Jumat, 01 September 2017

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship

Tarim, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai upaya menanamkan jiwa entrepreneurship di kalangan pelajar dan ? mahasiswa Indonesia di Yaman, Dewan Pengurus Wilayah Hadramaut Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW PPI Yaman) bekerjasama dengan Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff (AMI Al-Ahgaff) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama Yaman (PCI NU Yaman) menggelar acara kuliah umum bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Pesantren, Menuju Pesantren Mandiri dan Bermartabat” pada Rabu, (17/04).

Acara yang bertempat di Auditorium Fakultas Syari’ah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman ini menghadirkan KH Mahfudz Syaubari MA, pengasuh pesantren Riyadhul Jannah, Mojokerto, Jawa Timur sekaligus sosok kiai yang sukses dalam mengembangkan usahanya.?

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship

Kedatangannya ke Tarim yang kesekian kalinya ini dalam rangka ziarah. ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam paparannya, alumnus program pasca sarjana Universitas King Abdul Aziz Saudi Arabia ini menuturkan bahwa pesantren selayaknya memiliki kader-kader yang berjiwa mandiri. Karena pesantren merupakan salah satu tempat tumpuan masyarakat.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kini saatnya pesantren tampil sebagai jawaban atas permasalahan ekonomi Indonesia” tambahnya.

“Bedakan antara kasal (rasa malas) dan tawakkal (sikap pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT)!”, imbuhnya memotivasi ratusan pelajar Indonesia dari berbagai lembaga pendidikan yang ada di kota Tarim yang hadir malam itu. Selain itu, ia juga me-wanti-wanti para audien yang mayoritas dari kalangan pesantren tersebut agar bisa membedakan antara thalab al-halal (mencari rezeki yang halal) dan hub al-mal (cinta harta dunia).

Di pamungkas acara, ia mengatakan, “Semua pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri ketika sudah kembali ke tanah air, hal pertama yang harus dilakukan adalah meng-Indonesiakan diri dahulu.”

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Amaludin?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jadwal Kajian, Humor Islam, Amalan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan "Kiai Bambu Runcing". Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi?

Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo, ? kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subchi.

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati ? Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Dipanegara, dalam periode Perang Jawa (1825-1830). Ketika laskar Dipanegara kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.

Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.

Pasukan Belanda henti-hentinya mengejar pengikut Dipanegara di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarata, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Dipanegara. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya untuk mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Parakan: Simpul Perjuangan Laskar Santri

Parakan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Temanggung. Kota ini, memiliki arti penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad 20, Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI). Kaum santri yang tinggal di Parakan, menjadi tulang punggung kaderisasi SI. Bahkan, di Parakan juga pernah diselenggarakan Kongres Sarekat Islam, yang dihadiri oleh HOS Tjokroaminoto. Pada 1913, anggota Sarekat Islam di Parakan, berjumlah 3.769 orang. Cabang SI Temanggung dibuka pada 1915, dengan jumlah anggota 4.507 (Thamrin, 2008).

Di Parakan, Temanggung, masa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan bagi rakyat. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Ketika Jepang menduduki Jawa, warga Temanggung juga menanggung beban yang sulit. Kewajiban Romusha menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat Parakan di Temanggung. Pemberlakukan romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan. Bahkan, kain karung goni sebagai penutup tubuh, menjadi pemandangan biasa pada masa itu (Darban, 1988). Warga Parakan, Temanggung juga banyak yang direkrut sebagai romusha. Mereka dikirim ke Banten, serta ke wilayah Malaysia dan Myanmar.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Pada saat itu, dibentuklah Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Barisan ini dipelopori oleh kiai-santri, yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan penjajah. BMT didirikan pada 30 Oktober 1945 di masjid Kauman Parakan.

Sebelum adanya BMT, warga Parakan Temanggung bergerak dalam jaringan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo (Gunardo, 1986).

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi, mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Beberapa tokoh berkunjung ke Parakan, untuk bertemu Kiai Subchi dan pemuda BMT: Jendral Soedirman (1916-1950), Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Zaenal Arifin (Hizbullah), Kiai Masykur (Sabilillah), Kasman Singadimedja (Jaksa Agung), Mohammad Roem, Mr. Wangsanegara, Mr. Sujudi, Roeslan Abdul Gani dan beberapa tokoh lainnya.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Bahkan, Jendral Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan dari Kiai Subchi. Jendral Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi. ?

Kiai Bambu Runcing, Kiai Penggerak

Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subchi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayahanda Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.

Kiai Subchi dikenal sebagai kiai alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Kiai ini, dikenal sebagai "Kiai Bambu Runcing", karena pada masa revolusi meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.

Dalam catatan Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986), Kiai Subchi menjadi rujukan askar-askar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. "Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur", Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, "Barisan Banteng" di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini, baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju Parakan".

Kiai Subchi dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhu. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma, Kiai Subchi justru menangis tersedu. "KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar", catat Kiai Saifuddin Zuhri dalam memoarnya "Berangkat dari Pesantren".

Kiai Subchi merupakan teladan dalam kedermawanan, pengetahuan dan perjuangan. Sosok Kiai Subchi menjadi panutan bangsa ini untuk mengawal negeri, mengawal NKRI. Selayaknya, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Bangsa.

*Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, pengurus LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)

?

Referensi:

Ahmad Adaby Darban, Sejarah Bambu Runcing, Laporan Penelitian: Fakultas Sastra UGM, 1988.

_________________________, Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, Surabaya: JP Books, 2008.

Ahmad Baso, Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka Afid, 2015.

Amran Habibi, Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009

Husni Thamrin,dkk, Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung1945-1950, Temanggung: Dewan Harian Cabang, 2008.

Muhaiminan Gunardo, Bambu Runcing Parakan, Yogyakarta: Kota Kembang,1986.

Nur Laela, Perjuangan Rakyat Parakan-Temanggung dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1946), Skripsi UIN Yogyakarta, 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah, Halaqoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 31 Agustus 2017

Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin

Jember, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dewasa ini sedang melaju kencang. Potensi sumberdaya alamnya ? juga tak diragukan. Di level Asia, posisi ekonomi Indonesia, sangat bagus. Bahkan pada tahun 2030, kekuatan ekonomi Indonesia diperkirakan bertengger di posisi keenam atau ketujuh dunia.

Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin

Namun aneh, tapi jumlah orang miskin masih puluhan juta. Demikian dikemukakan Prof. DR. Mahfudz MD saat memberikan pengarahan dalam acara “Halal Bi Halal dan Silaturrahim Warga Nahdliyyin-Nahdliyyat se-eks Karesidenan Besuki“ di Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Rabu (14/8).?

Menurut Mahfudz, kekayaan alam yang melimpah tidak menjamin penghuninya makmur dan berkecukupan. Makmur atau tidaknya penduduk suatu negara, tergantung pada pengelola negara itu sendiri. Begitu juga dengan Indonesia. Negara yang begitu kaya raya, tapi orang miskin berkeliaran di mana-mana. “Apa penyebabnya? Ini terletak ? pada kepemimpinan yang tidak beres,” tukasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mantan Ketua MK itu menambahkan, baiknya tidaknya suatu negara sangat bergantung pada orang yang mengelola negara itu sendiri, yakni para pemimpinnya. Jika mengelola negara ? tidak becus, maka potensi ekonomi yang ada tidak akan bermanfaat banyak bagi rakyatnya, kemakmuran tidak merata, keadilan jomplang dan sebagainya.

“Kenapa? Karena kekayaan negara dikorupsi. Negara ini sudah hancur. Korupsi besar-besaran terjadi di mana-mana. Tadi malam saja (kemarin: red) Kepala ? SKK Migas sudah tertangkap tangan oleh penyidik KPK,” ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain Mahfudz MD, Halal Bi halal tersebut juga dihadiri oleh KH. Hasyim Muzadi, Menakertrans RI, Muhaimin Iskandar, para kiai se-wilayah tapal kuda dan sekitar 3000 hadirin.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional, Aswaja, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 30 Agustus 2017

Dari Mana Islam Indonesia Berasal?

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beragam teori menggambarkan Islam datang ke Indonesia (waktu itu disebut Nusantara). Tiga teori mengatakan, pertama, Islam datang dari Gujarat, India, sekitar abad ke-13. Kedua, Islam dari Timur Tengah sekitar abad ke-7 Masehi. Ketiga, Islam dari para pedagang Tiongkok, Cina, sekitar abad ke-14 Masehi.

Dari Mana Islam Indonesia Berasal? (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Mana Islam Indonesia Berasal? (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Mana Islam Indonesia Berasal?

Semua teori disertai dengan pelbagai bukti yang kuat, seperti terdapatnya situs makam-makam tua dan arsitektur bangunan yang menunjukkan budaya di mana negara itu berasal.

Teori kedatangan Islam tersebut, kembali dibahas pada diskusi dan bedah buku Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat di gedung NU Center Sumber, Cirebon, pada Senin (29/4).

Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Martin van Bruinessen, penulis buku tersebut mengatakan, Islam Indonesia berasal dari suku Kurdi di Turki.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Martin mengatakan, kemungkinan-kemungkinan tersebut, saat ditilik dari mayoritas corak keislaman Indonesia sepanjang sejarahnya, maka tidak menutup kemungkinan juga bahwa Islam datang dari Kurdi, sebuah komunitas di Kurdistan yang meliputi kawasan Irak, Iran, Syiria, dan Turki.

Hal ini ditunjukkan saat menemukan beberapa kesamaan antara alur sejarah pesantren sebagai basis penyebaran Islam yang tertua, dengan budaya keagamaan yang terdapat di jazirah Kurdi tersebut, salah satunya adalah tarekat.

Peneliti pesantren dan tarekat dari Universiteit Utrech, Belanda ini mengatakan, “Proses Islamisasi tidak bisa dilihat dari satu peristiwa, karena prosesnya yang panjang. Maka tidak menutup kemungkinan jika saya memunculkan sejarah awal mula kedatangan Islam berasal dari Kurdi, saat melihat beberapa kesamaan budaya keagamaan yang ditemukan di pesantren dan negeri asalnya, seperti tarekat dan lain-lain,” katanya.

Berbeda dengan Martin, KH Husein Muhammad, salah seorang narasumber, membagi kecenderungan corak pemikiran muslim Indonesia menjadi dua kelompok. Yang pertama dan terbanyak, adalah Syafi’i Iraqy dan berikutnya adalah Syafi’i Khurosani.

“Saat melihat corak pemikiran Muslim di Indonesia, saya bisa menemukan dua alur yang berbeda, yakni Syafi’i Iroqy yang bermuatan fiqih, tekstualis, dan mistis, serta Syafi’i Khurosani, sebuah keilmuan murni yang mendeskripsikan dengan basis realitas, sehingga memperbandingkan satu sama lainnya antara kuat-lemah, salah-benar,  jarang  muncul di dalamnya,” jelas Kiai Husein.

Hal tersebut ditambahkan Prof.Dr. KH Chozin Nasuha, Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Dia menagatakan, bahwa kecenderungan tradisi berpikir Muslim di Indonesia memang berbasis pada beberapa titik, yakni bayan yang bersifat tekstualis, irfani yang bersifat rasionalis, dan waqi’ie yang bersifat riset. Yang terakhir ini kurang begitu diusung secara keumuman.

Pada sesi berikutnya, disambut dengan pelbagai pertanyaan dan pernyataan peserta, di antaranya, hasil penelitian ini bisa dijadikan pelajaran dan semacam tamparan kecil bagi peneliti Muslim di Indonesia sendiri.

Pasalnya, peneliti negara lain lebih berminat untuk menghabiskan waktunya untuk meneliti kekayaan khazanah keilmuan Islam di Indonesia, di sisi lain muncul juga spekulasi apakah Islam Indonesia yang bermula dari Kurdi, atau tradisi Kurdi yang terpengaruh budaya Islam di Indonesia, mengingat kurang terdapatnya bukti-bukti fisik yang mendukung teori ini seperti tiga alur kedatangan Islam di Indonesia yang biasa dibaca oleh umat muslim di Indonesia.

Diskusi yang digelar atas kerjasama Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon ini, dihadiri tiga ratusan peserta. Secara umum peserta merupakan para pengurus NU dari pelbagai lapisan; tokoh pesantren, peneliti muslim, budayawan, mahasiswa, dan santri.

Redaktur          : Abdullah Alawi

Kontributor      : Sobih Adnan

    

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 29 Agustus 2017

PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat akan mengarusutmakan pemikiran Ahlussunah wal-Jamaah. Untuk tujuan itu diluncurkan program Aswaja Schoolen. Program tersebut diluncurkan di aula Asrama Putri PMI, Ciputat, Tengerang Selatan, Banten (12/6).

PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja

Pada peluncuran Aswaja Schoolen PMII Ciputat mengundang penulis buku Pesantren Studies Ahmad Baso sebagai narasumber.

Pengurus Pusat Lakpesdam NU tersebut dalam pengantarnya mengatakan, Islam Indonesia adalah warisan Wali Songo. UIN Jakarta yang menjadikan nama seorang waliyullah di belakang namanya, seharusnya menjadikan kitab-kitab Syarif Hidayatullah masuk ke dalam kurikulum, “sehingga UIN mampu mendidik mahasiswa untuk memiliki karakter seperti Syekh Syarif Hidayatullah,” ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Konstruksi yang dibangun di UIN selama ini hanya memahami Aswaja dari sisi teologi saja, tapi tidak dijelaskan dari sudut gerakan, kenegaraan, dan kebangsaan. Ini pertanda Aswaja sudah banyak disensor  di institusi pendidikan UIN.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para alumni Barat yang menjadi dosen di UIN, sambung pria kelahiran Sulawesi Selatan ini, Asy’ariah dan Al-Ghazali sebagai penyebab kemunduran Islam. Padahal kedua ajaran tersebut yang menjadi sumber inspirasi revolusi di Indonesia yang dilakukan umat Islam di pesantren.

“Maka, Aswaja Schoolen diharapkan mampu melakukan rekonstruksi terhadap Aswaja versi UIN!” tegasnya.

Lebih jau, Baso mengemukakan, KH Hasyim Asy’ari melakukan kaderisasi pada orang-orang di luar NU, misalnya saja Jendral Sudirman, Bung Tomo, dan Tan Malaka. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi santri kilat pendiri NU itu, “Pertanda Ahlussunnah walJamaah yang dianut pesantren juga menjadi salah satu pilar tegaknya  NKRI,” tambahnya.

Kepada PMII Ciputat, Baso menekankan harus dihimpun dari gerakan Aswaja Schoolen ini adalah kekuatan, karena Indonesia merdeka bukan karena text book dari Barat atau Wahabi, tapi karena keilmuan khazanah pesantren, salah satunya adalah ilmu kanuragan.

“Dengan demikian, PMII juga tidak boleh jauh dari kiai. Kalau PMII jauh dari kiai, maka PMII akan hancur. Boleh saja PMII independen dari NU, tapi harus tetap menjaga tradisi NU dan hormat kepada kiai, tegasnya.

Program Aswaja Schoolen diluncurkan karena UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berada di Ciputat, marak dengan pemikiran-pemikiran Wahabisme dan Liberalisme. Karena itulah PMII Ciputat akan memperkuat arus pemikiran Aswaja. Harapannya, kelak bisa menjadi kekuatan PMII dalam penyebaran ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah.

Peluncuran program tersebut dikemas dengan diskusi  bertema Bedah Tokoh KH. Hasyim Asy’ari Mempertahankan Ahlussunnah wal-Jamaah dan Mememlihara Keutuhan NKRI. Kegiatan tersebut diikuti 20 aktivis PMII Ciputat.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Adriansyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Pertandingan, Kiai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 27 Agustus 2017

NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah

Pati, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memperingati hari lahir (Harlah) NU yang ke-89 di gedung PCNU setempat, Ahad (1/2).

Acara tersebut dimulai dengan bedah Jurnal “Khittah” yang diterbitkan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Pati dan peluncuran Majalah “Nuansa” yang diterbitkan Lajnah Ta’lif wan-Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Pati.

NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah

Dalam kedua acara itu, panitia menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Wakil Ketua PCNU Pati Jamal Makmur, Pemimpin Redaksi Majalah Nuansa Faiz Aminuddin, juga Ketua Lakpesdam PCNU Pati Andi Irawan. Peserta terdiri dari siswa-siswi Madrasah Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Pati.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Acara ini bertema “Saatnya Kaum Muda NU Menguasai Media”. Tema diambil karena di Pati dinilai masih banyak anak muda NU yang hanya jadi penonton dan konsumen berita. Padahal potensi menulis ada, dan PCNU telah memberikan ruang bagi mereka di media majalah dan jurnal.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Saatnya kita menguasai media, karena sangat urgen bagi pengembangan berita di wilayah lokal Pati, dan kita sedang dihimpit dua aliran besar yang sudah mempunya media baik televisi, maupun radio. Mereka adalah aliran radikal dan aliran liberalisme,” kata Jamal Makmur.

Jika upaya itu tidak dilakukan, tambahnya, NU akan tertinggal dan sekadar menjadi penonton. Apalagi mereka yang telah menguasai media mulai sering menyudutkan dan menjelek-jelekkan Islam ala Ahlussunah wal Jamaah.

Faiz Aminuddin menjelaskan, kini banyak penulis buku yang memvonis NU sebagai kelompok bid’ah dan sesat dengan mengaku sebagai mantan kiai NU, mantan Santri NU, atau mantan syuriah NU.

“Karena mereka pernah aktif di NU dan sekarang ikut jaringan radikal dengan menerbitkan buku yang menjelek-jelekkan NU dengan perspektif mereka sendiri,” ujarnya.

Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Pati Andi Irawan menerangkan, jurnal “Khittah” berisi sejumlah topik di sekitaran Pati, seperti bahaya HIV/AIDS, penyaluran zakat, perkembangan pesantren NU seiring sistem pendidikan nasional, juga kiat menjadi penulis muda NU. (Fikrul Umam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

NU Paciran Sowan ke PBNU

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sowan ke PBNU di Jakarta, pada Jumat sore, (04/01).

Menurut perwakilan rombongan, Misbahul Munir, tujuan sowan tersebut adalah silaturahim jasadiyah dan bathiniyah. Jasadiyah, ingin melihat gedung PBNU yang selama ini hanya dilihat di TV. Juga ingin bertemu dengan pengurus PBNU secara langsung.

NU Paciran Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Paciran Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Paciran Sowan ke PBNU

“Silaturahim bathiniyah, kami ingin mendapat taushiyah dari PBNU,” kata Misbah yang juga Kepala MTs Tarbiyatu Tholabah tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Taushiyah itu, sambung pria berusia 44 tahun tersebut, adalah bagaimana cara terbaik untuk membentengi warga Nahdliyin di Paciran dari “aliran” Islam garis keras yang mulai berkembang di kecamatan tersebut.

Mereka datang ke rumah-rumah untuk mengajak kelompok mereka. Satu dua warga Nahdliyin sudah ada yang masuk aliran tersebut. ? “Dengan demikian, meminta PBNU bagaimana cara membentenginya,” tanyanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Juga, kami ingin meminta petunjuk bagaimana cara mengelola pendidikan yang baik dan profesional dan meningkatkan mutu SDM. Selama ini, lembaga di bawah Ma’arif masih tertinggal dari sekolah-sekolah lain.

Rombongan berjumlah 27 orang terdiri dari pengurus MWC, Ma’arif dan kepala Madrasah Ibtidaiyah di Paciran tersebut diterima Bendahara PBNU, Nasirul Falah dan Wakil Ketua PP LP Maa’rif, Sri Mulyati, di aula PBNU lantai 5.

Menanggapi permintaan perwakilan rombongan, Nasirul Falah mengatakan, untuk membentengi warga Nahdliyin, sedang diupayakan melalui Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) yang akan turun ke daerah-daerah.

Selain itu, Nasirul juga menjelaskan, PBNU melalui Lembaga Perekonomian NU mendorong pemberdayaan ekonomi warga Nahdlyin. “Sementara ini baru melalui pasar rakyat yang memasarkan salah satu produk unggulannya minyak goreng bintang sembilan,” katanya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis: Abdulllah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Quote, Nusantara, Ahlussunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah