Senin, 20 November 2017

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kata "nahdlah" dalam “nahdlatul ulama”, terinspirasi dari sebuah kalimat yang tertulis dalam kitab al-HikamLa tashhab man la yunhidluka haluhu wala yadulluka alallahi maqalu.” Janganlah berteman dengan orang yang perilaku dan kata-katanya tidak bisa membangkitkan dirimu kepada Allah. Dari kata "la? yunhidluka" (tidak membangkitkan) inilah, nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) berasal.

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

Demikian percikan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang NU yang dipaparkan Syaiful Arif, pada kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur” di Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP), Ciputat, Sabtu (2/6) kemarin.

“NU adalah gerakan spiritual karena basis pergerakannya ada di pesantren. Sebagai lembaga pendidikan sekaligus perwujudan kultural Islam, pesantren memiliki corak keislaman fiqh-sufistik. Jadi ketaatan fiqhiyah yang dilambari oleh kedalaman tasawuf. Makanya kitab bergenre fiqh-sufistik seperti al-Hikam di atas, atau Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali merupakan kitab favorit di kalangan pesantren dan NU,” demikian Arif.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan corak fiqh-sufistik ini, menurutnya, NU memiliki pandangan fiqhiyah yang tidak hitam-putih. Hal ini yang melahirkan pemikiran kenegaraan moderat, yang menempatkan “kaca mata fiqh” sebagai standar keabsahan persoalan politik. Pancasila misalnya diterima NU setelah yakin bahwa ideologi negara ini tidak akan mengganti agama, serta tidak ditempatkan sebagai agama. Maka, Pancasila kemudian ditempatkan sebagai landasan konstitusi sementara Islam tetap diposisikan sebagai akidah. Pemikiran yang strategis seperti ini tentu tidak mungkin dicetuskan oleh kalangan puritan yang melulu berpegang pada hukum Islam, minus spiritualitas Islam.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syaiful Arif yang merupakan alumni Pesantren Ciganjur serta penulis buku "Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif (2009)" ini menjelaskan “wasiat” Gus Dur bagi masa depan NU. Dalam hal ini Gus Dur menyatakan, “NU harus mampu merumuskan konsensus nasional yang baru tentang posisi Islam dalam kehidupan berbangsa. Caranya melalui pengintegrasian perjuangan Islam ke dalam perjuangan nasional, dengan menempatkan perjuangan Islam dalam konteks demokratisasi jangka panjang."

Untuk peran ini, NU memiliki dua modal besar, yakni kekayaan kultural dan pengalaman politik yang beragam. Ketidakmampuan untuk menggunakan dua modal tersebut, akan menempatkan NU pada pinggiran sejarah dan irrelevansi dirinya secara bertahap”. Wasiat ini termaktub dalam tulisan Gus Dur: NU dan Islam di Indonesia Dewasa ini? yang pernah dimuat di Jurnal Prisma (April 1984).

Kursus Pemikiran Gus Dur yang sudah berjalan enam kali ini dilaksanakan setiap sabtu jam 13.00 WIB di PSPP, Jl. Kertamukti Gg. H. Nipan 107, Pisangan Ciputat. Kursus ini akan berlangsung selama sembilan kali, dan bermuara pada perumusan silabus mata kuliah Gus Dur. Dengan silabus ini, mata kuliah Gus Dur akan diajarkan di perguruan tinggi agar pemikiran mantan Ketua Umum PBNU ini tidak lenyap ditelan sejarah.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Idris Mas’udi?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Selama ini, sejarah tentang NU lebih banyak ditulis oleh para peneliti dari kalangan non NU, para orientalis dan pengikutnya. Dalam pandangan mereka, NU dicitrakan sebagai organisasi yang bersifat Jawa yang oportunis, koservatif serta agraris yang tidak rasional. Keadaan ini perlu dirubah dengan melakukan perubahan paradigma penulisan sejarah NU yang dilakukan kalangan sendiri yang bisa mencitrakan NU sesuai dengan apa adanya dengan data serta argumen yang memadai.

Lembaga Ta’lief Wan Nasr (LTN NU) atau Lembaga Penelitian dan Pengembangan Informasi NU mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya di daerah Minang, Sunda dan Sasak di Gd. PBNU (22/8). Penelitian merupakan upaya untuk melihat sejarah NU dari sudut pandang orang NU sendiri. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut Enceng Sobirin, Abdul Aziz Ahmad, Mun’im Dz, dan Adnan Anwar

“Walaupun dianggap tradisional, tetapi NU punya daya tahan sehingga bisa terus berkembang, ketika organisasi serupa sudah berguguran. Kekuatan itu tidak pernah diteliti, hanya kelemahan saja yang dicari,” tandas Ketua LTN NU Mun’im Dz (22/8).

Penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke daerah-daerah tersebut lebih memfokuskan pada dinamika internal, yaitu bagaimana para tokoh NU mencitrakan dirinya serta memaknai tindakannya serta menjelaskan argumennya sesuai dengan rasionalitas kaum nahdliyyin.

“Dengan pendekatan tersebut berbagai data bisa ditemukan, berbagai informasi didapatkan, beberapa pengalaman para tokoh dan saksi bisa diungkapkan dan dijadikan sumber utama penulisan,” tambahnya.

Dengan adanya sumber alternatif ini, buku babon tentang NU yang sudah dianggap klasik hanya dijadikan sumber sampingan, bahkan tidak sedikit yang terpaksa dibuang, diganti dengan sumber yang lebih orisinil dan lebih valid. Dengan cara demikian, citra NU bisa ditampakkan dan NU luar Jawa yang selama ini diabaikan juga bisa diperlihatkan eksistensi dan pengaruhnya terhadap NU Indonesia.

Budaya NU memiliki keragaman yang luas sesuai dengan lokalitasnya masing-masing. Dimanapun, baik di Jawa maupun luar Jawa, NU memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan diri dengan budaya lokal.

Di Sumatra Barat, NU berinteraksi erat dengan Perti, sementara di Sumatra Utara memiliki kesamaan cultural dengan jam’iyah Al Washiliyah. Di Sunda NU beraliansi dengan Mathla’ul Anwar sedangkan di NTB dengan Nahdlatul Wathon. Demikian juga, di Sulawesi bahu-membahu dengan Al-Khairat.

Mun’im yang juga peneliti di LP3Es tersebut menjelaskan selama berada di tiga daerah tersebut, para pimpinan NU lokal memberi sambutan yang luar biasa dengan memberikan data dan waktunya. Selama ini mereka sendiri kurang faham tentang sejarah NU di lingkungannya, bahkan banyak diantara tokohnya yang malah menulis sejarah tokoh dari ormas lainnya.

Hasil penelitian ini akan terus disempurnakan, baik dengan melakukan penelitian lebih lanjut atau mengundang para ahli untuk berdiskusi. Jika sudah dianggap memadai, penelitian ini akan diterbitkan dalam bentuk buku.(mkf)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Kiai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Minggu, 19 November 2017

Jangan Kebencian kepada Pihak Berbeda Membuatmu Tak Adil

Bandarlampung, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siapa pun yang termasuk umat Islam di mana pun berada, merasa sebagai mayoritas atau minoritas, dalam pergaulan dengan sesamanya atau dengan nonmuslim, wajib mendahulukan akhlak yang mulia. Seperti wajibnya bersopan santun dalam menulis, bertutur kata maupun dalam bersikap.

Jangan Kebencian kepada Pihak Berbeda Membuatmu Tak Adil (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Kebencian kepada Pihak Berbeda Membuatmu Tak Adil (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Kebencian kepada Pihak Berbeda Membuatmu Tak Adil

Dalam berbeda pendapat saat berdebat pun umat Islam harus lebih santun. Sikap sebaliknya seperti kasar dan menyakiti hati dalam tulisan, perkataan atau perbuatan justru selain pasti menodai kehormatan pribadinya sebagai muslim juga memporak-porandakan keharmonisan antarsesama.

Demikian dinyatakan Rais Syuriyah PBNU H. Ahmad Ishomuddin atau yang akrab dipanggil Gus Ishom melalui akun media sosial miliknya, Ahad (9/10).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, sikap dasar yang mestinya dipegang siapa saja sebagai penganut agama apa pun, dalam setiap pergaulan antarmereka adalah memandang orang lain dengan pandangan kasih sayang atau penghormatan, bukan hubungan yang dilandasi oleh kebencian, rasa curiga dan apalagi saling merendahkan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Memupuk kebencian dan dendam kesumat karena tidak menghargai perbedaan sebagai takdir Tuhan yang tidak terhindarkan itu akan berbuah permusuhan atau bahkan pertumpahan darah yang sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kehidupan bersama," tegasnya.

Gus Ishom menilai keliru seorang Muslim yang dalam pergaulannya berupaya memaksakan pendapat dan kehendaknya kepada orang lain karena merasa paling suci dan benar, sebagaimana sangat keliru jika sampai memaksa nonmuslim untuk berkeyakinan sama dengan dirinya.

Perbedaan keyakinan dan agama atau tafsirnya, menurut kiai muda ini, seharusnya tidak meniscayakan terjadinya ketegangan, saling curiga apalagi saling bermusuhan. Oleh karena itu, sikap moderat atau tawassuth dalam beragama perlu terus dipupuk.

Ia mencontohkan bahwa vonis kafir itu seringkali dilontarkan kepada sesama Muslim oleh orang-orang yang kurang berilmu namun memiliki semangat beragama yang terlalu melambung tinggi. Padahal, vonis kafir kepada siapa pun itu tidak pernah membawa manfaat apa pun, kecuali hanya membuahkan saling bermusuhan dan menebar kebencian.

"Jika pun tak mampu menghindari rasa benci, namun janganlah berlebihan dalam membenci seseorang atau kelompok lain. Sebagaimana kecintaan yang berlebihan pun mampu membuat kita kehilangan sikap adil menjadi dzalim kepada orang lain," tambahnya.

Lebih lanjut Ia mengingatkan bahwa kebencian yang berlebihan itu membuat kita menjadi mudah berdusta, tidak jujur dan tidak pula obyektif dalam menilai pernyataan dan kinerja orang lain, menutupi kebenaran dan mengingkari prestasi-prestasi positif yang nyata-nyata dilakukan oleh pihak lain.

"Setiap kebencian karena kedengkian itu menimbulkan kegaduhan, fitnah dan mengungkapkan keburukan-keburukan yang bahkan sebenarnya tidak pernah dimaksudkan atau dilakukan oleh orang lain itu," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU, Pertandingan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Setiap manusia normal tentu memiliki sisi baik dan sisi buruk. Terdengar klise memang, tetapi sering kali kita melupakan hal ini sehingga kita menjadi fanatik cinta dan fanatik benci. Tengoklah para pelaku sejarah, kehebatan ataupun kejelekannya tergantung siapa yang menuliskannya. Yang mengagumi tentu memujanya, dan yang membencinya tentu rajin mencari-cari kesalahannya.

Ambil contoh Amru bin Ash. Saya pernah datang ke Masjid Amru bin Ash di Mesir. Beliau seorang sahabat Nabi yang memeluk Islam pada tahun kedelapan Hijriah. Berkecamuk perasaan: saya membaca buku sejarah bagaimana siasat yang digunakan Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim yang menyudahi perang siffin antara Khalifah Ali dan Gubernur Muawiyah. Singkat cerita, beliau seorang politisi yang menyalahi kesepakatan.

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Namun buku sejarah juga bercerita bagaimana sumbangsihnya yang luar biasa terhadap Islam. Rasulullah mengirimnya ke Oman dan berhasil mengislamkan pemimpin di sana. Khalifah Abu Bakar mengirimnya ke Palestina dan setelah merebut kota suci itu dari Byzantium lalu menjadi Emir di sana. Khalifah Umar mengirimnya membebaskan Mesir dan menjadikannya Gubernur. Masjid Amru bin Ash yang saya ziarahi tahun 2012 itu merupakan lokasi tempat beliau berkemah di kota Fustat, Mesir, dan itu adalah Masjid pertama yang berdiri di Afrika.

Bagaimana kemudian saya harus menilai Amru bin Ash: seorang politisi busuk atau seorang pahlawan Islam? Saya menyudahi kebimbangan saya dengan menunaikan shalat di Masjid Amru bin Ash yang sangat bersejarah itu seraya mendoakan kebaikannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bagaimana pula dengan al-Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Iraq pada masa Dinasti Umayyah berkuasa? Inilah Panglima Perang yang memborbardir Mekkah dengan panah api ketika terjadi bentrokan dengan Abdullah bin Zubair. Tindakan al-Hajjaj bukan saja membunuh banyak penduduk Mekkah, namun juga turut membakar Kabah.

Saat al-Hajjaj menjadi Gubernur diangkat oleh Khalifah Marwan, sejarah mencatat berbagai kekejian dan kekejaman yang dilakukannya. Selain membunuh sahabat Nabi Abdullah bin Zubair, al-Hajjaj juga membunuh 2 sahabat lainnya: Jabir bin Abdullah, Kumail bin Ziad dan satu ulama besar yaitu Said bin Jubair. Pada gilirannya, wafatnya al-Hajjaj disambut suka cita oleh para ulama dan rakyat. Mereka lega bisa terbebas dari kekejaman al-Hajjaj.

Namun demikian dikabarkan bahwa al-Hajjaj itu sangat bagus hafalannya terhadap al-Quran. Bukan cuma itu sejarah juga mencatat jasanya yang menambahkan baris tanda baca dalam mushaf al-Quran sehingga memudahkan kita semua sampai sekarang. Itu artinya, setiap Muslim yang membaca mushaf al-Quran pahalanya akan mengalir sampai ke al-Hajjaj. Subhanallah.

Al-Hajjaj juga berjasa mengirim jenderal dan pasukannya memperluas wilayah kerajaan Islam. Beliau juga memperhatikan soal ekonomi dengan mencetak mata uang sendiri, dan tidak lagi menggunakan mata uang peninggalan Byzantium dan Sasanid. Dia juga menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi di Iraq, menggantikan bahasa Parsi. Ekspedisi militer, konsolidasi ekonomi umat dan penguatan bahasa merupakan sumbangsih al-Hajjaj.

Sekali lagi, sejarah selalu menceritakan sisi baik dan sisi buruk. Pelajari hal-hal baik dari para tokoh besar di masa lampau, dan jangan ulangi kekeliruan yang telah mereka lakukan.

Dan bagaimana nasib para tokoh seperti Amru bin Ash dan al-Hajjaj kelak di akhirat? Tentu itu hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Bukan wilayah kita untuk memberikan keputusan. Lebih baik kita fokus pada keburukan kita sendiri ketimbang sibuk membicarakan keburukan orang lain. Ngaca yuk...

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di Depan Presiden, Kiai Said Kritik Kebijakan Ekonomi Pemerintah

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, pada dasarnya kebijakan pemerintah terkait dengan ekonomi itu sudah bagus, tapi sayangnya kebijakan-kebijakan tersebut tidak sampai kepada masyarakat tingkat bawah.?

“Pak Darmin (Menko Perekonomian) sudah mengeluarkan empat belas kebijakan ekonomi, tapi hanya di tataran atas. Belum pada tataran bawah,” kata Kiai Said di depan Presiden Joko Widodo dan Menko Perekonomian Darmin Nasution serta ratusan peserta yang hadir dalam acara Mukernas-1 Halaqah Ekonomi Nasional yang diselenggarakan Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) di Pesantren Luhur Al Tsaqafah Jakarta, Jumat (5/5).

Agar kebijakan tersebut bisa dirasakan masyarakat bawah, lanjut Kiai Said, para pejabat negara dan pemangku kepentingan harus memiliki niat dan kemauan untuk membangun bangsa ini dari bawah.?

Di Depan Presiden, Kiai Said Kritik Kebijakan Ekonomi Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Depan Presiden, Kiai Said Kritik Kebijakan Ekonomi Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Depan Presiden, Kiai Said Kritik Kebijakan Ekonomi Pemerintah

“Kemauan dan niat untuk membangun dari bawah perlu diperbaiki lagi,” tegas kiai asal Kempek Cirebon itu.

Lebih jauh, ia juga mengkritik monopoli kekayaan yang dilakukan oleh segelintir orang saja, terutama barang seharusnya untuk umum seperti air, energi, dan hutan. Oleh karena itu, dia mendukung kebijakan Presiden Jokowi untuk melakukan pemerataan kekayaan.?

“Saya dukung gagasan Presiden Jokowi, pemerataan,” tegasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Begitupun dengan kebijakan ekonomi, ia menyatakan, NU siap turut serta untuk mensukseskannya asalkan kebijakan tersebut ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat tingkat bawah.

“NU siap bermitra dengan pemerintah terkait dengan kebijakan-kebijakan ekonomi meski tidak mendapatkan imbalan demi kemajuan bersama,” katanya.

Turut hadir dalam acara tersebut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Mensesneg Pratikno, Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP Romahurmuzy, dan jajaran pengurus PBNU. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, Halaqoh, Nahdlatul Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"NU untuk Datang dan Pergi"

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) sering hanya dimanfaatkan oleh kalangan tertentu pada waktu-waktu tertentu saja. NU hanya jadi pilihan pada saat menguntungkan.



NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)

"NU untuk Datang dan Pergi"

"Pada saat pemilu orang berbondong ke NU. Saat sudah terpilih NU dilupakan. Dan pada saat sudah tidak kepakai kembali ke NU lagi. Inilah NU, untuk datang dan pergi," kata DR Ayu Sutarto dalam acara "Dialog Antar Generasi" dalam rangka Harlah Ke-82 NU di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (1/2).

Ayu Sutarto adalah penulis buku "Menjadi NU Menjadi Indonesia" yang dibedah dalam acara dialog tersebut. Hadir sejumlah kader NU lintas generasi antara lain Mustasyar PBNU KH Muchit Muzadi, sastrawan dari Pondok Pesantren Cipasung Acep Zam Zam Nur, Politisi PPP Endin AJ Sofihara, dan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansyah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dikatakan Ayu, NU sering diperlakukan secara tidak fair dalam pentas politik di Indonesia terutama pada momen-momen pemilihan kepala daerah (pilkada). NU hanya diperlukan untuk pengumpulan massa.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Pada saat pencalonan orang ke partai politik karena partai yang punya kewenangan, namun untuk pengumpulan massa NU yang dipakai," katanya.

Kiai Muchit Muzadi membenarkan, bahkan bukan dari kalangan luar saja yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pilkada, bahkan banyak diantaranya adalah para anggota NU sendiri.

"Banyak malah yang pengen menjadi tim sukses calon dari pada menjadi calonnya. Kalau menjadi calon belum tentu jadi, tapi kalau tim sukses meskipun yang dicalonkan tidak jadi sudah sukses duluan," kata kakak kandung KH Hasyim Muzadi itu bergurau.

Khofifah Indarparawansyah menambahkan, banyaknya aktifis NU yang terjun ke dunia politik atau menjadi semacam tim sukses itu karena tidak ada pekerjaan lain selain itu.

"Mas Saiful (Saifullah Yusuf, Ketua Umum GP ANSOR: red) sering bilang kepada saya banyak para aktifis NU yang pengangguran. Maka persoalannya adalah bagaimana menyelesaikan masalah itu," katanya.

Sastarwan Acep Zamzam Nur ,e,beruncing pembiacaraan. Katanya, kecenderungan politik NU itu tidak hanya berurusan dengan pilkada.

"Bahkan koferensi NU disemua tingkatan sekarang mirip dengan pilkada. Ada tim suksesnya juga," kata putra almarhum KH Ilyas Ruhiyat itu.

Beberapa ketua PBNU hadir dalam dialog antar generasi itu, antara lain KH Said Aqil Siradj, H Abdul Aziz Ahmad dan Fajrul Falakh. Ketua PP Lajnah Talief wan Nasyr Abdul Munim DZ dan Ketua PP Lesbumi Sastro el-Ngatawi juga menghadiri dialog itu.

Dialog antar generasi dalam rangka Harlah Ke-82 NU itu dipandu oleh Umum PP Lakpesdam NU Nasihin Hasan, dan dihadiri hampir semua perwakilan pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom di lingkungan NU. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Maksum Mahfudz: Dialog Internal Umat Islam Langkah Awal Perdamaian Dunia

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Wakil Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) Prof Dr KH Maksum Mahfudz memandang bahwa upaya mewujudkan perdamaian dunia yang dilakukan oleh lintas iman tampak jalan di tempat. Kebuntuan ini, menurutnya, lebih dikarenakan belum adanya satu suara di lingkungan agama masing-masing termasuk Islam.

Prof Maksum menyampaikan terima kasih kepada penggerak dialog-dialog lintas iman. NU sendiri mendukung dan kerap memfasilitasi pertemuan-pertemuan tokoh dari pelbagai agama. Namun kesamaan pandangan hanya terjadi di lingkungan elit dari sekte tertentu dalam agama yang memang memiliki pandangan toleran dan moderat. Sementara sekte-sekte di dalam agama itu sendiri masih terjadi pergolakan.

KH Maksum Mahfudz: Dialog Internal Umat Islam Langkah Awal Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maksum Mahfudz: Dialog Internal Umat Islam Langkah Awal Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maksum Mahfudz: Dialog Internal Umat Islam Langkah Awal Perdamaian Dunia

“Dari sini kami berpikir, untuk mencapai ke arah sana masalah di kalangan internal umat Islam harus diselesaikan,” kata Waktum NU Prof Maksum pada pertemuan ulama dari mancanegara dalam forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) atau pertemuan internasional para pemimpin Islam moderat di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (9/5) siang.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

NU dengan semangat Islam yang toleran dan moderat melakukan uji coba di Afghanistan. Organisasi keagamaan dan kemasyarakatan Indonesia ini mempertemukan sejumlah tokoh agama dari belasan kelompok di Afghanistan yang saling berseteru. Alhamdulillah mereka menyadari bahwa umat Islam terhadap pemeluk agama lain dan terhadap kelompok lain di internal umat Islam harus bersikap toleran.

“Ternyata masalah di internal umat Islam sendiri adalah masalah people to people. Di luar Afghanistan, kita ingin konflik antarkelompok dalam Islam sendiri terselesaikan di belahan negara Islam lainnya. Melalui forum Isomil ini, NU ingin menginspirasi negara Islam di dunia untuk membawa semangat persaudaraan, moderat, dan toleran,” kata Prof Maksum.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Forum internasional ini diikuti oleh 35 utusan dari 25 negara di dunia. Seluruh peserta hingga kini telah memenuhi kuota. “Alhamdulillah 99% peserta sudah hadir. Hanya peserta dari Amerika dan Libya yang masih dalam perjalanan,” kata Ketua Panitia Isomil H Imam Aziz.

Pertemuan ini dihadiri tokoh agama Islam dari pelbagai belahan dunia, para intelektual, dan pengurus wilayaha NU se-Indonesia. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, Fragmen, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah