Sabtu, 21 Oktober 2017

Peminat Membludak, Tiket Mudik Gratis Bareng NU Ludes dalam Dua Jam

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Program Mudik Gratis Bareng NU yang digelar setiap tahun oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membawa magnet tersendiri bagi para perantau di Jakarta dan sekitarnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini panitia penyelenggara terpaksa menolak sebagian pendaftar karena keterbatasan kuota.

Peminat Membludak, Tiket Mudik Gratis Bareng NU Ludes dalam Dua Jam (Sumber Gambar : Nu Online)
Peminat Membludak, Tiket Mudik Gratis Bareng NU Ludes dalam Dua Jam (Sumber Gambar : Nu Online)

Peminat Membludak, Tiket Mudik Gratis Bareng NU Ludes dalam Dua Jam

Seperti terlihat pada Ahad (19/6), ribuan orang menyesaki halaman dan sebagian ruang depan gedung PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Pendaftaran yang dibuka pada pukul 09.00 WIB mesti ditutup dua jam kemudian karena jumlah kursi yang tersedia sudah penuh.

“Kami mohon maaf kepada para pemudik yang tidak tertampung dalam kuota kali ini, karena keterbatasan kursi yang tersedia,” kata panitia penyelenggara yang juga Sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid PBNU (LTM PBNU) H Ibnu Hazen di Jakarta, Ahad (19/6).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Program yang tahun ini dimotori LTM PBNU dan NU Care-LAZISNU ini menyediakan 28 bus yang seluruhnya memiliki fasilitas pendingin ruangan. Sedikitnya 1.650 kursi sudah terisi. Panitia akan menyediakan konsumsi saat pemberangkatan mudik bareng nanti.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bagi yang telah mendaftar, diharapkan datang kembali ke kantor PBNU pada tanggal 25 Juni 2016, pukul 09.00 WIB untuk pengambilan tiket. Calon peserta diharapkan membawa uang infak sebesar Rp20.000 untuk diserahkan kepada LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU). Menurut Ibnu, kebijakan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya sedekah di kalangan warga.

“Pada kesempatan itu, panitia juga berencana memberikan doorprize (hadiah) berupa Kartanu kepada 500 pemudik secara gratis, juga tabungan emas dari Pegadaian sebesar 0,16 gram kepada 100 orang,” ujarnya.

Selain menyelenggarakan program mudik gratis setiap tahun, panitia mendirikan posko mudik berbasis masjid. Jumlah posko mudik yang didirikan NU ada 27 titik dari Merak di Banten hingga Ketapang di Banywangi.



Sedianya pendaftaran sempat dibuka pada tanggal Sabtu (18/6) kemarin. Menurut Ibnu, karena banyaknya peserta di luar dugaan panitia, untuk kondisivitas, jadwal pendaftaran kemudian mudur menjadi hari ini, Ahad (18/6). (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 20 Oktober 2017

Tak Dilakukan Nabi, Bukan Berarti Tak Islami

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, banyak kegiatan yang tidak dipraktikkan Rasulullah SAW bernilai sunnah di zaman sekarang. Tak semua perkara baik sejak masa Nabi hingga kini secara langsung dilaksanakan oleh Nabi.



Tak Dilakukan Nabi, Bukan Berarti Tak Islami (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Dilakukan Nabi, Bukan Berarti Tak Islami (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Dilakukan Nabi, Bukan Berarti Tak Islami

Kiai Ishom mencotohkan, model peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jamak ditemukan di Tanah Air tidak serta merta berstatus bid’ah. Maulid Nabi secara substansial memiliki landasan yang kuat, meski dalam detail pelaksanaannya belum ada di zaman Rasulullah.?

Rasulullah sendiri, sambungnya, memperingati dan menyukuri hari lahirnya dengan cara berpuasa. Hal ini dapat dirujuk dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi.?

”Artinya, diwujudkan dengan perbuatan yang baik. Dan perbuatan yang baik itu tentu tidak hanya puasa. Boleh dengan mengundang orang berkumpul memakmurkan masjid, kemudian diisi bacaan shalawat, bacaan Al-Qur’an, menghadirkan kiai untuk memberikan mau’idhah hasanah tentang akhlak Nabi, kemudian ditutup dengan doa,” ulas Kiai Ishom saat ditemui di Jakarta, Rabu (9/1).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mengacu pada pandangan Sayyid Muhammad al-Maliki dalam Mafahim Yajib An Tushahhah, ia menjelaskan, model peringatan Maulid Nabi di Indonesia tergolong adat atau kebiasaan. Hal itu bagus dilaksanakan selama muatannya positif dan tidak mensyari’atkan perkara yang terlarang.

Qul bifadllillah wa birahmatihi fabidzalika falyafrahu. Jadi upaya kegembiraan umat Islam diwujudkan dalam bentuk peringatan maulid Nabi SAW,” imbuhnya.

Menurutnya, Maulid Nabi adalah bagian dari upaya umat Islam dalam menghargai sejarah. Rasulullah sendiri termasuk orang yang sangat peduli terhadap sejarah nabi-nabi terdahulu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

”Silakan ekspresikan cinta kepada Rasulullah SAW setinggi-tingginya selama tidak seperti orang Nasrani memuji Nabi Isa sebagai anak Tuhan,” katanya.

?

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel

Sudah menjadi rahasia umum barangkali, di tiap kelas baik di sekolah umum maupun madrasah, ada saja anak bandel atau nakal, meski dalam batas-batas tertentu. Misalnya, suka membuat onar, mengganggu teman dan membuat gaduh. Hal ini, sedikit banyak, tentu mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas.

Menangani hal ini, ada berbagai cara yang dilakukan guru atau ustadz di kelas, mulai dari menghukum sampai mencibirnya sebagai contoh yang tidak baik untuk ditiru. Respon yang demikian ini, kadang tidak solutif. Alih-alih membuat sang anak berhenti, yang ada justru semakin bandel dan menjadi-jadi.

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel

KH Saifuddin Zuhri (alm), selain sebagai tokoh pergerakan nasional, komandan milisi Islam Hizbullah dan mantan menteri agama RI, beliau juga dikenal sebagai pendidik. Dalam otobiografinya yang legendaris, Guruku Orang-orang dari Pesantren, ia banyak menceritakan pengalamannya dalam mendidik. Salah satu hal yang diungkapkan, adalah bagaimana cara seorang guru menangani murid yang bandel atau nakal.

“Anak yang bersangkutan dipanggil ke muka? kelas, diberi nasihat dan peringatan seperlunya. Atau menahan dia pada jam mengasoh (istirahat–red) untuk sekali lagi diberi nasihat dan peringatan. Atau dengan jalan aku panggil ke rumah. Aku tanyakan kepadanya, apakah cukup aku sendiri yang menasihati, atau biar aku serahkan kepada orang tuanya untuk dinasihati?” demikian tulis ayahanda Menag RI Lukman Hakim Saifuddin.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tak hanya itu, jurnalis NU tersebut juga masih memberi opsi yang tak kalah jitu, dengan menulis sebagai berikut: “Ada lagi dengan cara lain. Anak itu aku dekatkan di hatiku. Aku panggil ke rumah untuk membantu pekerjaanku yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Misalnya aku ajak menyertai aku ke pasar membeli bibit tanaman dan dia kusuruh menemani aku menanam bibit itu di halaman rumahku. Pokoknya aku dekatkan dengan hatiku dan kuinsyafkan bahwa aku sangat sayang kepadanya,” tulisnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan demikian, ungkap Kiai Saifudin, pada umumnya ia berhasil menjadikan anak yang bandel, nakal, menjadi redam. Meski begitu, imbuhnya, tidak bisa sekaligus, memerlukan sedikit waktu dan kesabaran.

Dalam teori dan buku-buku, hal ini biasanya dibahas dalam psikologi pendidikan. Bagi anda para ustadz ataupun guru yang memiliki murid bandel – selain dengan doa – ada? baiknya menerapkan saran, anjuran dan kiat dari tokoh NU ini. Secara empirik, beliau telah membuktikan keberhasilannya dalam menaklukkan anak-anak yang membandel. Semoga berhasil. (Ahmad Naufa)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 18 Oktober 2017

Tutup Ramadhan dengan Berdoa

Oleh KH A Mustof Bisri

Siang demi siang dan? malam demi malam Ramadhan telah kita lalui. Kehidupan yang lain daripada yang lain telah kita jalani di bulan yang kita sebut bulan suci ini. Kita berdoa semoga kita mampu menyerap kesucian bulan ini. Mampu tidak hanya memaknai tapi sekaligus menghayati? puasa kita. Sehingga nilai tambahnya tidak hanya berupa ganjaran di akhirat, namun dapat merupakan peningkatan pribadi kita sebagai hamba-hamba mukmin yang tahu bersyukur.

Tutup Ramadhan dengan Berdoa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Ramadhan dengan Berdoa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Ramadhan dengan Berdoa

?

Kita berdoa semoga Ramadhan kali ini benar-benar? berhasil mendidik kita menjadi manusia yang lain, manusia yang tidak hanya menyadari kekhalifahannya, tapi sekaligus kehambaannya. Manusia yang saleh di hadapan Allah dan saleh di hadapan sesama manusia.

Kita berdoa dan berdoa,? karena agaknya memang hanya –berdoa-- itulah andalan kita selama ini. Apalagi bila mengingat sekian Ramadhan lepas begitu saja tanpa terlihat bekasnya pada pribadi kemusliman kita.? Muslim yang paling baik menurut? Pemimpin Agung kaum muslimin dan yang paling tahu tentang keIslaman, Nabi Muhammad SAW, ialah “Man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi.” Orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya? tidak melukai sesama. Jadi bukan orang yang berkobar-kobar membela Islam dengan keganasan lisan dan tangannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

?

Kita berdoa; karena sekian Ramadhan terlewati begitu saja tanpa berhasil mendidik kita untuk menjadi manusia yang benar-benar jujur. Pendidikan jujur yang diberikan oleh puasa setiap Ramadhan, ternyata hanya berlaku –kalau pun berlaku— pada puasa pada bulan suci itu. Sebagaimana pendidikan rendah hati? dan kedermawanan? yang hanya terserap –kalau pun terserap--? tak seberapa dan sementara.? Kesombongan sebagai kaum yang merasa paling selamat, paling benar,? dan paling mulia di sisi Allah, masih sangat kental terasa; meski kebanyakan kita tidak merasa. Kedermawan kita juga masih sarat termuati pamrih tersembunyi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

?

Kita berdoa; karena agaknya kita tidak mampu percaya bahwa puasa Ramadhan telah kita jalani sebagaimana mestinya. Apalagi sikap kita terhadap puasa Ramadhan terkesan masih terpaksa dan di bawah sadar minta dihargai. Himbauan “menghormati Ramadhan” apa maksudnya,? kalau tidak si penghimbau ingin dibantu berpuasa atau ingin dihargai? Apakah Ramadhan butuh dihormati? Bukankah Ramadhan sejak awal sudah terhormat? Seolah-olah karena kita sudah mau berpuasa, mau mengekang nafsu dan syahwat, mau mengubah kehidupan yang sangat duniawi? menjadi kehidupan ruhani, maka kita harus dihargai dan minta imbalan. ?

?

Kita berdoa; karena kita belum bisa yakin bahwa? puasa kita telah berhasil menyeimbangkan diri kita sebagai manusia daging dan ruh, manusia dunia-akherat.? Apalagi sehari-hari di bulan suci ini, di samping tidak makan? tidak minum di siang hari dan ramai-ramai taraweh, acara-acara duniawi? yang bersifat daging rupanya tidak mau? begitu saja diabaikan.? Bahkan kepentingan-kepentingan? daging begitu lihai menyusup ke dalam? ‘amalan-amalan? ibadah’, seperti? menyusupnya? kepentingan-kepentingan politisnya? politisi? dalam agitasi kerakyatan dan keagamannya.? Ramainya tadarus bersaing dengan hiruk-pikuknya? acara badutan? tv yang sering kali tak jelas maksud dan tujuannya.

Untunglah masih ada doa. Maka marilah? kita berdoa semoga puasa dan amal ibadah kita diterima oleh Allah. Semoga kesalahan-kesalahan dan kekuarangan-kekurangan kita diampuniNya.? Semoga puasa Ramadhan kali ini benar-benar berhasil mendidik kita menjadi manusia yang seimbang: manusia yang hamba dan khalifah Allah; manusia yang daging dan ruh; manusia yang menyembah Tuhan dan mengasihi sesama hambaNya; manusia dunia-akherat. Amin.

?

Penulis kini adalah Mustasyar PBNU. Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka 8 September 2010



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News, Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 17 Oktober 2017

Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Majelis Pembina Cabang PMII Cirebon Dr Ilman Nafi’a mengingatkan forum konferensi cabang sebagai wadah yang mengakomodasi kader terbaik PMII untuk memimpin. Menurut Ilman, di samping pembelajaran konferensi cabang PMII merupakan cermin dari komitmen kader PMII atas nilai-nilai pergerakan organisasi.

Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon

Konfercab ialah sarana menentukan kepemimpinan sehingga memberikan peluang untuk menempatkan kader-kader pilihan sebagai pemimpin di PMII," kata Ilman pada Konfercab ke-38 PMII Cirebon di gedung KNPI kota Cirebon, Rabu (8/10).

Seluruh kader PMII, pesan Ilman, perlu menyamakan persepsi dan pandangan terkait arah gerakan PMII Cirebon terutama parihal pengaruh politik praktis.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Konfercab juga harus menjadi momentum pembelajaran untuk menghindarkan diri dari praktik politik praktis, apalagi menjadi boneka kaum elit politik," pesan Ilman. (A Imam Baehaqi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh, Kajian Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 16 Oktober 2017

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud

Raja Kisra yang terkenal adil suatu kali harus menyelesaikan kasus “aneh” dua pria yang sedang bersengketa. Dikatakan aneh karena keduanya berselisih bukan karena sedang berebut kekayaan, melainkan sebaliknya: berebut saling menolak kekayaan.

Kisah persengketaan keduannya dimulai ketika seorang pria membeli rumah dari pria lainnya. Tanpa dinyana, di dalam rumah itu terdapat harta simpanan. Si pembeli yang merasa hanya membeli bangunan rumah (bukan sekaligus isinya) pun menemui penjual dan berniat mengembalikan harta yang ia nilai bukan haknya.

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud

“Saya menjual rumah, dan tak tahu kalau ada harta simpanan di dalamnya. Harta ini berarti milikmu,” si penjual rumah menanggapi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Si pembeli pun berontak, “Kamu harus mengambil harta ini karena memang di luar barang yang seharusnya saya beli (yakni rumah).”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari sini, perdebatan saling menolak klaim kepemilikan harta berlangsung panjang. Hingga akhirnya kasus sampai ke tangan Raja Kisra untuk mendapat penyelesaian hukum secara adil.

Setelah mendengarkan kronologi masalah, Kisra bertanya, “Apakah kalian memiliki anak?”

“Hamba punya anak laki-laki dewasa,” jawab si penjual rumah.

“Hamba punya anak perempuan dewasa,” tutur si pembeli rumah.

“Saya perintahkan kalian saling menjodohkan anak-anak kalian, sehingga terbangunlah hubungan kekerabatan. Selanjutnya, infakkan harta yang kalian perselisihkan itu kepada sepasang pengantin ini untuk kemaslahatan keluarga mereka,” instruksi Raja Kisra. Perintah ini dilaksanakan dan persengketaan aneh itu pun selesai tanpa menyisakan masalah.

Kisah ini termaktub dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi. Drama tersebut menampilkan campuran antara kezuhudan, infak, dan kecerdikan dalam memutuskan perkara.

Persengketaan dua pria tersebut seolah menyindir sikap orang kebanyakan yang lazimnya mencintai kekayaan. Dengan cara yang sama-sama mudah, sebetulnya salah satu dari kedua orang itu bisa mendapatkan sebuah keuntungan. Namun, sikap zuhud mereka mengubah perkara yang “semestinya sederhana” tampak kian runyam. Karena sangat berhati-hati, mereka berebut tidak mau mengklaim kekayaan yang bagi mereka masih abu-abu status hukumnya.

Meski bentuk kasus berbeda, persoalan yang mirip dengan cerita di atas kerap kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Namun, apakah seseorang bisa bersikap selayak kedua pria zuhud itu atau tidak, kembali kepada pribadi masing-masing dalam memaknai hakikat kekayaan dan hidup yang fana ini. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, Makam, Syariah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I

Tidak banyak orang yang mengenal sosok Kiai Mahfudh, ayahanda Kiai Sahal Mahfudh. Kisah hidup Kiai Mahfudh sayup-sayup terdengar, selain beliau wafat pada usia muda, juga saksi hidup yang mampu menceritakan kisah hidup beliau susah ditemukan. Meski demikian, kisah-kisah lisan tentang sepak terjang Kiai Mahfudh menjadi cerita menarik bagi santri-santri di kawasan Kajen.

Kiai Mahfudh merupakan putra dari Kiai Abdussalam, yang silsilahnya sampai ke Syekh Mutamakkin, lewat Mbah Hendrokusumo. Kiai Mahfudh merupakan saudara dari Kiai Abdullah Zeyn Salam (Mbah Dullah). Dalam sebuah kisah, Mbah Mahfudh merupakan kiai, pejuang dan santri yang cerdas. Ia memahami turats secara mendalam, menguasai ilmu-ilmu politik-intelijen dan hafidzul quran. Ketika mengantar adiknya, Kiai Abdullah Salam mondok mengaji kepada Kiai Said, Pamekasan Madura, Mbah Mahfudh ikut menemani adiknya selama dua minggu. Hal ini dilakukan untuk menghibur dan menjaga adiknya agar kerasan mondok. Selama proses menemani adiknya itu, Mbah Mahfudh sambil menghafal Al-Qur’an dan khatam dalam waktu hanya dua minggu.

Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I

Kiai Mahfudh dilahirkan sekitar tahun 1900-an. Belum ada data akurat yang dapat diakses untuk menjadi tonggak kelahiran, ayahanda Kiai Sahal. Mbah Mahfudh merupakan putra dari Kiai Salam bin Ismail, dan ibundanya bernama Nyi Mirah. Beliau merupakan putra ketiga dari empat saudara. Pada masa kecil, Kiai Mahfudh belajar mengaji kepada ayahandanya, Kiai Salam, yang merupakan ulama terkemuka di kawasan lereng Muria. Pada waktu itu, pesantren sebagai institusi pendidikan belum didirikan secara formal, hanya majelis-majelis mengaji di rumah kiai, musholla dan masjid. Masjid Kajen, yang menjadi warisan arkeologis dan situs Islam, peninggalan Syekh Mutamakkin menjadi referensi kegiatan keagamaan di kawasan Kajen. Perguruan Islam Mathaliul Falah, baru didirikan pada 1912. Mengiringi beberapa pesantren tua lainnya, semisal Tebu Ireng (didirikan Syekh Hasyim Asyari pada 1899, di Jombang), pesantren Lirboyo (oleh Mbah Manaf/KH. Abdul Karim, pada 1910 di Kediri), pesantren Krapyak di Yogyakarta, yang didirikan oleh KH. Munawir pada 1910.

Mathaliul Falah, dengan demikian menjadi titik episentrum pendidikan dan kawah candradimuka santri-santri serta masyarakat Kajen, yang kemudian disusul oleh pesantren-pesantren lainnya, semisal Salafiyyah, yang menandai kawasan Kulon Banon dan Wetan Banon, dalam historiografi keislaman di Kajen.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mbah Mahfudh berperan penting dalam proses pendidikan Kiai Sahal, terutama pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan. Kiai Sahal mengungkapkan—dalam kisah yang dituturkan Neng Tutik Nurul Jannah (2014) bahwa ayahandanya, Kiai Mahfudh sebenarnya menjalankan strategi diplomasi politik dengan Belanda. Ketika masih kecil, Kiai Sahal sering melihat tamu-tamu pembesar Belanda datang ke rumah ayahandanya, untuk berdiskusi dan terlibat perbicangan membahas masalah politik maupun keagamaan. Kiai Mahfudh berbicara dengan tamu Belanda, menggunakan bahasa Melayu—bahasa yang belum banyak dipakai orang pribumi Jawa masa itu. Uniknya, Mbah Mahfudh belajar bahasa Melayu dari para santrinya. Beliau, acapkali mengundang santrinya untuk membaca koran berbahasa Melayu, hingga mengerti maksud dan ungkapan-ungkapannya. Inilah, metode belajar dari Kiai Mahfudh untuk mengakses jendela pengetahuan dan pergerakan nasional masa itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Beberapa kali orang Belanda datang ke rumah, dan diterima dengan baik oleh Bapak", ungkap Kiai Sahal, sebagaimana dikisahkan oleh Tutik Nurul Jannah.

Lalu, apa sebenarnya yang melatar belakangi diplomasi politik Mbah Mahfudh dengan mendekati bahkan bekerjasama dengan pembesar Belanda? Tidak lain dan tidak bukan, adalah motivasi politik. Inilah strategi ala pesantren, yang mampu luwes dalam melihat gelombang politik kolonial, dengan melihat dari dekat kekuatan lawan. Persis, ketika Gus Dur mendekati Benny Moerdani untuk melihat dan memetakan kekuatan politik Orde Baru, strategi intel-militer serta jaringan murid-murid Pater Beek yang bergerak pasca peristiwa 1965.

Kiai Wahab Chasbullah, mengingatkan: "kalau ingin keras, harus punya keris". Maksudnya, strategi politik yang canggih dengan melawan secara frontal atau melawan dengan lembut, harus dimulai dulu dengan mengukur kekuatan diri sendiri sekaligus memetakan kekuatan lawan. Inilah, yang sering diungkap oleh arsitek militer dan pakar strategi Tiongkok, Tsun Zu dalam karyanya the Art of War, ?; S?nz? b?ngf?).

Dengan demikian, Kiai Mahfudh berusaha mendekat dengan pejabat Belanda, untuk mengetahui strategi, gerakan hingga kerja-kerja intelijen Belanda (PID, Politie Inlichtingen Dienst dan RID, Regionale Inlichtingen Dienst) yang saat itu bergerak lincah. Selain itu, Kiai Mahfudh juga ingin agar pesantren Mathaliul Falah, tidak dikubur sebelum berkembang oleh rezim kolonial Belanda. "Motivasi politik yang dimaksudkan di sini adalah kebutuhan Belanda untuk berhubungan baik dengan tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh kuat di lingkungannya dengan tujuan meredam dan memata-matai tokoh tersebut agar tidak mematik bergolakan di kalangan republik. Di sisi lain, kedekatan ini cukup menguntungkan, terutama bagi keberlangsungan lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Kiai Mahfudh, yakni Perguruan Islam Mathaliul Falah" (Jannah, 2014).

Akan tetapi, hubungan retak terjadi antara Kiai Mahfudh dengan birokrat Belanda, ketika munculnya peristiwa pegadaian. Peristiwa ini, ditandai dengan kondisi yang tidak kondusif pada masa itu, dengan banyaknya perampokan dan penjarahan terhadap toko serta pasar. Melihat kondisi ini, dengan latar belakang ekonomi warga muslim di kawasan Pati kelas menengah ke wabah, Kiai Mahfudh menginisiasi dengan memerintahkan santri-santri untuk ikut menjaga pedagadaian, agar asetnya tidak dijarah oleh orang-orang yang tidak berhak dan dirusak oleh amuk massa.

Peristiwa pegadaian terjadi pada kisaran tahun 1940-an. Pada masa itu, politik ekonomi Belanda sedang mengalami pergolakan, terutama menjelang Perang Dunia II. Militer Jepang sedang merangsek untuk memperluas wilayah politik dan keamanan, di kawasan Asia Tenggara. Fondasi ekonomi dan politik kolonial di wilayah Hindia Belanda, terancam dengan ekspansi militer Jepang.

Pada masa itu, pegadaian merupakan salah satu kunci ekonomi di daerah Pati, selain pasar tradisional dan toko-toko kelontong milik pengusaha Tionghoa. Pegadaian, sebenarnya merupakan aset dari pemerintah Hindi Belanda, untuk memberi modal cepat bagi petani dan nelayan. Barang-barang milik petani dan warga kecil, banyak yang disimpan di pegadaian, untuk digadaikan agar mendapat pinjaman uang. Ketika masa panen, biasanya barang di pegadaian diambil kembali oleh pemiliknya—para petani kecil. Langkah Mbah Mahfudh, dengan menginstruksikan santri-santri menjaga pegadaian merupakan strategi jitu, agar barang-barang berharga milik warga kecil terlindungi. Lebih jauh, Mbah Mahfudh juga memberi perintah agar barang-barang di pegadaian dikembalikan kepada pemiliknya, yakni warga miskin dan petani-petani kecil di kawasan Pati. Terang saja, langkah ini membuat pejabat Belanda berang, karena aset mereka diambil oleh santri-santri dan dibagikan kepada penduduk. Pemerintah Belanda mengalami kerugian, apalagi pabrik Gula di P

akis dan Trangkil, masa itu tidak bisa diandalkan hasilnya, karena situasi politik yang tidak stabil.

Aksi Mbah Mahfudh semakin membikin marah Belanda, ketika beliau dengan santri-santrinya menyerang Rumah Sakit Kristen (RSK) di Tayu. Rumah Sakit ini, dianggap sebagai pusat konsolidasi politik dan juga basis kristenisasi di lereng Muria. Dengan menggasak Rumah Sakit Kristen, Mbah Mahfudh setidaknya mendapatkan dua keuntungan, yakni melemahkan basis kekuatan politik Belanda dan mengendurkan moral serdadu Hindia Belanda.

Setelah berjuang melawan kolonial, akhirnya Mbah Mahfudh ditangkap oleh militer Belanda. Beliau kemudian dipenjara, dan dipindah ke penjara Ambarawa, hingga kedatangan militer Jepang. Fort Willem I, merupakan benteng yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, selama 11 tahun, sejak 1834-1845, di bawah kepemimpinan Kolonel Hoorn. Benteng ini, dibangun untuk menghormati Raja pertama Kerajaan Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau. Bangunan benteng ini, terletak di dekat jalan utama Ambarawa, di perlintasan Semarang-Solo dan Semarang-Yogya. Warga sekitar, mengenal Benteng ini sebagai Benteng Pendem.

Kiai Mahfudh wafat di Fort Willem I, Ambarawa, pada tahun 1944. Perlawanan terhadap kolonial, konsep politik kebangsaan dan diplomasi politik Mbah Mahfudh, sejatinya menjadi telaga inspirasi bagi Kiai Sahal. Ide-ide dan prinsip politik kebangsaan Kiai Sahal, dipengaruhi oleh ayahandanya, sang pejuang kemerdekaan, KH. Mahfudh Salam. [Munawir Aziz]

 

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, Peneliti di Fiqh Sosial Institute (FISI) IPMAFA Kajen Pati  & Dewan Redaksi Penerbit Mizan, berinteraksi di @MoenawirAziz

–kajian Tutik Nurul Jannah, hasil wawancara dengan Kiai Sahal, pada 20 Oktober 2012, dan 18 Desember 2012, tertuang dalam buku Epistemologi Fiqh Sosial: Konsep Hukum Islam dan Pemberdayaan Masyarakat (2014, STAIMAFA Press, editor: Munawir Aziz).

–biografi Kiai Mahfudh dan konteks sejarah hidupnya, masih memerlukan riset lanjutan. Hal ini, karena data yang sangat terbatas untuk mengulas sepak terjang dan perjuangan melawan kolonial yang dilakukan beliau

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, AlaSantri, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah