Jumat, 10 November 2017

Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain Duta Besar India Gurjit Singh, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Selasa (4/6) kemarin juga menerima kunjungan Duta Besar Korea Selatan Kim Young-sun di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. 

Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia

Kim Young-sun bersama rombongan disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra dan beberapa staf PBNU urusan kerjasama luar negeri.

“Dubes Korea baru pertama kali berkunjung ke PBNU. Mereka ingin tahu tentang NU khususnya, dan tentang Islam Indonesia secara umum. Ia menanyakan, kenapa Islam di Indonesia yang mayoritas bisa hidup berdampingan dengan non muslim dengan baik,” kata KH Said Aqil Siroj kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah usai pertemuan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kepada Kim Young-sun, ia menjelaskan, karakter bangsa Indonesia semenjak awal memang saling menghargai berbagai keyakinan dan kepercayaan masyarakat. Karakter ini dikembangkan oleh NU dengan prinsip tasamuh, atau toleransi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Saya jelaskan semua, kenapa Islam Indonesia bisa berdampingan dengan non muslim. Ya walaupun di sana-sini masih ada beberapa kasus, tapi jika dibandingkan dengan Timur Tengah, Indonesia masih lebih baik,” kata Kang Said.

Suasana kunjungan itu berlangsung akrab dan penuh canda tawa, terutama ketika Kim Young-sun dicecar banyak pertanyaan oleh PBNU tentang Ginseng Korea.

Dalam kunjungan itu Dubes Korea menawarkan kerjasama dengan PBNU dalam pendirian rumah sakit di Indonesia. Dubes juga mengundang secara khusus PBNU untuk datang ke kantor kedutaan dan berkunjung ke negeri ginseng.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ribuan Jamaah Banjiri Tahlilan ke-7 Kiai Teluknaga

Tangerang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sedikitnya 3000 warga memadati pekarangan pesantren Al-Hasaniyah, Rawalini, Teluknaga, Tangerang, Ahad (28/12) malam. Mereka yang terdiri dari warga, santri, dan alumni santri ini membacakan tahlil malam ke-7 untuk pengasuh pesantren Al-Hasaniyah, Abah Haji Arim.

Ribuan Jamaah Banjiri Tahlilan ke-7 Kiai Teluknaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Banjiri Tahlilan ke-7 Kiai Teluknaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Banjiri Tahlilan ke-7 Kiai Teluknaga

Salah seorang menantu Abah Arim, KH M Noer menyebutkan hadirin diperkirakan berjumlah di atas 3000 jamaah. Pasalnya keluarga mengeluarkan lebih dari 3000 paket bingkisan fidyah dan shadaqah. Itu pun masih banyak yang tidak memperoleh.

“Sebab itu, kami atas nama keluarga memohon maaf atas kurangnya persiapan kami,” kata Kiai Noer.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara KH A Sujai dalam sambutanya, memohon doa dari para jamaah, “Agar kami dan keluarga bisa meneruskan sejarah perjuangan Abah Arim mengingat ia sebagai sosok yang istiqomah mengurus dan mendidik santri.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Abah Arim, kata Kiai Suja’i, adalah sosok yang konsisten dengan ajaran ulama salafis shalih Aswaja NU.

Setelah itu, tahlilan ditutup dengan taushiyah agama yang disampaikan KH Ahya Ansori. Tampak hadir dalam tahlilan ini Mustasyar NU Kota Tangerang KH A Basyir Nasuhi, Rais Syuriyah PCNU Kota Tangerang KH A Syahru Wardi, Ketua STISNU Nusantara KH A Baijuri Khotib, dan para kiai di Pantura Tangerang Banten. (HM Qustulani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Doa Bersama

Rezim Orde Baru menghadapi akhir otoritarianismenya dengan mengurai dan membubarkan simpul-simpul gerakan sosial. Mereka melakukannya untuk memecah simpul gerakan sosial dengan cara diciptakannya keretakan sosial. Dengan demikian sangat mudah terjadi konflik sosial yang bersifat horizontal.?

Sejak tahun 1997 hingga 1999 terjadi banyak konflik antara kelompok dan bahkan kemudian konflik antaragama. Seringkali konflik ini tidak disadari oleh masyarakat di sekitar tempat itu sendiri, bahkan seringkali para pelakunya juga tidak sadar bahwa dirinya bisa bertindak brutal, misalnya melakukan pembakaran tempat ibadah, merusak pertokoan, rumah dan sebagainya. Padahal selama ini mereka saling hidup rukun, saling bantu membantu, tetapi tiba-tiba digiring pada konflik yang tidak mereka kehendaki.

Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama

Berbagai pengalaman konflik yang memakan banyak korban fisik dan psikologis itu mulai mereka sadari bahwa konflik tersebut tidak semata karena adanya ketegangan antarkelompok atau antaragama, melainkan adanya pihak luar yang mengadu domba.

Sering kali konflik terjadi setelah masuknya orang tertentu dari luar yang mengobarkan permusuhan. Atau sekelompok orang dari luar yang melakukan serangan terhadap suatu kelompok, sementara orang yang ada sekitar tempat tersebut hanya bisa menonton atau sebagian terprovokasi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pada awalnya, kejadian demi kejadian semacam itu memunculkan kecurigaan antarkelompok dan antaraagama, sehingga bisa mengarah pada konflik horizontal yang lebih luas. Adanya konflik horizontal itulah yang dikehendaki para pembuat skenario kerusuhan tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tujuannya, agar mereka tidak melakukan konflik yang sifatnya vertikal, yakni melawan pemerintah orde baru yang sudah mulai goyah dan kehilangan legitimasi.

Untuk menepis rasa saling curiga di kalangan masyarakat dan antar agama dan sebagai usaha untuk merajut kohesifitas sosial, maka para kiai NU yang dipimpin oleh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid mengadakan acara do’a bersama.?

Doa bersama ini dihadiri oleh wakil dari masing-masing agama, mulai dari Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu bahkan beberapa agama lokal seperti Kaharingan, Sunda Wiwitan dan sebagainya. Dengan adanya forum ini, kelompok minoritas merasa terlindungi oleh kelompok mayoritas Islam, yaitu NU, sehingga kelompok ini mendapatkan jaminan keamanan dengan demikian konflik bisa dihindari dan kesatuan Negara bisa dipertahankan.

Doa bersama yang dimulai di level pimpinan PBNU, kemudian dikembangkan di berbagai daerah. Kelompok Islam puritan Islam sangat mengutuk tindakan ini karena dianggap sebagai bentuk kemusyrikan yang mencampurdukkan antar kepercayaan agama.?

Tetapi sebagai kelompok Islam terbesar NU menganjurkan tindakan ini, demi menciptakan kerukunan bersama. Para ulama NU menempatkan ini sebagai forum kerukunan sosial, bukan pelaksanaan ritual agama, karena mereka berkumpul dan berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing.?

Sejak saat itu ? kalangan antaragama mulai terbiasa menjalankan doa bersama, yang selama ini dianggap tabu atau minimal sama-sama merasa risi, tetapi sejak saat itu telah menjadi kebiasaan, tanpa harus merasa terintimidasi dan merasa tercemari keyakinan agama mereka. (Abdul Mun’im DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pahlawan, Hikmah, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Peci Hitam Simbol PKD PMII Komfisip

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Para peserta putra Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Komfisip) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengenakan peci hitam. 

Peci Hitam Simbol PKD PMII Komfisip (Sumber Gambar : Nu Online)
Peci Hitam Simbol PKD PMII Komfisip (Sumber Gambar : Nu Online)

Peci Hitam Simbol PKD PMII Komfisip

Kegiatan kaderisasi organisasi mahasiswa NU yang diikuti 24 mahasiswa dan mahasiswi tersebut diadakan di Pesantren LBSM Parung, Bogor, Jawa barat pada tanggal 10-13 Oktober 2013. 

“Kami disuruh pakai peci hitam oleh instruktur PKD sebagai simbol Islam Indonesia dan juga sebagai simbol kepemimpinan nasional,” ujar Muhammad Sulton kepada kontributor NU di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada Jumat (18/10).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Samsul Anwar, salah seorang panitia PKD mengatakan, dalam pelatihan tersebut ada 10 materi yang diberikan, serta games-games yang mengandung filosofi tentang kepemimpinan. “Selain diberikan materi-materi seminar, kegiatan PKD ini juga memunculkan games outbound yang mengandung filosofi, jadi games juga termasuk materi dalam PKD,” katanya.

Selain itu, dia menambahkan, juga ada kegiatan kultum Subuh, tahlilan, wiridan, shalawatan serta khataman Al-Qur’an.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih jauh ia menjelaskan, posisi FISIP sebagai fakultas umum di UIN Syarif Hidayatullah, membuat para pengurus Komisariat PMII FISIP lebih mengedepankan nilai-nilai tradisi Nahdliyin, “Dikarenakan merebaknya Islam garis keras yang sering menjadikan fakultas umum sebagai target sasaran dalam perekrutan,” jelasnya.

Turut hadir dalam PKD ini mantan Ketua Umum Pengurus Besar PMII Hery Herianto Azumi sebagai narasumber dalam materi Pradigma PMII. (Adriansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Warta, Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ada Pihak Berkepentingan di Balik Konflik Bernuansa Agama

Bandung, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Konflik bernuansa agama yang belakangan pecah di Indonesia selain disebabkan sempitnya wawasan si pemeluk dan kurangnya sikap toleransi di masyarakat, juga lantaran ada pihak yang berkepentingan dengan konflik itu.

Ada Pihak Berkepentingan di Balik Konflik Bernuansa Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Pihak Berkepentingan di Balik Konflik Bernuansa Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Pihak Berkepentingan di Balik Konflik Bernuansa Agama

Demikian kata Sekretaris PWNU Imron Rosyadi dalam diskusi kebangsaan bertajuk "Membincang Kembali Toleransi Beragama" di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidak hanya itu, kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi, juga diduga menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik agama di Indonesia. Pemicu lain adalah timbulnya kecurigaan masing-masing pemeluk agama dan kejujuran pihak lain baik internal umat beragama maupun antar umat beragama.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Toleransi sudah diajarkan oleh Rasulullah hingga ada perang yang dikarenakan pihak ketiga yaitu kafir Quraisy," katanya, Kamis (19/11).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, toleransi telah dicontohkan dengan baik oleh Wali Songo melalui pilihan untuk menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Dalam konteks Indonesia, toleransi itu kemudian rusak oleh sekelompok orang pengganggu.

Para pengganggu ini tiada lain adalah para pemilik kepentingan. "Adanya ISIS juga bukan karena agama, melainkan kepentingan. Kepentingan materi saja.  Kalau tidak pakai agama tidak laku dagangannya," ujarnya.

Dialog agama pada hakikatnya  adalah suatu percakapan  bebas, terus terang, dan bertanggung jawab, yang didasari oleh saling pengertian dalam menanggulangi masalah kehidupan bangsa,baik material maupun spiritual.

Kegiatan ini diadakan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar selalu merawat harmoni hubungan antarumat beragama dan berkeyakinan bahwa Pancasila sebagai ideologi negara harus dijaga.  

Hadir dalam forum ini Engkos Kosasih (Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan) dan Rosihon Anwar (Dekan Fakultas Ushuluddin). Sebagai pembicara hadir Abdul Syukur (antropolog dari UIN SGD Bandung) dan  Miftah Fauzi Rakhmat (kepala sekolah Muthahhari Bandung dan anggota Dewan Syuro IJABI).

Diskusi Kebangsaan yang dilaksanakan di gedung Multi Puspase ini dihadiri oleh sekitar 300 peserta, dari mahasiswa UIN Bandung sendiri maupun undangan dari luar kampus. (Ahmad Damar Samana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PMII Sukoharjo Ajak Masyarakat Hargai Perbedaan

Sukoharjo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah mengajak seluruh masyarakat untuk hidup berdampingan dalam perbedaan. Hala itu mengemuka pada seminar yang digelar Sabtu (4/1).

Seminar bertema “Merayakan Keberagaman; Keberagaman Sebagai Upaya Membangun Budaya Demokrasi” tersebut diselenggarakan dalam rangka pelantikan pengurus PMII Sukoharjo masa khidmat 2013-2014.

PMII Sukoharjo Ajak Masyarakat Hargai Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sukoharjo Ajak Masyarakat Hargai Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sukoharjo Ajak Masyarakat Hargai Perbedaan

Ketua PMII Sukoharjo, Wahid Anderiyanto, yang menajdi salah satu narasumber dalam seminar tersebut mengatakan bahwa masyarakat banyak yang belum sadar akan perbedaan yang ada.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ada tawuran antara suporter bola Solo dan Yogya. Ini menunjukkan contoh kecil bahwa masyarakat masih belum bisa menerima perbedaan yang bahkan dalam sekup yang kecil,” ujarnya.

Untuk itu, dalam kesempatan tersebut pihaknya mengajak kepada seluruh masyarakat, untuk bisa bijak dalam menghadapi perbedaan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Tidak saling menyalahkan. Khususnya di tahun 2014 yang disebut sebagai tahun politik ini, perbedaan yang ada hendaknya kita bingkai disatukan dengan Bhineka Tunggal Ika,” tutur Wahid.

Wahid menambahkan, nilai toleran yang terkandung dalam ajaran Aswaja juga dinilai dapat menjadi dasar bagi para kader PMII untuk lebih menghargai perbedaan. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Ujung Tombak, Tembak, dan Tombok

Mojokerto, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Kongres Kedua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) mengalami beberapa kali hambatan. Kongres ini kemudian terselenggara akhir Oktober di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10). Ada beberapa alasan kenapa kongres yang seharusnya diadakan di awal tahun.

Ketua Panitia H Gatot Suyono menjelaskan, di bulan Januari semua guru sibuk dengan even porseni anak didiknya. Pada pertengahan tahun para guru juga disibukkan dengan ujian nasional.

Kiai Ujung Tombak, Tembak, dan Tombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ujung Tombak, Tembak, dan Tombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ujung Tombak, Tembak, dan Tombok

Sedangkan di bulan Juni ada kelulusan yang tentunya menyita tenaga para guru. Di bulan Juli-September sumber daya difokuskan pada pembangunan Institut KH Abdul Chalim yang saat ini menjadi lokasi Kongres II Pergunu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Terima kasih saya ucapkan kepada semua Pengurus Pusat Pergunu, terutama Ketua Umum yang telah mendedikasikan waktu, tenaga serta pikirannya untuk Pergunu," kata Sekretaris Umum PP Pergunu ini.

KH Asep Saifuddin Chalim, menurut ketua panitia, adalah seorang kiai dan juga ketua umum yang menjadi ujung tombak, tembak, dan ujung tombok Pergunu. Ujung tombak karena kiai kelahiran Majalengka ini selalu berada di garda terdepan. Ujung tembak karena Kiai Asep selalu menunjukkan dedikasinya kepada Pergunu.

"Yang terakhir beliau juga sebagai ujung tombok dalam setiap acara Pergunu, termaksud Kongres II Pergunu," kata Gatot disambut tepuk tangan para peserta. (Rof Maulana/Alhafiz K)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Ubudiyah, Hadits PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah