Kamis, 31 Agustus 2017

Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin

Jember, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dewasa ini sedang melaju kencang. Potensi sumberdaya alamnya ? juga tak diragukan. Di level Asia, posisi ekonomi Indonesia, sangat bagus. Bahkan pada tahun 2030, kekuatan ekonomi Indonesia diperkirakan bertengger di posisi keenam atau ketujuh dunia.

Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfudz MD: Aneh, Indonesia Kaya Tapi Rakyatnya Miskin

Namun aneh, tapi jumlah orang miskin masih puluhan juta. Demikian dikemukakan Prof. DR. Mahfudz MD saat memberikan pengarahan dalam acara “Halal Bi Halal dan Silaturrahim Warga Nahdliyyin-Nahdliyyat se-eks Karesidenan Besuki“ di Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Rabu (14/8).?

Menurut Mahfudz, kekayaan alam yang melimpah tidak menjamin penghuninya makmur dan berkecukupan. Makmur atau tidaknya penduduk suatu negara, tergantung pada pengelola negara itu sendiri. Begitu juga dengan Indonesia. Negara yang begitu kaya raya, tapi orang miskin berkeliaran di mana-mana. “Apa penyebabnya? Ini terletak ? pada kepemimpinan yang tidak beres,” tukasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mantan Ketua MK itu menambahkan, baiknya tidaknya suatu negara sangat bergantung pada orang yang mengelola negara itu sendiri, yakni para pemimpinnya. Jika mengelola negara ? tidak becus, maka potensi ekonomi yang ada tidak akan bermanfaat banyak bagi rakyatnya, kemakmuran tidak merata, keadilan jomplang dan sebagainya.

“Kenapa? Karena kekayaan negara dikorupsi. Negara ini sudah hancur. Korupsi besar-besaran terjadi di mana-mana. Tadi malam saja (kemarin: red) Kepala ? SKK Migas sudah tertangkap tangan oleh penyidik KPK,” ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain Mahfudz MD, Halal Bi halal tersebut juga dihadiri oleh KH. Hasyim Muzadi, Menakertrans RI, Muhaimin Iskandar, para kiai se-wilayah tapal kuda dan sekitar 3000 hadirin.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional, Aswaja, Pesantren PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 30 Agustus 2017

Dari Mana Islam Indonesia Berasal?

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beragam teori menggambarkan Islam datang ke Indonesia (waktu itu disebut Nusantara). Tiga teori mengatakan, pertama, Islam datang dari Gujarat, India, sekitar abad ke-13. Kedua, Islam dari Timur Tengah sekitar abad ke-7 Masehi. Ketiga, Islam dari para pedagang Tiongkok, Cina, sekitar abad ke-14 Masehi.

Dari Mana Islam Indonesia Berasal? (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Mana Islam Indonesia Berasal? (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Mana Islam Indonesia Berasal?

Semua teori disertai dengan pelbagai bukti yang kuat, seperti terdapatnya situs makam-makam tua dan arsitektur bangunan yang menunjukkan budaya di mana negara itu berasal.

Teori kedatangan Islam tersebut, kembali dibahas pada diskusi dan bedah buku Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat di gedung NU Center Sumber, Cirebon, pada Senin (29/4).

Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Martin van Bruinessen, penulis buku tersebut mengatakan, Islam Indonesia berasal dari suku Kurdi di Turki.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Martin mengatakan, kemungkinan-kemungkinan tersebut, saat ditilik dari mayoritas corak keislaman Indonesia sepanjang sejarahnya, maka tidak menutup kemungkinan juga bahwa Islam datang dari Kurdi, sebuah komunitas di Kurdistan yang meliputi kawasan Irak, Iran, Syiria, dan Turki.

Hal ini ditunjukkan saat menemukan beberapa kesamaan antara alur sejarah pesantren sebagai basis penyebaran Islam yang tertua, dengan budaya keagamaan yang terdapat di jazirah Kurdi tersebut, salah satunya adalah tarekat.

Peneliti pesantren dan tarekat dari Universiteit Utrech, Belanda ini mengatakan, “Proses Islamisasi tidak bisa dilihat dari satu peristiwa, karena prosesnya yang panjang. Maka tidak menutup kemungkinan jika saya memunculkan sejarah awal mula kedatangan Islam berasal dari Kurdi, saat melihat beberapa kesamaan budaya keagamaan yang ditemukan di pesantren dan negeri asalnya, seperti tarekat dan lain-lain,” katanya.

Berbeda dengan Martin, KH Husein Muhammad, salah seorang narasumber, membagi kecenderungan corak pemikiran muslim Indonesia menjadi dua kelompok. Yang pertama dan terbanyak, adalah Syafi’i Iraqy dan berikutnya adalah Syafi’i Khurosani.

“Saat melihat corak pemikiran Muslim di Indonesia, saya bisa menemukan dua alur yang berbeda, yakni Syafi’i Iroqy yang bermuatan fiqih, tekstualis, dan mistis, serta Syafi’i Khurosani, sebuah keilmuan murni yang mendeskripsikan dengan basis realitas, sehingga memperbandingkan satu sama lainnya antara kuat-lemah, salah-benar,  jarang  muncul di dalamnya,” jelas Kiai Husein.

Hal tersebut ditambahkan Prof.Dr. KH Chozin Nasuha, Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Dia menagatakan, bahwa kecenderungan tradisi berpikir Muslim di Indonesia memang berbasis pada beberapa titik, yakni bayan yang bersifat tekstualis, irfani yang bersifat rasionalis, dan waqi’ie yang bersifat riset. Yang terakhir ini kurang begitu diusung secara keumuman.

Pada sesi berikutnya, disambut dengan pelbagai pertanyaan dan pernyataan peserta, di antaranya, hasil penelitian ini bisa dijadikan pelajaran dan semacam tamparan kecil bagi peneliti Muslim di Indonesia sendiri.

Pasalnya, peneliti negara lain lebih berminat untuk menghabiskan waktunya untuk meneliti kekayaan khazanah keilmuan Islam di Indonesia, di sisi lain muncul juga spekulasi apakah Islam Indonesia yang bermula dari Kurdi, atau tradisi Kurdi yang terpengaruh budaya Islam di Indonesia, mengingat kurang terdapatnya bukti-bukti fisik yang mendukung teori ini seperti tiga alur kedatangan Islam di Indonesia yang biasa dibaca oleh umat muslim di Indonesia.

Diskusi yang digelar atas kerjasama Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon ini, dihadiri tiga ratusan peserta. Secara umum peserta merupakan para pengurus NU dari pelbagai lapisan; tokoh pesantren, peneliti muslim, budayawan, mahasiswa, dan santri.

Redaktur          : Abdullah Alawi

Kontributor      : Sobih Adnan

    

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 29 Agustus 2017

PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat akan mengarusutmakan pemikiran Ahlussunah wal-Jamaah. Untuk tujuan itu diluncurkan program Aswaja Schoolen. Program tersebut diluncurkan di aula Asrama Putri PMI, Ciputat, Tengerang Selatan, Banten (12/6).

PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ciputat Arusutamkan Pemikiran Aswaja

Pada peluncuran Aswaja Schoolen PMII Ciputat mengundang penulis buku Pesantren Studies Ahmad Baso sebagai narasumber.

Pengurus Pusat Lakpesdam NU tersebut dalam pengantarnya mengatakan, Islam Indonesia adalah warisan Wali Songo. UIN Jakarta yang menjadikan nama seorang waliyullah di belakang namanya, seharusnya menjadikan kitab-kitab Syarif Hidayatullah masuk ke dalam kurikulum, “sehingga UIN mampu mendidik mahasiswa untuk memiliki karakter seperti Syekh Syarif Hidayatullah,” ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Konstruksi yang dibangun di UIN selama ini hanya memahami Aswaja dari sisi teologi saja, tapi tidak dijelaskan dari sudut gerakan, kenegaraan, dan kebangsaan. Ini pertanda Aswaja sudah banyak disensor  di institusi pendidikan UIN.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para alumni Barat yang menjadi dosen di UIN, sambung pria kelahiran Sulawesi Selatan ini, Asy’ariah dan Al-Ghazali sebagai penyebab kemunduran Islam. Padahal kedua ajaran tersebut yang menjadi sumber inspirasi revolusi di Indonesia yang dilakukan umat Islam di pesantren.

“Maka, Aswaja Schoolen diharapkan mampu melakukan rekonstruksi terhadap Aswaja versi UIN!” tegasnya.

Lebih jau, Baso mengemukakan, KH Hasyim Asy’ari melakukan kaderisasi pada orang-orang di luar NU, misalnya saja Jendral Sudirman, Bung Tomo, dan Tan Malaka. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi santri kilat pendiri NU itu, “Pertanda Ahlussunnah walJamaah yang dianut pesantren juga menjadi salah satu pilar tegaknya  NKRI,” tambahnya.

Kepada PMII Ciputat, Baso menekankan harus dihimpun dari gerakan Aswaja Schoolen ini adalah kekuatan, karena Indonesia merdeka bukan karena text book dari Barat atau Wahabi, tapi karena keilmuan khazanah pesantren, salah satunya adalah ilmu kanuragan.

“Dengan demikian, PMII juga tidak boleh jauh dari kiai. Kalau PMII jauh dari kiai, maka PMII akan hancur. Boleh saja PMII independen dari NU, tapi harus tetap menjaga tradisi NU dan hormat kepada kiai, tegasnya.

Program Aswaja Schoolen diluncurkan karena UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berada di Ciputat, marak dengan pemikiran-pemikiran Wahabisme dan Liberalisme. Karena itulah PMII Ciputat akan memperkuat arus pemikiran Aswaja. Harapannya, kelak bisa menjadi kekuatan PMII dalam penyebaran ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah.

Peluncuran program tersebut dikemas dengan diskusi  bertema Bedah Tokoh KH. Hasyim Asy’ari Mempertahankan Ahlussunnah wal-Jamaah dan Mememlihara Keutuhan NKRI. Kegiatan tersebut diikuti 20 aktivis PMII Ciputat.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Adriansyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Pertandingan, Kiai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 27 Agustus 2017

NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah

Pati, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memperingati hari lahir (Harlah) NU yang ke-89 di gedung PCNU setempat, Ahad (1/2).

Acara tersebut dimulai dengan bedah Jurnal “Khittah” yang diterbitkan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Pati dan peluncuran Majalah “Nuansa” yang diterbitkan Lajnah Ta’lif wan-Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Pati.

NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pati Meriahkan Harlah Ke-89 dengan Jurnal dan Majalah

Dalam kedua acara itu, panitia menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Wakil Ketua PCNU Pati Jamal Makmur, Pemimpin Redaksi Majalah Nuansa Faiz Aminuddin, juga Ketua Lakpesdam PCNU Pati Andi Irawan. Peserta terdiri dari siswa-siswi Madrasah Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Pati.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Acara ini bertema “Saatnya Kaum Muda NU Menguasai Media”. Tema diambil karena di Pati dinilai masih banyak anak muda NU yang hanya jadi penonton dan konsumen berita. Padahal potensi menulis ada, dan PCNU telah memberikan ruang bagi mereka di media majalah dan jurnal.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Saatnya kita menguasai media, karena sangat urgen bagi pengembangan berita di wilayah lokal Pati, dan kita sedang dihimpit dua aliran besar yang sudah mempunya media baik televisi, maupun radio. Mereka adalah aliran radikal dan aliran liberalisme,” kata Jamal Makmur.

Jika upaya itu tidak dilakukan, tambahnya, NU akan tertinggal dan sekadar menjadi penonton. Apalagi mereka yang telah menguasai media mulai sering menyudutkan dan menjelek-jelekkan Islam ala Ahlussunah wal Jamaah.

Faiz Aminuddin menjelaskan, kini banyak penulis buku yang memvonis NU sebagai kelompok bid’ah dan sesat dengan mengaku sebagai mantan kiai NU, mantan Santri NU, atau mantan syuriah NU.

“Karena mereka pernah aktif di NU dan sekarang ikut jaringan radikal dengan menerbitkan buku yang menjelek-jelekkan NU dengan perspektif mereka sendiri,” ujarnya.

Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Pati Andi Irawan menerangkan, jurnal “Khittah” berisi sejumlah topik di sekitaran Pati, seperti bahaya HIV/AIDS, penyaluran zakat, perkembangan pesantren NU seiring sistem pendidikan nasional, juga kiat menjadi penulis muda NU. (Fikrul Umam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

NU Paciran Sowan ke PBNU

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sowan ke PBNU di Jakarta, pada Jumat sore, (04/01).

Menurut perwakilan rombongan, Misbahul Munir, tujuan sowan tersebut adalah silaturahim jasadiyah dan bathiniyah. Jasadiyah, ingin melihat gedung PBNU yang selama ini hanya dilihat di TV. Juga ingin bertemu dengan pengurus PBNU secara langsung.

NU Paciran Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Paciran Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Paciran Sowan ke PBNU

“Silaturahim bathiniyah, kami ingin mendapat taushiyah dari PBNU,” kata Misbah yang juga Kepala MTs Tarbiyatu Tholabah tersebut.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Taushiyah itu, sambung pria berusia 44 tahun tersebut, adalah bagaimana cara terbaik untuk membentengi warga Nahdliyin di Paciran dari “aliran” Islam garis keras yang mulai berkembang di kecamatan tersebut.

Mereka datang ke rumah-rumah untuk mengajak kelompok mereka. Satu dua warga Nahdliyin sudah ada yang masuk aliran tersebut. ? “Dengan demikian, meminta PBNU bagaimana cara membentenginya,” tanyanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Juga, kami ingin meminta petunjuk bagaimana cara mengelola pendidikan yang baik dan profesional dan meningkatkan mutu SDM. Selama ini, lembaga di bawah Ma’arif masih tertinggal dari sekolah-sekolah lain.

Rombongan berjumlah 27 orang terdiri dari pengurus MWC, Ma’arif dan kepala Madrasah Ibtidaiyah di Paciran tersebut diterima Bendahara PBNU, Nasirul Falah dan Wakil Ketua PP LP Maa’rif, Sri Mulyati, di aula PBNU lantai 5.

Menanggapi permintaan perwakilan rombongan, Nasirul Falah mengatakan, untuk membentengi warga Nahdliyin, sedang diupayakan melalui Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) yang akan turun ke daerah-daerah.

Selain itu, Nasirul juga menjelaskan, PBNU melalui Lembaga Perekonomian NU mendorong pemberdayaan ekonomi warga Nahdlyin. “Sementara ini baru melalui pasar rakyat yang memasarkan salah satu produk unggulannya minyak goreng bintang sembilan,” katanya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis: Abdulllah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Quote, Nusantara, Ahlussunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 26 Agustus 2017

Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan

Kupang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pembangunan Masjid Nur Musafir, yang sebelumnya dihentikan Walikota Kupang Daniel Adoe pada tahun 2012 lalu, lantaran ada penolakan dari masyarakat setempat akhirnya bisa dilanjutkan. Selama empat tahun lamanya, persoalan pembangunan Masjid ini baru bisa dilanjutkan setelah Walikota Kupang Jonas Salean mencabut kembali surat larangan pembangunan.

Berdasarkan pantuan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pembangunan lanjutan Masjid Nur Musafir ini dihadiri tiga pejabat Kementerian Agama, yakni Dirjen Bimas Islam Prof Machasin, Dirjen Bimas Protestan Odita Hutabarat, dan Sekretaris Dirjen Bimas Agus Tungga Gempa. Selain itu tampak hadir Ketua MUI NTT KH ? Abdulkadir Makarim, Kapolres Kupang AKBP Budi Hermawan, Kabinda NTT, Dandim 1604 Kupang, PW Ansor NTT, PC Ansor Kota Kupang, Pemuda Lintas Agama dan jajaran Forkopinda Kota Kupang.

Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Masjid Batuplat Kota Kupang Akhirnya Dilanjutkan

Walikota Kupang Jonas Salean mengatakan, baru pertama kali di NTT bahkan mungkin di Indonesia, dua Dirjen hadir bersamaan peletakan batu pertama pembangunan mesjid di tingkat kelurahan. "Ini baru pertama kali terjadi pembangunan masjid di hadiri dua Dirjen," kata Jonas dalam sambutan pembukaan pembangunan lanjutan Masjid Nur Musafir Batuplat, Senin (11/4).

Diakui Jonas, pembangunan masjid ini memang banyak kendala karena pendekatan yang keliru sehingga ada warga Batuplat yang tersinggung kemudian menolak pembangunan masjid. Namun setelah pemerintah melakukan mediasi antar warga, akhirnya disepakati pembangunan masjid dilanjutkan.

Dikatakan Jonas, sesuai motto kota yang didasarkan pada KASIH (Kupang, Aman, Sehat, Indah Harmonis), menjadikan warga Kota Kupang hidup rukun dan damai. "Kita tidak ada lagi muncul perbedaan di antara kita, sebab kita ini masih bersaudara, "ungkapnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dirjen Bimas Islam, Machasin dalam sambutannya mengatakan, pembangunan Masjid Nur Musafir ini memang sebelumnya ada persoalan. Namun ia menilai permasalahan tersebut bisa diselesaikan jika masyarakat mengedepankan kerukunan. " Dengan kerukunan yang menjadi baromoter maka semua masalah bisa diselesaikan," pungkasnya. (Ajhar Jowe/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hikmah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Al-Quran Sunni-Syiah Sama

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Al-Quran yang menjadi pegangan umat Islam baik kalangan Sunni maupun Syi’ah adalah sama. Demikian kesimpulan buku Al-Quran 100% Asli, Sunni-Syi’ah Satu Kitab Suci karya Ketua Umum Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Dr. KH Muhaimin Zen MA.

Buku tersebut dibedah Pimpinan Pusat JQHNU di gedung PBNU Jakarta, Senin (29/7). Didaulat sebagai pembicara adalah Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi tokoh Syi’ah Khalid Al-Walid dan penulis buku tersebut. Sementara moderator Sekjen PP JQHNU Ahmad Ari Masyhuri MA. ?

Al-Quran Sunni-Syiah Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran Sunni-Syiah Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran Sunni-Syiah Sama

Menurut Muhaimin, buku tersebut berawal dari disertasi Pascasarjana Jurusan Tafsir Hadits di Universitas Islam Negeri Sayarif Hidayatullah Jakarta. Judul semula adalah Tahrif (Perubahan) Al-Quran dalam Pandangan Suni-Syi’ah; Satu Kajian Perbandingan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Pada mulanya disertasi itu mengatakan bahwa Al-Quran Sunni Syi’ah berbeda. Dasar pendapat itu saya temukan dari buku As-Syi’ah; Tahrif Al-Quran karya Malullah,” jelasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam buku tersebut dikatakan bahwa ayat dalam Al-Quran sekitar 17.000. Yang sekarang ada, tinggal sekitar 6000 ayat. Di buku tersebut dikatakan bahwa orang Sunni-lah yang membuang ayat-ayat itu.

“Kemudian, ketika diajukan kepada penguji, saya tidak bisa membuktikan pernyataan itu. Lalu saya melakukan penelitiian hingga tingga kali ke Iran pada tahun 2006.”

Di Iran, Muhaimin diajak Rektor Universitas Al-Musthafa Al-A’rofy. Ia diajak ke lembaga-lembaga Al-Quran, ke museum-museum, yang memperlihatkan cetakan Al-Quran dari tahun ke tahun. “Kesimpulan saya adalah, bahwa kitab Al-Quran orang Suni dan Syi’ah itu sama,” katanya.?

Kholid Al-Walid mengatakan, Al-Quran kalangan Syiah, sama dengan Al-Quran kalangan Sunni. Ia kemudian menceritakan, Al-Quran pada masa itu Nabi sudah dihafal para sahabat.

“Para sahabat membacakananya di hadapan Rasulullah dan dibacakan hingga berkali-kali. Abdullah bin Mas’ud, contohnya.”?

Seluruh ulama Syiah, kata dia, menolak tahrif (perubahan) Al-Quran. Al-Quran yang ada sekarang sama dengan zaman Nabi Muhammad Saw. “Ulama Syi’ah mengutuk sahabat yang berbeda dengan bacaan umum umat Islam,” tambahnya. ?

Kodifikasi Al-Quran sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad. Kodifikasi ada dua makna, pertama dalam bentuk hafalan sebagaiamana urutan-urutan yang ada. Kedua kodifikasi atau pengumpulan dalam satu mushaf dilakukan pada zaman Sahabat Usman. “Rasm Utsmani itulah Al-Quran bagi kalangan Syiah,” tegasnya.?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaSantri, Habib PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah