Selasa, 14 November 2017

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Surabaya, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Hampir dapat dipastikan pada akhir bulan September, selalu ramai dibicarakan peritiwa pemberontakan Gerakan 30 September/PKI. Berbagai kalangan mengingatkan bahaya bangkitnya kembali PKI, dan pada saat yang sama mengemukakan sebaliknya. Lantas apa yang bisa dilakukan warga NU?

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Bagi Muhammad Al-Fayyadl, kalangan NU (khususnya yang lahir belakangan, red) serta warga bangsa untuk segera melakukan rekonsiliasi horisontal. "Dengan demikian ketegangan yang pernah terjadi dapat segera diurai serta menemukan titik temu," katanya, Ahad (1/10).

Dan media yang dapat dijadikan sarana untuk rekonsiliasi tersebut adalah shalawat. "Karena shalawat adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari warga NU," ungkap alumni magister di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan tersebut.

Mencari solusi dengan shalawat rekonsiliasi baginya bisa menjadi salah satu jalan tengah. "Akan baik kalau ada bacaan atau amalan shalawat yang mengarah kepada rekonsiliasi," terang alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk Sumenep tersebut.

Pria yang kini tinggal di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini tidak menampik kalau peristiwa berdarah G30S PKI terus menjadi perdebatan. "Lantaran selama ini, peristiwa tersebut ditutup-tutupi," katanya. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bagaimana mungkin kekuasaan Soeharto dengan Orde Barunya telah mendesain sedemikian rupa kejadian tersebut sehingga yang mengemuka hanya versi pemerintah. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Sehingga kalau sebagian masyarakat mempersoalkan dan ujungnya menjadi pro dan kontra seperti selama ini, hal tersebut adalah hal yang wajar," ungkapnya.

Bagi Al-Fayyadl, kejadian ini memberikan banyak pelajaran kepada bangsa. "Anak bangsa harus bisa memilih dan mempelajari fase hubungan antar golongan yang pada akhirnya untuk bersama mendiskusikan perjalanan yang terjadi," katanya. 

Mereka yang terlibat dalam sebuah peristiwa masa lalu, lanjutnya, dapat bertemu untuk mendiskusikan peristiwa yang pernah terjadi secara lebih terbuka.

Di ujung penjelasannya, Al-Fayyadl mengajak kalangan terpelajar di NU untuk banyak menulis buku sejarah. Ini untuk melengkapi buku dan catatan yang sudah ada. "Yang diwariskan jangan semata sejarah lisan," sergahnya. 

Manfaat dari menulis buku adalah agar semakin banyak sudut pandang yang bisa dijadikan rujukan dalam menilai sebuah peristiwa. "Dengan demikian akan semakin banyak misteri yang bisa diungkap," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kemenag Tetapkan Idul Adha 17 November

Jakarta,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kementerian Agama (Kemenag RI) menetapkan hari raya Idul Adha jatuh pada hari Rabu (17/11). Sedangkan pemerintah Arab Saudi dan Muhammadiyah menetapkan pada Selasa (16/11). Karena itu Kemenag RI berharap perbedaaan ini jangan sampai membuat perpecahan.



Kemenag Tetapkan Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Tetapkan Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Tetapkan Idul Adha 17 November

Perbedaan adalah hal yang biasa. Pemerintah juga tidak bisa memaksakan keyakinan masyarakat agar mengikuti ketetapan pemerintah untuk merayakan Idul Adha pada 17 November tersebut.

Demikian hasil sidang istbat Kementerian Agama bersama sejumlah ormas Islam menetapkan perayaan Idul Adha jatuh pada hari Rabu (17/11). Pemerintah mengimbau kepada umat Islam agar memilih pelaksanaa Idul Adha sesuai keyakinannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Majelis Ulama, ormas Islam, dan pemerintah menetapkan tanggal 17 November. Berbeda dengan Muhammadiyah. Tergantung keyakinannya masing-masing untuk memilih," tandas Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Prof Dr Nasaruddin Umar pada wartawan di Gedung Depag RI Jakarta, Senin (8/11).

Menurut Mustasyar PBNU ini pada Sabtu 6 November lalu, pemerintah sudah melakukan rukyat di 36 titik. Namun tidak ada satu pun yang melihat hilal. Begitu juga dengan seluruh menteri-menteri agama di berbagai negara seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Tidak ada satu pun yang melihat bulan. Karena posisi bulan yang disepakati ormas Islam itu 2 derajat. Sedangkan posisi hilal kemarin itu hanya 0 derajat 19 menit sampai ke Indonesia bagian barat 1 derajat 21 menit,”ujar Guru Besar UIN Syahid Ciputat Jakarta itu.

Pemerintah Arab Saudi menetapkan hari raya Idul Adha (korban) jatuh pada hari Selasa, tanggal 16 November 2010. Kantor berita Arab Saudi, SPA menyebutkan, penetapan itu dilakukan setelah otoritas berwenang di Saudi setelah melakukan pengamatan bulan pada Sabtu (6/11) malam lalu yang diperkuat dengan hasil perhitungan para astronom resmi di Saudi Arabia.

Dengan demikian, sekitar 1,5 juta jamaah calon haji dari seluruh dunia akan memulai ritual haji diawali dengan wukuf di Arafah pada  hari Senin, tanggal 15 November 2010. Saat ini sebagian besar calon jamaah haji Indonesia telah berada di Makkah untuk menunggu hari puncak haji, atau haji di Arafah tersebut.

Kedatangan terakhir jamaah haji Indonesia di bandara King Abdul Aziz, Jeddah pad Rabu (10/11), bersamaan dengan closing date bandara tersebut bagi kedatangan jamaah haji pada pukul 24.00 WAS. (amf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wabup Jombang: Saya Belajar Organisasi dari IPPNU

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Jombang Hj Munjidah Wahab mengajak kepada kader-kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) setempat siap berada di berbagai sektor penting, baik di elemen masyarakat ataupun di pemerintahan.

Menurut Munjidah, kader IPNU-IPPNU adalah selain kader NU, juga sebagai kader bangsa, mereka hendaknya belajar dengan baik dan memaksimalkan waktunya untuk mengabdi kepada NU dan bangsa.

Wabup Jombang: Saya Belajar Organisasi dari IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Jombang: Saya Belajar Organisasi dari IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Jombang: Saya Belajar Organisasi dari IPPNU

Mantan ketua IPPNU tahun 1966 itu mengungkapkan bahwa dirinya bisa menjadi Wakil Bupati Jombang karena banyak belajar dari organisasi ke-NU-an hingga sekarang ini. Pengalaman-pengalaman berorganisasi tersebut menjadi salah satu modal mendasar dirinya untuk memimpin kota Jombang.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Saya tahu betul keberadaan IPPNU. Saya mengenal awal organisasi itu adalah IPPNU. Jadi modal awal saya bisa seperti sekarang ini dari IPPNU,” ungkapnya saat memberikan arahannya di Konferensi Cabang (Konfercab) IPNU-IPPNU Cabang Jombang, Kamis (31/12).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di sisi lain ia menuturkan bahwa perjuangan tidak boleh dilandasi pamrih dan mencari kedudukan atau jabatan, melainkan keikhlasan dan ketekunan. “Semuanya karena ketekunan kita, karena istiqomah kita, jadi berjuang itu tidak untuk pamrih untuk mencari jabatan, kedudukan, harus jadi ketua dan lain sebagainya. Tidak. Saya tidak mengira sama sekali akan jadi Wakil Bupati Jombang, dan sebelumnya tidak ada arah ke sana,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 13 November 2017

Bersama Banser dan Polisi, Habib Luthfi Pastikan Kelancaran Arus Mudik

Pekalongan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jarang dijumpai sosok ulama yang menjadi panutan umat muncul di tengah-tengah masyarakat bukan dalam rangka berdakwah menyeru kebaikan. Akan tetapi yang dilakukan oleh Habib Luthfi bin Yahya, Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) sangat berbeda yakni memantau arus mudik lebaran di pos mudik Banser di Komplek Masjid As-Syuhada Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (21/6).

Kehadiran sosok ulama kharismatik di tengah-tengah personil Banser dan Polisi yang sedang mengatur lalu lintas tersebut tidaklah mengejutkan. Pasalnya apa yang dilakukan Habib Luthfi tidak hanya kali ini saja. Pada tahun tahun sebelumnya juga melakukan hal yang sama.

Bersama Banser dan Polisi, Habib Luthfi Pastikan Kelancaran Arus Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Banser dan Polisi, Habib Luthfi Pastikan Kelancaran Arus Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Banser dan Polisi, Habib Luthfi Pastikan Kelancaran Arus Mudik

Bahkan Habib Luthfi ikut mengatur arus lalu lintas di Pos Pantau terpadu dengan memegang lampu emergency dan ikut mendorong bis mogok adalah hal yang biasa dilakukannya.

Komandan Banser Kota Pekalongan M. Fatkhurrahman kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, kehadiran Habib Luthfi yang mengenakan peci dan baju putih dibalut jaket tebal berwarna hitam di Posko Arus Mudik Banser menjadi pendorong dan penyemangat Banser untuk terus bantu kelancaran pemudik yang melewati Kota Pekalongan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dikatakan, meski Jalan Tol Fungsional (JTF) Brebes Gringsing telah digunakan, ternyata kepadatan arus lalu lintas yang melewati Kota Pekalongan masih sangat signifikan khususnya pada malam hari, sehingga pos arus mudik yang disiagakan di empat titik sangat membantu kelancaran arus lalu lintas.

"Habib Luthfi selalu memberi support kepada Banser dalam kegiatan sosial dan ini menjadi penyemangat Banser untuk selalu berbuat yang terbaik untuk masyarakat," ujar Fathkhurrahman.

Apalagi pada saat kunjungan Habib Luthfi hadir pula Komandan Banser Jawa Tengah Hasyim Asyari, sehingga suasana posko menjadi sangat ramai karena pada jam kunjugan sedang terjadi puncak arus mudik, sehingga Banser menurunkan kekuatan penuh bersama CBP IPNU dan KKP IPPNU Kota Pekalongan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelum kunjungi pos pantau arus mudik Banser, Habib Luthfi juga menyempatkan hadir di pos pantau terpadu yang ada di seberang jalan bersama Kapolres Pekalongan Kota AKBP Enrico Sugiharto dan mantan Dandim Pekalongan Letkol Sapriadi. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, Cerita, Santri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini

Probolinggo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Madrasah Ibtida’iyah (MI) Ihyauddiniyah di Desa Duren Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (25/12) malam. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa didampingi para orang tuanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diisi dengan Safari Maulid Riyadlah 40 hari Al Waly. Acara ini dihadiri penceramah Pengasuh Pesantren Zainul Hasan KH Hasan Ahsan Malik selaku Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Kraksaan.

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini

“Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dalam rangka agar para siswa MI Ihyauddiniyah maupun masyarakat mampu meneladani perjuangan dan sikap yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga nantinya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Kepala MI Ihyauddiniyah Siti Nur Tamami.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini juga diisi dengan sejumlah lomba yang diikuti oleh seluruh siswa PAUD, RA, MI dan MTs Ihyauddiniyah. Di antaranya, lomba menghafal Asmaul Husna dengan artinya, menghafal tokoh NU dan mewarnai kaligrafi NU oleh siswa PAUD.

Selanjutnya, lomba menghafal Asmaul Husna dengan artinya, menghafal tokoh NU, mewarnai kaligrafi NU, dan lomba cerdas tangkas oleh siswa RA. Kemudian lomba kaligrafi NU, menghafal istighotsah, Asmaul Husna, lari cepat pasang bendera NU, sepeda lambat, kelompen lima orang tiap kelompok, cepat tepat tulis di papan untuk siswa MI.

Lalu, menghafal tahlil, Surat Yasin, juz amma, cerita tokoh NU, diba’iyah, lomba lari karung, sepak bola api, bulu tangkis, dan mengambil koin untuk siswa MTs. “Semua lomba ini diadakan dalam rangka untuk memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara Pengasuh Yayasan Ihyauddiniyah K A Nor Hasan Asy mengharapkan agar dengan kegiatan ini siswa mampu mengetahui sejarah perjuangan Rasulullah SAW sekaligus mampu mengenal para tokoh-tokoh NU.

“Dengan demikian siswa mampu mengambil uswatun hasanah dari tokoh NU yang dikenalnya. Di samping juga meneladani perjuangan Rasulullah SAW,” katanya. (Syamsul Akbar/Alahfiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh, Ulama, Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bulan Puasa di Tanah Sunda

Oleh: Abdullah Alawi

Tarawih, tadarus, imsak merupakan istilah tenar di bulan Puasa. Orang menulis, menukil di koran, buku; mengucapkannya di telivisi atau radio. Sekarang ditambah di ragam jejaring sosial, minimal di Facebook dan Twitter.?

Tapi di Sunda, khususnya daerah saya, Sukabumi dan sekitarnya, ada istilah yang lebih akrab. Istilah-istilah itu berkontestasi dengan istilah-istilah tersebut.? Di antaranya adalah munggahan, ngabuburit; puasa cacap, bedug dan ayakan; godin, dan ngadulag.?

Bulan Puasa di Tanah Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Puasa di Tanah Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Puasa di Tanah Sunda

Tiga istilah pertama berasal dari bahasa Arab, mempunyai arti yang sudah dibakukan dan tentu saja kita bisa mencari rujukan dalam teks-teks keagamaan. Sedangkan istilah-istilah terakhir, merupakan khas lokal, kadang tak jelas asal-usul maupun batasannya. Tapi tetap digunakan karena kebiasaan.

Munggahan?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di akhir bulan Syaban, ada satu moment penting yang tak bisa diabaikan, yaitu munggahan. Berbagai hal dilakukan dalam moment ini. Orang di perantauan biasanya pulang kampung. Berkumpul bersama keluarga. Saling berkirim sesuatu dengan sanak keluarga atau tetangga. Berziarah ke makam, mandi keramasan (disebut balimau di Sumbar, di Jawa padusan), ber-maap-maapan, dan seterusnya.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Munggahan berasal dari kata ungggah yang berarti naik undakan untuk masuk, misalnya ke rumah atau ke masjid (dulu rumah dan masjid berbentuk panggung). Dalam lidah orang Sunda, kata unggah sering diawali huruf m hingga lumrah dilapalkan munggah.?

Kata ini sering dikaitkan dengan proses ibadah haji (munggah haji). Dalam ibadah ini terjadi proses naik (bergerak) secara lahiriyah dan (seharusnya) batiniyah. Secara lahiriyah berarti naik pesawat terbang atau kapal laut. Sedangkan secara batiniyah adalah berubah dari sifat yang buruk menjadi lebih baik (mabrur).

Sedangkan munggah dalam menghadapi bulan puasa, yaitu unggah kana bulan nu punjul darajatna (naik ke bulan yang tinggi derjatnya). Sebagaimana dalam ibadah haji, dari kata munggah tersebut tersirat perubahan, baik secara lahiriyah dan (seharusnya) batiniyah. Secara lahiriyah misalnya, kita harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Jadwal makan berubah dari biasanya.

Tapi ada yang lebih penting: seharusnya berubah dalam pemikiran, ibadah, sikap hidup, dan seterusnya; yang tentunya ke arah yang lebih baik.?

Laiknya dalam lomba lari, munggahan dalam ibadah haji dan puasa adalah start. Jika ? semua dilakoni dengan baik sesuai juklaknya, maka diganjar mabrur (haji), dan kemenangan, suci, fitri di hari lebaran (puasa).

Cacap, Bedug dan Ayakan

Muncul pula kategori puasa khas lokal, yaitu puasa cacap, puasa bedug dan puasa ayakan. Istilah ini merupakan kategorisasi puasa dilihat dari segi waktu berbuka. Pertama, puasa cacap adalah puasa yang cacap (selesai); yaitu berpuasa mulai dari terbit fajar (imsak) hingga bedug maghrib. Kedua, puasa bedug, dimulai dari terbit fajar sampai bedug lohor atau ashar.?

Sedangkan ketiga, puasa ayakan, justru tidak jelas batasan waktunya. Sebenarnya puasa jenis ini adalah kependekan dari pribahasa puasa jojodog jeung ayakan. Artinya, lamun euweuh ngajedog, lamun aya dihakan. Kira-kira maksudanya adalah, kalau tidak ada (makanan) diam, tapi kalau ada, dimakan. Jadi, batas berbuka puasanya adalah makanan.

Ketiga kategori tersebut, jika dilihat dari segi pelakunya adalah sebagai berikut. Puasa cacap dilakukan orang yang secara fisik kuat, tapi tidak sedang melakukan kerja berat atau perjalanan jauh. Biasanya mereka memiliki penghayatan keagamaan kuat.?

Puasa bedug biasanya dilakukan anak-anak. Dia punya keinginan sampai maghrib, tapi raga belum kuat. Sedangkan puasa ayakan biasanya dialakukan orang yang secara fisik jelas kuat, tahu bahwa puasa wajib. Tapi malas melakukannya. Ada yang melakukannya diam-diam, ada pula yang terang-terangan.

Tipikal orang berpuasa ayakan disindir Doel Sumbang dalam lagu Tuturut Munding:

Batur sahur milu sahur/Batur buka milu buka/Ti beurang batur puasa/Manehna jajan samangka/Batur sahur milu sahur/Batur buka milu buka/Ti peuting batur taraweh/Manehna cindekul gapleh

Maksudnya: Orang lain sahur dia ikut sahur/Orang lain buka puasa, dia ikut buka/Siang orang lain puasa/Dia jajan semangka/Orang lain sahur dia ikut sahur/Orang lain buka puasa, dia ikut buka/Malam orang lain taraweh/Dia bermain gaple (domino)

Ngabuburit

Kata ngabuburit berasal dari kata dasar burit ? yang berarti sore hari atau waktu menjelang tenggelamnya matahari. Kemudian mendapat awalan nga dan proses redupklikasi dwipurwa (pengulangan kata imbuhan pertama). Jadi ngabuburit.

Ngabuburit berarti menunggu atau menghabiskan senja hingga datangnya malam. Dalam bulan puasa, tujuannya melupakan perut lapar sampai tiba waktnya buka. Berbagai hal yang dilakukan di antaranya, jalan-jalan, membaca buku, nongkrong, tadarus atau kegiatan-kegiatan lain yang tak ada batasan tertentu.?

Bagi orang Sunda, ngbuburit tidak hanya berlaku di bulan puasa. Di samping itu, orang tidak berpuasa sekali pun bisa dikatakan ngabuburit. Misalnya, jika orang itu jalan-jalan di sore hari, dia berhak pula mengatakan sedang ngabuburit.

Godin

Saya mengira, kata ini berasal dari bahasa Arab. Saya menemukan kata ini pada niat puasa, demikian; Nawaitu shauma “ghadin” an adai pardhi syahri ramadhana hadihi sanati pardha lillahi taala. Dalam kalimat ini, “ghadin” berarti esok hari.?

Tapi ternyata, maknanya "diselewengkan "semena-mena. Di Sunda artinya menjadi berbuka puasa. Dan yang lebih mengherankan, berbuka sebelum waktu maghrib. Penyelewengan berlapis-lapis. Mungkin awalnya tak sengaja, tapi kemudian jadi kebiasaan dan akhirnya kesepakatan.?

Ngadulag?

Ngadulag adalah tabuh-tabuhan khas dengan alat musik bedug dan beberapa kohkol (kentungan) yang biasa berada di samping masjid. Ngadulag artinya menabuh bedug dengan irama dulag. Tidak ada aturan khusus tentang irama dulag. Tapi setiap penabuhnya berusaha supaya tetabuhannya mengeluarkan suara yang enak didengar dan seunik mungkin. Dalam pendengaran orang Sunda, secara umum, dulag berbunyi dulugdugdag. ?

Dulag hanya diperbolehkan saat bulan puasa. Biasanya ditabuh selepas tarawih dan saat membangunkan orang sahur. Dulag dilakukan semalam suntuk saat malam takbiran Idul Fitri atau Idul Adha. Tidak hanya di masjid, kadang dulag dilakukan sambil mengarak bedug di jalanan.?

Di daerah Banten, ada tradisi ngadu dulag, yaitu pertandingan memukul bedug antarkampung selepas lebaran. Yang paling tahan lama ngadulag dianggap sebagai pemenang. ? ?

Sebagai penghias lebaran, dulag jadi istilah yang disandingkan dengan pakaian baru dibeli. Misalnya sarung dulag, atau peci dulag. Artinya sarung dan peci yang baru dibeli.?

Selain itu, dulag juga mengisyaratkan kemeriahan dan keramaian. Ada peribahasa Sunda yang berbunyi, jauh ka bedug anggang ka dulag. Peribahasa ini menggambarkan kesunyi-senyapan dengan pengibaratan jauh dari suara bedug dan riuh-rendahnya dulag.?

Masyarakat memang bukan ceret kosong yang jika diisi air kopi, akan muncul kopi dengan persis. Kalaupun kopi itu yang keluar, cita rasa, bentuk dan warnanya akan lain. Ketika bersentuhan dengan istilah-istilah dari luar kebudayaannya, mereka akan menerima, menolak, atau mengawinkan, sehingga lahir kreasi-kreasi baru yang unik dan khas. Tapi kadang dari masyarakat itu sendiri, lahir orang anti-kreasi. Waallhu alamu bi al-shawab. (Abdullah Alawi, Wartawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Keterangan gambar: ngabuburit dengan lomba ngadulag dan rebana. Diunduh dari http://kstv.co.id

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rais Aam Minta Pemerintah Contohkan Hidupkan Sederhana

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pejabat Rais ‘Aam PBNU KH A Mustofa Bisri meminta pemerintah baru di bawah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Kabinet Kerja untuk menekankan sikap kesederhanaan dalam bekerja.

“Saya mohon itu dapat dilakukan oleh Jajaran kabinet Kerja ini untuk tetap bersikap sederhana, merakyat, dan kerja, kerja, kerja,” pintanya pada Pidato Iftitah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di halaman gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11).

Rais Aam Minta Pemerintah Contohkan Hidupkan Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam Minta Pemerintah Contohkan Hidupkan Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam Minta Pemerintah Contohkan Hidupkan Sederhana

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini mengatakan, kesederhanaan ini harus menjadi tren pemimpin-pemimpin Indonesia kerena kondisi mayarakat kita harus diawali dengan kesederhanaan pemimpin. Kemudian menjalar ke semuanya. “Kalau pemimpinnya sederhana, insya Allah kiai-kiainya akan mengikuti,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelumnya, Gus Mus mengucapkan selamat kepada pemerintahan baru. Tapi bukan selamat atas jabatan yang diemban, melainkan selamat bekerja. Ia tak kurang menyebut bekerja sampai 3 kali. ?

“Jabatan-jabatan mereka tidak selayaknya diselamati. Saya ucapkan selamat kepada beliau-beliau, selamat bekerja, selamat bekerja, selamat bekerja. Selamat bekerja untuk Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk memimpin bangsa ini menuju baldatun thoyibatun wa robbun ghofur,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Gus Mus, meski melewati fase dan dinamika yang menegangkan, namun Alhamdulilah berakhir melegakan semua pihak. Bahkan membuat masyarakat internasional berdecak kagum akan kedewasaan berdemokrasi negara kita. Para pemimpin yang semula bersaing, menunjukkan sikap kenegarawanan mereka. ?

Mudah-mudahan, sambung Gus Mus, warga NU, khususnya para kiai yang terlibat dukung mendukung, dapat mencerdasi sikap kenegarawanan para pemimpin sehingga tidak ada lagi istilah berseberangan di antara kita.

Gus Mus juga menegaskan, NU sepanjang sejarah selalu menyatu dengan perjuangan nasional bangsa Indonesia. Dengan demikian, sesuai khittah, NU akan senantiasa aktif dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur diridoi allah SWT.

Pemerintah baru, kata dia, tidak perlu ragu, sepanjang untuk kepentingan bangsa Indonesia,

NU siap membantu pemerintah dalam batas kemampuan dan wewenangnya, termasuk dengan cara mengkritisinya.

“Khusus kepada kader-kader NU yang terpilih anggota kabinet, saya pesankan untuk menekankan sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana yang membantu pemerintah ini,” katanya. (Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Daerah, Makam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah