Minggu, 08 Oktober 2017

Habib Luthfi Minta Masyarakat Pahami Sejarah untuk Bangun Bangsa

Tegal, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Mustasyar PBNU KH Habib Luthfi bin Yahya mengajak masyarakat dan bangsa Indonesia untuk memahami sejarah. Menurutnya, pemahaman atas sejarah perjalanan bangsa tidak kehilangan relevansinya di masa kini.

"Zaman sekarang penting memahami sejarah," kata Habib Luthfi saat memberikan taushiyah pada zikir akbar Peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriyah di Alun-alun Hanggawana Slawi, Kamis (21/9) lalu.

Habib Luthfi Minta Masyarakat Pahami Sejarah untuk Bangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Minta Masyarakat Pahami Sejarah untuk Bangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Minta Masyarakat Pahami Sejarah untuk Bangun Bangsa

Menurut Habib Luthfi, dengan memahami sejarah kita akan menghargai perjuangan dari leluhur kita dalam menjaga kesatuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia mencontohkan, seperti di dalam Al-Quran, nama-nama ayat di dalam Al-Quran juga tidak lepas dari sejarah. "Asbabun nuzul juga tidak lepas dari sejarah. Sejarah penting agar kita tidak lupa pelajaran-pelajaran di dalam sejarah," ungkap Habib.

Rais Aam Jamiyah Thoriqoh Annahdiyah itu juga mengajak kita untuk bersatu membangun bangsa bukan saling menjatuhkan dan saling melukai dengan bangsa sendiri. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Quote PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 07 Oktober 2017

Bertemu Raja hingga Ziarah ke Makam Nabi Suaib

Tanggal 2-6 Juli lalu, rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkunjung ke Yordania untuk melakukan sosialisasi berkaitan akan digelarnya International Conference of Islamic Scholars (ICIS) pada 20-22 Juni mendatang. Rombongan terdiri dari Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU Bidang Urusan Luar Negeri Rozy Munir, Wakil Sekretaris Jenderal Iqbal Sullam, Mutammimah Hasyim dan Mufidah Rozy Munir.

Jadwal kegiatan rombongan yang dipimpin Hasyim, sangat padat. Setibanya di kota Aman (ibukota Yordania), rombongan melakukan pertemuan dengan Raja Yordania Abdullah II untuk membicarakan ICIS II yang akan diikuti oleh ulama dan cendikiawan yang mewakili 57 negara.

Selain bertemu dengan raja, rombongan juga melakukan pertemuan dengan Pangeran Ghozi Bin Muhammad dan Dr Abdus Salam Al-Abbadi, Sekretaris Jenderal Yordania Hashemite Charity Organization.

Ketua PBNU Urusan Bidang Luar Negeri Rozy Munir mengatakan, ICIS II mendapat sambutan luar biasa dari tokoh-tokoh agama yang ditemui rombongan PBNU. Hasil dari kunjungan itu, Raja Abdullah dan sejumlah tokoh lainnya menyatakan kesiapannya untuk hadir pada hajatan besar PBNU itu. ”Tanggapan Raja Yordan dan ulama sana soal ICIS II sangat baik,” kata Rozy, begitu ia akrab disapa.

Usai bertemu dengan raja, rombongan kemudian menyempatkan diri berziarah ke makam Nabi Su’aib. Di makam nabi yang sangat bersejarah itu, Hasyim memimpin doa para anggota rombongan. Doa yang dibaca tentu khas NU, yaitu tahlil dan kalimat-kalimat thoyyibah lainya. ”Sebelum berdoa, kita solat sunnah dulu. Kita membaca doa dengan khusyuk sekali,” cerita Rozy.

Selain itu, rombongan Hasyim juga menyempatkan diri berkunjung ke goa Kahfi, yang juga sangat bersejarah bagi umat Islam di dunia. Bagi orang yang belum pernah, mengunjungi gua tersebut pasti menjadi impian. ”Kita juga menyempatkan berkunjung ke goa Kahfi. Kujungan ke goa itu sangat berkesan bagi kami,” ungkapnya.

Laut mati, yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit juga tidak luput dari perhatian rombongan PBNU. Meski tidak lama, Hasyim beserta rombongan menyempatkan merasakan laut yang kadar garamnya cukup tinggi itu. ”Saya terjun ke laut mati itu. Saya bisa terapung, karena kader garamnya yang tinggi. Anda pun di sana bisa terapung,” tuturnya.

Rombongan PBNU lantas melakukan perrtemuan dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Yordania. Pertemuan yang dikemas dengan acara jamuan makan malam itu di laksanakan di rumah duta besar Indonesia untuk Yordania, Ribhan Wahab. Ikut dalam pertemuan itu mahasiswa NU yang sedang menimba ilmu di sana. ”Sekitar 50 mahasiswa Indonesia ikut dalam pertemuan itu,” katanya.

Satu hal lagi yang membuat rombongan PBNU merasa gembira adalah rencana didirikannya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Yordania oleh kader-kader NU di negara yang terkenal dengan obyek wisatanya itu. ”Mereka telah siap untuk mendirikan PCI NU Yordania. Saya kira itu ide yang baik untuk mengembangkan NU di luar negeri,” ungkap Rozy. (Ahmad Millah Hasan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, Hadits PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bertemu Raja hingga Ziarah ke Makam Nabi Suaib (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu Raja hingga Ziarah ke Makam Nabi Suaib (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu Raja hingga Ziarah ke Makam Nabi Suaib

Kamis, 05 Oktober 2017

Isomil, Jembatan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Agenda International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) atau pertemuan internasional para pemimpin Islam moderat tinggal tersisa empat pekan lagi. Acara yang akan diselenggarakan pada 9-11 Mei 2016 ini akan dihadiri oleh para pemimpin Islam moderat dari 50 negara. Dari pertemuan ini gagasan Islam moderat akan berdengung di kalangan tokoh muslim sedunia.

“Peserta luar negeri sudah menyatakan konfirmasi sebanyak 30 negara. Dari 30 negara itu ada yang dua orang, tiga, dan yang satu orang,” kata panitia Isomil divisi acara dan protokol Ahmad Sudrajat, Senin (18/4) sore.

Isomil, Jembatan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Isomil, Jembatan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Isomil, Jembatan Islam Nusantara ke Penjuru Dunia

Sesuai rapat terakhir, Sudrajat menjelaskan bahwa patokan acara ini bukan hanya jumlah peserta yang hadir tapi juga jumlah negara yang sudah ditetapkan tersebut. Isomil adalah upaya untuk menyebarkan model Islam yang ramah seperti Islam Nusantara ke seluruh penjuru dunia.

“Kehadiran tokoh-tokoh internasional menjadi jembatan untuk mentransformasikan Islam yang rahmatal lil ‘alamin,” jelasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Upaya menyebarkan Islam Nusantara hingga ke luar negeri adalah tanggung jawab setiap warga NU. “Ini saya kira menjadi sebuah momen yang penting dan NU harus berani membuat duta besar keliling yang membawa Islam Nusantara sebagai bagian untuk menjaga Islam yang rahmatal lil ‘alamin,” jelas Sudrajat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementa itu, panitia Isomil divisi kesekretariatan Sarmidi Husna menjelaskan bahwa peserta Isomil bukan hanya dari luar negeri, tapi juga dari pengurus wilayah NU, serta pimpinan organisasi masyarakat Islam lainnya.

“Peserta adalah Mustasyar, Syuriyah, A’wan, dan Tanfidz NU. Kemudian ada perwakilan dari pengurus wilayah NU se-Indonesia, dan peserta yang nonstruktural seperti kiai-kiai NU yang tidak menjadi pengurus NU,” terang Sarmidi.

“Muhammadiyah, Persis, dan organisasi masyarakat Islam yang tergabung dalam Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) itu diundang semua menjadi peserta,” kata Sarmidi.

Dengan diadakannya Isomil ini, ia berharap Indonesia bisa memberikan contoh kepada dunia terkait dengan Islam yang moderat. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, Daerah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Peringati Hari Toleransi, Gusdurian Bondowoso Siapkan Nobar

Bondowoso,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur akan memperingati Hari Toleransi. Sallah satunya dengan nonton bareng (nobar) film "Cahaya Timur, Kota Teror”. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Akademi Komunitas Negeri pada Rabu 16 November 2016.

Peringati Hari Toleransi, Gusdurian Bondowoso Siapkan Nobar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Toleransi, Gusdurian Bondowoso Siapkan Nobar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Toleransi, Gusdurian Bondowoso Siapkan Nobar

Kordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan film tersebut berdurasi kurang lebih satu setengah jam.

Ia menambahkan, nobar tersebut akan melibatkan penonton lintas agama, ormas, organisasi kepemudaan (OKP) delegasi dari OSIS, dan mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Nanti akan ada hiburannya dari penampilan-penampilan di antaranya ada tari, akustik, dan singo ulung," imbuhnya.

Ia berharap dari kegiatan tersebut? menumbuhkan semangat menghargai perbedaan, memperluas jaringan semangat GusDurian dan membumikan 9 nilai-nilai Gus Dur. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pondok Pesantren, Sunnah, Santri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dalam sebuah khutbah mengatakan, “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis. Para sahabat yang lainnya pun heran. Hingga akhirnya diketahui bahwa hamba yang dimaksud Nabi itu tak lain adalah Abu Bakar. Mereka memeng mengakui keutamaan pribadi sahabat yang juga mertua Rasulullah itu.

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Dalam kesempatan lain, Nabi menyebut orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. "Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Tapi cukuplah antara aku dengan Abu Bakar ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam," kata Rasulullah.

Sayyidina Abu Bakar termasuk kelompok orang yang paling awal masuk Islam (as-sâbiqûnal awwalûn). Selain loyalitasnya yang sangat tinggi terhadap Rasulullah, ia juga dikenal sebagai sosok yang amat zuhud dan punya keistimewaan lebih dari para sahabat lain. Reputasi di mata Nabi dan sahabat-sahabat inilah yang membuatnya dipercaya mengemban amanat sebagai khalifah pertama selepas Rasulullah wafat.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan Sayyidina Abu Bakar, baik melalui keteladanannya atau petuah-petuah yang disampaikannya. Salah satu yang bisa ditimba adalah cerita tentang saat-saat beliau menjelang wafat. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Seperti ditulis dalam kitab Anîsul Muminîn karya Shafuk al-Mukhtar, suatu kali Sayyidah Aisyah, putri beliau yang juga istri Rasulullah, datang kepada Abu Bakar yang kala itu sedang sakit.

"Wahai Ayah, bagaimana bila aku panggilkan dokter?" tanya Aisyah.

"Ayah sudah ditangani dokter."

"Lalu apa kata dokter?" tanya Aisyah penasaran.

"Ayah boleh melakukan apa yang Ayah inginkan." Pernyataan dokter semacam ini menunjukkan bahwa sakit Abu Bakar cukup parah dan mendekati kematian. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Dengan kain mana aku nanti mengafani jenazah Ayah?"

"Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah."

"Baju itu sudah usang. Apa tidak sebaiknya aku belikan kain kafan yang baru?" tanya Aisyah.

Jawab Abu Bakar, "Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati."

Dialog Aisyah dan Abu Bakar tersebut membuktikan kematangan psikologi mereka dalam menyikapi fenomena kematian. Kematian bukan hal yang menyeramkan. Mati pasti terjadi sebagai jembatan berjumpa seorang hamba kepada Rabb-Nya, lalu mempertanggungjawabkan apa yang manusia perbuat selama di dunia.

Pilihan Abu Bakar agar dikafani menggunakan baju lusuh yang biasa dikenakan saat shalat berjamaah dengan Nabi mengesankan setidaknya dua hal. Pertama, kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap Rasulullah. Kedua, bukti kebersahajaan Abu Bakar yang istiqamah, saat hidup hingga maut menjemput.

Yang paling menarik adalah saat ia menjawab tawaran Aisyah yang hendak membelikan kain kafan baru. Ia menampiknya dengan alasan bahwa barang baru hanya layak untuk orang hidup, bukan orang mati. Pernyataan yang terakhir ini sejatinya bukan sekadar penolakan, melainkan pula pesan untuk mereka yang masih hidup bahwa gemerlap duniawi tak lagi relevan ketika jasad seseorang sudah tertimbun di dalam tanah. Wallahu alam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib, AlaNu, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 04 Oktober 2017

IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik

Brebes,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Brebes masa khidmah 2016–2018 dilantik Pimpinan Cabang IPNU–IPPNU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah di gedung pertemuan PCNU Brebes Jumat (5/8).

Ketua Panitia Pelantikan Cahyono menjelaskan, kepengurusan PAC IPNU dan IPPNU Brebes masa khidmah 2016–2018 ini merupakan hasil dari Konferensi Anak Cabang yang dilaksanakan pada 5-6 Juni 2016 di Pondok Pesantren Annidzom Brebes.

IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik

”Ini merupakan langkah awal. Mohon doa restu dan dukungan semua pihak sehingga pelantikan tidak menjadi agenda seremonial belaka, namun juga diikuti beberapa program yang bisa dirasakan oleh pelajar dan masyarakat di Kecamatan Brebes,“ kata pelajar yang akrab disapa Yono.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara Ketua PAC IPNU Kecamatan Brebes Imam Subekhi dalam sambutannya menjelaskan bahwa IPNU–IPPNU sebagai wadah Pelajar Nahdlatul Ulama harus bisa menempatakan ilmu pengetahuan sebagai hal yang paling utama dalam berorganisasi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebagai akar perjuangan jam’iyah Nahdlatul Ulama, IPNU–IPPNU harus dipupuk sejak dini dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga keberadaan bisa menjawab tantangan zaman. “Dengan kaidah belajar, berjuang dan bertakwa, ilmu kucari amal kuberi untuk agama, bangsa negeri,“ tutup Imam.

Pembina PAC IPNU–IPPNU Brebes Ganis Faruqi Abkar saat memberi pembekalan pengurus mengatakan bahwa IPNU–IPPNU sudah berusia lebih dari 62 tahun. Keberadan kadernya pun sudah sangat banyak. oleh karena itu kami berpesan bahwa dalam menjalankan roda organisasi jangan sampai lupa untuk tetap bersilaturahim dengan para alim ulama serta pembina dan para alumni.

Ini bisa dijadikan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi pengurus IPNU–IPPNU yang baru saja dilantik untuk mengambil wejangan dan juga arahannya. “Selamat berjuang bagi pengurus PAC IPNU–IPPNU Brebes. Dimulai dengan bismillah dan niatan ibadah, insyaallah berkah,“ imbuh Ganis

Pengurus PAC IPNU Brebes yang dilantik antara lain Ketua Imam Subekhi, Sekretaris Cahyono dan Bendahara Khafid Syifa Muzaki sementara untuk PAC IPPNU Brebes Ketua Rizqi Muthia Sa’adah, Sekretaris Yuliah Mutoharoh dan Bendahara Sri Ayu Wilantika.

Acara diisi juga dengan penampilan grup hadroh dari PR IPNU Tengki dan dihadiri PAC Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, pembina, alumni serta ratusan kader IPNU–IPPNU se-Kecamatan Brebes. (Bayu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jadwal Kajian, Nasional, Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 03 Oktober 2017

Kegigihan Kiai Said Menolak Full Day School

Oleh Muhammad Sulton Fatoni

Para kiai se-Indonesia menyimak seksama pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada hari Selasa (5/9) bahwa Presiden Jokowi akan menandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Telepon dari para kiai dari berbagai penjuru Indonesia masuk ke handphone Kiai Said Aqil. 

Kegigihan Kiai Said Menolak Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Kegigihan Kiai Said Menolak Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Kegigihan Kiai Said Menolak Full Day School

Mayoritas isinya senada: Maukah Pak Jokowi mendengarkan nasihat para kiai? Ya, nasihat. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir hiruk-pikuk perdebatan tentang Permendikbud nyaris tak terlacak ujung pangkalnya, substansi protes para kiai adalah nasehat kepada Presiden Jokowi tentang indikasi kuat adanya awal proses pendangkalan karakter bangsa Indonesia. 

Kiai Said Aqil melayani telepon dari para kiai satu persatu. Menjelaskan berulang-ulang dengan sabar dan perlahan hasil pembicaraannya dengan Presiden. Terkadang intonasi suara Kiai Said Aqil agak tertekan, alur suaranya terpotong. Mungkin para kiai yang menelepon itu mendesak-desak, minta kepastian, menuntut kelugasan tentang sikap Presiden Jokowi. Kiai Said Aqil selalu menutup teleponnya dengan kalimat, “semoga, semoga, mari kita doakan Pak Jokowi diberi kekuatan.” 

Kami pun di PBNU mengalami hal yang sama. Selasa itu adalah hari kecemasan bagi PBNU karena hanya Kiai Said Aqil yang mampu mengkalkulasi kecenderungan hati Pak Jokowi. Selasa itu, adalah puncak lobby Kiai Said Aqil kepada Presiden Jokowi, “Niat kami ikhlas, demi masa depan anak bangsa,” kata Kiai Said Aqil.

Memasuki hari Rabu, kami bersyukur kepada Allah Swt.  Begitu membaca lembar demi lembar isi Perpres Nomor 87/2017 yang mengakomodir nasehat para Kiai se-Indonesia. Kantor PBNU ramai. Wajah-wajah sumringah mewarnai sudut-sudut ruangan PBNU. Lenyaplah kelelahan lahir batin kami berbalas kenikmatan tiada tara. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said Aqil yang menyaksikan Pak Jokowi membubuhkan tanda tangan Perpres Nomor 87/2017 tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah Swt. Tamu berdatangan mengucapkan selamat. Kiai Said Aqil membalas, “Saya hanya lempeng bersikap karena permintaan para kiai, Pak Jokowi mendengarkan…ya klop wis.”

Kami pun duduk di meja tamu bercengkerama. Mengingat kembali beberapa pekan lalu saat berjibaku memeras tenaga dan pikiran akibat SK Permendikbud 23/2017 yang tiba-tiba muncul. Kekuatan wacana yang dibangun PBNU tidak kuat membendung represive state aparatus yang sedang dimainkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rupanya era reformasi yang bercirikan partisipasi masyarakat dan demokrasi diabaikan Kemendikbud. 

PBNU pun memilih untuk memperluas suara protes dari pusat hingga ke Kabupaten/Kota. PBNU memantau Kemendikbud berakrobat politik dengan cara melakukan lobby langsung ke kiai-kiai di pondok pesantren. Bertepuk sebelah tangan. Kemendikbud tidak digubris para kiai. PBNU saat itu sengaja membiarkan roadshow Kemendikbud ke pondok-pondok pesantren agar tahu fakta penolakan para kiai. 

Kami juga mengingat fase dimana Kiai Said Aqil marah karena didekati dan ditekan seseorang agar menerima Permendikbud tersebut. Di acara IKA PMII kemarahan Kiai Said Aqil ditumpahkan. Di kantor PBNU Kiai Said Aqil memberikan intstruksi, “Semua pengurus PBNU dilarang menghadiri undangan pemerintah yang temanya membahas Permendikbud atau Perpres.” 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tak satu pun undangan kami hadiri. Kiai Said Aqil juga memantau pemberitaan media massa tentang full day school. Jika ada kader NU yang bersikap tidak tegas terhadap penolakan full day school, Kiai Said Aqil langsung meneleponnya minta klarifikasi. 

Audiensi, pernyataan sikap, aksi protes di jalan sudah menggema di penjuru negeri terutama di Jawa. Kami mendengar tim Kemenag dan Kemendikbud menemui jalan buntu. Persoalan akhirnya ditarik ke tingkat Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dari tangan Mbak Puan Maharani akhirnya draf Perpres berpindah ke Sekretariat Negara. 

Pada tahap ini Presiden Jokowi mengirimkan Pak Menteri Praktikno untuk membuka dialog dengan PBNU. Kiai Said Aqil menerima dengan hangat dan kami berdiskusi intens. Pak Pratikno ke PBNU, di lain hari kami ke kantor Sekretariat Negara. Semua komponen diajak urun rembug. Menyenangkan iklim yang dibangun Presiden Jokowi.

Di tahap akhir ini perdebatan cukup sengit tapi mengasikkan. Kiai Said Aqil memantau dinamika yang dialami delegasi PBNU. Kiai Said gigih menolak delapan jam sekolah setiap hari untuk pelajar. “Jangan kecolongan, tak ada toleransi untuk full day school.” Pesan Kiai Said Aqil. Di tahap inilah ruang demokrasi dan suara civil society terasa dijunjung tinggi. 

Pak Jokowi benar-benar menanggalkan pendekatan korporatisme otorier dalam mengelola silang pendapat muatan Perpres. Pasti Pak Jokowi memahami bahwa melakukan kontrol politik secara otoriter di era reformasi itu tindakan jadul. PBNU pun bersemangat memberikan masukan kepada pemerintah.

Perjuangan para kiai ini menjadi penggal sejarah yang terdokumentasi di PBNU. Inilah proses pendewasaan berpolitik dan berkuasa. Setelah Pak Presiden Jokowi menandatangi Perpres, beliau mengatakan, "Senang lah menatap ke depan." Ya, Pak. Kami pun lega. Di sela-sela menerima telepon dari para kiai dari berbagai daerah, Kiai Said Aqil berpesan, “Ayo kita akhiri debat hari sekolah.”

Penulis adalah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah