Minggu, 12 November 2017

Rekomendasikan Adanya Perjanjian Larang Pelecehan Lambang Agama

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Konferensi Internasional tentang fungsi haji dalam penguatan kerjasana dan persatuan umat Islam yang berlangsung di Jakarta resmi ditutup Ahad siang, terdapat sembilan butir hasil rekomendasi dalam pertemuan tersebut.

Salah satu rekomendasi ini terkait dengan menyerukan menyerukan adanya perjanjian internasional yang melarang segala bentuk pelecehan terhadap lambang-lambang agama yang suci. Ini terkait dengan semakin seringnya terjadi pelecehan terhadap simbul suci Islam, seperti pembuatan kartun nabi, pembakaran Qur’an dan lainnya.

Rekomendasikan Adanya Perjanjian Larang Pelecehan Lambang Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekomendasikan Adanya Perjanjian Larang Pelecehan Lambang Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekomendasikan Adanya Perjanjian Larang Pelecehan Lambang Agama

Berikut hasil lengkap rekomendasi:

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rekomendasi Konferensi Internasional

“Fungsi Haji dalam Penguatan Kerjasama dan Persatuan Umat Islam”.

Hotel Borobudur, 2-3 Oktober 2010


PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Salah satu misi utama Islam adalah untuk membebaskan manusia dari ketidakberdayaan. Ini adalah manifestasi dari nilai Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, setiap ibadah mengandung makna yang memiliki pengaruh baik pada tingkat individu atau sosial termasuk ibadah haji.

Oleh karena itu, kami, peserta konferensi internasional tentang fungsi haji dalam penguatan kerjasama dan persatuan umat Islam, yang berkumpul di Jakarta pada tanggal 2-3 Oktober 2010, setelah mendengarkan dan memperhatikan jalannya konferensi, kami merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Menghimbau kepada jamaah haji untuk menginternalisasi kesadaran spiritual dan substansi ibadah haji sehingga jamaah haji bisa menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah haji dalam kehidupan sosial ketika dan setelah melaksanakan ibadah haji.

2. Meminta kepada pemimpin islam, ulama, elit dan masyarakat Islam agar menjadikan haji sebagai media untuk untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapi umat Islam masa kini sehingga pertemuan itu bukan sekedar seremonial tetapi memiliki dampak positif bagi kemajuan dan persatuan umat Islam.

3. Meminta kepada para pemimpin Islam untuk menjadi inisiator dan fasilitator agar pertemuan pemimpin Islam seperti yang dimaksud di atas terlaksana sehingga secara bertahap permasalahan umat Islam dapat terselesaikan.

4. Mengimbau kepada pihak penyelenggara haji atau pemerintah agar memakai momentum haji sebagai sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan dan membangun kemajuan umat Islam dalam semua aspek.

5. Mendorong negara-negara Islam untuk memanfaatkan momentum haji sebagai sarana saling mengenal potensi masing-masing negara dalam rangka memperkuat kerjasama di bidang politik ekonomi, sosial dan kebudayaan.

6. Mengecam segala bentuk permusuhan terhadap Islam di Barat (islamofobia), pelecehan terhadap al-Qur’an dan Rasul; dan menyerukan adanya perjanjian internasional yang melarang segala bentuk pelecehan terhadap lambang-lambang agama yang suci.

7. Mengecam suara-suara yang memecah belah umat Islam.

8. Mengajak seluruh umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam menanggung beban bencana alam yang tejadi di Pakistan dan di negara-negara muslim yang lain untuk menunaikan kewajiban saling menolong dan solidaritas umat Islam.

9. Meminta kepada pihak-pihak terkait untuk memperhatikan rekomendasi ini dan membuat langkah-langkah strategis untuk menindaklanjutinya agar rekomendasi ini tidak sekedar tinta di atas kertas.

Jakarta, 3 Oktober 2010

Para Peserta MuktamarDari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Habib, Khutbah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba

Tulang Bawang Barat, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Guna terus merekatkan silaturahmi dengan pengurus ormas dan insan pers di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Wakil Bupati Tubaba Fauzi Hasan, penasehat IKA PMII menggelar halal bihalal di Rumah Dinas (Rumdis) di Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kamis (6-7-2017).

Acara yang berlangsung sederhana tersebut dihadiri oleh jajaran Pemerintahan, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tubaba, kemudian para insan pers/media, organisasi kemahasiawaan, organisasi masyarakat (ormas) seperti Pemuda Pancasila (PP), Oi, Pemuda Siliwangi, Dewan Kesenian Tubaba, IKA-PMII, Paguyuban Jawa Barat (Pajar),, serta masyarakat umum.

Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba

Fauzi Hasan mengatakan, silaturahmi ini dimaksudkan untuk saling mempererat silaturahmi antarormas dan insan pers di Kabupaten Tubaba, sebab dengan silaturahmi akan memberikan dampak bagi kemajuan Kabupaten Tubaba dan tidak gampang terpengaruh dengan isu-isu yang tidak benar (hoaks).

"Dengan silaturahmi dapat saling berkomunikasi dan saling mengenal dengan baik, dapat berpikir bersama untuk kemajuan Tubaba, sehingga orientasinya tidak saling menunjukkan kehebatan tetapi kebersamaan,"ungkapnya.

Dalam sambutan penasehat IKA PMII Tubaba, ini menambahkan pihaknya selaku wakil bupati berpesan pertama kepada Dewan Kesenian Tubaba untuk aktif kembali. Diakuinya sebelum pemilihan bupati dan wakil bupati dirinya membekukan sementara kegiatan Dewan Kesenian untuk menghindari adanya anggapan bahwa dia menunggangi Dewan Kesenian untuk menjadi wakil bupati.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Sekarang, mari kita aktif kembali, dan Bupati Umar Ahmad akan terus mengikuti langkah dan men-support kita," paparnya.?

Untuk PMII, Fauzi berpesan walaupun kepengurusan baru terbentuk dan belum dilantik pihaknya sangat berterima kasih PMII bisa dibentuk di kabupaten setempat, dengan terbentuknya IKA PMII ini ke depan orientasinya tidak mengedepankan kegagahan organisasi tetapi kepada bagaimana memajukan kabupaten Tubaba dengan bersatu dengan semua unsur yang ada.

"Saya juga kader PMII dan pertama mengikuti pelatihan kader dasar pada tahun 1979 di Wonosobo, saat ini masuk Kabupaten Pringsewu. Mari organisasi ini kita gunakan untuk belajar memimpin, bekerjasama dalam berorganisasi dan jika ini bisa dijalankan kunci kesuksesan ada disini," ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dirinya juga sangat mengapresiasi dengan gerakan yang dilakukan oleh ormas Oi, walaupun gerakannya kecil tapi sangat menyentuh seperti melakukan gerakan bersih-bersih di tempat-tempat umum, dan di pasar-pasar. Untuk HIPMI ia berpesan dapat mengadakan kegiatan yang dapat memotivasi para pemuda untuk menjadi pebisnis dan orang sukses.

Sementara untuk PWI dan insan pers pihaknya juga mengucapkan banyak terima kasih yang telah memberikan dukungannya selama ini dalam menyebarkan informasi yang baik kepada masyakarat dalam bentuk kritik tentang pembangunan dan saran, "Pemberitaan merupakan sebuah respek yang sangat besar bagi pergerakan pembangunan di Kabupaten Tubaba.”

Fauzi berharap, ke depan seluruh elemen masyarakat dapat terus menjaga dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan di kabupaten setempat,"Saya tidak keberatan rumah dinas ini digunakan untuk kegiatan apapun yang sifatnya positif, dan Bupati Umar Ahmad juga berpesan ormas dan masyarakat dapat memanfaatkan gedung Sesat Agung yang berada di Islamik Center dengan maksimal," pungkasnya.

Sementara perwakilan ormas dan insan pers yang hadir, Edi Zulkarnaen selaku Ketua PWI Tubaba mengucapkan banyak terima kasih telah mengundang insan pers dan ormas se-Tubaba untuk menghadiri acara halal bihalal ini,"Semoga jalinan silaturahmi dapat terus terjalin dan terjaga dengan baik," singkatnya.(Gati Susanto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Anti Hoax PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

UIM Lakukan Muhasabah di Peringatan Nuzulul Quran

Makassar, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Civitas akademika Universitas Islam Makassar (UIM) memperingati malam Nuzulul Quran buka puasa bersama di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Jumat (10/) sore. Mereka menjadikan peringatan ini sebagai momentum untuk mengoreksi dan mengevaluasi diri.

Rektor UIM Dr Majdah M Zain di hadapan segenap civitas akademikanya menuturkan UIM perguruan tinggi Islam yang dalam proses pembelajarannya banyak mengkaji nilai-nilai Al-Quran.

UIM Lakukan Muhasabah di Peringatan Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
UIM Lakukan Muhasabah di Peringatan Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

UIM Lakukan Muhasabah di Peringatan Nuzulul Quran

UIM mewajibkan civitas akademika setiap tahunnya untuk memperingati hari Nuzulul Quran sebagai proses muhasabah dan koperatif sistem dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Semoga peringatan Nuzulul Qur’an menambah atmosfer kehidupan beragama di tengah masyarakat,” kata Hj Majdah.

Tampil sebagai pembawa hikmah Nuzulul Quran Wakil Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta KH Busthani Syarief. Menurut salah seorang pendiri Universitas Islam Makassar, Al-Quran diturunkan di muka bumi ini untuk umat manusia dalam bahasa Arab.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Tujuan diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan batil," ujar Gurutta Busthani.

Al-Quran diturunkan sebagai risalah manusia dari kegelapan dunia menuju dunia yang penuh kedamaian, keberagamaan, dan penuh dengan nilai-nilai Islam, tandas Gurutta Busthani.

Tampak hadir para pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah NU Sulsel, Wakil Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali A Rahman Idrus, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H Abd Wahid Thahir yang juga Ketua PCNU Makassar, Sekretaris Kopertis Wilayah IX Sulawesi Hawignyo, para Wakil Rektor UIM, para Dekan sekampus UIM, dan para ketua lembaga dan banom NU Sulsel. (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News, Olahraga PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Al-Quran, antara Penyimpangan dan Fungsi

Oleh Anwar Kurniawan

Kelesetarian Al-Qur’an, sejak diturunkan 23 abad lalu secara gradual, nyata masih eksis hingga kini. Al-Qur’an, secara sederhana merupakan respon Tuhan terhadap berbagai persoalan dan diyakini adaptif-solutif terhadap segala persoalan umat manusia.

Lebih jauh, ragam persepsi masyarakat, baik generasi Islam awal maupun setelahnya dalam menyikapi rangkaian firman Tuhan yang termanifestasikan dalam kitab suci umat Islam ini juga menarik untuk diperhatikan.

Secara umum, tujuan orang membaca Al-Qur’an dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok besar (Ahmad Rafiq: 2006). Pertama, membaca Al-Qur’an sebagai ibadah. Tujuan ini berhubungan dengan ajaran yang selama ini dipegangi kaum muslimin bahwa "membacanya adalah ibadah". Sehingga, hal itu mendorong kaum muslimin untuk membacanya sebanyak mungkin, terlepas dari ada tidaknya pemahaman terhadap teks yang sedang dibaca. ?

Al-Quran, antara Penyimpangan dan Fungsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran, antara Penyimpangan dan Fungsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran, antara Penyimpangan dan Fungsi

Kedua, membaca Al-Qur’an untuk mencari petunjuk. Untuk tujuan ini, seorang muslim atau bahkan non-muslim yang pengkaji Al-Qur’an, akan membaca sebagian atau keseluruhan. Pembacaan tersebut ditujukan supaya mendapatkan petunjuk tertentu dari Al-Qur’an.? Petunjuk yang dimaksud bisa berupa kejelasan makna yang dimaksudkan lafaz Al-Qur’an atau isyarat-isyarat tertentu yang dapat ditangkap dari susunan lafaz Al-Qur’an.

Apapun bentuk petunjuk di sini, ia bisa diterima secara positif, dalam pengertian untuk menguatkan keyakinan si pembaca akan kebesaran Al-Qur’an dan pesan-pesan yang dibawanya. Hal ini lazim dijalani oleh pembaca muslim.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara, petunjuk tersebut bisa pula diterima secara netral, sebatas untuk memuaskan rasa keingintahuan si pembaca, di mana hal ini biasa dilakoni oleh para pengkaji Al-Qur’an, ? baik Muslim ataupun tidak. Tetapi, petunjuk di sini bisa pula menjadi paradoks. Artinya ia dicari dan diterima untuk menegasikan atau melemahkan kebenaran Al-Qur’an atau bahkan Islam. Hal inilah yang sering terdapat pada karya-karya Orientalis.?

Ketiga, membaca Al-Qur’an sebagai alat justifikasi. Dalam hal ini pembaca menggunakan—bagian tertentu dari— Al-Qur’an untuk mendukung pikiran ataupun keadaannya pada saat tertentu. Hal ini erat kaitannya dengan berbagai kepentingan tertentu baik yang bersifat personal maupun kolektif. Secara sederhana, poin ketiga tersebut dapat ditemukan misalnya, pada kelompok-kelompok teologi ataupun politik dalam sejarah Islam yang saling berhubungan erat.

Di masa kekhalifahan Usman dan Ali, para pendukung Ali mulai menyuarakan ketinggian posisi Ali dan keturunannya. Kelompok ini kemudian dikenal dengan Syiah. Dalam menyuarakan dukungannya, mereka mengutip sejumlah ayat-ayat tertentu.

Tak mau kalah dengan Syiah, kelompok khawarij juga turut mewarnai panggung sejarah, yang mengisyaratkan perang terhadap Muslim di luar sektenya. Lebih-lebih, terkadang ayat yang mereka kutip adalah sama, namun dipahami secara berbeda, atau bahkan bertolak belakang.

Demikian pula, pada masa Dinasti Umayyah yang mengutip beberapa bagian ayat Al-Qur’an, guna memproklamirkan eksistensi kekhalifahannya sebagai takdir Tuhan sebagai perlawanan terhadap kelompok oposisi yang tidak sepakat dengan kekhalifahannya. Hal ini kemudian menandai lahirnya faham fatalism (jabariyah) dalam Islam.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pembacaan Atomistik?

Jika ditilik melalui kacamata penafsiran, sekilas terdapat sebuah "penyimpangan" dari pesan menyeluruh Al-Qur’an atas cara baca terhadap kitab suci yang seperti itu. Penyimpangan, atau cara baca seperti itulah yang kemudian dinamakan sebagai "pembacaan yang atomistik" terhadap Al-Qur’an, kendati belum ada definisi yang tegas tentang cara baca seperti itu (Ahmad Rafiq: 2006). Apapun tujuan orang dalam membaca Al-Qur’an berpotensi untuk masuk ke dalam cara baca ini. ?

Secara historis, cara baca ini, sebagian besarnya, lahir dari kepentingan-kepentingan, baik perorangan maupun kelompok. Kepentingan tersebut, tentu saja akan berubah dan berbeda seiring perubahan waktu dan tempat.?

Sementara secara teoritis, pembacaan yang atomistik terhadap Al-Qur’an ini telah melupakan dua elemen inheren dalam penafsiran Al-Qur’an, yakni konteks dan hubungan internal Al-Qur’an.?

Pada masa turunnya Al-Qur’an, para sahabat akan menanyakan kepada Nabi tentang pengertian setiap ayat yang diturunkan. Sementara itu, Nabi terkadang menunda jawabannya untuk menunggu turunnya ayat yang baru sebagai penjelasan atas pertanyaan tersebut.?

Usaha para sahabat untuk melakukan penelusuran makna ayat dengan keadaan yang mereka hadapi itu membentuk konteks eksternal ayat, sementara tanggapan Nabi terhadap usaha tersebut dengan menggunakan ayat lain menunjukkan hubungan internal ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Kedua bagian ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk memahami Al-Qur’an secara utuh. ?

Kendati demikian, penyimpangan tersebut secara faktual masih eksis hingga kini. Seorang pemikir kontemporer, Farid Esack, menggambarkan suasana masa kecilnya di Afrika. Orang-orang memperlakukan Al-Qur’an dengan sangat luar biasa.?

Sebagian besar waktunya, di Madrasah, kata Esack, setiap hari dihabiskan untuk membaca Al-Qur’an. Selama di perjalanan berangkat dan pulang sekolah, mereka harus mengusung Al-Qur’an di atas kepala, dan di rumah harus diletakkan di tempat yang bersih dan terhormat. ?

Bagi Esack, semua itu melambangkan sebuah upaya apresiasi yang luar biasa terhadap Al-Qur’an, baik sebagai kitab suci, atau sekedar naskah. Apresiasi itu juga diungkapkan dengan cara berbeda sampai saat ini. Orang-orang membacakan potongan-potongan tertentu ayat Al-Qur’an, tanpa perlu memahami maknanya, untuk melindungi diri dari sesuatu yang dianggap berbahaya.?

Esack juga menemukan fenomena di Dubai, di mana ayat-ayat atau surah tertentu sering ditemukan tergantung di dinding dengan alasan yang bermacam-macam: untuk menjaga dari pencurian, sakit, keuntungan dalam usaha, atau bahkan untuk mendatangkan "cahaya" ke dalam rumah. Di Indonesia, pola serupa, dengan cara yang berbeda juga sering kita jumpai.?

Fenomena di atas, baik berupa "penyimpangan" maupun fungsi, akan selalu eksis selama Al-Qur’an masih ada dan kehidupan manusia dengan berbagai kebutuhannya terus berjalan. Menghadapi hal tersebut, maka menjadi tanggung jawab umat Islam secara umum, dan sarjana Muslim khususnya untuk meluruskan penyimpangan yang ada, dengan tanpa menghilangkan fungsi positifnya.?

Penulis adalah Kepala Litbang Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Se-Indonesia (FKMTHI), Santri Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, AlaSantri, Berita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Suasana halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang Jawa Timur ramai oleh banyak tokoh. Tenda berukuran besar menutup pintu halaman depan kantor pesantren. Sejumlah tokoh penting di Jawa Timur berkenan hadir memadati area Muskerwil.

Tokoh yang tampak hadir pada pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pertama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur masa khidmat 2013-2018 di kursi depan, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua), Gubernur Jatim H Soekarwo beserta wakilnya, Saifullah Yusuf.

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh

Sementara jajaran pimpinan PPBU yang tampak hadir Ketua Majlis Pegasuh KH Hasib Wahab Chasbullah, KH Ketua Umum Yayasan M Irfan Sholeh,? Bupati Jombang Ec Nyono Suharli Wihandoko bersama wakilnya, Hj Mundjidah Wahab.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kecuali itu, sejumah pejabat di tingkat provinsi berkenan datang memenuhi undangan Muskerwil di samping sejumlah kiai dan tokoh cabang NU di tingkatan kota dan kabupaten se-Jawa Timur.

Sebenarnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan hadir. “Namun ia tengah menyiapkan acara penyambutan tamu dari Jordania yang akan berkunjung ke PBNU,” tandas Ketua PBNU Saifullah Yusuf, Selasa (25/2).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pembukaan Muskerwil berlangsung di tengah hujan cukup lebat sejak menjelang Magrib. Bahkan sejumlah pintu masuk sempat tergenang air. Rombongan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur juga harus disambut dengan payung menuju dalem kasepuhan.

“Hujan diluar perkiraan,” kata Ketua PC Fatayat NU Jombang Ema Ummiyyatul Chusnah. Ning Ema rela menunggu undangan sembari membawa payung. Pakaian sejumlah kiai dan gus di PPBU juga terlihat basah lantaran harus terlibat dalam mengatur jalan menuju dalem kasepuhan.

“Semua pimpinan daerah dan kiai diterima di sini,” tandas dr H Edy Labib Patriadin.

Namun saat pembukaan jam 19.30 WIB dimulai, hujan reda. Para undangan dan peserta Muskerwil memasuki ruangan utama. Sejumlah kiai dan tokoh memberikan sambutan dan pengarahan pada acara yang akan berlangsung hingga Kamis (27/2).

“Hadirnya para tokoh, kiai dan ulama serta pejabat merupakan kebanggan bagi pesantren kami,” tandas KH Hasib Wahab Chasbullah. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, Daerah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Probolinggo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Nasional, pemuda Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam “Aliansi Pemuda Tolerasi Peduli“ menggelar aksi peduli Intan Olivia, seorang anak kecil yang meninggal karena terkena bom di Kota Samarinda.

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Para pemuda ini terdiri dari Gusdurian Probolinggo, Pimpinan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Inzah Genggong, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Inzah Genggong dan Bosan (Bocah Skuteris Kraksaan).

Aksi peduli ini diisi dengan acara musikalisasi puisi, pembacaan Surat Yaasin dan tahlil bersama serta ditutup dengan mengheningkan cipta di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (16/11) malam.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Korlap Aksi Peduli Novan Fawaid mengungkapkan kegiatan ini bertujuan menanamkan jiwa toleran terhadap pemuda mengingat hari ini kita sebagai warga Negara lupa akan hakikat toleransi itu sendiri.

“Untuk solidaritas Intan Olivia, kami mengutuk keras atas kelompok yang mengatasnamakan agama yang mengakibatkan anak kecil yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa menjadi korbannya, bahkan sampai ia meninggal pun tidak ada dari mereka tahu dan bertanggungjawab,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Melalui aksi ini Novan mengharapkan para pemuda, ormas dan kelompok apapun untuk selalu meningkatkan dan menanamkan jiwa toleransi. “Hal ini penting agar setiap pemuda bisa saling menghargai dan menghormati demi terwujudkan daerah yang aman dan konsusif,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita, Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Chalwani Ingatkan Nahdliyin tentang Amalan Bulan Rajab

Purworejo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rajab adalah bulan ketujuh pada kalender Hijriyah. Selain ada momentum peringatan Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW, di bulan ini juga memiliki banyak keutamaan.

Kiai Chalwani Ingatkan Nahdliyin tentang Amalan Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Chalwani Ingatkan Nahdliyin tentang Amalan Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Chalwani Ingatkan Nahdliyin tentang Amalan Bulan Rajab

Pengasuh Pesantren An-Nawawi Purworejo KH Achmad Chalwani mengingatkan kembali keutamaan bulan Rajab kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (27/3).

"Besok malam, (malam Rabu Pon) tanggal 1 Rajab/28 Maret 2017, jangan lupa untuk memperbanyak dzikir dan baqiyatus sholihat," (amalan-amalan yang kekal lagi salih, seperti membaca tahlil, tashbih, hauqalah, dll. - red) tulis Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah.

Ia juga mengungkapkan keutamaan puasa sunah di bulan Rajab jika dilaksanakan kaum muslimin.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Pertama, puasa tanggal 1 Rajab, melebur dosa selama tiga tahun; kedua, puasa tanggal 2 Rajab, melebur dosa dua tahun; ketiga, puasa tanggal 3 Rajab, melebur dosa selama satu tahun, dan; keempat, puasa satu hari di bulan Rajab selain tgl 1,2,3, melebur dosa selama satu bulan," tulis Mursyid Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah, Berjan, Purworejo.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Chalwani berharap, kepada segenap alumni khususnya dan kaum muslimin umumnya, untuk saling mengingatkan dan menyebarkan kebaikan, khususnya ? amalan-amalan dalam Islam. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hikmah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah