takdir semacam ini, bukankah syukur wajib kupanjatkan?"

Ia lalu menjelaskan tentang rasa takut terhadap pedihnya sanksi di neraka seandainya dirinya tak memperoleh ampunan. Demikian kisah yang tercatat dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Ada cara pandang unik yang dimiliki si narapidana. Ia menilai hukuman yang diterimanya saat itu selayak karunia kebaikan. Sebuah pola pikir yang hanya bisa diraih bila seseorang mempunyai pengertian lebih luas tentang anugerah dan musibah. Anugerah tak mesti sebuah kenikmatan, dan tak semua kesengsaraan bisa disebut musibah.

Orang dengan kacamata masa depan akan berpikir tentang pendidikan jiwanya dalam menyesali kesalahan, melapangkan hati menanggung risiko, dan membenahi diri, hingga tentang nasib kehidupan akhirat di masa mendatang. Dengan demikian, mengeluhkan atau menghindari tanggung jawab hukum, terlebih dengan membuat kesalahan baru (misalnya dengan menyuap penegak hukum), adalah sebuah kepicikan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budaya, Pertandingan, News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Matan) Cabang Ciputat menggelar diskusi di Kafe Kuy, Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (16/8), dengan tema “Religiusitas dalam Media Siber, Menggapai Cahaya Kemerdekaan”.

KH Ahmad Shodiq sebagai narasumber pada kesempatan tersebut mengingatkan bahwa siber itu sangat penting. Hal ini mengingatkannya pada para wali dulu yang berdakwah menggunakan berbagai media sebagai alat penyampainya.

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Para Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah

“Siber sebagai alat penting, karena para awliya kita bermain alat,” ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siber saat ini menurutnya seperti syairnya Syaikh Hamzah Fansuri. Penulis Zinatul Muwahhidin itu sangat menginspirasi para sastrawan Indonesia. Mengutip Abdul Hadi WM, sastrawan saat ini tidak bisa lepas dari Hamzah Fansuri. Ketokohan Mursyid Tarekat Qodiriyah itu tidak diragukan lagi, mengingat Sunan Ampel saja menitipkan muridnya, yakni Sunan Derajat.

Hamzah Fansuri sebagai seorang sufi, menggunakan syair sebagai media dakwahnya. Hal ini dilanjutkan oleh Syamsuddin Al-Sumatrani dan Raja Ali Haji pada akhir abad ke-19. Sunan Bonang memainkan degung pada saat itu. Sunan Kalijaga memainkan wayang sebagai alatnya berdakwah. Maka Kiai Shodiq berkesimpulan, siber adalah alat dakwah layaknya alat-alat lainnya yang digunakan oleh para wali terdahulu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Posisi siber, saya kira sama dengan dulu para awliya,” ungkapnya.

Sementara itu, Syekh Berni Ahmad mengatakan, bahwa siber sebagai hilir, sedangkan hulunya adalah akhlak. “Media siber adalah hilir, sementara hulunya adalah akhlak,” ujar pria yang mengaku masih mutasyabih dengan murid Tarekat itu.

Senada dengan keduanya, pendiri Tasawuf Underground Abdul Halim Ambiya mengutip pernyataan, ath-thariqatu khoirun minal madah, metode itu lebih penting daripada materi. “Kalau anak pesantren tidak masuk di medsos, bahaya!” tegasnya.

Pria yang berbaiat tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Abah Anom itu mengingatkan, bahwa para pemuda yang bertarekat harus masuk ke dunia siber itu dengan menggunakan bahasa-bahasa anak zaman sekarang. “Pemuda bertarekat harus masuk dengan bahasa gaul,” ujarnya.

Lain halnya dengan Kapolsek Ciputat Kompol. Tatang Syarif. Pria yang tinggal menunggu waktu purnanya itu mengingatkan agar para pemuda Islam menjaga NKRI, sebab negara Indonesia ini didirikan oleh orang-orang Islam. Dari sembilan panitia inti persiapan kemerdekaan Indonesia, delapan di antaranya orang Islam.

“Mari, kita jaga NKRI!” kata polisi yang mengaku sempat tinggal di pesantren selama enam bulan itu.

Kegiatan ini diawali dengan dzikiran dan maulidan bersama diiringi hadrah Himpunan Qari-Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, para peserta datang dari berbagai latar belakang organisasi di Ciputat. (Syakir NF/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen, Tegal, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Sebanyak 30 tim santri berkompetisi untuk menyuguhkan menu sate terbaik. Pelombaan nyate bareng ini diadakan oleh Pesantren Asshiddiqiyyah Pusat Jalan Panjang Nomor 6 C, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (2/9) pagi.

Lomba nyate bareng ini diikuti oleh tim yang mewakili masing-masing kelas santri SMP, Aliyah, dan Ma’hadul Aytam. SMP Asshiddiqiyyah menurunkan 13 tim. Sementara Madrasah Aliyah Asshiddiqiyyah 13 tim. Sementara Ma‘hadul Aytam menurunkan empat kelas.

30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Tim Santri Pesantren Asshiddiqiyyah Lomba Nyate Bareng

Ketua Panitia Divisi Nyate Bareng Mujahidin Abdullah mengatakan, kegiatan perlombaan seperti ini sudah berjalan 3 tahun.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Mentor lomba tim ini adalah masing-masing walikelas,” kata Mujahidin, santri asal NTT.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setiap tim hanya memiliki waktu dua jam untuk menyuguhkan sepuluh tusuk sate ke meja dewan juri. Mereka berlomba-lomba untuk mengolah daging mentah hingga menjadi sate mulai dari jam 9-11 pagi.

Semua tim mengacu pada empat kriteria penilaian, yaitu kreativitas santri dalam dekorasi penyajiannya dengan bobot nilai 30, kekompakan dan kebersihan dengan bobot nilai 20, ketepatan waktu dengan bobot nilai 20, dan citarasa yang akan dicicipi oleh para guru dengan bobot nilai 30.

“Sebenarnya kita memberikan 50 tusuk untuk santri. Sepuluh dari 50 tusuk itu yang disajikan di meja dewan juri,” kata Mujahidin.

Tampak hadir Pengasuh Pesantren Asshiddiqiyyah KH Noer M Iskandar, Dubes Taiwan, Dubes Singapura, dan Polres Jakarta Barat.

Pemotongan hewan kurban dilakukan sejak kemarin, Jumat (1/9). Pihak pesantren membagikan habis sebanyak 300 kupon daging kurban untuk masyarakat, staf, guru SMP, guru Aliyah, guru Mahad Aly, dan guru Ma’hadul Aytam.

“Itupun masih ada 50 masyarakat yang mendapat paket daging kurban tanpa kupon.”

Sementara alumnus Pesantren Asshiddiqiyyah KH MH Bahaudin yang juga Ketua PW RMI-NU DKI Jakarta mengatakan, perlombaan ini diadakan sebagai bentuk syiar kalangan santri atas Hari Raya Idul Adha. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa!

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kecenderungan warga NU, lelah menyelenggarakan kegiatan tanpa kepedulian publikasi di media massa. Publikasi seharusnya dilakukan sebagai syiar dan merangsang berbagai kalangan untuk beraktivitas dengan baik.

Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa! (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa! (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebarkan Seluruh Kegiatan NU di Media Massa!

Kondisi ini sangat berbeda dengan di luar negeri. “Kalau di Australia, diskusi kecil saja bisa disebar di sejumlah media baik cetak, maupun elektronik,” kata dr H Zulfikar As’ad MMR kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah (9/5).

Gus Ufik, sapaan akrabnya menandaskan, selama berada di Australia dalam rangka penelitian untuk gelar doktornya, ada perbedaan mencolok dari tradisi menyampaikan informasi para mahasiswa dan dosen. “Hanya dengan diskusi terbatas yang dihadiri sekitar dua puluh orang saja, materi dan isi diskusi bisa disampaikan di berbagai media,” tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para mahasiswa dan dosen sangat sadar bahwa ilmu yang didapat selama kegiatan berlangsung, layak untuk dijadikan rujukan sejumlah pihak. Bisa jadi, hal itu juga demi memantapkan eksistensi dari kelompok diskusi maupun institusi serta tempat diselenggarakannya kegiatan.

“Karena masing-masing lembaga, demikian juga setiap personal sangat butuh eksistensi diri dan agar kapabilitas mereka diketahui publik,” tandas salah seorang pengasuh di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang Jawa Timur ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kondisi ini tentu berbeda dengan di Indonesia. “Kita gemar menyelenggarakan kegiatan besar dengan peserta yang juga banyak bahkan biaya yang tidak sedikit, namun yang mengetahui hanya sebagian kalangan saja,” ungkapnya.

Bahkan putra pengasuh PPDU, KH As’ad Umar ini dapat memastikan kegiatan yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama, termasuk badan otonom, lembaga dan lajnah demikian meriah. “Tapi kita jarang bisa mendengar kegiatan tersebut tersebar di media,” katanya menyayangkan.

Keengganan mayoritas aktivis NU untuk mempublikasikan kegiatan tersebut bisa jadi karena kurangnya kesadaran dalam memaknai pentingnya publikasi. “Padahal andai kegiatan itu dapat menjadi inspirasi bagi kalangan lain, akan jauh lebih bermanfaat,” sergahnya.

Demikian juga akan ada amal jariyah yang dapat diraih lantaran telah merangsang orang lain untuk berbuat baik. “Bukankah ada pesan dari Nabi bahwa siapa yang memberi teladan bagi kebaikan, maka yang bersangkutan juga akan memperoleh pahala dari kebaikan orang lain lantaran meniru kebaikan tersebut?” katanya.

Dengan sejumlah kelebihan dan kemudahan sarana komunikasi yang ada, maka idealnya kendala bagi tersebarnya kegiatan dapat dihindarkan. “Tidak ada lagi alasan bagi kita yang hidup dengan ketercukupan media komunikasi untuk hanya bangga menyampaikan kegiatan di komunitas sendiri,” terangnya.

Kemudahan akses, ketersediaan sarana dan prasarana hendaknya dapat dioptimalkan untuk menyampaikan sejumlah kegiatan dan prestasi kepada khalayak. “Hal ini tentu saja membutuhkan keterampilan dalam mengemas tulisan agar bisa dicerna dengan baik, sesuai kaidah yang ada,” lanjutnya.

Pembantu Rektor di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) ini juga mengajak semua elemen kampus yang dikelolanya untuk tidak segan memberikan informasi atas berbagai kegiatan yang diselenggarakan. Baik yang dilakukan mahasiswa, dosen, hingga pimpinan kampus agar menyampaikan aktifitas penuh manfaat itu kepada masyarakat luas.

“Apalagi di UNIPDU sudah ada website dan majalah sendiri yang bisa dioptimalkan untuk tujuan mulia tersebut,” ungkapnya. Belum lagi media sosial, kedekatan dengan sejumlah insan media atau portal berita daerah dan nasional yang sangat terbuka dengan hal tersebut.

“Selama kegiatan itu baik dan bermanfaat, pasti akan banyak kalangan yang terbuka untuk menyebarkannya,” pungkas Gus Ufik. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara, News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain

Suatu ketika saat mengajar di kelas, ahli Matematika, filsuf dan peletak dasar ilmu mantiq, Aristoteles membuat sebuah garis. Ia lalu berkata kepada para muridnya, “Wahai muridku, siapa yang bisa memperpendek garis yang aku buat ini?”

Para murid lalu maju satu per satu dan mencoba memecahkan teka-teki yang diberikan gurunya. Ada seorang murid yang segera menghapus setengah dari garis itu. Melihat itu, sang guru tampak belum membenarkan jawaban si murid.

Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Membuat Kebaikan tanpa Menjelekkan Orang Lain

Lalu majulah murid yang lain. Murid ini juga menghapus setengah dari garis yang sudah dihapus, sehingga sekarang garis itu tinggal seperempat panjangnya darigaris yang dibuat Aristoteles.

Ternyata jawaban itu pun belum dianggap tepat oleh sang guru. Aristoteles pun kembali menantang muridnya. Hingga majulah salah satu muridnya yang tak lain adalah Iskandar Zulkarnain.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berbeda dari murid-murid sebelumnya yang mengambil penghapus dan segera menghapus garis yang ada, Iskandar Zulkarnain malah membuat garis yang lain yang lebih panjang daripada yang dibuat gurunya. Dibandingkan dengan garis baru ini, tampaklah garis yang dibuat Aristoteles semakin pendek.

Melihat garis yang dibuat Iskandar Zulkarnain, barulah sang guru terlihat puas. Jawaban Iskandar Zulkarnain sebagai jawaban yang benar.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kejadian tersebut membawa pesan bahwa untuk mengatasi persoalan atau menghadirkan maslahat, tak harus dengan merusak. Kita dapat membuat kebaikan tanpa menjelek-jelekkan orang lain. Kita juga bisa memperoleh kebahgiaan tanpa harus menyakiti sedikit pun perasaan orang lain.

Di dalam Islam, kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Dan demikianlah hendaknya yang selalu kita lakukan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Kendi Setiawan)

(Cerita ini disarikan dari ceramah Ajengan Yayan Bunyamin pada pengajian Rijalul Ansor yang digelar PAC GP Ansor Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 April 2017)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Indonesia Tuan Rumah Dialog Lintas Agama Asia-Eropa

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Indonesia akan menjadi tuan rumah Dialog Lintas Agama Asia-Eropa yang berlangsung di Bali International Convention Center (BICC), Denpasar, Bali, mulai tanggal 21-22 Juli 2005 yang dijadwalkan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Delegasi Indonesia dipimpin Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dengan para anggota antara lain Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi.

Tokoh-tokoh yang hadir sebagai delegasi diantaranya Amidhan (Majelis Ulama Indonesia), Andreas A Yewangoe (Persekutuan Gereja Indonesia), I Nyoman Suwandha (Parisada Hindu Dharma Indonesia), Philip K Widjaja ( Perwakilan Umat Budha Indonesia), Masykuri Abdullah (Nahdlatul Ulama), Franz Magnis Suseno (STF Driyarkara), Chandra Setiawan (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Parni Hadi (Wali Amanah Dompet Dhuafa), Djohan Effendi (Indonesian Conference on Religion and Peace).

Acara tersebut dibagi dalam empat sesi dimana sesi pertama bertema "commonalities in promoting interfaith harmony" dengan moderator Albert E Alejo (Philipina), panelis? Azizan Baharuddin (Malaysia), Iqbal Sacranie (United Kingdom), Azyumardi Azra (Indonesia), Viggo Mortensen (Denmark).

Sesi kedua, "barriers to interfaith harmony", dimoderatori perwakilan Metropolitan Emmanuel dari Perancis, dengan panelis Jaran Maluleem (Thailand), Abraam Velez de Cea (Spanyol), Eswaran Sukumar (Singapura), dan Judith Clara Engelina Belifante (Belanda).

Sesi ketiga, "parallel working group meetings", dimoderatori di setiap kelompok kerja masing-masing Sihasak Phuangketkeow (Thailand), Tan Sri Dato Sarji Abdul Hamid (Malaysia), Tapani Ruokanen (Finlandia), Michael Weninger (Komisi Eropa) dan dilanjutkan sesi keempat dengan moderator yang sama.(ant/mkf)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan, Khutbah, Berita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Indonesia Tuan Rumah Dialog Lintas Agama Asia-Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Tuan Rumah Dialog Lintas Agama Asia-Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Tuan Rumah Dialog Lintas Agama Asia-Eropa

Disayangkan, Perjuangan NU Banyak Tak Tercatat Sejarah

Kudus, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rais Syuriah PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani mengingatkan, peran Nahdlatul Ulama sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI). Namun, perjuangan NU ini banyak yang tidak tercatat dalam sejarah bangsa.

"Ini sesuatu yang disayangkan, peran NU memperjuangkan kemerdekaan tidak banyak yang ditulis sejarah," ujarnya dalam acara tasyakuran harlah ke-92 NU di aula Kantor NU, Jalan Pramuka 20, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (7/5) malam.

Disayangkan, Perjuangan NU Banyak Tak Tercatat Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Disayangkan, Perjuangan NU Banyak Tak Tercatat Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Disayangkan, Perjuangan NU Banyak Tak Tercatat Sejarah

 

Kiai yang biasa disapa Gus Bab ini mengatakan, ulama NU terlibat aktif dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Pada masa penjajah, tuturnya, NU mengumpulkan seluruh cabang NU di Jawa Timur guna menyikapi kondisi bangsa Indonesia. Akhirnya, 22 Oktober 1945 Rais Akbar NU KH Hasyim Asyari mendeklarasikan resolusi jihad melawan penjajah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

"Resolusi jihad adalah bukti nyata NU berperan besar dalam kemerdekaan,"ntandas pengasuh Pesantren Yanbuul Quran Kudus ini.

 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di hadapan ratusan pengurus NU Kudus, Gus Bab juga menjelaskan, lahirnya NU telah menyelamatkan umat dari paham yang menyesatkan dengan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja).

 

"Aswaja ini mengajarkan apa yang dilaksanakan Nabi dan sahabatnya untuk kita ikuti. Maka mengikuti ulama akan selamat di dunia dan akhirat," terangnya seraya mengutip hadits Nabi tentang umat yang terpecah menjadi 70 golongan.

 

Gus Bab menghimbau supaya waspada terhadap banyak golongan yang mengaku Islam dan merasa paling benar sendiri sehingga berani menuduh kafir sesama umat Islam. Bahkan, golongan ini pun mengaku sebagai bagian dari Aswaja.

"Karenanya, kita mengikuti saja ajaran-ajaran ulama-ulama yang ditetapkan Nahdlatul Ulama," tegasnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah