Jumat, 20 Oktober 2017

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel

Sudah menjadi rahasia umum barangkali, di tiap kelas baik di sekolah umum maupun madrasah, ada saja anak bandel atau nakal, meski dalam batas-batas tertentu. Misalnya, suka membuat onar, mengganggu teman dan membuat gaduh. Hal ini, sedikit banyak, tentu mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas.

Menangani hal ini, ada berbagai cara yang dilakukan guru atau ustadz di kelas, mulai dari menghukum sampai mencibirnya sebagai contoh yang tidak baik untuk ditiru. Respon yang demikian ini, kadang tidak solutif. Alih-alih membuat sang anak berhenti, yang ada justru semakin bandel dan menjadi-jadi.

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel

KH Saifuddin Zuhri (alm), selain sebagai tokoh pergerakan nasional, komandan milisi Islam Hizbullah dan mantan menteri agama RI, beliau juga dikenal sebagai pendidik. Dalam otobiografinya yang legendaris, Guruku Orang-orang dari Pesantren, ia banyak menceritakan pengalamannya dalam mendidik. Salah satu hal yang diungkapkan, adalah bagaimana cara seorang guru menangani murid yang bandel atau nakal.

“Anak yang bersangkutan dipanggil ke muka? kelas, diberi nasihat dan peringatan seperlunya. Atau menahan dia pada jam mengasoh (istirahat–red) untuk sekali lagi diberi nasihat dan peringatan. Atau dengan jalan aku panggil ke rumah. Aku tanyakan kepadanya, apakah cukup aku sendiri yang menasihati, atau biar aku serahkan kepada orang tuanya untuk dinasihati?” demikian tulis ayahanda Menag RI Lukman Hakim Saifuddin.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tak hanya itu, jurnalis NU tersebut juga masih memberi opsi yang tak kalah jitu, dengan menulis sebagai berikut: “Ada lagi dengan cara lain. Anak itu aku dekatkan di hatiku. Aku panggil ke rumah untuk membantu pekerjaanku yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Misalnya aku ajak menyertai aku ke pasar membeli bibit tanaman dan dia kusuruh menemani aku menanam bibit itu di halaman rumahku. Pokoknya aku dekatkan dengan hatiku dan kuinsyafkan bahwa aku sangat sayang kepadanya,” tulisnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan demikian, ungkap Kiai Saifudin, pada umumnya ia berhasil menjadikan anak yang bandel, nakal, menjadi redam. Meski begitu, imbuhnya, tidak bisa sekaligus, memerlukan sedikit waktu dan kesabaran.

Dalam teori dan buku-buku, hal ini biasanya dibahas dalam psikologi pendidikan. Bagi anda para ustadz ataupun guru yang memiliki murid bandel – selain dengan doa – ada? baiknya menerapkan saran, anjuran dan kiat dari tokoh NU ini. Secara empirik, beliau telah membuktikan keberhasilannya dalam menaklukkan anak-anak yang membandel. Semoga berhasil. (Ahmad Naufa)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 18 Oktober 2017

Tutup Ramadhan dengan Berdoa

Oleh KH A Mustof Bisri

Siang demi siang dan? malam demi malam Ramadhan telah kita lalui. Kehidupan yang lain daripada yang lain telah kita jalani di bulan yang kita sebut bulan suci ini. Kita berdoa semoga kita mampu menyerap kesucian bulan ini. Mampu tidak hanya memaknai tapi sekaligus menghayati? puasa kita. Sehingga nilai tambahnya tidak hanya berupa ganjaran di akhirat, namun dapat merupakan peningkatan pribadi kita sebagai hamba-hamba mukmin yang tahu bersyukur.

Tutup Ramadhan dengan Berdoa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Ramadhan dengan Berdoa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Ramadhan dengan Berdoa

?

Kita berdoa semoga Ramadhan kali ini benar-benar? berhasil mendidik kita menjadi manusia yang lain, manusia yang tidak hanya menyadari kekhalifahannya, tapi sekaligus kehambaannya. Manusia yang saleh di hadapan Allah dan saleh di hadapan sesama manusia.

Kita berdoa dan berdoa,? karena agaknya memang hanya –berdoa-- itulah andalan kita selama ini. Apalagi bila mengingat sekian Ramadhan lepas begitu saja tanpa terlihat bekasnya pada pribadi kemusliman kita.? Muslim yang paling baik menurut? Pemimpin Agung kaum muslimin dan yang paling tahu tentang keIslaman, Nabi Muhammad SAW, ialah “Man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi.” Orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya? tidak melukai sesama. Jadi bukan orang yang berkobar-kobar membela Islam dengan keganasan lisan dan tangannya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

?

Kita berdoa; karena sekian Ramadhan terlewati begitu saja tanpa berhasil mendidik kita untuk menjadi manusia yang benar-benar jujur. Pendidikan jujur yang diberikan oleh puasa setiap Ramadhan, ternyata hanya berlaku –kalau pun berlaku— pada puasa pada bulan suci itu. Sebagaimana pendidikan rendah hati? dan kedermawanan? yang hanya terserap –kalau pun terserap--? tak seberapa dan sementara.? Kesombongan sebagai kaum yang merasa paling selamat, paling benar,? dan paling mulia di sisi Allah, masih sangat kental terasa; meski kebanyakan kita tidak merasa. Kedermawan kita juga masih sarat termuati pamrih tersembunyi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

?

Kita berdoa; karena agaknya kita tidak mampu percaya bahwa puasa Ramadhan telah kita jalani sebagaimana mestinya. Apalagi sikap kita terhadap puasa Ramadhan terkesan masih terpaksa dan di bawah sadar minta dihargai. Himbauan “menghormati Ramadhan” apa maksudnya,? kalau tidak si penghimbau ingin dibantu berpuasa atau ingin dihargai? Apakah Ramadhan butuh dihormati? Bukankah Ramadhan sejak awal sudah terhormat? Seolah-olah karena kita sudah mau berpuasa, mau mengekang nafsu dan syahwat, mau mengubah kehidupan yang sangat duniawi? menjadi kehidupan ruhani, maka kita harus dihargai dan minta imbalan. ?

?

Kita berdoa; karena kita belum bisa yakin bahwa? puasa kita telah berhasil menyeimbangkan diri kita sebagai manusia daging dan ruh, manusia dunia-akherat.? Apalagi sehari-hari di bulan suci ini, di samping tidak makan? tidak minum di siang hari dan ramai-ramai taraweh, acara-acara duniawi? yang bersifat daging rupanya tidak mau? begitu saja diabaikan.? Bahkan kepentingan-kepentingan? daging begitu lihai menyusup ke dalam? ‘amalan-amalan? ibadah’, seperti? menyusupnya? kepentingan-kepentingan politisnya? politisi? dalam agitasi kerakyatan dan keagamannya.? Ramainya tadarus bersaing dengan hiruk-pikuknya? acara badutan? tv yang sering kali tak jelas maksud dan tujuannya.

Untunglah masih ada doa. Maka marilah? kita berdoa semoga puasa dan amal ibadah kita diterima oleh Allah. Semoga kesalahan-kesalahan dan kekuarangan-kekurangan kita diampuniNya.? Semoga puasa Ramadhan kali ini benar-benar berhasil mendidik kita menjadi manusia yang seimbang: manusia yang hamba dan khalifah Allah; manusia yang daging dan ruh; manusia yang menyembah Tuhan dan mengasihi sesama hambaNya; manusia dunia-akherat. Amin.

?

Penulis kini adalah Mustasyar PBNU. Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka 8 September 2010



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News, Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 17 Oktober 2017

Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Majelis Pembina Cabang PMII Cirebon Dr Ilman Nafi’a mengingatkan forum konferensi cabang sebagai wadah yang mengakomodasi kader terbaik PMII untuk memimpin. Menurut Ilman, di samping pembelajaran konferensi cabang PMII merupakan cermin dari komitmen kader PMII atas nilai-nilai pergerakan organisasi.

Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabincab Dorong Kader Terbaik Nakhodai PMII Cirebon

Konfercab ialah sarana menentukan kepemimpinan sehingga memberikan peluang untuk menempatkan kader-kader pilihan sebagai pemimpin di PMII," kata Ilman pada Konfercab ke-38 PMII Cirebon di gedung KNPI kota Cirebon, Rabu (8/10).

Seluruh kader PMII, pesan Ilman, perlu menyamakan persepsi dan pandangan terkait arah gerakan PMII Cirebon terutama parihal pengaruh politik praktis.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Konfercab juga harus menjadi momentum pembelajaran untuk menghindarkan diri dari praktik politik praktis, apalagi menjadi boneka kaum elit politik," pesan Ilman. (A Imam Baehaqi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh, Kajian Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 16 Oktober 2017

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud

Raja Kisra yang terkenal adil suatu kali harus menyelesaikan kasus “aneh” dua pria yang sedang bersengketa. Dikatakan aneh karena keduanya berselisih bukan karena sedang berebut kekayaan, melainkan sebaliknya: berebut saling menolak kekayaan.

Kisah persengketaan keduannya dimulai ketika seorang pria membeli rumah dari pria lainnya. Tanpa dinyana, di dalam rumah itu terdapat harta simpanan. Si pembeli yang merasa hanya membeli bangunan rumah (bukan sekaligus isinya) pun menemui penjual dan berniat mengembalikan harta yang ia nilai bukan haknya.

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud

“Saya menjual rumah, dan tak tahu kalau ada harta simpanan di dalamnya. Harta ini berarti milikmu,” si penjual rumah menanggapi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Si pembeli pun berontak, “Kamu harus mengambil harta ini karena memang di luar barang yang seharusnya saya beli (yakni rumah).”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari sini, perdebatan saling menolak klaim kepemilikan harta berlangsung panjang. Hingga akhirnya kasus sampai ke tangan Raja Kisra untuk mendapat penyelesaian hukum secara adil.

Setelah mendengarkan kronologi masalah, Kisra bertanya, “Apakah kalian memiliki anak?”

“Hamba punya anak laki-laki dewasa,” jawab si penjual rumah.

“Hamba punya anak perempuan dewasa,” tutur si pembeli rumah.

“Saya perintahkan kalian saling menjodohkan anak-anak kalian, sehingga terbangunlah hubungan kekerabatan. Selanjutnya, infakkan harta yang kalian perselisihkan itu kepada sepasang pengantin ini untuk kemaslahatan keluarga mereka,” instruksi Raja Kisra. Perintah ini dilaksanakan dan persengketaan aneh itu pun selesai tanpa menyisakan masalah.

Kisah ini termaktub dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi. Drama tersebut menampilkan campuran antara kezuhudan, infak, dan kecerdikan dalam memutuskan perkara.

Persengketaan dua pria tersebut seolah menyindir sikap orang kebanyakan yang lazimnya mencintai kekayaan. Dengan cara yang sama-sama mudah, sebetulnya salah satu dari kedua orang itu bisa mendapatkan sebuah keuntungan. Namun, sikap zuhud mereka mengubah perkara yang “semestinya sederhana” tampak kian runyam. Karena sangat berhati-hati, mereka berebut tidak mau mengklaim kekayaan yang bagi mereka masih abu-abu status hukumnya.

Meski bentuk kasus berbeda, persoalan yang mirip dengan cerita di atas kerap kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Namun, apakah seseorang bisa bersikap selayak kedua pria zuhud itu atau tidak, kembali kepada pribadi masing-masing dalam memaknai hakikat kekayaan dan hidup yang fana ini. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, Makam, Syariah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I

Tidak banyak orang yang mengenal sosok Kiai Mahfudh, ayahanda Kiai Sahal Mahfudh. Kisah hidup Kiai Mahfudh sayup-sayup terdengar, selain beliau wafat pada usia muda, juga saksi hidup yang mampu menceritakan kisah hidup beliau susah ditemukan. Meski demikian, kisah-kisah lisan tentang sepak terjang Kiai Mahfudh menjadi cerita menarik bagi santri-santri di kawasan Kajen.

Kiai Mahfudh merupakan putra dari Kiai Abdussalam, yang silsilahnya sampai ke Syekh Mutamakkin, lewat Mbah Hendrokusumo. Kiai Mahfudh merupakan saudara dari Kiai Abdullah Zeyn Salam (Mbah Dullah). Dalam sebuah kisah, Mbah Mahfudh merupakan kiai, pejuang dan santri yang cerdas. Ia memahami turats secara mendalam, menguasai ilmu-ilmu politik-intelijen dan hafidzul quran. Ketika mengantar adiknya, Kiai Abdullah Salam mondok mengaji kepada Kiai Said, Pamekasan Madura, Mbah Mahfudh ikut menemani adiknya selama dua minggu. Hal ini dilakukan untuk menghibur dan menjaga adiknya agar kerasan mondok. Selama proses menemani adiknya itu, Mbah Mahfudh sambil menghafal Al-Qur’an dan khatam dalam waktu hanya dua minggu.

Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Mahfudh, Kiai Sahal dan Fort Willem I

Kiai Mahfudh dilahirkan sekitar tahun 1900-an. Belum ada data akurat yang dapat diakses untuk menjadi tonggak kelahiran, ayahanda Kiai Sahal. Mbah Mahfudh merupakan putra dari Kiai Salam bin Ismail, dan ibundanya bernama Nyi Mirah. Beliau merupakan putra ketiga dari empat saudara. Pada masa kecil, Kiai Mahfudh belajar mengaji kepada ayahandanya, Kiai Salam, yang merupakan ulama terkemuka di kawasan lereng Muria. Pada waktu itu, pesantren sebagai institusi pendidikan belum didirikan secara formal, hanya majelis-majelis mengaji di rumah kiai, musholla dan masjid. Masjid Kajen, yang menjadi warisan arkeologis dan situs Islam, peninggalan Syekh Mutamakkin menjadi referensi kegiatan keagamaan di kawasan Kajen. Perguruan Islam Mathaliul Falah, baru didirikan pada 1912. Mengiringi beberapa pesantren tua lainnya, semisal Tebu Ireng (didirikan Syekh Hasyim Asyari pada 1899, di Jombang), pesantren Lirboyo (oleh Mbah Manaf/KH. Abdul Karim, pada 1910 di Kediri), pesantren Krapyak di Yogyakarta, yang didirikan oleh KH. Munawir pada 1910.

Mathaliul Falah, dengan demikian menjadi titik episentrum pendidikan dan kawah candradimuka santri-santri serta masyarakat Kajen, yang kemudian disusul oleh pesantren-pesantren lainnya, semisal Salafiyyah, yang menandai kawasan Kulon Banon dan Wetan Banon, dalam historiografi keislaman di Kajen.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mbah Mahfudh berperan penting dalam proses pendidikan Kiai Sahal, terutama pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan. Kiai Sahal mengungkapkan—dalam kisah yang dituturkan Neng Tutik Nurul Jannah (2014) bahwa ayahandanya, Kiai Mahfudh sebenarnya menjalankan strategi diplomasi politik dengan Belanda. Ketika masih kecil, Kiai Sahal sering melihat tamu-tamu pembesar Belanda datang ke rumah ayahandanya, untuk berdiskusi dan terlibat perbicangan membahas masalah politik maupun keagamaan. Kiai Mahfudh berbicara dengan tamu Belanda, menggunakan bahasa Melayu—bahasa yang belum banyak dipakai orang pribumi Jawa masa itu. Uniknya, Mbah Mahfudh belajar bahasa Melayu dari para santrinya. Beliau, acapkali mengundang santrinya untuk membaca koran berbahasa Melayu, hingga mengerti maksud dan ungkapan-ungkapannya. Inilah, metode belajar dari Kiai Mahfudh untuk mengakses jendela pengetahuan dan pergerakan nasional masa itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Beberapa kali orang Belanda datang ke rumah, dan diterima dengan baik oleh Bapak", ungkap Kiai Sahal, sebagaimana dikisahkan oleh Tutik Nurul Jannah.

Lalu, apa sebenarnya yang melatar belakangi diplomasi politik Mbah Mahfudh dengan mendekati bahkan bekerjasama dengan pembesar Belanda? Tidak lain dan tidak bukan, adalah motivasi politik. Inilah strategi ala pesantren, yang mampu luwes dalam melihat gelombang politik kolonial, dengan melihat dari dekat kekuatan lawan. Persis, ketika Gus Dur mendekati Benny Moerdani untuk melihat dan memetakan kekuatan politik Orde Baru, strategi intel-militer serta jaringan murid-murid Pater Beek yang bergerak pasca peristiwa 1965.

Kiai Wahab Chasbullah, mengingatkan: "kalau ingin keras, harus punya keris". Maksudnya, strategi politik yang canggih dengan melawan secara frontal atau melawan dengan lembut, harus dimulai dulu dengan mengukur kekuatan diri sendiri sekaligus memetakan kekuatan lawan. Inilah, yang sering diungkap oleh arsitek militer dan pakar strategi Tiongkok, Tsun Zu dalam karyanya the Art of War, ?; S?nz? b?ngf?).

Dengan demikian, Kiai Mahfudh berusaha mendekat dengan pejabat Belanda, untuk mengetahui strategi, gerakan hingga kerja-kerja intelijen Belanda (PID, Politie Inlichtingen Dienst dan RID, Regionale Inlichtingen Dienst) yang saat itu bergerak lincah. Selain itu, Kiai Mahfudh juga ingin agar pesantren Mathaliul Falah, tidak dikubur sebelum berkembang oleh rezim kolonial Belanda. "Motivasi politik yang dimaksudkan di sini adalah kebutuhan Belanda untuk berhubungan baik dengan tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh kuat di lingkungannya dengan tujuan meredam dan memata-matai tokoh tersebut agar tidak mematik bergolakan di kalangan republik. Di sisi lain, kedekatan ini cukup menguntungkan, terutama bagi keberlangsungan lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Kiai Mahfudh, yakni Perguruan Islam Mathaliul Falah" (Jannah, 2014).

Akan tetapi, hubungan retak terjadi antara Kiai Mahfudh dengan birokrat Belanda, ketika munculnya peristiwa pegadaian. Peristiwa ini, ditandai dengan kondisi yang tidak kondusif pada masa itu, dengan banyaknya perampokan dan penjarahan terhadap toko serta pasar. Melihat kondisi ini, dengan latar belakang ekonomi warga muslim di kawasan Pati kelas menengah ke wabah, Kiai Mahfudh menginisiasi dengan memerintahkan santri-santri untuk ikut menjaga pedagadaian, agar asetnya tidak dijarah oleh orang-orang yang tidak berhak dan dirusak oleh amuk massa.

Peristiwa pegadaian terjadi pada kisaran tahun 1940-an. Pada masa itu, politik ekonomi Belanda sedang mengalami pergolakan, terutama menjelang Perang Dunia II. Militer Jepang sedang merangsek untuk memperluas wilayah politik dan keamanan, di kawasan Asia Tenggara. Fondasi ekonomi dan politik kolonial di wilayah Hindia Belanda, terancam dengan ekspansi militer Jepang.

Pada masa itu, pegadaian merupakan salah satu kunci ekonomi di daerah Pati, selain pasar tradisional dan toko-toko kelontong milik pengusaha Tionghoa. Pegadaian, sebenarnya merupakan aset dari pemerintah Hindi Belanda, untuk memberi modal cepat bagi petani dan nelayan. Barang-barang milik petani dan warga kecil, banyak yang disimpan di pegadaian, untuk digadaikan agar mendapat pinjaman uang. Ketika masa panen, biasanya barang di pegadaian diambil kembali oleh pemiliknya—para petani kecil. Langkah Mbah Mahfudh, dengan menginstruksikan santri-santri menjaga pegadaian merupakan strategi jitu, agar barang-barang berharga milik warga kecil terlindungi. Lebih jauh, Mbah Mahfudh juga memberi perintah agar barang-barang di pegadaian dikembalikan kepada pemiliknya, yakni warga miskin dan petani-petani kecil di kawasan Pati. Terang saja, langkah ini membuat pejabat Belanda berang, karena aset mereka diambil oleh santri-santri dan dibagikan kepada penduduk. Pemerintah Belanda mengalami kerugian, apalagi pabrik Gula di P

akis dan Trangkil, masa itu tidak bisa diandalkan hasilnya, karena situasi politik yang tidak stabil.

Aksi Mbah Mahfudh semakin membikin marah Belanda, ketika beliau dengan santri-santrinya menyerang Rumah Sakit Kristen (RSK) di Tayu. Rumah Sakit ini, dianggap sebagai pusat konsolidasi politik dan juga basis kristenisasi di lereng Muria. Dengan menggasak Rumah Sakit Kristen, Mbah Mahfudh setidaknya mendapatkan dua keuntungan, yakni melemahkan basis kekuatan politik Belanda dan mengendurkan moral serdadu Hindia Belanda.

Setelah berjuang melawan kolonial, akhirnya Mbah Mahfudh ditangkap oleh militer Belanda. Beliau kemudian dipenjara, dan dipindah ke penjara Ambarawa, hingga kedatangan militer Jepang. Fort Willem I, merupakan benteng yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, selama 11 tahun, sejak 1834-1845, di bawah kepemimpinan Kolonel Hoorn. Benteng ini, dibangun untuk menghormati Raja pertama Kerajaan Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau. Bangunan benteng ini, terletak di dekat jalan utama Ambarawa, di perlintasan Semarang-Solo dan Semarang-Yogya. Warga sekitar, mengenal Benteng ini sebagai Benteng Pendem.

Kiai Mahfudh wafat di Fort Willem I, Ambarawa, pada tahun 1944. Perlawanan terhadap kolonial, konsep politik kebangsaan dan diplomasi politik Mbah Mahfudh, sejatinya menjadi telaga inspirasi bagi Kiai Sahal. Ide-ide dan prinsip politik kebangsaan Kiai Sahal, dipengaruhi oleh ayahandanya, sang pejuang kemerdekaan, KH. Mahfudh Salam. [Munawir Aziz]

 

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, Peneliti di Fiqh Sosial Institute (FISI) IPMAFA Kajen Pati  & Dewan Redaksi Penerbit Mizan, berinteraksi di @MoenawirAziz

–kajian Tutik Nurul Jannah, hasil wawancara dengan Kiai Sahal, pada 20 Oktober 2012, dan 18 Desember 2012, tertuang dalam buku Epistemologi Fiqh Sosial: Konsep Hukum Islam dan Pemberdayaan Masyarakat (2014, STAIMAFA Press, editor: Munawir Aziz).

–biografi Kiai Mahfudh dan konteks sejarah hidupnya, masih memerlukan riset lanjutan. Hal ini, karena data yang sangat terbatas untuk mengulas sepak terjang dan perjuangan melawan kolonial yang dilakukan beliau

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, AlaSantri, Aswaja PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 15 Oktober 2017

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Puluhan ulama dan ribuan pelayan tampak terus berdatangan ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Senin pagi, untuk memberi penghormatan terakhir bagi putra pendiri NU Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, yakni KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).

KH Abdullah Faqih (Langitan, Tuban) menjadi imam sholat jenazah ke-42 di Masjid Pesantren Tebuireng, Jombang. Ulama lain yang datang bertakziah antara lain KH Nurul Huda Djazuli (Kediri) dan KH Ali Masyhuri (Gus Ali) dari Tulangan, Sidoarjo, dan Ketua Umum PBNU DR HC KHA Hasyim Muzadi yang sudah datang sejak semalam.

Sementara itu, pengasuh utama Pesantren Tebuireng Ir KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) sudah datang ke Jombang pada Minggu (14/1) pukul 00.00 WIB, namun mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kakak Gus Sholah dan juga keponakan Pak Ud tak bisa datang karena sakit.

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud

Dari kalangan pejabat yang melayat antara lain Gubernur Jatim H Imam Utomo pada Minggu (14/1) malam dan Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja pada Senin (15/1) pagi.

Sejumlah karangan bunga juga berdatangan, diantaranya dari mantan Presiden HM Soeharto (Pak Harto) dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Tak Ada Pesan Khusus

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, mengaku tidak ada pesan khusus sebelum KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud meninggal dunia di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu (14/1) malam.

"Secara eksplisit tidak ada pesan khusus dari beliau, hanya yang paling saya ingat adalah kata-kata beliau pada bulan Februari 2006 lalu, bahwa dirinya sudah tua dan sudah saatnya menyerahkan kepemimpinan ponpes ini," kata Gus Sholah usai mengikuti prosesi pemakaman Pak Ud di Tebuireng, Jombang, Senin.

Pada saat itu, Gus Sholah sendiri mengaku kaget dengan pernyataan Pak Ud yang menyerahkan tampuk kepengasuhan Ponpes kepadanya secara tiba-tiba itu. "Saat itu saya tidak banyak diberi kesempatan bertanya karena beliau hanya mengatakan, kamulah yang pantas memegang pondok ini," ujar Gus Sholah menambahkan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah secara resmi menyerahkan tampuk pengasuh Ponpes Tebuireng kepada Gus Sholah pada bulan Juni 2006, Pak Ud sudah tidak lagi tinggal di kediaman yang berada di sebelah barat pintu gerbang salah satu ponpes tertua di Jatim itu.

Pak Ud memilih tinggal di sebelah selatan Pasar Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang dengan sesekali mengunjungi Ponpes Tebuireng yang sudah lama diasuhnya itu.

Fenomena yang terjadi pada bulan Juni 2006 itu sangat menarik, lantaran sangat jarang seorang pengasuh ponpes salaf menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada anggota keluarganya ketika masih hidup.

Lazim ditemui, pengasuh ponpes salaf akan berganti dengan sendirinya ketika pengasuhnya sudah mangkat. Namun Pak Ud telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada kalangan ulama.

Lebih lanjut, Gus Sholah mengatakan, khusus untuk mengembangkan pengajaran ilmu di bidang agama, sudah banyak tenaga pengajar yang mampu di lingkungan Ponpes Tebuireng.

"Sekarang tinggal kami kembangkan lebih maju lagi dengan mendirikan Ma’had Ali yang merupakan sebuah lembaga pendidikan tinggi di bidang kajian kitab kuning, mulai tahun ini," ujarnya menjelaskan.

Sedang di bidang ilmu umum, Gus Sholah telah menyusun program tahap awal mengenai perbaikan peningkatan kualitas tenaga pengajar, bahkan kalau perlu diberi kesempatan belajar di luar negeri.

Pak Ud meninggal dunia di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu malam dalam usia 78 tahun akibat menderita radang paru-paru. Sehari sebelum meninggal dunia, Pak Ud dibesuk Wapres Jusuf Kalla di Graha Amerta RSUD dr Soetomo, Sabtu (13/1) sore. (ant/sbh/mad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, AlaSantri, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan saat ini toleransi yang ada di dunia sedang menghadapi cobaan. Karena itu, NU terus berjuang untuk menumbuhkan toleransi baik antar agama maupun diantara aliran dalam satu agama.

Hal ini disampaikannya ketika memberikan sambutan pada puncak acara Global Peace Festival yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Ahad (17/10).

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

“Toleransi harus ditumbuhkan antara muslim dengan non muslim maupun antara muslim dengan muslim lainnya,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia mengisahkan KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur merupakan salah satu dari tim sembilan yang merumuskan pembentukan negara ini. Mereka sepakat untuk membentuk negara bangsa yang tidak didasarkan atas agama, meskipun umat Islam mayoritas di Indonesia.

Sementara itu Menakertrans Muhaimin Iskandar menyatakan pemerintah sangat mendukung kampanye perdamaian, baik antara sesama manusia maupun perdamaian antar negara.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan rakyat Indonesia sepakat membentuk sebuah negara karena ingin hidup dalam damai, lepas dari penjajahan bangsa lain.

“Para pendiri negara ini, sebagaimana tercermin dalam UUD 1945 sepakat ikut melaksanakanketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi,” katanya.

Karena itu, UUD memberi jaminan kepada warga negara untuk melaksanakan keyakinannya, serta memiliki berbagai macam hak lainnya yang dilindungi UU. “Tak ada tempat yang tak toleran dalam konstitusi kita,” tegasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh, Ahlussunnah, Syariah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah