Minggu, 15 Oktober 2017

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Puluhan ulama dan ribuan pelayan tampak terus berdatangan ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Senin pagi, untuk memberi penghormatan terakhir bagi putra pendiri NU Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, yakni KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).

KH Abdullah Faqih (Langitan, Tuban) menjadi imam sholat jenazah ke-42 di Masjid Pesantren Tebuireng, Jombang. Ulama lain yang datang bertakziah antara lain KH Nurul Huda Djazuli (Kediri) dan KH Ali Masyhuri (Gus Ali) dari Tulangan, Sidoarjo, dan Ketua Umum PBNU DR HC KHA Hasyim Muzadi yang sudah datang sejak semalam.

Sementara itu, pengasuh utama Pesantren Tebuireng Ir KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) sudah datang ke Jombang pada Minggu (14/1) pukul 00.00 WIB, namun mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kakak Gus Sholah dan juga keponakan Pak Ud tak bisa datang karena sakit.

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ulama Beri Penghormatan Terakhir Bagi Pak Ud

Dari kalangan pejabat yang melayat antara lain Gubernur Jatim H Imam Utomo pada Minggu (14/1) malam dan Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja pada Senin (15/1) pagi.

Sejumlah karangan bunga juga berdatangan, diantaranya dari mantan Presiden HM Soeharto (Pak Harto) dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Tak Ada Pesan Khusus

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, mengaku tidak ada pesan khusus sebelum KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud meninggal dunia di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu (14/1) malam.

"Secara eksplisit tidak ada pesan khusus dari beliau, hanya yang paling saya ingat adalah kata-kata beliau pada bulan Februari 2006 lalu, bahwa dirinya sudah tua dan sudah saatnya menyerahkan kepemimpinan ponpes ini," kata Gus Sholah usai mengikuti prosesi pemakaman Pak Ud di Tebuireng, Jombang, Senin.

Pada saat itu, Gus Sholah sendiri mengaku kaget dengan pernyataan Pak Ud yang menyerahkan tampuk kepengasuhan Ponpes kepadanya secara tiba-tiba itu. "Saat itu saya tidak banyak diberi kesempatan bertanya karena beliau hanya mengatakan, kamulah yang pantas memegang pondok ini," ujar Gus Sholah menambahkan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah secara resmi menyerahkan tampuk pengasuh Ponpes Tebuireng kepada Gus Sholah pada bulan Juni 2006, Pak Ud sudah tidak lagi tinggal di kediaman yang berada di sebelah barat pintu gerbang salah satu ponpes tertua di Jatim itu.

Pak Ud memilih tinggal di sebelah selatan Pasar Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang dengan sesekali mengunjungi Ponpes Tebuireng yang sudah lama diasuhnya itu.

Fenomena yang terjadi pada bulan Juni 2006 itu sangat menarik, lantaran sangat jarang seorang pengasuh ponpes salaf menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada anggota keluarganya ketika masih hidup.

Lazim ditemui, pengasuh ponpes salaf akan berganti dengan sendirinya ketika pengasuhnya sudah mangkat. Namun Pak Ud telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada kalangan ulama.

Lebih lanjut, Gus Sholah mengatakan, khusus untuk mengembangkan pengajaran ilmu di bidang agama, sudah banyak tenaga pengajar yang mampu di lingkungan Ponpes Tebuireng.

"Sekarang tinggal kami kembangkan lebih maju lagi dengan mendirikan Ma’had Ali yang merupakan sebuah lembaga pendidikan tinggi di bidang kajian kitab kuning, mulai tahun ini," ujarnya menjelaskan.

Sedang di bidang ilmu umum, Gus Sholah telah menyusun program tahap awal mengenai perbaikan peningkatan kualitas tenaga pengajar, bahkan kalau perlu diberi kesempatan belajar di luar negeri.

Pak Ud meninggal dunia di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Minggu malam dalam usia 78 tahun akibat menderita radang paru-paru. Sehari sebelum meninggal dunia, Pak Ud dibesuk Wapres Jusuf Kalla di Graha Amerta RSUD dr Soetomo, Sabtu (13/1) sore. (ant/sbh/mad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, AlaSantri, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan saat ini toleransi yang ada di dunia sedang menghadapi cobaan. Karena itu, NU terus berjuang untuk menumbuhkan toleransi baik antar agama maupun diantara aliran dalam satu agama.

Hal ini disampaikannya ketika memberikan sambutan pada puncak acara Global Peace Festival yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Ahad (17/10).

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

“Toleransi harus ditumbuhkan antara muslim dengan non muslim maupun antara muslim dengan muslim lainnya,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia mengisahkan KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur merupakan salah satu dari tim sembilan yang merumuskan pembentukan negara ini. Mereka sepakat untuk membentuk negara bangsa yang tidak didasarkan atas agama, meskipun umat Islam mayoritas di Indonesia.

Sementara itu Menakertrans Muhaimin Iskandar menyatakan pemerintah sangat mendukung kampanye perdamaian, baik antara sesama manusia maupun perdamaian antar negara.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan rakyat Indonesia sepakat membentuk sebuah negara karena ingin hidup dalam damai, lepas dari penjajahan bangsa lain.

“Para pendiri negara ini, sebagaimana tercermin dalam UUD 1945 sepakat ikut melaksanakanketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi,” katanya.

Karena itu, UUD memberi jaminan kepada warga negara untuk melaksanakan keyakinannya, serta memiliki berbagai macam hak lainnya yang dilindungi UU. “Tak ada tempat yang tak toleran dalam konstitusi kita,” tegasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh, Ahlussunnah, Syariah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil

Surabaya, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Aktivitas solidaritas untuk aktivis anti-tambang Salim Kancil dan Tosan terus bergulir, Jumat (2/10) lalu, sedikitnya 100 massa dari berbagai ormas yang ada di Surabaya mengadakan doa bersama dan istighotsah di Taman Apsari, tepat di depan gedung Grahadi Surabaya Jawa Timur.

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil

Aliansi ini terdiri dari para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Surabaya, PCNU, Walhi Jawa Timur, Pusat Hak Asasi Manusia, Gusdurian, Ecoton, CRIS Foundation, CMARS, LPBP Waduk Depat, Kolektif Mata Rantai, dan LBH Kota Surabaya.

KH Saiful Halim yang memimpin acara tersebut menyatakan, acara ini digelar guna mendoakan almarhum Salim Kancil agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan yang Maha Esa dan kebenaran yang telah diperjuangkannya tidak sia-sia. “Kami juga berdoa untuk masyarakat yang berada di sepanjang pantai pesisir selatan agar tidak ada yang menjadi ‘Salim’ berikutnya, sebagai korban konflik sosial,” harap Kiai Saiful.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, pembukaan penambangan pasir besi di sepanjang pesisir selatan dari Banyuwangi hingga Lumajang menuai protes dari masyarakat, sehingga pemerintah kabupaten setempat harus tegas menolak penambangan yang menjadi pemicu konflik horisontal antarmasyarakat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PC IPNU Surabaya, Agus Setiawan mengatakan, tragedi berdarah di Desa Selok Awar-awar Lumajang bisa saja terjadi di wilayah-wilayah lain, apabila tidak ada langkah preventif sejak dini. “Karena masyarakat sudah tegas menolak penambangan pasir di sana,” tegasnya.

Sementara itu Direktur CMARS, Inoeng, dalam orasinya menyatakan, kasus terbunuhnya aktivis anti-tambang Salim Kancil harus menjadi pelajaran semua pihak dan agar pemerintah tidak gegabah untuk menerbitkan izin penambangan yang sudah jelas ditolak oleh masyarakat setempat, harus ada upaya evaluasi dalam pembangunan daerah.

"Kami mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap Salim Kancil dan Tosan yang menjadi korban kekerasan para penguasa desa setempat. Tangkap dan adili aktor intelektual dibalik terbunuhnya Salim Kancil," tegasnya.

Sebelumnya, aksi serupa juga telah banyak diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia, termasuk melalui penandatangan petisi di situs elektronik change.org. Petisi yang menuntut pengusutan tuntas kasus Salim Kencil tersebut ditujukan kepada Kapolri, Pemkab Lumajang, LPSK, Komnas HAM, dan KPAI. (Najih/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Pahlawan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 14 Oktober 2017

Masdar: Ramadhan, Bulan untuk Pertaubatan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi berharap agar bulan suci Ramadhan ini benar-benar digunakan sebagai waktu untuk melakukan pertaubatan bersama, terutama bagi para pemimpin ummat dan bangsa.

“Sesungguhnya keterpurukan dan kebangkrutan negeri ini adalah akibat belaka dari sikap mementingkan diri sendiri dan ketamakan para pemimpinnya,” katanya, Selasa (11/9).

Hal lain yang menjadi perhatian Direktur Pusat Perhimpunan dan Pengembangan Pesantren (P3M) ini adalah konsumerisme di bulan Ramadhan dimana orang seharusnya malah bisa menahan dirinya.

Masdar: Ramadhan, Bulan untuk Pertaubatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Ramadhan, Bulan untuk Pertaubatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Ramadhan, Bulan untuk Pertaubatan

“Kita harus menjadikan bulan suci ini sebagai awal pembiasaan diri untuk hidup sederhana dengan tidak membeli atau mengonsumsi barang-barang mewah yang tidak benar-benar diperlukan; lebih-lebih barang tersebut bukan hasil karya bangsa sendiri,” tandasnya.

Masdar juga berharap agar para pemimpin ummat hendaknya tidak menonjol-nonjolkan diri dalam penentuan awal atau akhir bulan suci Ramadhan. “Serahkan perihal penentuan awal dan akhir bulan suci Ramadhan penetapan Pemerintah melalui Departemen agama yang diambil berdasarkan musyawarah bersama,” imbuhnya.

Menurutnya kesatuan pendapat ini penting karena silang pendapat tentang kapan memulai dan mengakhiri puasa ini hanya akan membingungkan ummat. (mkf)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 13 Oktober 2017

9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebanyak sembilan guru dan pendidik madrasah menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Pemberian penghargaan itu diberikan Presiden dalam kesempatan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (24/11).

9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi

Mereka yang mendapat Satya Lencana adalah Masyitoh (Guru RA Muadz bin Jabal 2 Bantul Yogyakarta), Elvi Rahmi (Guru MIN Gulai Bancah Bukittinggi Sumbar), Nur Hasanah Rahmawati (Guru MTsN Maguwoharjo, Selman, Yogyakarta), dan Intan Irawati (MAN 15 Jakarta Timur). 

“Keempatnya adalah juara I pada pemilihan guru teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014,” terang Direktur Pendidikan Madrasah Kemanag RI, M Nur Kholis Setiawan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu, Nur Syarifah (Kepala RA Khadijah Muslimat NU Tabanan, Bali), Supriadi (Kapala MIN Kendari, Sultra), Lewak Karma (Kepala MTsN Al-Khoiriyah Buleleng, Bali), dan Nurlela (Kepala MAN 12 Jakarta Barat, DKI Jakarta). Mereka juga para juara I pada pemilihan kepala RA/Madrasah teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014. “Nurlela saat ini bertugas sebagai Kepala MAN 4 Pondok Pinang Jakarta Selatan,” kata Nur Kholis.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Satu orang yang juga mendapat Satya Lencana adalah Mustain, Juara I Pengawas Madrasah yang sehari-hari bertugas di Kankemenag Kabupaten Jepara,” tambah Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurut Nur Kholis, kesembilan guru ini memang layak menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI, Joko Widodo pada perayaan HGN tahun ini yang mengambil tema “Guru Mulia Karena Karya”. Mereka adalah para pendidik yang sudah mendedikasikan dirinya dalam pelaksanaan tugas pendidikan secara baik dan professional. “Karya mereka adalah para peserta didik yang baik, berprestasi, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Puncak perayaan HGN di Istora Senayan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Kerja seperti Mensesneg Pratikno, Menag Lukman Hakim Saifuddin, dan Mendikbud Anis Baswedan. 

Dalam peringatan yang dihadiri oleh 12.000 guru lebih, Presiden menekankan pentingnya guru sebagai pembentuk karakter bangsa. Guru, menurut Presiden adalah agen perubahan karakter bangsa. Perubahan karakter bangsa bisa dimulai dari kelas-kelas dan sekolah-sekolah. “Sekolah tidak hanya tempat menuntut ilmu pengetahuan melainkan arena pembelajaran anak-anak kita dalam membentuk karakter mereka,” ucap Presiden.

Selain itu, Presiden menegaskan, guru bukan hanya sebuah pekerjaan, tapi guru menyiapkan masa depan generasi bangsa. Presiden meyakini karya guru-guru dapat melukis masa depan Indonesia. Kualitas masa depan bangsa ini ditentukan oleh guru-guru hari ini. Menurut Presiden, guru adalah teladan bagi generasi masa depan dan pembelajar yang terus belajar. “Karena itu, guru bukan hanya sekedar pendidik, melainkan peletak dasar masa depan bangsa kita,” tandas Presiden. (Red: Fathoni)

Sumber: kemenag.go.id

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Olahraga PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 10 Oktober 2017

Keterbukaan Informasi Langkah Penting Menangkal Hoax

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) Abdulhamid Dipopramono mengungkapkan, gelaran Pemilukada DKI Jakarta menimbulkan ribuan penyebaran hoax dan SARA, terutama pada putaran pertama.

Keterbukaan Informasi Langkah Penting Menangkal Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
Keterbukaan Informasi Langkah Penting Menangkal Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

Keterbukaan Informasi Langkah Penting Menangkal Hoax

Dia mengungkap, berdasarkan data laporan pengaduan konten negatif yang masuk ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada Januari laporan yang masuk tentang hoax mencapai (5.070), SARA (5.144), Februari hoax (658), SARA (1.650), Maret hoax (111), SARA (561), April hoax (25) dan SARA (266).

“Jadi kenapa SARA dan hoax bisa tinggi di Januari saya menduga ada kaitannya dengan Pilkada. Ternyata setelah Februari turun, padahal Januari mencapai 5 ribu,” ujar Abdulhamid Dipopramono saat menjadi pembicara diskusi yang digelar KIP bertema Lawan Hoax dengan Keterbukan Informasi di Jakarta, Senin (22/5).

Dalam kaitan tersebut, Hamid menegaskan bahwa keterbukaan informasi menjadi langkah penting dalam menangkal penyebaran hoax. Sebab itu menurutnya, keterbukaan informasi menjadi penting dijalankan oleh lembaga publik. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Badan publik tidak bisa pasif, padahal keterbukaan publik bukan kewajiban, tapi suatu kebutuhan dari badan publik. Tujuannya untuk merebut panggung yang semakin dikuasai oleh informasi yang tidak terverifikasi,” tegas Hamid.

Berdasarkan data laporan pengaduan konten negatif yang masuk ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) selain hoax dan SARA, juga mengenai pornografi pada rentang Januari mencapai (308), Februari (2.348), Maret (2.715) dan April (364). 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Radikalisme dan terorisme eskalasinya yaitu Januari (255), Februari (27), Maret (26), April (28). Penipuan online Januari (80), Februari (334), Maret (87), April (48). Kekerasan Januari (2), Februari (5), Maret (20), April (8). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Warta PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 08 Oktober 2017

Ketika Perwira Polisi Alumni Pesantren Berbagi Saran Sukses kepada Santri

Subang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di kalangan masyarakat tidak sedikit yang menganggap bahwa masa depan santri paling hanya menjadi kiai, ustadz atau amil. Saat ini asumsi itu sudah terbantah dengan banyaknya alumni pesantren yang menjadi pengusaha, polisi, pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta profesi lainnya bahkan bisa menjadi Presiden seperti Gus Dur.

Ketika Perwira Polisi Alumni Pesantren Berbagi Saran Sukses kepada Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Perwira Polisi Alumni Pesantren Berbagi Saran Sukses kepada Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Perwira Polisi Alumni Pesantren Berbagi Saran Sukses kepada Santri

Mengenai hal ini, seorang alumni pesantren, Komisaris Besar Polisi Yahya Agil mengungkapkan rahasia dibalik kesuksesan seorang santri dalam kegiatan Harlah Ke-13 Pesantren Attawazun, Kalijati, Subang, Jawa Barat, Ahad (22/5).

Perwira Menengah Polisi yang bertugas di Pusat Sejarah Polri itu mengungkapkan, santri biasanya tidak memikirkan kelak akan jadi apa, yang penting bagi santri adalah belajar dan belajar serta ikhlas, menjaga akhlakul karimah dan patuh terhadap kiai, dengan begitu ia akan mendapatkan ilmu dan juga keberkahan.

Ditambahkannya, ilmu adalah cahaya yang hanya bisa hinggap di dalam hati yang bersih dan ikhlas, selain itu doa dari kiai juga ikut terlibat dalam mengantarkan seorang santri menuju gerbang kesuksesan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Saya dulu tidak kepikiran akan jadi polisi, dulu berpikirnya belajar dan belajar, kiai tidak pernah nyuruh kamu harus jadi gini jadi gitu, sebab urusan rezeki Allah yang mengatur," jelas Alumni Pesantren Gontor dan Pesantren Wali Songo Ngabar itu.

Ia pun mengingatkan kepada para orang tua bahwa tugas orang tua adalah mengarahkan anak untuk selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Dulu orang tua saya tidak menyuruh supaya jadi ini jadi itu, yang penting jadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain, itu saja cukup," tutup Yahya yang kini sedang menempuh studi S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah