Kamis, 09 November 2017

Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA

Pasuruan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selama dua hari yakni sejak 23 hingga 24 Januari 2016, pimpinan, staf dan karyawan PT Aula Media Nahdlatul Ulama melangsungkan kegiatan SWOT atau perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) di Finna Golf and Country Club Resort Pandaan Pasuruan, Jawa Timur. Acara ini sebagai wahana untuk melakukan evaluasi terhadap kiprah majalah AULA dan AULEEA sebelumnya, sekaligus proyeksi yang akan direngkuh untuk tahun mendatang.

Pada sambutan di acara pembukaan, H Arif Affandi selaku Pemimpin Umum media ini mengemukakan bahwa kekurangan yang harus segera ditutupi oleh NU adalah menjalankan usaha secara profesional. "Kegiatan selama dua hari ini hendaknya diikuti secara serius untuk membahas berbagai hal demi perkembangan Majalah AULA dan AULEEA di masa mendatang," kata mantan Wakil Walikota Surabaya ini. Arif, lanjutnya, juga mengingatkan bahwa segala hal yang selama ini terjadi dalam keseharian di kantor dan lapangan hendaknya dapat didiskusikan demi menemukan formula terbaik bagi perkembangan media.

Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA

Ketua PW Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur ini mengemukakan bahwa kesempatan mengikuti acara hendaknya dapat dioptimalkan untuk mencari tahu bagaimana mengelola media secara baik dan profesional.

Karena media kita sudah berbentuk Perseroan Terbatas atau PT, tambahnya, maka tidak ada pilihan lain bagi seluruh pimpinan dan karyawan untuk menjadikannya sebagai sarana bisnis. Ukuran bagi kelayakan bisnis adalah dikelola secara baik dan menguntungkan. Kendati demikian, bisnis yang diinginkan adalah bukan semata mencari keuntungan, namun juga membawa visi besar NU sebagai penyebar Islam rahmatan lilalamin.

Mantan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Jawa Pos ini kemudian memaparkan sejumlah fakta bahwa semakin banyak warga NU yang telah sukses menjadi profesional dengan berbagai usaha yang digeluti. "Oleh sebab itu, frame dalam pengelolaan media ini sangatlah jelas yakni harus profesional dan berorientasi bisnis," tegasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saling berbagi kritik dan masukan

Di hari pertama, yakni usai shalat Ashar berjamaah, setiap divisi diberikan kesempatan memberikan gambaran kondisi yang dialami. Demikian pula kendala yang dihadapi sembari menyampaikan proyeksi yang diharapkan pada tahun 2016.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pada sesi pertama tampil Muhamad Jamil bersama Subhan dan serta Ahmad. Devisi periklanan ini memaparkan sejumlah perolehan iklan di Majalah AULA maupun AULEEA tahun 2015 sebagai penyumbang pendanaan media disamping oplah dan sejumlah ivent. "Kami berharap, ada sinergi antara semua pihak untuk mendongkrak iklan yang masuk di media kita," kata Abah Jamil, sapaan akrabnya. Karena berdasarkan evaluasi iklan yang masuk selama ini adalah buah kerjasama yang terjadi bagi semua pihak. "Baik di redaksi maupun kawan yang berada di devisi lain," katanya.

Saat sesi tanya tawab, catatan kritis diberikan terkait dengan prosedur mendapatkan iklan, materi iklan yang masuk serta eksekusi dalam penagihan. "Mohon ada koordinasi yang lebih intensif pihak yang memperoleh iklan dengan bagian tata letak sehingga tidak ada materi iklan yang terlewatkan," kata Johan dari bagian tata letak.

Demikian pula pihak iklan mendapat masukan untuk membuat jadwal waktu yang dapat dioptimalkan untuk mendapatkan tambahan iklan. "Seperti Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, serta hari besar lain yang bisa dimaksimalkan untuk memperoleh iklan dari berbagai pihak," kata Afif Amrullah.

Bapak Arif Affandi juga mengingatkan bahwa bila terdapat iklan partai politik, hendaknya dapat dicarikan perimbangan dari partai berbeda. "Agar tidak ada kesan bahwa majalah kita hanya dikuasai partai politik tertentu," pesannya. Pak Arif kemudian menceritakan saat pelaksanaan Pemilihan Presiden RI, yang mana akhirnya media ini berhasil mendapat iklan dari masing-masing kontestan Pilpres.

Usai devisi iklan memberikan paparan, giliran berikutnya adalah pemasaran. Karena bagian ini sebagai ujung tombak distribusi media hingga ke pelanggan dan agen, maka diskusinya lumayan panjang karena banyak masukan demi perbaikan layanan.

Baik Ibu Riamah (AULEEA) maupun Iwan Setiono (AULA) memberikan ? paparan seputar perkembangan media ini sejak tahun lalu dan perkiraan capaian untuk tahun berikutnya. Sejumlah ikhtiar disampaikan oleh keduanya dalam upaya meningkatkan image media di mata masyarakat. Dari mulai menyelenggarakan ivent yang bekerjasama dengan sponsor, bergabung dengan para loper koran, agen majalah hingga terobosan lain yang dapat saling menguntungkan.

"Meskipun secara usia, Aula telah berumur lumayan lanjut, namun untuk pasar di sejumlah kota ternyata masih kurangmenggembirakan," kata Iwan Setiono. Karenanya, sejumlah terobosan harus dilakukan dalam rangka membangun image sebagai majalah kebanggaan dari NU yang juga diakui berbagai kalangan.

Hal yang sama juga dilakukan AULEEA yang memasuki satu setengah tahun. "Perlu kerja keras agar majalah life style muslimah ini dapat diterima pasar dengan baik," kata Ibu Riamah. Dan sejumlah perusahaan tidak serta merta berkenan memberikan support terhadap media cetak ini. Ada juga beberapa perusahaan yang justru lebih tertarik menyelenggarakan kegiatan bersama karena pertimbangan produknya dapat langsung dikenal konsumen.

Banyak masukan yang disampaikan peserta terkait pengembangan majalah di masa depan, khususnya kerjasama dengan sejumlah lembaga atau kepengurusan struktural NU. Bahkan bila memang dibutuhkan, akan diupayakan terbitnya surat himbauan kepada kepengurusan NU di seluruh wilayah di tanah air. "Surat tersebut bisa diupayakan oleh PBNU," kata Muhammad Rofii Boenawi.

Keharmonisan kerja dan koordinasi turut mendapat sorotan dalam upaya mengembangkan majalah. "Keluhan dari pelanggan hendaknya dapat direspon dengan cepat, serta dicarikan solusinya," kata Yudi Arianto. Seperti keterlambatan majalah ke tangan agen dan pelanggan, adanya petugas pemasaran saat pagi serta hari Sabtu dan keluhan lain.

Yang tidak kalah menarik adalah ketika Riadi Ngasiran (AULA) dan Hikmah Bafaqih (AULEEA) memberikan laporan terkait perkembangan majalah di pasaran dari sisi muatan atau isi yang selama ini diangkat menjadi bahasan.

"Tema-tema yang diangkat di Majalah AULA cukup merespons kecenderungan pasar dengan tetap dalam bingkai Islam rahmatan lilalamin," kata Riadi Ngasiran, yang juga pemimpin redaksi.

Dan yang cukup fenomenal adalah rencana majalah yang terbit sejak tahun 1978 ini untuk melakukan tour Sumatera dalam rangkaian menggali Islam Nusantara. "Itu merupakan obsesi redaksi dalam menyambut 40 tahun majalah kita," kata Riadi. Ia juga menandaskan bahwa rencana tersebut sebagai upaya mengenalkan dan mengembangkan media agar semakin dikenal masyarakat luar, khususnya di luar Jawa, lanjutnya.

Upaya untuk menggebrak pasar turut dilakukan Majalah AULEEA. Hikmah Bafaqih selaku pemimpin redaksi kemudian menyampaikan fakta bahwa media yang dipimpinnya harus bersaing dengan majalah serupa yang sudah menasional. "Fakta bahwa AULEEA harus bersaing dengan media yang lebih lama eksis tentu membutuhkan strategi khususnya dari sisi konten," kata Ketua PW Fatayat NU Jatim tersebut.

Sepakat menjawab tantangan

Beberapa masukan yang disampaikan peserta SWOT telah diinventarisir untuk menjadi program bersama di tahun 2016 ini. Upaya mengejar banyaknya pelanggan yang di dalamnya diisi dengan penguatan sumber daya manusia dan kelengkapan pendukung telah menjadi pekerjaan bersama.

"Saya senang karena seluruh peserta antusias mengikuti kegiatan ini," kata Arif Afandi. Ia juga optimis bahwa baik AULA maupun AULEEA akan menjadi salah satu media yang berkembang lebih pesat di masa mendatang. Apalagi jumah warga NU mencapai angka jutaan orang. "Ini pangsa potensial yang harus digarap serius," pesan Arif.

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Utama PT AULA Media Nahdlatul Ulama, H Ichwan Siswadi. "Prinsipnya, kami akan memberikan support bagi kebutuhan operasional seluruh kru demi meingkatkan oplah dan pemasukan untuk majalah," kata Abah Ichwan, sapaan akrabnya. Demikian pula, Wakil Bendahara PWNU Jatim ini akan terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan bagi karyawan. Karena pemilik saham dari media ini adalah para karyawan sendiri, lanjutnya.

Demikianlah komitmen seluruh pihak yang terhimpun dalam media kebangaan NU Jatim ini. Kebersamaan yang telah terjalin selama dua hari menjadi modal bagi kemajuan media di masa mendatang. Tantangan media cetak memang tidak ringan, seiring dengan penetrasi media online dan elektronik lainnya. Tidak sedikit media cetak baik Koran maupun majalah yang dulunya beroplah besar dan menjadi referensi sejumlah kalangan akhirnya tumbang lantaran tidak bisa bersaing dengan baik.

Caruk pembaca dan potensi iklan bagi Majalah AULA dan AULEEA sebenarnya masih sangat besar. Jutaan warga NU yang tersebar di sejulah kawasan yang ditopang dengan kian meningkatnya taraf hidup masyarakat serta kemunculan reading society, menjadi salah satu alasan optimisme menejemen media ini dalam menghadapi tantangan. Hal ini tentu saja harus dijawab dengan profesionalitas di semua lini baik redaksi, pemasaran, iklan serta perusahaan secara umum. Mampukah? Semoga. (Ibnu Nawawi/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Meme Islam, Sejarah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 08 November 2017

Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus

Kudus, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selepas maghrib Selasa (5/5) tim Ekpedisi Islam Nusantara sampai di kota kretek, Kudus, Jawa Tengah. Tim langsung menuju makam pemuka agama Islam di kota tersebut, Sunan Kudus. Di situ mereka turut memperingati 100 tahun Madrasah Qudsyiyah yang didirikan KH Asnawi, salah seorang pendiri NU.

Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus

Sesampai di madrasah tersebut, tim ekpedisi diminta panitia untuk mengenakan ikat kepala batik corak hitam, kuning dan putih. Dominasi warnanya ada yang kuning dan hitam. Tapi mesti ada putihnya.  

Kemudian mereka diajak ke kompleks makam Sunan Kudus. Di situ telah berkumpul orang-orang yang berikat batik juga. Tapi mereka berbaju putih berlengan panjang dan bersarung batik.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tim penulis, fotografi, dan video menyebar ke berbagai sudut dengan benteng-benteng berlapis. Benteng yang terbuat bata merah setinggi dua meter dengan tebal sekitar 30-40 cm. Kemudian mereka duduk bersama jamaah.

Dari pengeras terdengar bacaan Al-Quran diikuti gemeremang jamaah lain yang tak kurang 500-600 orang. Mereka akan mengkhatamkan Al-Quran 100 kali yang diselesaikan 6 orang. Kemudian surat Al-Ikhlas 100 ribu kali.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di salah satu bangunan, yang beratap sirap jati, beberapa orang mulai meletakkan nampan. Nampan kaleng tersebut dialasi daun pisang muda. Di atasnya diletakkan nasi putih. Di atas nasi tersebut kemudian dialasi kembali dengan daun pisang muda. Di atasnya terdiri ayam kampung utuh yang telah dimasak, acar, kereng atau tahu digoreng berkuah, kuah untuk ayam,

Ayam utuh dari kepala sampai kaki tersebut dinamakan ingkung. Cara memasaknya dikukus terlebih dahulu, kemudian dibakar. Sementara jeroannya tergantung selera, ada yang dibuang ada yang dibiarkan. Dan mesti ayam kampung. Bukan ayam ras gemuk yang pada masa hidupnya susah bergerak dan bertulang rapuh.

Konon, kata Ketua Yayasan Madrasah Qudsyiyah KH Najib Hasan, itu makanan favorit Sunan Kudus, Syekh Ja’far Shodiq, ulama yang menamakan kota tersebut sebagai Kudus yang berarti suci.  

Sampai pukul 22.16 ingkung tersebut masih berbaris rapi di tempatnya. Mereka tak bergerak dan digerakkan sama sekali di tempat Sunan Kudus menerima tamu, tempat yang mungkin sekali dia menikmati ingkung ratusan tahun lalu.

Tim Ekspedisi Nusantara yang diganjal perutnya terakhir kali siang di Demak, mulai menggeliat-geliat. Tapi belum ada tanda-tanda mencurigakan ingkung untuk bisa diganyang.

Malah kemudian pukul 22.58, di pengeras suara mulai ada bacaan-bacaan berbahasa Arab. Surat Ath-Thin sampai An-Nas dibacakan dengan langgam lambat-lambat sehingga hak-hak huruf berdasarkan tajwid, terpenuhi dengan pas. Kemudian berdoa. Doa yang panjang sampai jarum panjang melampaui angka 12.  

Selepas assalamu’alaikum pembaca doa, barulah kemudian ingkung itu boleh diganyang. Berdasarkan intruksi pengeras suara, satu nampan harus dimakan 6 orang. Sesekali, cobalah menikmati ingkung Kudus.  Tak perlu menunggu bosan ayam Mc Donald dan KFC. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan, Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Forum Konferensi Amanahkan KH Atam dan KH Abun Pimpin NU Tasik

Tasikmalaya, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya menggelar konferensi cabang NU di Cipasung, Kamis-Jumat (29-30/12). Setelah melalui beberapa rangkaian akhirnya Konfercab XVI mengamanahkan KH Atam Rustam sebagai Ketua Tanfidziyah dan KH Abun Bunyamin Ruhiyat Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya periode 2016-2021.

KH Atam Rustam terpilih sebagai ketua dalam pemilihan langsung di putaran kedua. Kiai asal Sukamanah ini terima amanah forum konferensi untuk memimpin PCNU Kabupaten Tasikmalaya periode 2016-2021.

Forum Konferensi Amanahkan KH Atam dan KH Abun Pimpin NU Tasik (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Konferensi Amanahkan KH Atam dan KH Abun Pimpin NU Tasik (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Konferensi Amanahkan KH Atam dan KH Abun Pimpin NU Tasik

Cucu pahlawan nasional KH Zainal Musthafa Sukamanah ini bertekad melaksanakan aqidah, syariah, dan akhlaq Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah dari berbagai bidang secara menyeluruh dari yang terkecil sampai terbesar.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Insya Allah dengan bantuan semua pihak akan terlaksana,” kata Pengasuh Pesantren Sukamanah Kiai Atam.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelumnya tim Ahlul Halli wal Aqdi yang terdiri atas lima kiai yaitu H Abun Bunyamin Ruhiyat Cipasung, KH Anwar Nasihin Leuwisari, KH Ee Sulaeman Rajapolah, KH Abdul Mu‘in Salopa, dan KH Acep Amin Bantarkalong menggelar musyawarah terbatas.

Tim ini selanjutnya memutuskan Pimpinan Pesantren Cipasung KH Abun Bunyamin Ruhiyat sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PWNU Aceh Perkuat Aqidah Aswaja Kader Ulama

Banda Aceh, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan materi untuk memperkuat aqidah tauhid Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) pada pelatihan dan pengkaderan ulama Aceh di hotel Wisma Lambaro, Aceh Besar, Selasa (12/13).

Ketua PWNU Aceh Perkuat Aqidah Aswaja Kader Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Aceh Perkuat Aqidah Aswaja Kader Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Aceh Perkuat Aqidah Aswaja Kader Ulama

Tengku yang akrab disapa Abu Sibreh mendapatkan jadwal sebanyak 10 kali tatap muka bersama peserta.

Abu Sibreh dalam materi perdana menggambarkan asal usul aqidah tauhid Ahlussunnah wal-Jamaah serta dilema yang sedang berkembang selama ini di Aceh.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Selama in di Aceh telah banyak lahir aliran-aliran aneh yang sebelumnya belum pernah didengar dari pendahulu,” kata Abu Sibreh melalui pers rilis yang dikirim PWNU Aceh (12/11).  

Di hadapan 40 peserta, Abu Sibreh menegaskan bahwa pesoalan ini merupakan tugas kita untuk masa sekarang dalam rangka mempertahankan nilai-nilai aqidah tauhid Ahlussunnah wal Jamaah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jika hal ini di biarkan, lanjut Abu Sibreh, maka tidak mustahil ke depan, Ahlussunnah wal Jamaah akan terkikis di peredaran masyarakat Aceh nantinya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama, Kyai, AlaSantri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan

Pekalongan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Tim Anjangsana Islama Pascasarjana STAINU Jakarta tiba di kediaman ulama kharismatik asal Pekalongan KH Taufiq, Selasa (24/1) siang di Pondok Pesantren At-Taufiqy Rowokembu, Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah.

Rombongan Anjangsana tiba tepat ketika Kiai Taufiq mengadakan pengajian rutin hari Selasa untuk para ibu atau perempuan. Rombongan menelusuri jalan menuju Pesantren At-Taufiqy yang dipenuhi oleh ribuan ibu-ibu dalam posisi ndeprok membaca sholawat.

Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan

Setiap mengadakan pengajian, jamaah Kiai Taufiq memang selalu meluber hingga ke ujung jalan raya. Mereka menggelar berbagai jenis alas mulai dari koran, plastik, dan tikar mengisi halaman-halaman rumah penduduk.

Setelah pengajian selesai, rombongan Anjangsana menuju ruang penerimaan tamu di depan asrama putra Pesantren At-Taufiqy. Usai berbincang-bincang sejenak dengan pengurus pesantren, rombongan ditemui langsung oleh Kiai Taufiq.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Usai mencium tangan Kiai Taufiq, rombongan memulai diskusi dan menyimak dengan khusyu ujaran-ujaran kiai yang dinilai mempunyai banyak karomah oleh masyarakat ini.

Guru Kiai Taufiq

Kiai Taufiq berguru ke Syekh Masduqi Lasem. Syekh Masduqi sendiri murid dari Syekh Umar Hamdan Al-Mahrasi al-Makki, Syekh Abbas al-Maliki al-Makki, Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki, dan Syekh Al-Baqir.

Kiai Taufiq memberikan penjelasan Bahwa dahulu Gus Dur pernah menulis di Majalah Tempo sekiar tahun 1980-an tentang karomah dan keilmuan Islam Nusantara Syekh Yasin Al-Fadany dan Syekh Maduqie, baik pemikiran, karya manuskrip, hingga pengabdian tak terhingga untuk umat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syekh Masduqi mendapat gelar Asy-Syekh dikarenakan termasuk salah satu Ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Waktu itu sebutan Syekh dimiliki oleh 3 orang Ulama, yaitu Syekh Masduqi Al-Lasimy, Syekh Mahfudz Termas (kakak kandung Syekh Dimyati) dan Syekh Yasin Al-Fadany.

Di antara murid-murid Syekh Masduqi yaitu KH Ishomuddin (Pati), KH Salim (Madura), KH Mahrus Ali (Liriboyo, Kediri), KH Zayadi (Probolinggo), KH Abdullah Faqih (Langitan), KH Miftahul Akhyar (Surabaya), KH Jazim Nur (Pasuruan), KH Nur Rohmat (Pati), KH Zuhdi Hariri (Pekalongan), KH Taufiq (Pekalongan), KH Abdul Ghoni (Cirebon), KH Nur Rohmat (Pati), KH Abdul Mu’thi (Magelang) KH Abdulloh Schal (Bangkalan, Madura), KH Mashduqi (Cirebon) KH Makhtum (Cirebon), dan KH Syaerozi (Cirebon).

Mursyid Thariqah

Kiai Taufiq pernah mondok ke Krapyak. Sempat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Walau berhasil lulus, Kiai Taufiq tidak pernah mengambil ijazahnya. Dia membantu Mbah Ali Maksum di pondok.?

Saat ini, Kiai Taufiq dikenal sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Syekh Nadzim Al-Haqqoni dan Syekh Hisyam Kabbani selalu mengarahkan ke Kiai Taufiq atas siapa saja yang meminta ijazah thariqah.

Terkait pendidikan di Pesantren At-Taufiqy, Kiai Taufiq konsisten dengan pendidikan salaf. Dia juga mendorong agar santri menguasai berbagai bidang keterampilan, selain selalu menjaga kebersihan dan kedisiplinan.

Saat tiba kesempatan rombongan Anjangsana menilik pesantren, Kiai Taufiq menerangkan bahwa arsitektur bangunan pondok dikreasi dan dibangun sendiri oleh santri. Mereka memanfaatkan material tradisional yangikonstruksi secara menarik, unik, dan bersih. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

10 Karya Terbaik Masuk Final Kompetisi Esai NU Online

Jakarta, Online

Panitia kompetisi Esai dan Multimedia PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyeleksi 10 karya terbaik dari 530 peserta yang mengikuti ajang tersebut. Saat ini dewan juri sedang merampungkan penilaian akhir atas 10 karya yang nantinya akan memperebutkan hadiah utama 5 juta rupiah.

Koordinator panitia lomba Muhammad Yunus menjelaskan, seluruh esai tersebut diseleksi secara bertahap oleh para dewan juri yang kompeten di bidangnya.?

“Dari 530 dieliminir menjadi 100 besar, kemudian diseleksi lagi menjadi 50 besar, lalu 20 besar hingga terakhir 10 besar,” terang Yunus.

10 Karya Terbaik Masuk Final Kompetisi Esai NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Karya Terbaik Masuk Final Kompetisi Esai NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Karya Terbaik Masuk Final Kompetisi Esai NU Online

Tahap 10 besar, imbuhnya, menjadi proses seleksi terakhir untuk memilih 3 juara inti dan 3 juara harapan. Para juara tersebut dipastikan merupakan karya terbaik dari 530 peserta dari seluruh Indonesia.

Berikut ini 10 karya terbaik yang masuk putaran final kompetisi esai NU:

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

1. Tondano, di Antara Toleransi dan Keberagaman (Geril Dwira/Gorontalo)

2. Ngaji Toleransi di Kaki Bukit Watu Payung (Ahmad Syarif Yahya/Rembang)

3. Tahlilan sebagai Tradisi Keagamaan dan Strategi Budaya dalam Perdamaian Warga (Siswanto/Boyolali)

4. Negara Kesatuan sebagai Hasil Ijtihad Kebangsaan (Rifqi Qowiyul Iman/Lampung)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

5. Puisi Perdamaian dari Sang Nyai (Ngarjito Ardi Setyanto/Yogyakarta)

6. Belajar Islam Damai dari Jarumahot Nasution (Irman Marzuki Siregar)

7. Teologi Hukum dan Masa Depan Toleransi Iman (M. Fauzi Sukri/Surakarta)

8. Islam Tak Lagi Mendamaikan (Dwi Supriyadi/Boyolali)

9. Islam Harmonis: dari NU bagi Demokrasi Indonesia (Nurul Maisyal/Batang)

10. ? Kebhinnekaan dalam Mewujudkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Biak-Papua (Hilmi Fauzy/Jakarta)

Panitia akan pengumuman pemenang pada Ahad, 5 Februari 2017 melalui situs PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Fatoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News, Santri, AlaSantri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PBNU: Kalau Pengusaha NU Didukung, Mereka Langsung Tancap Gas

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengatakan, Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) adalah usaha yang dilakukan PBNU untuk mengkonsolidasikan di antara warga NU yang menjadi pengusaha.?

Di dalam sejarahnya, cerita Kiai Said, sebelum para kiai pesantren mendirikan NU, mereka mendirikan organisasi pedagang. ?

PBNU: Kalau Pengusaha NU Didukung, Mereka Langsung Tancap Gas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kalau Pengusaha NU Didukung, Mereka Langsung Tancap Gas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Kalau Pengusaha NU Didukung, Mereka Langsung Tancap Gas

“Tahun 1914 itu melihat sebelah sana sudah ada Syarikat Dagang Islam, maka Kiai Wahab membikin Nahdlatut Tujjar, kebangkitan para pedagang santri. Ketuanya Haji Hasan Gippo” urainya saat menyampaikan sambutan dalam acara Sarasehan Pengembangan Ekonomi Umat dan Kemaritiman Indonesia yang diselenggarakan HPN dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Jakarta, Kamis (6/4).?

Ia menilai, upaya yang dilakukan HPN ini sangat baik sekali. Ia berharap, acara ini bukan hanya sebatas pada wacana dan ide saja, tetapi bisa diterapkan dan dilakukan. “Mudah-mudahan upaya ini nyata. Bukan hanya seminar, tapi langsung action,” jelasnya.?

Seandainya para pengusaha Nahdliyin itu didukung pemerintah, lanjutnya, maka mereka akan cepat berkembang. “Kalau didukung dan dipermudah (pemerintah), insyallah para pengusaha NU ini akan langsung tancap gas,” tuturnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih jauh, ia mengatakan, NU tidak anti dengan para anti kongomerat. Justru ia mengajak untuk bersyukur jika Indonesia memiliki banyak konglomerat. “Tetapi konglomerat juga harus berupaya membesarkan kelas menengah. Yang kelas menengah mengangkat kelas yang kecil,” ucapnya.

Ia berharap, acara ini harus memiliki tindak lanjut, bukan hanya selesai di ruang diskusi saja. “Nanti harus ada upaya tindak lanjut,” tukasnya.?

Acara ini dihadiri dua ratus pengusaha Nahdlyin yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPI) yang datang dari sepuluh provinsi. Mereka adalah pengusaha dari berbagai macam sektor, mulai dari pengusaha properti, koperasi, pembangkit tenaga surya, dan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah