Jumat, 17 November 2017

NU Kebumen Buka Sekolah Jurnalistik Akhir Pekan

Kebumen, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mengisi rangkaian praharlah ke-91 NU, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kebumen mengadakan Sekolah Jurnalistik Sehari pada akhir pekan, Ahad (25/5) pagi. Sekolah ini difasilitasi redaksi majalah Nahnuniyah dan situs PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kebumen.

Sekolah jurnalistik ini akan dilangsungkan di ruang pertemuan SMK Ma’arif NU 1 Kebumen. Ketua pelaksana sekolah jurnalistik Laeli Masroh mengatakan kegiatan ini akan dibuka Ketua PCNU Kebumen.

NU Kebumen Buka Sekolah Jurnalistik Akhir Pekan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kebumen Buka Sekolah Jurnalistik Akhir Pekan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kebumen Buka Sekolah Jurnalistik Akhir Pekan

Peserta dibatasi maksimal sebanyak 30 orang. Peserta terdiri atas utusan sekolah dan madrasah yang diundang. Setiap sekolah mengutus 2 siswa. Selain mereka, kita juga meminta banom NU, kampus, dan pesantren mengirimkan utusannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hadir sebagai narasumber koordinator Merdeka.com untuk Jateng dan DIY Yogyakarta Parwito Dava, direktur Jinggamedia.com Ahmad Rovahan, serta jajaran redaksi Nahnuniyah sebagai narasumber.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kita maunya terus kerja online. Tiap peserta nantinya membawa laptop sendiri untuk operasional. Kita arahnya sudah praktis,” jelas Laeli.

Wapimred PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kebumen Bahrun Ali Murtopo membenarkan rencana sekolah jurnalistik akhir pekan itu. Ia optimis acara ini akan memperkuat kinerja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kebumen. (Has Chamidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Pendidikan, Quote PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Banyak ulama Nusantara yang belum terekam jejak peninggalannya sehingga banyak dilupakan oleh kalangan intelektual Muslim saat ini. Salah satu tokoh ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh besar dalam sanad keilmuan ulama-ulama di Nusantara adalah Syekh Ahmad Nahrawi Banyumas.

Direktur Islam Nusantara Center A Ginanjar Sya’ban membahas jejak peninggalan Syekh Nahrawi dalam diskusi rutin Sabtu, (30/9) di Ciputat, Tangerang Selatan.

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Kiai Nahrawi lahir di Purbalingga pada tahun 1276 H (1860 M). Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom. Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi.

“Nama lengkap beliau adalah Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi. Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,” ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kitab tersebut menurutnya menceritakan tentang Syekh Nahrawi yang dilahirkan di Banyumas dan datang ke Mekkah pada usia 10 tahun. Dalam kitab itu juga dituliskan bahwa ia sangat tekun belajar kepada ulama-ulama Masjidil Haram sampai akhirnya mendapatkan surat izin untuk mengajar di Masjidil Haram. Dalam kitab tersebut juga menurutnya diceritakan bahwa dari tangan Syekh Nahrawi keluar murid-murid yang menjadi ulama besar.

Dalam keterangannya, ada juga kitab lain yang memuat biografi Syekh Nahrawi yaitu Al-Mudarrisun fil Masjidil Haram. Kitab yang ditulis oleh Mansyur An-Naqib itu menurutnya berisi pengajar yang ada di Masjidil Haram dari abad pertama zaman sahabat sampai kitab itu ditulis.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Biografi Syekh Nahrawi terdapat dalam juz 1 halaman 287,” tambahnya.

Ia menyampaikan peran Syekh Nahrawi Banyumas dalam jejaring keilmuan ulama Nusantara sangat besar. Hal itu menurutnya ditandai dengan beberapa karangan dan taqridz atas kitab-kitab ulama Nusantara. Bahkan, penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut juga menyampaikan Syekh Nahrawi merupakan gurunya ulama-ulama Nusantara.

“Habib Luthfi pernah mengatakan bahwa tidak ada karangan ulama-ulama Nusantara di Mekkah yang diterbitkan tanpa ada tanshih atau rekomendasi dari Syekh Nahrawi Banyumas. Guru utama Habib Luthfi bin Yahya yaitu KH Abdul Malik Purwokerto merupakan murid beliau (Syekh Nahrawi),” tambah penulis buku Laskar Ulama Santri dan Resoulusi Jihad itu.

Keterangan tersebut didukung oleh beberapa karangan dan taqridz Syekh Nahrawi yang disampaikan oleh intelektual Islam Nusantara A Ginanjar Sya’ban di antaranya, kitab Nadzom Risalatul Manasiq atau dikenal dengan Qurotul Uyun Linnasiq Al Muti’ bil Funun. Selain itu, menurutnya Syekh Nahrawi juga mempunyai kitab yang berisi ulasan atau ta’liq terhadap Risalah Kiai Ahmad Zaini Dahlan. Kitab yang berisi tentang ilmu Ballaghah itu menurutnya dicetak oleh Al-Maktabat Taroki Al-Majidiyah di Mekkah pada tahun 1911 M.

“Saat ini, manuskripnya tertulis milik KH Abdullah Umar Faqih Cemoro Banyuwangi,” tambahnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada juga manuskrip tentang fatwa Syekh Nahrawi yang berjudul Risalah fi Hukmin Naqus. Kitab yang sampai saat ini tersimpan di Pesantren Langitan, Tuban itu berisi tentang risalah hukum memukul kentongan yang menjadi tradisi Islam di Nusantara.

Dalam risalah tersebut, ia menceritakan ada seseorang yang menanyakan pendapat Syekh Nahrawi tentang ulama Nusantara baik di barat maupun di timur yang memukul kentongan yang terbuat dari sebilah kayu atau bambu dengan bertujuan untuk memberitahukan waktu masuknya shalat wajib. Tetapi setelah memukul kentongan, adzan, pupujian, dan iqamah pun dilakukan. Selain itu, mereka juga tidak menyukai agama para penjajah. Jadi orang tersebut menanyakan apakah hukum kentongan ini disamakan dengan hukum lonceng yang ada di gereja atau tidak.

Dari pertanyaan itu, jawaban dari Syekh Nahrawi menurutnya sangat moderat.

“Beliau menjawab bahwa ada banyak pendapat dari ulama. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, dan ada yang membolehkan,” tambahnya.

Selain itu, yang tidak kalah penting dari jejak peninggalan Syekh Nahrawi menurutnya yaitu Syekh Nahrawi sering memberikan taqrizh atau endorsmen pada kitab-kitab ulama besar waktu itu.

Beberapa kitab yang ditaqrizh yang disebutkannya yaitu Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah yang ditulis oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj pada tahun 1922 M. Kitab yang kedua itu menurutnya berisi jawaban mufti Mekkah terhadap persoalan yang ada di Nusantara. Persoalan tersebut seperti tradisi Nusantara muludan, tahlilan, ziarah kubur.

“Empat tahun sebelum Nahdlatul Ulama didirikan secara resmi, ulama Mekkah itu sudah buat fatwa kalau masalah-masalah tradisi Islam yang ada di Nusantara itu sah dan ada dalilnya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kitab tersebut merupakan dalil yang tak terbantahkan untuk kalangan Aswaja sekaligus menjadi dalil yang mematahkan argumen pihak-pihak yang mana mereka mengaku sebagai pihak-pihak ahlu ijtihad wal istinbat yang langsung mengambil hukum dari Al-Quran dan juga hadits.

“Dalam taqrizhnya, Syekh Nahrawi menulis bahwa mereka ingin mengambil langsung ke Al-Quran dan Hadits seperti Mujtahid tetapi mereka tidak mempunyai syarat-syarat ijtihad itu sendiri. Tetapi karena ideologi yang rusak dan sudah tertancap dan hatinya yang keras itu, mereka tidak mau mendengarkan dalil-dalil yang dituliskan oleh para ulama-ulama yang ahli keutamaan,” tambahnya.

Selain memberikan taqrizh, Syekh Nahrawi juga menulis sebuah catatan atau taqrirat penting atas kitab Fiqih Minhajul Qawwim yang ditulis oleh Syekh Nahrawi Banyumas pada tahun 1908.

“Kitabnya berjudul Taqrirat Qayyimah ‘ala Syarh Minhaj al-Qawwim fi al-Fiqh al-Syafi’i,” pungkasnya. (M Ilhamul Qolbi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Kajian, Budaya PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Ketua Panitia Konfercab Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Munif Khusnan, mengungkapkan, persiapan Konfercab (konferensi cabang) sudah mulai memasuki tahap terakhir, dan beberapa persiapan yang belum rampung dalam waktu dekat ini akan segera terselesaikan.

Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri

Pernyataan ini disampaikan Munif dalam acara Tasyakkuran Hari Lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-94 dan Silatda (silaturahim daerah) kader penggerak NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang, Rabu (12/4/17) malam.

"Seharusnya pada malam hari ini sudah penyerahan materi dan ID card peserta Konfercab NU Jombang. Tapi karena beberapa hal maka harus ditunda sampai tanggal 15 April 2017," jelasnya.

Ia menambahkan, Konfercab PCNU Jombang yang akan dilaksanakan pada tanggal 22-23 April 2017 di Pondok Pesantren Tebuireng itu sepenuhnya difasilitasi oleh warga Nahdliyin sendiri, khususnya dari sisi pendanaan, sehingga pihak manapun tidak bisa mengintervensi kegiatan NU.

"Untuk pertama kalinya, dana Konfercab ditanggung oleh warga Nahdliyin sendiri yang tidak ada motif apapun selain niat mengabdi buat NU. Bisa jadi ini adalah langkah pertama bagi PCNU seluruh nusantara," tegasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di sela-sela kegiatan harlah berlangsung, terpantau di lokasi, LAZISNU Jombang menyerahkan sumbangan dana sebesar 27.028.705 dari sejumlah sumbangan yang dihimpun oleh sejumlah kader penggerak NU pada beberapa bulan terahir.

"Bantuan dari LAZISNU Jombang ini menambah uang yang sudah terkumpul dari Pengurus Anak Cabang, ranting dan Banom, ini membuktikan bahwa NU bisa mandiri jika mau berusaha," tegasnya. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PBNU Titip Pesan “Moral Politik” pada Golkar

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) titip pada Partai Golkar agar melaksanakan “moral politik” dengan memenuhi amanat dari masyarakat yang memilihnya ketika pemilu.

“Moral politik ini yang ditunggu oleh masyarakat, kalau tidak, rakyat akan putus asa. Hopeless politik ini berbahaya untuk semua partai,” tutur KH Hasyim Muzadi ketika menerima kunjungan pengurus Partai Golkar ke PBNU, Selasa (28/8).

PBNU Titip Pesan “Moral Politik” pada Golkar (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Titip Pesan “Moral Politik” pada Golkar (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Titip Pesan “Moral Politik” pada Golkar

Hadir dalam pertemuan tersebut mewakili Golkar Priyo Budi Santoso, Nusron Wahid, Tubagus Ace, Suhartono Riyadi dan lainnya sedangkan dari PBNU KH Hasyim Muzadi, H. Ahmad Bagdja dan Syaiful Bahri Anshori.

Dikatakannya bahwa peran partai politik hanya menonjol dalam masa kampanye saja dan selanjutnya partai menjadi elitis bergerak untuk kepentingannya sendiri. Mantan Ketua PWNU Jatim ini memberi contoh penyelesaian masalah Lumpur Lapindo yang sampai sekarang belum tuntas. Disini peran partai sebagai pembela masyarakat belum kelihatan.

Pengasuh Ponpes Al Hikam Malang ini menuturkan bahwa Golkar sebagai partai sudah professional dan bisa bertahan oleh ujian zaman dari perpecahan yang banyak melanda partai dan tetap dipilih oleh masyarakat. Peran sebagai partai besar ini sangat ditunggu oleh masyarakat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Salah satu persoalan yang sedang menjadi keprihatinan PBNU adalah masalah konstitusi RI yang sekarang sudah dianggap kebablasan. PBNU telah mengadakan serangkaian diskusi terkait dengan amandemen UUD 1945, namun semuanya hanya sebatas masukan karena anggota DPR yang memiliki kekuasaan untuk menentukannya.

“Dengan kekuasaan yang dimilikinya, partai diharapkan dapat melakukan legislasi yang seusai dengan aspirasi masyarakat,” katanya.

Terkait kebijakan luar negeri salah satu Presiden World Conference of Religon for Peace ini menjelaskan bahwa pemerintah RI sebenarnya diharapkan bisa memimpin gerakan non blok, namun demikian kebijakannya saat ini sering tidak netral. “Mohon ini untuk difikirkan,” tuturnya singkat. (mkf)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Said Aqil Siroj: Saatnya NU "Go International"

Semarang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang Jawa Timur, 1-5 Agustus mendatang, mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia”. Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, NU akan mengekspor pemikiran ulama NU ke tingkat dunia.

“Saatnya pemikiran NU go international. Kita akan mengekspor Islam Nusantara ini ke tingkat dunia, terutama dunia Islam yang saat ini tidak karuan,” katanya saat menghadiri Rapimnas Pencak Silat NU Pagar Nusa di Semarang, Jum’at (27/3).

KH Said Aqil Siroj: Saatnya NU Go International (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Said Aqil Siroj: Saatnya NU Go International (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Said Aqil Siroj: Saatnya NU "Go International"

Dalam hal keilmuan, ulama NU banyak belajar dari Timur Tengah. Beberapa karya besar ulama Timur Tengah juga dipelajari di pesantren-pesantren. Namun menurut, Kang Said, ulama Timur Tengah perlu belajar ke NU.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Banyak ulama Timur Tengah yang keilmuannya mumpuni dan punya karya berjilid-jilid, namun tidak bisa berbuat apa-apa ketika negaranya sedang perang saudara dan menewaskan ribuan orang,” katanya.

Menurut alumni Ummul Qurra Makkah itu, para ulama Timur Tengah baru dalam tahap tafaqquh fid din atau mendalami ilmu-ilmu agama, belum bisa yundziru qoumahum atau melakukan pembinaan terhadap umat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Dalam hal membimbing umat, ulama timur tengah perlu belajar ke Indonesia, belajar ke NU,” katanya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya

Banjarmasin,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mencabut status 3 makam tokoh di Kalimantan Selatan sebagai cagar budaya. Ketiga makam tersebut adalah Datu Abulung di Martapura (Kabupaten Banjar), Datu Sanggul di Tapin, dan makam Datu Tumpang Talu di Kandangan.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan menyesalkan langkah Mendikbud. PWNU menilai mereka mereka adalah tokoh-tokoh terhormat, penyebar Islam, bahkan pejuang republik.

Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Hapus Tiga Tokoh Penyebar Islam Kalsel sebagai Cagar Budaya

Bagi PWNU, mereka adalah tokoh-tokoh berani yang menolak dan melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Jasa-jasa mereka sangat besar untuk republik ini. Karena itu dulu pantas jika makamnya masuk cagar budaya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Aneh sekali, setelah bertahun-tahun sudah masuk sebagai cagar budaya, kok baru sekarang malah dicabut?” ujar Sekretaris PWNU Kalimantan Selatan H. Nasrullah AR melalui siaran pers Ahad (6/8).

Jika alasan pencabutan status cagar budaya itu karena berubah desain dari bentuk asal, kata dia, itu sama sekali tidak relevan. Sebab penghargaan ketiga makam itu sebagai cagar budaya bukan karena desainnya, melainkan karena ketokohannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, bukti ketokohan mereka, sampai hari ini ketiga datu itu terus meningkat. Terbukti kunjungan umat selalu ramai setiap harinya. Bagi masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan pada umumnya, ketiga tokoh itu sangat dihormati.

“Bagi kami, langkah Mendikbud itu, seperti menyepelekan ketokohan ketiganya. Tokoh idola warga Banjar,” lanjutnya.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Gubernur dan DPRD Kalimantan Selatan menolak sikap Mendikbud itu. Sebab, bagaimanapun, langkah Menteri itu cenderung menyepelekan khazanah budaya yang selama disanjung dan hormati. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian Islam, Habib, Kajian Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Cegah Berita Bohong Seperti Belajar "Musthalah Hadits"

Solo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Komunitas Masyarakat Anti Hoax Solo Raya ikut mengkampanyekan gerakan anti berita bohong di kawasan ‘hari bebas kendaraan’, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Ahad (8/1). Kampanye anti hoax digelar secara serentak di 6 kota, yakni Solo, Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Wonosobo.

Turut hadir, dalam acara tersebut Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng KH M Dian Nafi bersama Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo dan sejumlah tokoh.

Cegah Berita Bohong Seperti Belajar Musthalah Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Berita Bohong Seperti Belajar Musthalah Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Berita Bohong Seperti Belajar "Musthalah Hadits"

Menurut Kiai Dian berita hoax itu berbahaya, yakni bisa menimbulkan fitnah. “Kita perlu mencegah hoax untuk membangun kejujuran membuat berita dan menyampaikannya,” tutur dia.

Ditambahkan Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan itu, untuk mencegah penyebaran berita bohong, bisa dengan cara seperti belajar ilmu musthalah hadits.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Cek periwayat, jalur riwayat, dan isi unggahan. Ada baiknya juga membandingkan dengan berita lainnya dari situs yang dapat dipercaya. Selain itu, cek referensi jika sempat. Sangat bagus untuk mencatat rekam jejak sumber dan yang penting, biasakan mengakses sumber di lingkungan NU,” papar dia.

Sementara itu, ditemui terpisah, Koordinator Ansor Media Regional Jawa Tengah Solahudin Aly menjelaskan, hoax itu hanyalah bahasa lain dari fitnah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Sama saja dengan berita atau kabar yang menyesatkan. Secara agama jelas itu sesuatu yang dilarang karena bersifat merusak. Tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya,” terang Solah, saat dihubungi PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rabu (11/1).

Menurut Solah, saat ini butuh gerakan bersama dari berbagai pihak, untuk saling mengingatkan dalam memerangi hoax.

Sekretaris PW GP Ansor Jateng itu juga memberikan tips untuk mencegah penyebaran berita bohong. “Langkah awal, menahan diri untuk tidak menyebarkan berita atau tautan yang bernada hasut,” ujarnya.

Selain itu, biasakan melakukan klarifikasi terhadap isi berita sebelum membagikannya kepada orang lain. “Paling penting gunakan selalu akal sehat untuk menganalisis berita dan pastikan ada sumber yang terpercaya atau punya otoritas dalam topik yang dibicarakan,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, AlaNu PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah