Sabtu, 16 September 2017

Ragam “Menu” Pasaran di Pesantren Azzainiyyah

Sukabumi, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Hawa dingin gunung Gede menusuk dasar sumsum. Tatkala masayarakat Nagrog terlelap, santri-santri Pondok Pesantren Azzainiyah melek. Mereka menekuri kitab kuning, menghinggapi satu demi satu jalinan kalimat mirip barisan semut hitam. Dalam istilah pesantren Sunda, mereka sedang ngalogat.?

Ragam “Menu” Pasaran di Pesantren Azzainiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam “Menu” Pasaran di Pesantren Azzainiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam “Menu” Pasaran di Pesantren Azzainiyyah

Ngalogat atau memaknai kitab-kitab kuning tersebut merupakan aktivitas sehari-hari para santri Azzainiyyah yang terletak di Desa Nagrog Sinar Barokah, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Namun, pada bulan Ramadhan, jadwal diperketat dan jumlah kitab ditambah.

Menurut salah seorang pengajar Azzainiyyah KH Aang Abdullah Zein, pada bulan Ramadhan, beragam kitab dikaji para santri mulai Al-Quran, dan beragam disiplin ilmu semisal tata bahasa Arab atau nahwu dan sharaf, balaghah dan mantiq, serta tauhid, fiqih, dan tasawuf. ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia menerangkkan, santri Azzainiyah terdiri dari 3 tingkatan, yaitu persiapan, kelas satu, dua, dan tiga. Tingkat persiapan belajar membaca Al-Quran. Kelas satu mengaji Al-Jurumiyah, Kailani, Tijan, Safinah Naja, Sulam Taufiq, Ta’limul Mutaalim. Kelas dua Jauhar Maknun, Sulam Nauraq, Alfiyah Ibnu Malik. Sementara kelas 3 mengaji Al-Hikam.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kelas tiga yang mengaji karya masyhur Ibnu Athoillah tersebut langsung dibawah bimbingan Pengasuh Pesantren Azzainiyyah KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab, kiai yang juga Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat dan salah seorang rais di Jam’iyyah Tariqah Muktabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) di tingkat pusat.?

“Pengajian tersebut digelar di beberapa tempat sesuai kelas masing-masing di komplek pesantren Azzainiyyah,” kata Ajengan Aang kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Selasa malam, (16/7).

Pengajian bulan Ramadhan tersebut atau pasaran di Pesantren Azzainiyyah, selain diikuti para santri pesantren tersebut, diikuti sekitar 600 santri dari pesantren luar, serta masyarakat umum.?

Dalam pantauan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pengajian mulai digelar pukul 08.00 sampai Dhuhur. Kemudian mulai lagi pukul 13.00 sampai Ashar. Mulai lagi pukul 16.00 sampai buka puasa. Sementara malam hari dimulai selepas Tarawih hingga menjelang sahur.?

Tentu saja, tidak semua santri kuat dengan jadwal demikian. Di antara mereka ada yang tertidur di majelis ta’lim atau pergi ke pemondokan. Karena hawa dingin yang mencucuk tulang, para santri membungkus tubuh dengan jaket tebal dan serban di malam hari. Bahkan para santri tamu meggunakan kaos kaki. Bagi mereka, menyentuh air Nagrog ibarat es.

Begitu juga para pengajar, mereka digilir sesuai jadwal. Kecuali pengajian Al-Hikam, kajian tetap diasuh Ajengan Zezen dengan jadwal demikian. ?

Menurut Ajengan Zezen, pada bulan puasa “menu” pengajian diperketat atau ditambah dari biasanya karena pada Ramadhan tersebut banyak keberkahan.?

Kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sukabumi tersebut menerangkan, kajian kitab kuning tersebut ditambah dengan jadwal ketat, karena waktu para santri sendiri sangat singkat dalam mempelajarinya sehingga melalui pasaran bisa dipercepat.

Penulis: Abdullah Alawi?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, PonPes, Sunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan

Pringsewu, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam rangka memperingati harlah ke-81, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor NU Pringsewu menggelar istighotsah dan shalawat bersama 24/04/15 di gedung NU Pringsewu yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Cabang dan PAC GP Ansor dan Banser dari 9 Kecamatan di Kabupaten Pringsewu.?

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan

Dalam sambutannya Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pringsewu Muhammad Sofyan mengatakan bahwa di usia ke-81 ini GP Ansor Pringsewu bertekad untuk lebih menanamkan nilai nilai Ahlussunnah wal Jamaah kepada seluruh anggota Ansor dan Banser. Selain penanaman nilai-nilai Aswaja tersebut, kaderisasi juga merupakan salah satu program utama kepengurusan yang dinahkodainya.

Menurutnya kaderisasi sangat penting dalam rangka menjaga eksistensi sebuah organisasi. Oleh karena itu pada bulan mendatang PC GP Ansor akan merekrut anggota baru untuk dididik dalam Pendidikan Latihan Dasar untuk Ansor dan Banser.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kami ingin para anggota Ansor dan Banser benar-benar menjadi pemuda yang tangguh dan militan dalam berorganisasi," tegasnya.

Nampak hadir pada kegiatan ini H Taufiqurrohim, ketua tanfidziyyah PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memimpin istighotsah dan doa bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Simtudduror yang bekerja sama dengan Repshol (Remaja Pecinta Sholawat) Pringsewu. (m faizin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Miek Tak Mau Dilukis Seukuran Kiai Lain

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?



Nabila Dewi Gayatri memiliki cerita sendiri ketika melukis KH Hamim Tohari Djazuli (1940-1993) atau dikenal dengan Gus Miek, kiai dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Gus Miek adalah putra dari pendiri pesantren tersebut, KH Ahmad Jazuli Utsman.

Gus Miek Tak Mau Dilukis Seukuran Kiai Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Miek Tak Mau Dilukis Seukuran Kiai Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Miek Tak Mau Dilukis Seukuran Kiai Lain

Menurut Nabila, ketika melukis Gus Miek, selalu tidak bisa. “Gus Miek, ketika saya mau besarkan, dia tidak mau,” kata Nabila di lokasi pameran tunggal lukisannya, para kiai Nusantara yang bertajuk “Sang Kekasih” Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (9/5).

Semula, ia ingin melukis Gus Miek dengan pose separuh badan sebesar 150x120 m. “Udah saya taruh kanvas, saya taruh fotonya di samping. Saya mulai. Saya tidak bisa memulainya. Enggak bisa. Tangan saya gerakkan sulit. Otakku penuh, tidak ada ide-ide baru, memulainya dengan cara apa? Sepertinya aku bukan pelukis ketika melukisnya,” jelasnya.?

Kemudian dia beristighfar, lalu mengirimi fatihah dengan lafal, “khususon ila waliyullah Gus Mik, “Saya tahlili, saya mulai lagi. Belum bisa,” lanjutnya.?

Alumnus Jurusan Arsitek Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Aqidah Filsafat Al-Azhar Kairo itu lalu berziarah ke makam Gus Miek di Ploso. “Kemudian saya mendapatkan ilham, dia tak mau dibesarkan, dapat petunjuk,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah itu, perempuan kelahiran Gresik 1969 itu bisa melukis dengan lancar dengan ukuran lebih yaitu 50 x 50 m. sementara kiai lain 80 x 100 m. Bahkan ia bisa melukis ukuran sama sampai 13 buah. “Kemudian ketika melukis Gus Miek, dapat 13, habis. Meski ukurannya lebih kecil, harganya saya samakan karena istimewa,” katanya.

Lukisan Gus Miek itu dipamerkan di Grand Sahid Jaya dari 8-14 Mei. Lukisan itu berada di bagian belakang di antara KH Asad Syamsul Arifin dan KH Idham Chalid. Ia lebih kecil di antara kedua kiai itu. Dari semua lukisan kiai yang dipamerkan.? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 15 September 2017

Inilah Orang-Orang Berjasa Saat Rasulullah Kanak-Kanak

Perjalanan hidup Nabi Muhammad sewaktu kanak-kanak tidak semanis buah kurma atau madu. Dalam Shahih Sirah Nabawiyah karya Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury diterangkan, saat dalam kandungan ibunya,? Aminah, Nabi sudah ditinggal ayahnya.

Ketika wafat ayah Nabi, Abdullah, meninggal dalam usia 25 tahun dan dimakamkan di Darun Nabighah al-Jady. Abdullah meninggalkan warisan berupa lima ekor unta, sekumpulan domba, dan seorang budak wanita, Barakah berjuluk Ummu Aiman. Kelak dialah yang mengasuh Rasulullah. (Sahih Muslim/II/1392).

Inilah Orang-Orang Berjasa Saat Rasulullah Kanak-Kanak (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Orang-Orang Berjasa Saat Rasulullah Kanak-Kanak (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Orang-Orang Berjasa Saat Rasulullah Kanak-Kanak

Rasulullah dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim, di Mekkah pada awal tahun ketika peristiwa penyerangan tentara Gajah terjadi. Setelah Aminah melahirkan, dia mengirim utusan kepada Abdul Muthallib ayah Abdullah, kakek Rasulullah, untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Abdul Muthallib datang penuh kegembiraan. Lalu dia masuk ke dalam Kabah berdoa kepada Allah seraya bersyukur kepada-Nya. Kemudian dia memilih "Muhammad" untuk beliau.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tsuwaibah

Satu di antara tradisi bangsa Arab saat itu adalah menyusukan anak-anaknya kepada wanita lain dengan tujuan menjauhkan anaknya dari penyakit-penyakit yang ada, dan juga agar jasmani anak kuat.

Wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibunya adalah Tsuwaibah, salah seorang hamba sahaya Abu Lahab, pada hari ketujuh kelahiran Rasulullah Saw. Sebelumnya, Tsuwaibah juga wanita yang menyusui Hamzah bin Abdul Muthallib, setelah itu Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Halimah binti Abu Duaib

Tatkala mengajak Muhammad kecil ke Bani Saad, Abdul Muthallib menyusukan beliau kepada salah seorang wanita dari bani Saad nin bakar, yaitu Halimah binti Abu Duaib Abdullah bin al-Harits. Selain menyusui Rasulullah, Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib putra paman Rasulullah Saw.

Selama menyusui Muhammad kecil, keluarga Halimah terus-menerus mendapat keberkahan dan tambahan rezeki. Setelah dua tahun, ia pun menyapihnya dan beliau tumbuh dengan baik, memiliki tubuh yang kokoh dan kuat, tidak seperti anak-anak yang lainnya.

Kemudian Halimah? membawanya kepada Aminah, meskipun sebenarnya ia berharap Muhammad kecil dapat menerap bersamanya sebab betapa banyak keberkahan yang

bawakan oleh Rasulullah.

Meninggalnya Ibunda

Masih dalam keterangannya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, kejadian pembelahan dada yang dilakukan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah membuat Halimah khawatir sehingga dia mengembalikan kepada ibunya, maka Rasulullah Saw hidup bersama ibunya sampai berusia enam tahun.

Aminah merasa perlu untuk mengenang suaminya telah wafat, maka bersama putranya, yakni Muhammad disertai pembantu wanitanya Ummu Aiman, berziarah ke makam suaminya di Yatsrib yang jarahnya 500 km dari Mekah.

Setelah satu bulan di Madinah, yang masih bernama Yatsrib, Aminah kembali ke Mekah. Dalam permulaan perjalanan Aminah menderita sakit. Penyakitnya semakin parah hingga singgah di Abwa, sebuah kota antara Mekah dan Madinah. Di tanah Abwa ini ibunda Rasulullah Saw meninggal dunia.

Kembali ke Abdul Abdul Muthallib

Rasullullah kembali kepada kakeknya di Mekah. Abdul Muthallib merasakan kasih sayangnya kepada Muhammad semakin menebal. Menyaksikan cucunya yang yatim piatu harus menanggung kesedihan. Semakin besar kecintaannya, sampai-sampai dia pernah meraskan kecintaan seperti itu, bahkan terhadap anaknya sekalipun. Dia tidak ingin meninggalkan Rasulullah sebatang kara, bahkan dia lebih mengutamakan cucunya daripada anak-anaknya sendiri.

Abdul Muthallib meninggal pada saat Rasulullah berusia 8 tahun 2 bulan

10 hari, di kota Mekah. Sebelum wafat dia mengamanatkan pengasuhan cucunya kepada pamannya, yakni Abu Thalib, seorang dari saudara laki-laki ayahnya Rasulullah.

Di Bawah Asuhan Abu Thalib

Abu Thalib bin Abdul Muthallib melaksanakan hak anak saudaranya dengan penuh hati dan menganggapnya sebaga anak sendiri. Bahkan seperti halnya kakeknya, dia pun mendahulukan Rasulullah Saw daripada putra-putranya.

Syaikh Abdullah dalam Mukhtashar as-Sirah menyebutkan ketika usia Rasulullah Saw meningjak dua belas tahun, Abu Thalib mengajaknya melakukan perjalanan dagang ke kota Syam. Saat itu negeri Syam sedang berada di bawah kekuasaan Bangsa Romawi.

Hingga tiba di Bushra, sebuah daerah di negeri Syam, Abu Thalib beserta rombongannya ditemui Rahib yang dikenal dengan nama Buhaira (pendapat lain mengatakan namanya adalah Jurjis) dan mengajak masuk ke rumahnya. Dia mendatangi rombongan Abu Thalib karena melihat Rasulullah. Seraya memegang tangannya, ia berkata, "Laki-laki ini akan menjadi penghulu seluruh alam, dia adalah utusan Tuhan seru sekalian alam. Dia adalah laki-laki yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Singkat cerita, usai mendengarkan pernyataan Buhaira yang diambil dari kitab dia baca, Abu Thalib atas permintaa Buhaira, lalu bergegas mengirimkan Rasulullah bersama beberapa pemuda agar kembali ke Mekah.

Sampai usia empat puluh tahun beliau berada di bawah perlindungan Abu

Thalib. Pamannya rela menjalin persahabatan bahkan rela menghadapi musuh demi membela Nabi Muhammad Saw.

Demikian sebagian orang-orang yang berjasa dalam membesarkan dan mendampingi Rasulullah tatkala masih kecil yang sudah ditinggal wafat oleh ayah dan ibundanya. Semoga mereka semua mendapatkan limpahan rahmat dari Allah. Dan khususnya kita sebagai umatnya, dapat bertambah kecintaan kita kepada Rasulullah Saw dengan cara meneruskan perjuangannya dan mengamalkan ajarannya. (Muhammad Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Barru, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam pembukaan kegiatan Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA) yang dilaksanakan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bekerja sama dengan Department of Foreign and Trade (DFAT) Australia, Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Barru, Abdul Kadir mengucapkan terima kasih kepada LPBINU dan BPBD Kabupaten Barru merasa terbantu oleh kegiatan-kegiatan terkait penanggulangan bencana (PB) yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh LPBINU.?

Menurut Kadir, penanggulangan bencana seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis. Yang menjadi persoalan utama saat ini adalah bagaimana penyelenggaraan PB dapat berlangsung secara partisipatoris. Para pihak terutama masyarakat mampu mengenali risiko dan memiliki kapasitas untuk melakukan upaya PRB. “Oleh karena itu, diperlukan banyak kegiatan seperti pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mereka,” ujarnya.

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Pelatihan PRB dan PDRA akan berlangsung selama 4 (empat) hari, 07-10 September 2016. Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai institusi, diantaranya LPBI NU Kabupaten Barru, Fatayat NU, GP Ansor, Tokoh masyarakat, TP PKK, karang taruna, Lembaga pendidikan, dan Pelaku usaha kecil dan menengah. Mayoritas peserta merupakan masyarakat Desa Lalabata. Desa Lalabata dipilih sebagai lokasi dan praktek pelatihan dengan pertimbangan bahwa desa ini memiliki risiko tinggi terjadi bencana banjir. Hampir setiap tahun Desa Lalabata terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi.?

Dalam Pelatihan PRB dan PDRA ini sedikitnya akan dibahas 7 (tujuh) materi, meliputi: Konsep dasar manajemen risiko bencana; Kebijakan dan sistem Penanggulangan Bencana; Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas; Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB; Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Teknik Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA); dan Menakar risiko bencana partisipatif.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hadir sebagai narasumber, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Barru, Abdul Kadir dan ketua PCNU Kabupaten Barru, KH. Irham Djalil, dan PP LPBI NU, Rurid Rudianto. Sedangkan bertindak sebagai trainer Pelatihan PRB dan PDRA adalah Sofyan dari Sangga Buana. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana; mampu menjelaskan upaya PRB secara komprehensif; mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA; dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Di akhir sesi, peserta didorong untuk membuat rencana aksi komunitas yang diharapkan dapat dilaksanakan secara nyata di tengah masyarakat untuk mewujudkan upaya PB dan PRB yang lebih baik. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba, Habib PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 14 September 2017

Uni Eropa Evaluasi Sumbangan Gaji ke PNS Palestina

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Auditor Eropa mengatakan Uni Eropa harus berhenti membayar gaji ribuan pegawai negeri sipil Palestina di Jalur Gaza yang tidak bekerja.

Berdasarkan pemeriksaan para auditor, terdapat 1 miliar euro (Rp13,9 triliun) pengeluaran Uni Eropa dialokasikan di Gaza antara tahun 2008 dan 2012, seperti dilaporkan oleh BBC Indonesia.

Uni Eropa Evaluasi Sumbangan Gaji ke PNS Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Uni Eropa Evaluasi Sumbangan Gaji ke PNS Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Uni Eropa Evaluasi Sumbangan Gaji ke PNS Palestina

Mereka menyerukan untuk melakukan pengecekan kembali secara besar-besaran, mengatakan uang yang dihabiskan untuk PNS di sana seharusnya dialokasikan ke Tepi Barat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Banyak pegawai negeri sipil Gaza tidak bekerja sejak gerakan Islam Hamas berkuasa pada tahun 2007, auditor menambahkan.

Hamas memenangkan pemilihan parlemen tahun sebelumnya, menggulingkan Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas dan Presiden faksi Fatah, dan membentuk pemerintahan saingan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Israel kemudian memperketat blokade wilayah itu dengan kerjasama Mesir untuk melemahkan Hamas dan mengakhiri serangan roket.

Langkah ini membuat 1,7 juta orang di Gaza menderita kesulitan, dengan perekonomian yang 80% bergantung kepada bantuan dari luar.

Kurangnya transparansi

Uni Eropa membayar sekitar seperlima dari gaji 170.000 pegawai negeri sipil PA, baik di Tepi Barat maupun Gaza, di bawah program yang dikenal sebagai Pegase.

Hans Gustaf Wessberg dari Auditor Pengadilan Eropa mengatakan dana Uni Eropa secara keseluruhan telah memainkan peran penting dalam mendukung keluarga yang rentan, dan mempertahankan pelayanan pendidikan dan kesehatan di daerah Palestina.

Tapi dia menunjukkan bahwa "pembayaran PNS yang tidak bekerja bukanlah salah satu tujuan utama [Uni Eropa] untuk memberikan pelayanan publik kepada rakyat Palestina."

Sementara Menteri Tenaga Kerja Palestina Ahmed Majdalani mengatakan pemerintah telah membayar mereka semua.

"Masalahnya adalah politik, hukum dan manusia. Mereka tadinya adalah pegawai pemerintah, dan mereka menjadi korban kudeta militer, dan mereka memiliki keluarga untuk diberi makan. Kita tidak bisa membuang mereka di jalan, katanya kepada Associated Press. (mukafi niam)

Foto:reuters

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bahtsul Masail PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat

Probolinggo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo melalui Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) menggelar pelatihan hisab dan rukyat angkatan 1 tahun 2015, Sabtu (7/11) di aula Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Probolinggo.

LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Probolinggo Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat

Pelatihan yang dibuka oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi ini diikuti oleh seluruh pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), perwakilan lembaga, lajnah dan badan otonom (banom) serta pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutannya Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat bersyukur kepada Allah SWT karena apa yang menjadi impiannya selama ini telah menjadi kenyataan. Lembaga, lajnah dan badan otonom bisa berjalan baik sebagaimana yang diharapkan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Karena NU itu diibaratkan tubuh, sedangkan anggota tubuhnya adalah lembaga, lajnah dan banom hingga ke ranting. Kalau semuanya bisa berfungsi dengan baik, maka secara otomatis Nahdlatul Ulama akan mampu menjadi pencerah dalam kehidupan ini,” ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara KH. Ahsanul Haq dari PWNU Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo dan jajarannya yang telah mampu membangun kerja sama dan kemitraan dengan baik sehingga segala apa yang diplanning bisa berjalan sesuai harapan.

“Merujuk pelaksanaan Muktamar ke-33 Jombang, kita ketahui bersama bahwa dalam Muktamar tersebut sistemnya telah berubah. Ada perbaikan-perbaikan sistem yang dilakukan mulai dari PBNU, PWNU, PCNU hingga PRNU. Harapannya adalah organisasi kita menjadi sempurna,” katanya.

Sedangkan Ketua Pengurus Cabang LFNU Kabupaten Probolinggo menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan hisab dan rukyat ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dan menambah pengetahuan dalam upaya menentukan awal bulan Ramadhan yang dimungkinkan adanya perbedaan.

“Dari dulu sudah sering terjadi perbedaan karena sistem yang digunakan juga berbeda. Dengan kegiatan ini masyarakat dan warga Nahdlatul Ulama bisa memahami adanya perbedaan tersebut sehingga dapat memperkecil adanya problematika konflik di kalangan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, PWNU Provinsi Jawa Timur juga memberikan sosialisasi Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) dengan menggandeng PT. Media Promosi? yang dipandu Mas Hakim Maftuh, santri alumni Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah