Minggu, 29 Oktober 2017

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai

Oleh Ali Romdhoni

Pada pertengahan Januari 2016 lalu saya mengunjungi perpustakaan di Gedung Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jalan Kramat Jakarta Pusat. Oleh pengelola, saya ditunjukkan koleksi berupa literature tua karya ulama-ulama Nusantara tahun 1600 hingga 1800-an. Terdapat tidak kurang dari 21 judul kitab.

Uniknya, kitab-kitab—yang semuanya ditulis dengan bahasa Melayu dan sebagian lagi dengan bahasa Jawa—ini telah diproduksi secara massal oleh penerbit di Mesir yang berjaya di tahun 1950 hingga 1970-an, Musthafa al-Babi al-Halabi.

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai

Ada beberapa hal yang perlu penulis tegaskan di sini. Pertama, karya ulama Nusantara selama ini diidentifikasi sebagai karya lokal. Bahkan sebagian kita inferior karena hal itu. Namun masyarakat akademik dunia (atau setidaknya Asia) justru melihat dan mengapresiasi karya itu dengan baik.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam penelusuran penulis, tahun 1930-an jumlah masyarakat Asia Tenggara yang tinggal di Mekah untuk kepentingan ibadah haji dan studi Islam cukup signifikan. Kementerian Agama RI mencatat, tahun 1930 jamaah haji Indonesia berjumlah 4.385 orang. Jumlah ini terus naik pada tahun 1936 mencapai 14.976 orang. Jumlah ini masih ditambah dengan masyarakat muslim yang berada di Mekah dari Negara Malaysia, Brunei Darussalam, Pattani (Thailand), dan Singapura.

Karya ulama Nusantara yang memiliki pasar pembaca cukup fanatik, dibaca oleh pengusaha percetakan ternama di Mesir kala itu sebagai peluang. Ini artinya, pengaruh ulama Nusantara sudah diakui oleh masyarakat Asia, bahkan popular di Timur Tengah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kedua, karya literature merupakan rekaman fenomena dan kondisi masyarakat di sekitar sang penulis. Khusus kitab keislaman tulisan ulama Indonesia, ia merupakan hasil interpretasi terhadap ajaran agama Islam. Sebagai generasi muda, kita harus melihat dan mengkaji manuskrip-manuskrip itu.

Langkah pertama adalah melacak dan mendata sebaran karya para intelektual muslim Indonesia. Kenapa ini penting kita lakukan. Karakter muslim di Indonesia unik dan tidak tumbuh di tempat lain. Ke depan, Islam Indonesia berpotensi menjadi rujukan bagi kehidupan keberagamaan di dunia.

Pembaacaan terhadap karya-karya keislaman masa lalu sangat dibutuhkan dalam rangka merumuskan bangunan keilmuan (epistemology) Islam yang khas, yang telah ada dan berkembang di Nusantara. Ini alasan bagi pentingnya melacak manuskrip karya para kiai masa lalu.

PELAJARAN DARI YUNANI

Catatan sejarah menginformasikan, pada masa kepemimpinan Bani Umayyah di Damaskus masyarakat muslim merintis gerakan penerjemahan ilmu pengetahuan. Pada masa ini sejumlah karya ilmuwan Yunani dan Koptic tentang ilmu kimia diterjemahkan. Di bawah kekuasaan Umar II (717-720), Masarjawaih, seorang Yahudi dari Basra menerjemahkan buku kedokteran dari bahasa Siria ke dalam bahasa Arab.

Buku lain yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab adalah tentang astronomi, fisika, dan matematika. Raja juga mengirim sarjana-sarjana ke berbagai tempat, termasuk ke Byzantium untuk mencari manuskrip.

Bernard Lewis dalam The Arabs in History menulis, beberapa periode kemudian lahir generasi penulis muslim orisinil, terutama dari bangsa non-Arab, seperti sejarawan dan teolog al-Thabari (m. 310 H/923 M), ahli fisika al-Razi (865-925), dokter dan filsuf Ibnu Sina (980-1037), serta astronom dan ilmuawan ensiklopedik al-Biruni (970-1048).

Penerjemahan khazanah pengetahuan Yunani mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan al-Mamun? (memerintah 198-219 H/ 813-833 M) di Baghdad. Raja ini dikenal sangat mencintai ilmu pengetahuan. Dia memprakarsai pendirian Bait al-Hikmah, semacam pusat riset dan lembaga ilmu pengetahuan Islam. Pusat kajian ilmiah ini kemudian menciptakan suasana kondusif bagi berkembangnya pemikiran rasional.

Hingga pada masa itu, para intelektual muslim telah berhasil menyerap khazanah keilmuan bangsa lain dan menyajikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk buku berbahasa Arab. Kerja-kerja ini adalah upaya penting dalam rangka mempermudah akses keilmuan bagi masyarakat muslim. Bila sebelumnya pengetahuan Yunani hanya bisa diakses masyarakat Yunani, maka setelah terjemahan bahasa Arab-nya terbit, komunitas Arab bisa menyerap informasi yang lahir dari negeri itu.

Capaian kedua yang merupakan hasil dari program pemerintah kala itu adalah, generasi muslim telah mampu menuliskan informasi yang diperoleh dari buku-buku asing dalam bentuk ikhtisar. Prestasi ini selangkah lebih maju, bila dibandingkan dengan sekedar menerjemahkan. Meskipun keduanya memiliki orientasi dan kelebihan masing-masing. Namun yang lebih penting lagi, pasca itu lahir generasi penulis muslim, seperti al-Razi, Ibn Sina dan al-Biruni. Saat itulah, proses hegemoni ilmu pengetahuan oleh kaum intelektual muslim dimulai.

Nurcholish Madjid menandaskan, karena ketertarikan umat Islam yang begitu tinggi terhadap para filsuf Yunani, sampai terdapat satu buku filsafat yang menafsirkan pemikiran-pemikiran Aristoteles, Fi al-Khair al-Mahdh, yang aslinya hanya diketahui dalam bahasa Arab. Bahkan beredar dugaan, pengarangnya adalah seorang muslim, kalau bukan seorang Yahudi atau Kristen yang berbahasa Arab. Kelak, buku ini diterjemahkan ke dalm bahasa Latin, Liber de Causis. Artinya, saat itu ilmuwan muslim telah menjadi kunci bagi tradisi dan keilmuan dunia. Masyarakat Latin pun harus menerjemahkan buku-buku filsafat dari karya ilmuwan Islam.

Kelak sejarah mencatat, umat Islam menjadi pewaris tunggal bagi tradisi panjang sejak zaman Yunani-Romawi, Iran, Firaun, dan Assyria-Babilonia. Philip K. Hitti menggambarkan, dengan bekal rasa ingin tahu yang kuat ilmuwan muslim mulai berasimilasi, mengadaptasi dan menghasilkan khazanah intelektual dan estetikanya sendiri.

Di Ctesiphon, Edessa, Nisibis, Damaskus, Yerusalem, dan Iskandariyah, mereka menyaksikan, mengagumi dan meniru karya-karya para arsitek, seniman, perajin, dan pengusaha intan. Ke pusat-pusat peradaban kuno itulah mereka datang, melihat, dan kemudian menang.

Jelas, pengaruh gerakan penerjemahan sangat besar, melambungkan Islam hingga dikenal seluruh penghuni dunia.

Dalam konteks manuskrip kiai Nusantara, ulama al-Jawi pada masa lalu ternyata sudah mendunia. Perhatian dan tema tulisan mereka menembus batas teritorial benua. Di sana misalmya terdapat terjemahan kitab berjudul Nuzhat al-Ikhwan fi Ta’lim al-Lughat wa Tafsir Ikhtilaf al-Lisan, mengkaji gramatika empat bahasa: Melayu, Aceh, Arab dan Turki.

Selain itu ada Ikhtisar Kitab al-Hikam karya Ahmad Ibnu Atha’illah oleh pujangga besar muslim Indonesia, Kiai Haji Sholeh Darat (m. 1903), Semarang. Juga terdapat al-Shirath al-Mustaqim fi Fiqh Madzhab al-Syafi’I, karya Nuruddin Muhammad al-Raniri (m. 1658).

Belajar dari sejarah Yunani dan pekerjaan ambisius yang sudah pernah dilakukan para ilmuwan muslim, karya para ulama Nusantara harus kita rawat dan warisi. Merawat khazanah ini berarti mempelajari bangunan keislaman masa lalu yang kokoh di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk selanjutnya mengenalkan kepada anak dan cucu kita. Mewarisi berarti menjaga keutuhan bangunan bangsa dan nilai-nilai agama yang menjadi ikat-pinggangnya.

Bila demikian, mengabaikan manuskrip Nusantara sama halnya dengan membiarkan negeri ini terancam oleh orang-orang yang bersiap memberangus keutuhan bangsa. Penulis mengajak kepada kaum muda untuk segera memulai kerja besar ini.



ALI ROMDHONI

Penulis buku Al-Qur’an dan Literasi

Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang


Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail, Quote, Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

MA Unggulan Insan Cendikia Dibangun atas Energi Islam Nusantara

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Direktur Pendidikan Madrasah Kementarian Agama Nur Kholis Setiawan menjelaskan, kini sedang dikembangkan program pengembangan Madrasah Aliyah Unggulan Insan Cendikia di 20 lokasi di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua.

“Dan strategi saya menentukan 20 ini tidak asal. Saya menggunakan energi Islam Nusantara karena madrasah ini eksis ditengah-tengah masyarakat Muslim yang memiliki kekhasan,” katanya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Selasa (25/11).?

MA Unggulan Insan Cendikia Dibangun atas Energi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Unggulan Insan Cendikia Dibangun atas Energi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Unggulan Insan Cendikia Dibangun atas Energi Islam Nusantara

Doktor dari Universitas Bonn Jerman ini menjelaskan dulu para ulama kiai, dan aulia melakukan penguatan keislaman melalui madrasah. Strategi yang sama inilah yang kini dikembangkannya.

“Kenapa bikin Insan Cendikia di Aceh Timur, karena disana dulunya ada kesultanan Perlak, Mengapa ada di Mandailing Natal, karena disitu ada kerajaan Barus, mengapa di Padang Pariaman Sumatra Barat. Kalau bicara Sumatra Barat, sudah heterogen, tapi kalau bicara Minang, pasti Islam karena prinsipnya adalah adat basandi syarak, syarak basandi kibatullah.”?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kebijakan yang sama juga diterapkan di Riau, dimana MA Insan Cendikia ditempatkan di Siak karena dulu ada kesultanan Siak, di Okan Hilir karena disitu ada Ario Damar yang mengasuh Raden Patah, Sultan Demak. Di Bangka Tengah karena disitu merupakan persinggahan para saudagar Gujarat dan para wali yang menyebarkan Islam di Nusantara, itu di Bangka Tengah dan Batam.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selanjutnya di Sambas karena disitu ada Syeikh Khatib Assambasi. Lalu di Tanah Laut Kalimantan selatan karena ada kesultanan Martapura. Selanjutnya di Paser Kalimantan timur karena disitu ada kesultanan Paser. Selain itu ada di Lombok karena disana ada kerajaan?

Selaparang. ? Di Goa Sulawesi Selatan karena ada Sultan Hasanuddin dan syeikh Yusuf Makassar. Jawa Tengah ditempatkan di Pekalongan karana dulu banyak Habaib menyebarkan Islam di Pekalongan. Di Jawa Timur ditempatkan di Pasuruan karena disitulah ada Mbah Hamid Pasuruan.?

Tempat lain adalah di Sulawesi tenggara karena ada kerajaan Buton, di Ternate, karena ada sultan Ternate. Di Sorong, karena ada jasa sultan Ternate, Islam masuk ke Papua Barat.?

“Ini tidak asal menentukan. Ini adalah pucuk dari energi Islam. 20 titik inilah insyaallah yang akan membesarkan Islam Nusantara karena ini adalah titik-titik para wali yang memperjuangkan Islam di Nusantara.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Meme Islam, Tokoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Pasca Banjir Bandang, Kondisi Manado Memprihatinkan

Manado, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Pada malam hari Kota Manado serasa kota mati,“ kata Diding Fachruddin yang akrab disapa Ading, melalui pers rilis yang dikirim ke PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dari Posko ACT di Jalan Pogidon Raya Kelurahan Tumumpa Dua, KecamatanTuminting, Kota Manado? Sulawesi Utara Jumat (17/1) di Manado.

Diding Fachrudin, Koordinator Lapangan Team DERM-ACT mengatakan, banjir kali ini merupakan yang terbesar dalam 14 tahun terakhir. Banjir diakibatkan meluapnya sungai Tondano, Sungai Sawangan, Sungai Sario, Sungai malayang-layang dan Sungai Bailang.

Hingga Jumat (17/1), para relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) terdiri dari personel Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pusat dan dibantu 10 personel relawan dari MRI Manado sedang melakukan evakuasi korban banjir yang berlokasi di Kelurahan Ternate Tanjung, Kecamatan Singkil, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Pasca Banjir Bandang, Kondisi Manado Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasca Banjir Bandang, Kondisi Manado Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasca Banjir Bandang, Kondisi Manado Memprihatinkan

Tim relawan berusaha untuk mengevakuasi korban yang tertimbun dari tumpukan lumpur akibat genangan banjir di Perumahan dan Fasilitas Umum di Kelurahan Ternante Tanjung, Kecamatan Singkil, Kota Manado.

Banjir Bandang yang menimpa sejumlah wilayah di Sulawesi Utara sejak Rabu (15/1) menelan 16 korban jiwa. Korban terbanyak dikota Manado 6 orang, disusul Kota Tomohon 4 orang, Kabupaten Minahasa? 4 orang dan Kabupaten Minahasa Utara? 1 orang.

Di Manado, korban tewas atas nama Otnil Tumoka warga Sindulang 1, Sance Malumbot? warga Tuminting 1, Fantje Tatilu warga Ranotana Weru 9, Soni Lowing warga Ranotana Weru 1, Muh Nur Hasan warga Banjer 3,Mat warga Banjer 2. Sementara korban yang hilang atas nama Daud Daleno warga Mahakeret Timur.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari kota Tomohon korban meninggal yakni Alex vecky Karinda (66) warga Tinoor dua, Jeremia Pantouw (9) dari Tinoor dua, Ronny Moguni (55) Kakaskasen Tiga, Edoardo Hermawan (14) dari Talete dua.Selain 4 korban tewas di Tomohon juga ada 2 korban hilang,yakni Linda Tan warga Tinoor dua,Dr.Olwin Oroh warga Talete 2.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari kabupaten Minahasa ada 4 Korban meninggal yakni Sherly warga Tateli Jaga 4, Jd Adrintje Makanoneng (63) warga Tateli Jaga 1, Jd Lin Rompas Masinggo (62) warga Tateli Jaga 1,Yenni Welan warga Kembes. Sementara korban hilang di Kabupaten Minahasa atas nama Niko Runtuwen dan di Kabupaten Minahasa Utara korban Meninggal atas nama Julian Mingkit (51) warga Desa Sawangan Jaga.

Selain menelan korban jiwa Banjir yang mulai naik pada pukul 10:00 wita ini juga menghanyutkankan 116 Rumah di Kota Manado. Di Malayang-layang 3 rumah, Mapanget 3, Paal dua 7, Sario 18,Wanea 70 dan Singkil 15 rumah. Jumlah ini masih akan terus bertambah seiring pendataan yang dilakukan oleh pemerintah setempat yang belum selesai hingga kini.

Menurut pengamatan Tim DERM-ACT, kondisi jalanan pasca banjir di Kota Manado sudah mulai bisa dilalui kendaran roda dua maupun empat, namun aktivitas warga masih lumpuh total dan jaringan listrik hingga kini masih sering padam. (Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Sholawat, Meme Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo

Purworejo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Purworejo menggelar pasar rakyat yang menyediakan 3.000 paket sembako. Acara yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad (6-7/4) di lapangan Cangkreplor, dibuka oleh Sekda Purworejo Drs H Tri Handoyo MM dengan ditandai pemukulan bedug.

3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)
3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)

3.000 Sembako Murah Disiapkan di Pasar Rakyat Purworejo

Ketua panitia pasar rakyat H Achmad Chusaini SpdI dalam laporannya menjelaskan, pasar rakyat yang digelar oleh PBNU dan PCNU ini, sebagai solusi dalam memenuhi kebutuhan sembilan bahan pokok, sekaligus sebagai sarana ukhuwah dalam hubungan dengan masyarakat sekitar.

Selain itu, acara ini bisa dijadikan sebagai motivasi dalam mewujudkan kepedulian sesama, dalam bentuk kemasan acara yang sangat menghibur serta mengedukasi khususnya masyarakat sekitar.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih lanjut Achmad menjelaskan, pasar rakyat ini menawarkan banyak konsep acara pada pelaksanaannya. Diantaranya adalah menjual sembako murah, pentas kesenian, music, workshop, bazar dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Adapun satu paket sembako yang disediakan berisi ? minyak dan beras masing masing 1 kilogram.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan kesenian tradisional bernuansa Islami dari Kecamatan Kaligesing dan Purworejo. Selain itu juga workshop dengan tema wirausaha NU yang diikuti sekitar 150 peserta, berlangsung di aula Kecamatan Purworejo.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Dengan adanya gelaran pasar rakyat ini, masyarakat semakin mengerti bahwa umat Islam juga peduli terhadap kehidupan sosial ekonomi yang banyak menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat dikalangan bawah khususnya di daerah pedesaan,” ungkapnya.

Sekda Drs H Tri Handoyo MM mengungkapkan, pasar rakyat ini merupakan media yang cukup efektif untuk memperkenalkan produk-produk unggulan mitra binaan yang merupakan usaha kecil menengah (UKM) sebagai karya anak bangsa, agar dapat meningkatkan potensi usahanya.?

Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan wawasan yang lebih luas bagi UKM untuk melakukan penjajagan situasi dan kondisi pasar, sekaligus sebagai sarana pertemuan antara UKM dengan konsumen maupun dengan pengusaha yang lebih besar atau investor.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

Semarang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Usai melakukan shooting film "Surban Putih" di pesantren Darut Talim Bangsri Jepara, dan di Kampus Unisnu Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), film yang disutradarai Robit Himami melakukan shooting di di kampus Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang pada Rabu (1/7).

Film ini memberikan pesan moral kepada masyarakat bahwa, pendidikan di pesantren memiliki ruang yang besar untuk meraih cita-cita sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Karena selain mendalami ilmu agama, juga mempelajari ilmu-ilmu yang berbasis sosial maupun penguatan keahlian sesuai dengan bakat minat yang dimiliki, ujar Khoirul Muslimin salah satu dosen FDK yang membina terlaksananya film ini.

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

"Modal dasar penguatan agama pada generasi muda akan menjadi generasi yang tangguh dan bermartabat untuk membangun bangsa yang lebih sejahtera," tambahnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Robit Himami mengatakan "Film ini menjadi penanda baru bahwa Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki ruang lingkup yang luas dalam telaah keilmuan, dengan terjun langsung di dunia perfilman ini, banyak hal-hal yang baru yang didapatkan sesuai pada kajian teori yang kami dapat di bangku kuliah."

Dalam satu tahun mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi sudah memproduksi film sebanyak 7 karya, diantaranya film dengan judul (1) Paijo; (2) Tapak Kaki di Desa; (3) Karung Beras; (4) Terjawab oleh Detik; (5) Sepenggal Kisah Dua Belas AP; (6) Ngalap Berkah Pesta Lomban; dan (7) Surban Putih, pungkas Robit.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam sambutan ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang Dr Turnomo Raharjo  mengucapkan "terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami menjadi tempat salah satu shooting film, semoga ini menjadi awal kerjasama kita dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosen."

Dalam kesempatan yang sama di ruang rapat magister Komunikasi Abdul Wahab, M.SI. selaku Kaprodi Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyampaikan kerjasama ini diharapkan menjadi awal membuka gerbang kompetensi yang lain yang bisa dikerjasamakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa di bidang Ilmu Komunikasi.

Minanurrohman yang juga pemeran Andi mengungkapkan "Senang sekali, tentu kegiatan ini memberikan kesempatan kepada saya untuk menggali ilmu dengan memerankan Andi. Tentu saya dituntut untuk bisa menjadi Andi yang sesungguhnya, harapan saya semoga apa yang saya perankan menjadi doa untuk kesuksesan saya dan teman-teman mahasiswa yang lain," tutur Minan. (Iqdasy/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib, Nasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 27 Oktober 2017

Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Menteri Desa Pembangunan Daerah Tetinggal dan Transmigraasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan program unggulan desa di bawah kementerian yang dipimpinnya bersinergi dan bertujuan untuk mempercepat pembangunan dan kapasitas ekonomi perdesaan hingga bisa berkontribusi bagi pembangunan secara nasional.

“Pertanian tak bisa dipisahkan dari pembangunan desa. Hanya saja kita butuh modernisasi dan fokus pada komoditas unggulan di kawasan perdesaan supaya petani menjadi kuat.” Papar Menteri Eko di Kantornya, Jakarta (17/4).

Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian

?

Lebih jauh Eko menjelaskan dengan adanya fokus paska panen diharapkan petani memiliki posisi tawar yang baik, kehadiran negara dalam hal ini BUMN juga diharapkan bukannya mengintervensi model ekonomi yang khas petani malainkan membantu membuat lompatan dan mengisi lubang kosong yang ditinggalkan oleh pertanian di desa selama ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Masalah produktifitas panen dan posisi tawar paska panen jadi kendala selama ini. Embung sebagai salah satu proyeksi program unggulan tahun ini kita harapkan bisa meningkatkan produktifitas akrena petani jadi bisa panen dua sampai tiga kali.” Harap Eko.

Menteri yang datang dengan latar belakang pengusaha sarat pengalaman ini juga mengandaikan skema produk unggulan desa dan holding Badan Usaha Milik (BUM) Desa antar kawasan perdesaan nantinya diharapkan bisa mempersolid kapasitas ekonomi masyarakat desa terutama para petani terkait paska panen.

Terkait Program prioritas berupa program pengembangan Produk Unggulan Desa (Prudes) dan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) untuk mendukung pertanian, nantinya pengembangan produk-produk tersebut dikembangkan dengan berbasis teknologi dan inovasi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Eko Putro Sandjojo mencontohkan beberapa daerah yang sudah bisa fokus untuk mengembangkan produk unggulannya antara lain di Gorontalo dengan produksi jagungnya atau Dompu yang bisa lepas dari status daerah tertinggal.?

“Desa yang belum fokus akan kita kasih insentif, kita kasih bibit, pupuk, dan sarana pertanian gratis,” ujarnya.

Menurutnya selain menetapkan produk unggulan, desa juga didorong untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). ? Menurutnya, dana desa melalui BUMDes dapat menjadi stimulus pembangunan di daerah.

?

“BUMDes itu dibikin supaya dana desa suatu saat bukan menjadi sumber utama pembangunan desa. Sumber utamanya yakni desa mempunyai sarana ekonomi sendiri yang bisa membuat desa itu mandiri secara finansial dan membuka lapangan kerja,” ? tambahnya.?

Sementara itu dalam kunjungan kerjanya ke Halmahera Barat (15/4), selain meresmikan pembangunan Embung yang direncakanan akan dibangun sebanyak 100 embung, Mendes PDTT dalam kesempatan yang sama juga mengajak BRI, BNI, BULOG, pengusaha pascapanen, dan para pemangku kepentingan lain untuk turut berperan mendukung usaha masyarakat melalui bidangnya masing-masing.?

Sebab, menurutnya kehadiran para pemangku kepentingan itu merupakan bentuk sinergi untuk mendorong pembangunan desa agar terintegrasi secara vertikal. Dengan demikian, pendapatan masyarakat pun dapat meningkat signifikan.

"Kita perlu membuat klaster. Jika skala produksinya besar, investasi untuk pascapanen bisa masuk di Halmahera Barat ini. Bulog misalnya, mereka bisa membangun sentra pengeringan beras dan penyediaan gudang," harapnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Aswaja Community Pekalongan Gelar Malam Muhasabah

Pekalongan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Generasi Muda NU Kota Pekalongan yang tergabung dalam Aswaja Community menggelar refleksi tahunan di halaman Gedung Aswaja jalan Sriwijaya 2, Jumat (24/10) malam. Mereka berkaca atas apa yang sudah diberikan PCNU Pekalongan untuk warganya.

Sekretaris PCNU Kota Pekalongan H Muhtarom mengatakan, kegiatan yang diadakan secara spontan ini menjadi momentum muhasabah pengurus, aktifis dan generasi muda Nahdlatul Ulama. Menurutnya, NU sebenarnya memberi ruang yang cukup bagi pemuda NU di Kota Pekalongan. Hanya saja kesempatan itu belum digarap secara maksimal.

Aswaja Community Pekalongan Gelar Malam Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Community Pekalongan Gelar Malam Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Community Pekalongan Gelar Malam Muhasabah

Wakil Ketua PCNU H Kasiman Mahmud melihat banyaknya pengurus NU bertitel S2 dan S3 di PCNU Kota Pekalongan. “Namun, semua itu ternyata bukan jaminan program PCNU Kota Pekalongan berjalan baik. Ini perlu menjadi cacatan pengurus untuk menyegarkan komitmen mereka kembali.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara Ketua Nahdliyin Center Abdul Basir menyambut baik acara muhasahab seperti ini. Forum refleksi ini, menurut Basir, perlu dilakukan lebih rutin. Tujuannya, kita akan semakin tahu berbagai persoalan yang ada dan sebisa mungkin mengantisipasinya dengan baik sesuai bidangnya masing masing.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Cholil, salah seorang peserta muhasabah mengajak generasi muda NU untuk memanfaatkan fasilitas yang disediakan PCNU Kota Pekalongan antara lain Radio Aswaja FM, website NUBatik, lapangan bulutangkis, ruang-ruang rapat, kajian, kaderisasi, fasilitas kegiatan ekonomi simpan pinjam syariah BMT SM NU.

Refleksi ini dimeriahkan dengan pementasan musik marawis kompak asal Ranting IPNU Pringlagu kecamatan Pekalongan Barat. Acara ditutup dengan menerbangkan ratusan lampion karya kader IPNU Kota Pekalongan. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, AlaNu, Khutbah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah