Selasa, 28 November 2017

Pengurus PP Fatayat NU Dilantik

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Setelah penyusunan jajaran pengurus PP Fatayat NU selesai dibentuk, pada Sabtu, 6 Agustus 2010, mereka dilantik sekaligus melaksanakan rapat kerja untuk selanjutnya dilakukan aksi nyata.



Pengurus PP Fatayat NU Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus PP Fatayat NU Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus PP Fatayat NU Dilantik

Berikut susunan pengurus PP Fatayat NU periode 2010-2015:

Ketua Umum: Dra Ida Fauziyah

Ketua I: Dra Muzaiyanah Zein

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua II: Dra Neng Dara Afiah MSi

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua III: Dra Rustini Murtadho

Ketua IV: Dra Yana Lathifah Msos

Ketua V: Anggia Ermarini SPd

Ketua VI: Dr Umi Khusnul Khotimah

Ketua VII: Dr Nur Rofiah

Sekretaris Umum: Dra Siti Masrifah MA

Sekretaris I: Nur Afifah SAg

Sekretaris II: Ratu Dian Hatifah SAg

Sekretaris III: Siti Mukarromah SAg

Bendahara Umum: Rahayu Sri Rahmawati SAg

Bendahara I: Hj Santi Anisah SAg

Bendhara II: Maria Apfiati ST

Bersama-sama dengan seluruh jajaran kepengurusan lembaga dibawah Fatayat NU, mereka dilantik oleh Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf. Hadir pula dalam acara tersebut Menakertrans Muhaimin Iskandar.

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah menjelaskan jumlah total kepengurusan mulai dari penasehat sampai anggota lembaga seluruhnya mencapai 99 orang. "Itu pun masih banyak orang yang ingin mengabdi," katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh, Pertandingan, Ubudiyah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

Sidoarjo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin menyatakan, Istighotsah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di Stadion Gelora Delta Sidoarjo itu merupakan keinginan para ulama agar bermunajat kepada Allah SWT dalam rangka menjaga umat, bangsa, dan negara dari berbagai malapetaka.

?

"Kita bersyukur dan bangga bahwa ulama tidak hanya sibuk di pesantren mencetak santri menjadi ulama. Tapi ulama mempunyai perhatian yang besar terhadap kehidupan bangsa dan negara. Oleh karena itu, para ulama mengajak untuk berkumpul mengetuk ‘pintu langit’ memohon nurullah, cahaya di atas segala cahaya," kata Kiai Maruf Amin saat memberikan pengarahan pada acara istighotsah kubro, Ahad (9/4).

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

?

Kiai Maruf menceritakan, minggu lalu pihaknya bertemu Presiden Joko Widodo. Kiai Maruf mengatakan kepada Presiden bahwa warga NU dan seluruh warga Nahdliyin di Jawa Timur akan mengadakan Istighotsah Kubro mendoakan negara agar aman, tenteram, sejahtera, dan damai. “Dan beliau (Presiden Jokowi) terharu sekali,” katanya.

?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih lanjut Kiai Maruf menegaskan, upaya lahiriah yang dilakukan oleh pemerintah dari atas sampai ke bawah harus didukung melalui upaya batiniah. Bahkan kalau semua manusia memperoleh rahmat Allah, upaya betatapun kecil yang dilakukan akan berdampak besar.

"Dan itu sudah pernah diakui ketika bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari Belanda, meski menggunakan peralatan seadanya, bangsa Indonesia bisa merdeka," tegas Ketua MUI pusat itu. (Moh Kholidun/Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Anti Hoax PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Pelajar NU Sragen Soroti Masalah Kenakalan Remaja

Sragen, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus IPNU-IPPNU Sragen memilih isu kenakalan remaja sebagai fokus perhatian gerakan pelajar NU setempat. Pihak pengurus menilai, kenakalan remaja yang muncul dengan sejumlah variannya bisa dicarikan solusinya.

Pelajar NU Sragen Soroti Masalah Kenakalan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sragen Soroti Masalah Kenakalan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sragen Soroti Masalah Kenakalan Remaja

Pada Jumat-Sabtu (1-2/5) lalu, pihak pengurus menggelar seminar terkait kenakalan remaja di SMK Miftakhul Jannah, Nglorok, Sragen.

Ketua IPNU Sragen Gigit Lystyanto mengatakan, kegiatan seminar ini merupakan bentuk kepedulian pelajar NU Sragen atas berbagai persoalan kenakalan remaja yang dewasa ini, semakin kerap kali terjadi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Dengan berbagai peristiwa yang terjadi di kalangan remaja khususnya di Sragen, maka kita (pelajar NU) merasa perlu melakukan terobosan pembinaan dengan melakukan pengarahan lewat seminar,” terangnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Selasa (5/5).

Menurutnya, berbagai faktor dapat menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. “Kenakalan remaja itu terjadi, salah satunya merupakan dampak dari kelengahan pengawasan dari orang tua dan guru,” ujar dia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gigit menambahkan, selain kenakalan remaja, persoalan lain di kalangan pemuda yang perlu mendapat perhatian yakni bahaya radikalisasi. “Kita juga perlu mewaspadai ini. Jangan sampai para pemuda kita juga ikut-ikutan paham yang radikal seperti ISIS,” kata dia.

Melalui kegiatan seminar ini, Lystianto juga berharap IPNU-IPPNU dapat lebih dikenal para pelajar. “Harapan kami, supaya IPNU-IPPNU diterima di kalangan sekolah Ma’arif, swasta dan negeri. Supaya IPNU-IPPNU bisa leluasa menggandeng semua pelajar di Sragen,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, Nasional, Kajian Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab

Kudus, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dewan Koordinasi Cabang Corp Brigade Pembangunan dan Korp Kepanduan Putri (DKC CBP-KKP) IPNU-IPPNU Kudus mengadakan  latihan gabungan (Latgab) di Sungai Kaligelis Jurang Gebog Kudus, Ahad (19/5). 

Latgab yang berlangsung sehari itu diikuti sebanyak 32 anggota CBP-KKP pilihan dari kecamatan se Kudus.

CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab

Dalam kegiatan tersebut, peserta diberi bekal  materi khusus teknik pertolongan pertama pada kecelakaan(P3K) dan turun tebing. Selain teori yang disampaikan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kudus dan instruktur dari DKC CBP-KKP Kudus, semua peserta laki-laki dan perempuan melakukan praktik penanganan korban dan latihan turun tebing dari jembatan Kali Gelis.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Komandan CBP Kudus Khoirul Anam mengatakan Latgab bertujuan memberikan bekal tambahan ketrampilan dalam membantu  korban kecelakaan maupun bencana. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Selain itu, untuk mempererat jalinan silaturrahim dan membangun kepeduliaan serta kekompakan anggota antar anggota CBP-KKP,” ujarnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah di sela-sela Latgab.

Ia menyatakan Latgab dengan materi khusus  P3K ini supaya anggota CBP-KKP memiliki keterampilan khusus penanganan korban kecelakaan. Sedangkan latihan turun tebing ini dimaksudkan untuk melatih anggota terampil menuruti tebing sehingga mampu menangani  bila terjadi bencana di pegunungan.

“Pada intinya, semua kader CBP-KKP ini selalu siap sedia membantu pada waktu terjadi bencana baik di jalanan, pegunungan maupun perairan,” tambah Anam.

Ketika ditanya, Alumnus STAIN Kudus ini menjelaskan peranan CBP-KKP sangat signifikan dalam upaya membentuk kader muda NU. Disamping melatih keterampilan dan membangun kepedulian, organisasi sayap IPNU-IPPNU ini juga  mempersiapkan jiwa-jwa kader yang siap  memperkokoh rasa nasionalisme.

“Hingga kini, jumlah anggota CBP-KKP Kudus mencapai ratusan yang tersebar di ranting. Semuanya terdidik dan terdampingi menjadi kader ajaran Aswaja yang memiliki semangat nasionalisme tinggi,” imbuh Anam.

Menurut rencana, pihaknya akan mengadakan pendidikan latihan utama (Diklatama) tingkat karesidenan Pati bulan Juli mendatang. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah, Makam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kenduri Syafaat, Majelis Kumpulnya Pemuda

Jepara, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Majlis dzikir dan shalawat “Kenduri Syafaat” pesantren Nailun Najah desa Kriyan kecamatan Kalinyamatan sudah dilaksanakan sejak tahun 2006 silam.



Kenduri Syafaat, Majelis Kumpulnya Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenduri Syafaat, Majelis Kumpulnya Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenduri Syafaat, Majelis Kumpulnya Pemuda

Majelis yang dilaksanakan selapan sekali pada malam Senin Kliwon diisi dengan membaca maulid dan ratib al-hadad. Kegiatan ini merupakan tempat berkumpulnya para pemuda.

Untuk jamaah mulanya dari pengurus maupun anggota PAC IPNU-IPPNU Kalinyamatan lambat laun merambah kepada pemuda secara umum. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Awal mula jamaah dari PAC IPNU–IPPNU Kalinyamatan karena waktu itu kakak saya Gus Muhammad pernah menjadi ketua PAC IPNU. Kini, jamaah semakin menyebar tidak hanya dari kalangan IPNU-IPPNU saja,” terang Abdur Rohman mewakili Gus Muhammad selaku pengasuh. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam setiap majlis jelas Gus Maman sapaan akrbanya kegiatan hanya berisi ritual pembacaan maulid dan ratib. 

“Untuk momen-momen tertentu semisal haul Maulana Jalaluddin Rumi 17 Desember kemarin kami mengundang pemain kecapi dari Blora. Momen lain kami juga pernah mengundang PC Lesbumi Jepara dan masih banyak lagi,” katanya saat ditemui di kediamannya, Ahad malam (20/1).

Kegiatan tersebut lanjut alumnus UIN Jogjakarta merupakan upaya untuk melanjutkan perjuangan ayahanda almarhum Kiai Suhaimi yang sempat vakum. “Sebagai anak-anak yang ditinggalkan abah kami perlu nguri-nguri pesantren yang pernah dirintis beliau,” imbuhnya. 

Gus Maman menambahkan majlis bertujuan untuk mewadahi pemuda berkumpul bareng. Bagi mereka yang enggan bertemu dengan sosok kiai sepuh melalui Kenduri Syafaat hal itu ditanggalkannya karena sama-sama masih muda. Melalui kegiatan selapanan tersebut Gus Maman merasa terbantu karena pesantrennya semakin syiar.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim   

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Eropa Dilanda Teror, PCINU Belanda Tawarkan Konsep Islam Nusantara

Belanda, Nu Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda bekerjasama dengan Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME) Nederland mengadakan workshop Islam Nusantara di Masjid Al-Hikmah, Den Haag, Belanda, Ahad (7/8) waktu setempat. Workshop ini dimaksudkan untuk mengenalkan gagasan Islam Nusantara kepada masyarakat Muslim Indonesia yang tinggal di Eropa. Tak kurang 100 peserta dari beberapa kota di Belanda hadir dalam acara ini.

Rais Syuriah PCINU Belanda, KH Nur Hasyim menekankan pentingnya promosi Islam Nusantara di Eropa, di tengah makin menguatnya pandangan miring terhadap Islam sebagai agama yang seolah-olah membolehkan cara-cara kekerasan dan anti perdamaian. “PCINU Belanda sangat concern terhadap isu ini. Saya bahagia workshop ini dihadiri banyak warga Indonesia dari berbagai kota di Belanda. Semoga dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi umat di sini”, ungkap KH Nur Hasyim.

Muhammad Latif Fauzi, kandidat doktor Universitas Leiden, Belanda yang juga pengurus PCINU Belanda ini menekankan bahwa serangkaian tragedi kemanusiaan dan aksi teror yang terjadi di Perancis, Belgia, dan Jerman belakangan ini menjadi tantangan dan cambuk bagi warga Muslim Indonesia di Belanda. “Kita harus dapat menunjukkan kepada dunia bahwa model Islam Nusantara, yang mengedepankan toleransi, kasih sayang dan nilai kemanusiaan inilah yang harus dikembangkan di Eropa,” lanjutnya.

Eropa Dilanda Teror, PCINU Belanda Tawarkan Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Eropa Dilanda Teror, PCINU Belanda Tawarkan Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Eropa Dilanda Teror, PCINU Belanda Tawarkan Konsep Islam Nusantara

Workshop ini menghadirkan tiga narasumber yakni KH Zulfa Mustafa, Wakil Katib Amm PBNU, Ahmad Sudrajat, dan Dr. Mulawarman Hannase.

KH Zulfa Mustafa mengakui memang ada polemik di balik penggunaan istilah Islam Nusantara. Baik di kalangan NU sendiri, apalagi di luar NU. Menurutnya, perbedaan wacana ini hanya disebabkan komunikasi dan kurangnya silaturahim. Karena, jika dilihat dari konsep dan makna yang ditawarkan, ada harapan besar terhadap Islam yang berkarakter ke-Indonesiaan ini. ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia mengingatkan, Islam Nusantara ini bukanlah Islam baru, tidak dibuat-buat. Ini adalah Islam sebagaimana yang telah diajarkan dan dipraktikkan oleh para ulama terdahulu. Menurutnya, jika direnungkan secara mendalam, kita mendapatkan titik temu dan banyak persamaan dari Islam yang telah diamalkan Nabi dengan praktik Islam Nusantara. Sangat disayangkan justru sekarang kita agak sulit bisa menemukan Islam ala Nabi itu di Timur Tengah, apalagi di tengah badai konflik etnis yang tak kunjung usai.

Kiai Zulfa menambahkan bahwa konsep Islam Nusantara lahir dari kenyataan bahwa kita adalah orang Islam yang tinggal di Indonesia, bukan orang Indonesia yang beragama Islam. Konsekuensinya, harus mampu memahami substansi dan tujuan syariat Islam yang sesungguhnya, untuk diterapkan dan disesuaikan dengan budaya Nusantara yang sangat kaya. Bukan menerapkan sesuatu yang ditampilkan identik dengan budaya Arab. Artinya, tradisi atau adat yang berkembang di Nusantara selama tidak bertentangan dengan dalil syar’i tetap boleh dilaksanakan.?

Ia kemudian mencontohkan sholawat dan berjabat tangan setelah salam adalah tradisi yang baik, mengajarkan akhlak mulia dan persaudaraan. Ia juga mengingatkan bahwa sekarang banyak orang dengan mudahnya menyalahkan, bahkan mengharamkan tradisi-tradisi yang sejak dulu telah berjalan. Dicap bid’ah atau syirik. Padahal, jika seseorang itu menguasai khazanah klasik (turats), ia dapat menemukan dalil atau pendapat ulama yang membolehkannya. Lemahnya kemampuan bahasa Arab dan penguasaan atas turats inilah yang mengakibatkan pemahaman dangkal dan sempit. Walhasil, tidak heran beberapa kelompok Islam yang tidak mengenal turats ini senang menyalahkan orang lain.

Kiai Zulfa menegaskan bahwa Islam Nusantara ini memiliki konsep fikroh, amaliah, dan harokah yang jelas. Berbasis pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Secara fikroh Islam Nusantara berdiri pada prinsip tasamuh dan tawassuth. Secara amaliah, mengamalkan fiqh madzhab Syafi’i tanpa menutup kemungkinkan menerima madzhab fikih yang lain. Sedangkan secara harokah, menekankan pendekatan persuasif, sebagaimana pendekatan tadrij (bertahap) dalam tasyri’ (pemberlakuan syariah).

Ahmad Sudrajat mewakili PBNU, menekankan pentingnya mengembangkan dakwah yang berkarakter Islam Nusantara. Ia justru menyayangkan beberapa kejadian akhir-akhir ini sering membuat masyarakat resah, bahkan mengakibatkan konflik internal keluarga. Misalnya kasus seorang anak yang dengan sangat arogan membuang makanan untuk tahlilan. Ia melalukan itu hanya karena baru mendengar pemahaman agama yang kemudian dianggap paling benar. Padahal dia tidak pernah mengerti sumber teks yang menjadi dasar pemahaman tersebut. Tradisi tahlilan atau haul yang sudah berjalan sekian lama ini tiba-tiba disalahkan dan dianggap di luar Islam. Menurutnya, Islam di Indonesia sekarang dilanda krisis pengetahuan terhadap sumber-sumber Islam, serta penghargaan terhadap jasa para ulama yang telah menyebarkan dakwah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu Dr. Mulawarman Hannase menekankan identitas Islam Nusantara yang sangat distingtif jika dibandingkan Islam di Timur Tengah, Arab Saudi misalnya. Ia menceritakan kisah seorang polisi syariah di Arab Saudi yang dihukum gara-gara mempertanyakan doktrin Islam ala Saudi yang tidak membolehkan perempuan berada dalam satu majlis (ikhtilath) dengan laki-laki atau menyetir mobil. Doktrin ini dianggapnya tidak mencerminkan esensi ajaran Islam.

KH Hambali, sesepuh PPME Nederland dan imam Masjid Al-Hikmah mengharapkan kegiatan workshop untuk bertukar ilmu, informasi dan pengalaman ? seperti ini bukan yang terakhir. Sehingga akan ada seri workshop lanjutan. PCINU Belanda diharapkan oleh masyarakat Islam di Belanda untuk dapat berkiprah menjadi garda untuk mempromosikan Islam yang ramah, menghargai keragaman, dan berorientasi perdamaian. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Buka Puasa Bersama di Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Islam

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang terhormat. Saya mendengar bahwa sepekan lalu, Kamis (16/6), kegiatan buka puasa bersama lintas iman yang rencananya dihadiri istri mendiang Gus Dur Hj Sinta Nuriyah terpaksa gagal di Gereja Katolik Kristus Ungaran, Semarang karena aksi penolakan sekelompok orang yang mengaku komunitas Muslim.

Buka Puasa Bersama di Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Puasa Bersama di Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Puasa Bersama di Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Islam

Pertanyaan saya, apakah pandangan Islam terkait buka puasa di tempat ibadah non-Muslim? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr.wb. (Abdul Malik, Jakarta).

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Perihal kasus yang saudara Malik tanyakan, Penulis melihat ada sejumlah persoalan. Kita akan membicarakan kasus ini setidaknya dari penolakan oleh sekelompok yang mengaku komunitas Muslim itu.

Apakah yang dipersoalkan itu adalah makanannya, tempat berbuka puasanya, kebersamaan Muslim yang berpuasa dengan non-Muslimnya, atau siapa yang mengundangnya? Menurut dugaan kami, setidaknya empat pokok masalah ini yang dipersoalkan. Kita akan memulai satu per satu menguraikan empat masalah ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pertama masalah makanannya. Kalau makanan yang dihidangkan untuk berbuka puasa itu terbuat dari zat yang diharamkan seperti babi, anjing, khamar, dan segala bentuk makanan dan minuman, jelas memakan dan meminumnya adalah haram.

Tetapi kalau yang dihidangkan berupa makanan yang halal, maka tidak masalah mengonsumsinya meskipun itu disediakan non-Muslim. Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 5 sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Makanan Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal juga bagi mereka.”

Perihal ayat ini, An-Nasafi dalam tafsirnya Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil menjelaskan,

? ? ? ? ? ? } ? ? ? ? ? ? ? ? ? { ? ? ? } ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Makanan Ahli Kitab itu halal bagimu) maksudnya adalah hewan yang disembelih oleh mereka. Karena semua makanan itu tidak dihalalkan secara khusus untuk agama ini. (dan makanan kamu halal juga bagi mereka) sehingga tidak dosa kamu berbagi makanan dengan mereka. Karena seandainya makanan orang beriman itu haram untuk mereka, niscaya tidak boleh memberikan makanan itu kepada mereka,” (Lihat Abdullah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil, Darul Fikr, Beirut).

Sedangkan kedua, masalah tempat sahur atau tempat berbuka puasa. Kita harus mengaitkan ibadah puasa dengan ibadah lainnya. Para ulama membedakan ibadah puasa dari lainnya. Kalau ibadah lainnya seperti shalat, umrah, dan haji, waktu dan tempat pelaksanaannya sudah ditentukan. Orang tidak bisa berhaji di sembarang tempat. Demikian juga shalat. Meskipun setiap jengkal tanah bisa menjadi tempat shalat, Rasulullah SAW memakruhkan shalat di tempat mendeku unta, kolam pemandian, tempat penampungan sampah, kuburan, atau di jalanan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW melarang shalat di tujuh lokasi, tempat sampah, tempat jagal hewan, kuburan, di tengah jalan, kolam pemandian, tempat menderum unta, dan di atas Ka’bah,” (HR Ibnu Majah).

Adapun ibadah puasa hanya ditentukan waktunya yakni sejak terbit hingga terbenam matahari seperti disebutkan Al-Quran di Surat Al-Baqarah. Sedangkan perihal tempat, agama tidak membatasi orang yang berpuasa untuk melakukan sahur dan berbuka puasa di manapun. Jadi tidak ada larangan dalam Islam untuk bersahur dan berbuka puasa di tempat tertentu.

Sementara ketiga, kebersamaan dengan non-Muslim. Pergaulan antara Muslim dan non-Muslim tidak dipermasalahkan oleh Islam. Pada Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9, Allah SWT menegaskan bagaimana seharusnya hubungan Muslim dan non-Muslim.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (8) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (9

Artinya, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sungguh Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Pada ayat ini, kita dapat melihat sababun nuzulnya terlebih dahulu. Ibnu Ajibah membawa riwayat sebagai berikut.

? ? « ? ? ? ? » ? ? ? ? « ? ? ? ? » ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Diriwayatkan bahwa Qutailah binti Abdul Uzza (ketika musyrik) mendatangi anaknya, Asma binti Abu Bakar dengan membawa hadiah. Tetapi Asma tidak menerima pemberian ibunya dan tidak mengizinkan ibunya masuk rumah. Lalu turunlah ayat itu (Al-Mumtahanah ayat 8-9). Rasulullah SAW lalu meminta Asma untuk menerima pemberian ibunya, menghormati dan memuliakan ibunya,” (Lihat Ibnu Ajibah, Tafsir Al-Bahrul Madid).

Terakhir, adalah masalah siapa yang mengundang. Keterangan Abu Bakar bin Sayid Muhammad Syatha Dimyathi dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin dapat membantu kita memperjelas persoalan ini.

? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Jika diundang oleh seorang Muslim), kafir (harbi) tidak masuk kategori Muslim.Kalau diundang oleh kafir harbi, Muslim tidak wajib mendatangi undangannya. Tetapi disunahkan mendatangi undangan dzimmi (non-Muslim yang hidup rukun dengan Muslim),” (Lihat Abu Bakar bin Sayid Muhammad Syatha Dimyathi, Hasyiyah I’anatut Thalibin, Darul Fikr, Beirut).

Dari empat pokok yang dipermasalahkan, kita ternyata tidak menemukan masalah di dalamnya. Memang benar tidak ada ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan kita untuk berbuka puasa atau sahur bersama non-Muslim. Tetapi kita juga tidak menemukan dalil Al-Quran dan hadits yang melarang buka puasa bersama di tempat ibadah non-Muslim.

Kami turut kecewa atas sikap penolakan sekelompok Muslim itu. Sebuah sikap yang memalukan. Saran kami, masyarakat Muslim mesti terus menggali perihal agama dan terutama hukum Islam secara seksama dan mendalam sehingga tidak asal berteriak ini munkar, itu munkar. Semuanya sudah jelas di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.

(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Halaqoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah