Jumat, 21 Juli 2017

Awalnya, Syekh Buthi Membuat "Gerah" Salafi-Wahabi

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi adalah tokoh utama kelas dunia dari kalangan Sunni atau Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang sufi, namun juga ahli syariat sekaligus ahli hakikat, dan argumentator Sunni terhadap serangan-serangan non-Sunni. Ini diakui baik di Suriah maupun di dunia Muslim lainnya.

Salah satu dari kehebatan Syekh Buthi adalah kemampuannya berargumentasi terhadap serangan-serangan kelompok takfiriyah yang suka mengkafirkan kelompok Asy’ari (Sunni), juga suka mengkafirkan amalan-amalan fadhilah dan lain sebagainya. Syekh Buthi ini paling gigih dan paling jitu untuk melawan mereka. 

Awalnya, Syekh Buthi Membuat Gerah Salafi-Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Awalnya, Syekh Buthi Membuat Gerah Salafi-Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Awalnya, Syekh Buthi Membuat "Gerah" Salafi-Wahabi

Ada dua karya Syekh Buthi yang membuat “gerah” kelompok Wahabi dan Salafi yang ada di Suriah dan di dunia muslim pada umumnya. Pertama bukunya yang berjudul al-La Mazhabiyyah: Akhtoru Bidatin Tuhaddidus Syariah Islamiyyah, yang artinya bahwa pemikiran non madzhab adalah bid’ah baru yang dapat merusak pemikiran syariah. Ringkasnya, buku itu menjelaskan bahwa orang memahami Islam itu harus dengan pola berfikir. Nah pola berfikir itu dengan metodologi ijtihad yang tidak bisa hanya diserahkan orang-perorang yang tidak memenuhi syarat untuk itu. Menurut Syekh Buthi, bagi mereka yang melakukan itu samalah artinya dia merusak Islam karena dia akan memelencengkan makna yang sesungguhnya dari Islam itu sendiri. Buku ini sangat terkenal dan jitu sekali untuk melawan Wahabiyah dan kelompok takfiriyah tadi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kedua, buku Syekh Buthi yang berisi uraian tentang Salafi yakni As-Salafiyyah. Bahwa menurutnya, Salafi ini bukan madzab tapi suasana keagamaan pada zaman as-salafus salih. Jadi Salafi bukan merupakan pola pemikiran tapi fakta kehidupan darus salam itu yang damai. 

Dua buku itu betul-betul membikin kelompok Wahabi dan Salafi kelabakan, sehingga sudah lama sebenarnya ada pertentangan sektarian antara Wahabi-Salafi dengan Syekh Buthi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Penasihat Presiden

Bersamaan dengan itu Syekh Buthi menjadi penasihat Presiden. Dalam keadaan normal ia memberikan nasihat di bidang agama. Namun karena adanya konflik yang membelah pemerintah dan masyarakat pemberontak, dalam hal ini juga dikompori oleh luar negeri, maka terjadi kolaborasi antara faktor agama dan konflik politik.

Sementara itu di pemerintahan sendiri banyak unsur Syiah Alawiyahnya yang tidak disukai oleh jamaah-jamaah takfiriyah yang dimotori oleh Slafi-Wahabi, meskipun Syekh Buthi sendiri bukan orang Syiah. Syekh Buthi sendiri sebenarnya berada di pemerintahan dengan maksud ingin mencari keseimbangan antara Sunni dengan Syiah Alawiyah itu.

Konflik Suriah memang terus berlanjut. Faktor yang lebih dominan sebenarnya adalah politik. Pertama sebenarnya karena Israel itu ingin menghancurkan Suriah karena dia negara yang paling depan berhadapan dengan mereka. Di sana dihuni kekuatan-kekuatan militan yang melawan Israel. Seperti kekuatan Syiah yang dikendalikan oleh Iran, lalu kekuatan Hamas yang dikendalikan oleh Khalid Massal dan beberapa kekuatan Syiah sebagai bagian dari Hezbollah yang dipimpin oleh Hasan Nasrollah. Tiga kekuatan ini yang membuat Suriah menjadi musuh utama Israel ditambah bahwa pemerintahan Basyar sendiri cenderung ke Syiah Alawiyah.

Karena faktor politik ini, tentu sebagaimana juga penyerangan terhadap negara Islam yang lain pasti Amerika ikut campur. Dan dapat diduga bahwa dia pasti membantu pemberontak, pertama karena tidak suka dengan pemerintahan, kedua Salafi-Wahabi itu selalu pro Saudi-Amerika, termasuk di dalamnya jamaah takfiriyah.

Sementara negara-negara yang ‘sudah direformasi” seperti Mesir, Libya dan sebagainya yang diam-diam berpihak kepada Amerika, dan di sini mereka berpihak pada pemberontak. Nah karena itu maka Iran menyeret Cina dan Rusia untuk masuk dalam pertempuran ini karena faktor perlawanan terhadap Amerika, sebenarnya bukan karena faktor agama, namun untuk menjaga keseimbangan Barat dan Timur.

Maka terjadilah carut marut politik di Suriah, dan Syekh Buthi berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Karena beliau sebagai orang Sunni, sebagai penasihat pemerintah itu pun dia harus berhadapan dengan Syiah Alawi, sementara yang takfiri ini menganggap bahwa Syekh Buthi berpihak pada kedzaliman.

Karena Syekh Buthi itu dianggap sangat besar kekuatannya terutama dalam Islam maka kemudian beliau diserang dengan cara seperti itu. Syekh buthi meninggal dalam aksi serangan bunuh diri. Saya kira penyerangan ini tidak jauh dari kelompok takfiriyah, atau gerakan-gerakan politik yang anti pemerintah.

Propaganda Negatif

Setelah Syekh Buthi meninggal dengan cara seperti itu, kelihatannya pihak barat dan dari pihak Salafi-Wahabi ini mengkhawatirkan dukungan ulama dunia, atau simpati umat dunia terhadap beliau. Maka direkayasalah terhadap beberapa ulama untuk menjelekkan Syekh Buthi, seperti Syekh Qaradhawi. Ada statemen beliau yang cenderung memojokkan. Nah itu sebetulnya adalah bagian dari gerakan politik untuk meredam dukungan dan simpati kepada Syekh Buthi.

Kita mendengar orang yang menjelekkan Syekh baik di media cetak maupun elektronik internasional. Padahal di dalam orang Islam orang yang meninggal itu tidak usah dijelekkan. Ada haditsnya yang nenyebutkan, ‘Udzkuru ma hasina mautakum’. Nah tapi untuk kepentingan supaya tidak ada reaksi maka Syekh Buthi dijelekkan. Jadi kita tidak perlu memperbesar kontroversi ini karena termasuk bagian dari konspirasi orang lain.

Menurut ahlissunnah wal jamaah, orang yang shalih tetaplah shalih. Bahwa pilihan politik berakibat sesuatu itu kita tidak masuk dalam penilaian pribadi dan agamanya seperti dulu pada waktu zaman pertentangan Sayydina Ali dan Sayyidina Utsman. Orang Sunni mengatakan, ‘Apa yang terjadi di dalam sahabat itu kita diam”, karena itu bukan dari faktor agama tetapi faktor lain. Sehingga dari kelompok Sunni di dunia lebih senang kalau dia tidak menghujat Syekh Buthi dan ini lebih kepada masalah politik bukan masalah sektarianisme agama sekalipun masalah sektarianisme agama ini menjadi sumbu disebabkan karena permainan global untuk memainkan antara sektor itu. 

Hubungan dengan NU

Sewaktu ke Suriah, saya sempat bertemu dengan Syekh Buthi bersama beberapa kiai, antara lain KH Idris Marzuki, KH Masruri Mughni (alm.), dan KH Nur Muhammad Iskandar. Beliau sudah memberikan ijazah langsung untuk menyebarkan semua karyanya. 

Salah satu karyanya yang paling terkait dengan NU adalah Syarah Al-Hiham, karena Al-Hikam sendiri adalah kitab tasawuf andalan yang dikaji di pesantren. Menurut saya, kelebihan kitab yang ditulis Syekh Buthi dibanding syarah hikam lainnya, pertama karena beliau memulai Hikam itu dari syariatnya kemudian masuk hakikat. Jarang ada syarah Hikam seperti itu. Biasanya hakikatnya itu saja yang disyarahi. Jadi dari syariat beliau mengungkapkan dalil-dalilnya, baru baru masuk ke hakikat.

Yang kedua Syekh Buthi ini memperlengkapi Hikam ini dengan dalil-dalil yang muktabar baik Al-Qur’an maupun hadits nabi, karena hikam sendiri didalamnya tidak ada dalil hanya menyinggung sedikit tentang ayat, tapi belum proporsional pada setiap qoul ada dalilnya. 

Di NU memang Sykeh Buthi ini kalah populer dibanding dengan misalnya Syekh Wahbah Zuhaili dan Qaradhawi. Itu karena masalah silaturrahim saja, karena beliau sudah sepuh. Syekh Wahbah masih sering datang ke Indonesia, sementara Syekh Buthi hanya diwakilkan kepada putranya, Dr Taufik.

Kedua, kitab-kitab Syekh Buthi bukan kategori fikih praktis, meskipun banyak sekali yang terkait dengan fikih dan ushul fikih, tapi beliau lebih dikenal dengan ulama sufi dan argumentator Sunni. Namun mestinya para ulama itu tidak bisa secara simpel dipetakan sebagai ahli fikih atau tasawuf. Seperti imam Syafi’i adalah ahli fikih padahal beliau sangat sufi. Imam Hanafi adalah ahli ra’yi tapi beliau juga sangat sufi. Jadi kita lebih sering melihat pada disiplin ilmu apa yang menonjol. Namun, "apa yang ada di gudang itu kan tidak semua terlihat di etalase."

Salah satu pemikiran Sykeh Buthi yang menurut saya perlu dikembangakan adalah komprehensi antar disiplin-disiplin pecahan ilmu agama, misalnya konprehensi antara fikih dengan tafsir, tasawuf dengan ilmu kalam. Ini dilakukan supaya integral. Saya bisa mengatakan bahwa syekh buti ini bisa disebut Imam Ghazali kedua baik di dalam mengutarakan argumentasi maupun mengutuhkan kembali ilmu-ilmu Islam itu yang selama ini pecah: fikih jauh dari tarekat, tarekat jauh dari ilmu kalam, teknologi jauh dari tauhid, dan seterusnya. Ini tidak benar.

Nah pecahan pecahan ilmu agama itu disatukan lagi oleh Syekh Buthi dalam ceramah-ceramah dan pengajian. Keistemewaan lain Syekh Buthi adalah ceramahnya yang sistematik dan terukur, serta bisa langsung ditranskrip dan dicetak tanpa editing. Maka karya-karya beliau tercatat cukup banyak dan sebagian besar sudah sampai ke berbagai pesantren di Indonesia.

 

* Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 18 Juli 2017

Ada Semar dan Jokowi dalam Lukisan tentang Gus Dur

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa kalangan, termasuk para pegiat seni lukis.  Dalam peringatan Haul ke-5 Gus Dur, Komunitas Pelukis (Kopi) Jombang, Ahad  (4/1), mengekspresikan kecintaan teradap ketua PBNU ini dengan coretan di kanvas.

Sedikitnya 10 gambar dihasilkan komunitas pelukis Jombang, mulai dari Gus Dur dengan tubuh ala tokoh pewayangan Semar, Gus Dur ngontel bersama KH Hasyim Asyari kakeknya,  hingga Gus Dur dengan Jokowi sebagai penerusnya. "Jokowi itu penerus Gus Dur, beliau sama sama merakyatnya dalam memimpin," ujar Soleh pelukis asal Perak Jombang yang kini masih nyantri di pesantren Gontor Ponorogo ini menuturkan.

Ada Semar dan Jokowi dalam Lukisan tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Semar dan Jokowi dalam Lukisan tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Semar dan Jokowi dalam Lukisan tentang Gus Dur

Berbeda dengan Soleh, Sugeng Hartobi melukis sosok Gus Dur dengan tubuh ala tokoh pewayangan yakni Semar. Alasannya presiden ke-4 RI ini merupakan sosok yang sangat mengayomi semua golongan." Kepribadian luhur Gus Dur seperti cerita pewayangan yang diperankan Semar, yang selalu mengayomi semua golongan,"ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua Kopi Jombang, Eko Utomo mengaku kegiatan melukis on the spot digelar salah satunya dalam rangka peringatan Haul ke-5 Gus Dur. Dengan melibatkan sebanyak 17 pelukis dan pelajar SMA, Tema yang diambil dalam kegiatan adalah Indonesiaku Kini Haul Gus Dur." Karenanya banyak lukisan tentang sosok Gus Dur yang dihasilkan," ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Eko sendiri melukis wajah Gus Dur mengenakan peci di atas kanvas. Setelah itu, para pengunjung dipersilahkan menambahi sendiri. Baik itu berupa tulisan maupun lukisan lanjutan.

Praktis, sejumlah coretan mampir di atas kanvas tersebut. Diantaranya, turunkan harga cabe, K-13 kurikulum galau, pendidikan kok dicoba, serta menuju Indonesia sejahtera.

Eko berpandangan, apa yang ia lakukan itu untuk menggambarkan bahwa Gus Dur merupakan sosok demokratis.

"Semua uneg-uneg kita tampung. Semua pengunjung bisa menuliskannya di atas kanvas tersebut. Lukisan ini demokratis seperti sosok Gus Dur itu sendiri," ujar Eko yang juga seorang guru salas satu SMPN di Jombang menuturkan. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah News PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 17 Juli 2017

Negara Lemah Jika Tanpa Akar Tradisi

Semarang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah 



Setiap negara yang kuat pasti memiliki akar tradisi yang kuat. Apabila akar tradisi itu hilang, pasti negara menjadi lemah dan  mudah dijajah. Di antara tradisi yang harus dijaga itu adalah pencak silat, sebagai warisan budaya asli Nusantara. 

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang H Anasom ketika diwawancarai menjelang Pembukaan Pelantikan Pengurus, Raker dan Pelatihan Pelatih Tahap I Pencak Silat NU Pagar Nusa Kota Semarang, di Gedung Balaikota Semarang, Ahad (6/8).

Negara Lemah Jika Tanpa Akar Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Lemah Jika Tanpa Akar Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Lemah Jika Tanpa Akar Tradisi

H Anasom yang mengepalai Pusat Studi Islam dan Budaya Jawa (PBIJ) UIN Walisongo Semarang menegaskan, pencak silat tidak sekadar olahraga maupun bela diri pribadi, namun telah terbukti menjadi pondasi perjuangan merebut kemerdekaan.

Ia jelaskan, perlawanan rakyat terhadap penjajah kolonial adalah berbasis tradisi. Senjata yang digunakan juga tradisional. Itu yang dipakai untuk melawan penjajah, kalau bukan pencak silat lantas apa? Tanya dia mengajak evaluasi. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Para pahlawan kita itu adalah para jawara pencak silat. Pencak silat menjadi modal utama melawan penjajah sehingga behasil merebut kemerdekaan," terangnya melalui siaran pers. 

Dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo ini menambahkan, di alam kemerdekaan yang memasuki abad modern kini, akar tradisi semakin diperlukan untuk diperkuat. Negara semakin perlu disokong oleh kekuatan tradisi rakyatnya. 

Lanjut dia, rakyat sebagai pemilih sah negara, yang lahir, hidup dan mendirikan negara, perlu terus mempertahankan tradisinya agar jangan sampai tercerabut dari sanubari. 

"Kita keluarga besar Nahdliyin harus mempertahkan akar tradisi rakyat. Dengan nilai Islam yang kita punya, tradisi bangsa kita menjadi semakin kuat dan menopang negara ini agar tidak goyah atau bahkan hancur," tandasnya. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Khusus untuk internal NU dia berpesan, semua sekolah berbasis NU dan pondok pesantren harus membuka latihan pencak silat, dan  Pagar Nusa sebagai badan otonom NU yang membidangi, diminta menyiapkan pelatih. Menurutnya, lebih bagus lagi apabila diangkat jadi guru olahraga, sehingga menjadi pelatih permanen.

"Dulu di setiap pesantren ada pelatihan pencak silat, itu jadi basis perjuangan para pahlawan bangsa. Tradisi ini jangan sampai hilang. Maka saya minta semua pesantren dan sekolah berbasis NU harus ada latihan Pagar Nusa," pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

500 Anggota Banser Bantu Amankan Konferensi Ulama Internasional

Pekalongan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebanyak 500 personil Baser gabungan dari Kota dan Kabupaten Pekalongan, Batang dan Pemalang selam tiga hari 27-29 Juli 2016 membantu kepolisian dan TNI amankan lokasi penyelenggaraan Konferensi ulama Internasional bela negara di Kota Pekalongan.

500 Anggota Banser Bantu Amankan Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Anggota Banser Bantu Amankan Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Anggota Banser Bantu Amankan Konferensi Ulama Internasional

Pengerahan personil yang cukup besar ini dilakukan mengingat pelaksanaan kegiatan dibagi di tiga tempat, yakni Hotel Santika, Kanzus Sholawat dan Gedung Djunaid, apalagi ada delegasi peserta dari 39 negara yang hadir secara khusus pada event yang dihelat Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah (JATMAN).

Komandan Banser Kota Pekalongan Maftuchin kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, untuk membantu pengamanan tiga lokasi yang dibackup penuh dari kepolisian dan TNI, pihaknya bekerjasama dengan Banser Kabupaten Pekalongan, Batang dan Pemalang.

"Dari 500 personil Banser bertugas secara bergiliran di tiga titik lokasi yang dibagi dalam 3 shift selama tiga hari," ujar Maftuchin.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dikatakan, khusus untuk pengamanan di Hotel Santika, dari pihak kepolisian dan TNI dibantu alat khusus berupa security door di pintu masuk hotel. Pengetatan pengamanan, selain dengan penempatan personel berseragam dan berpakaian preman di sekitar lokasi, juga dengan langkah sterilisasi menggunakan ‘mirror detector’ dan ‘metal detector’. Pengamanan ketat ini dilakukan selama 24 jam, hingga perhelatan konferensi selesai, dan seluruh tamu undangan meninggalkan hotel.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Enriko Sugiharto Silalahi, melalui Kasat Sabhara AKP Ariakta Gagah Nugraha menjelaskan, sedikitnya ada 15 personel yang ditempatkan di hotel tersebut, mereka berpakaian seragam maupun preman.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Petugas juga melakukan sterilisasi bagi para pengunjung hotel, baik itu tamu, panitia, maupun umum. Para pengunjung dan barang bawaannya sebelum masuk terlebih dulu diperiksa menggunakan metal detector.

Ariakta menambahkan, pihaknya juga meminta bantuan Polda Jawa Tengah untuk mendatangkan dua unit ‘security door’ yang ditempatkan di depan pintu masuk baik di Hotel Santika maupun Gedung Djunaid. “Ini kita lakukan untuk menjamin keamanan pelaksanaan konferensi. Sterilisasi dilakukan terhadap panitia, tamu, maupun umum,” imbuh dia.

Penyelenggaraan even tingkat internasional membawa berkah tersendiri bagi masyarakat Kota Pekalongan. Pasalnya, tamu yang ribuan jumlahnya sebagian besar ditempatkan di rumah rumah penduduk di wilayah Pekalongan Selatan. Bagi warga yang rumahnya ditempati tamu selama acara berlangsung merupakan kebanggaan yang tidak bisa dihitung secara materi.?

"Ini suatu kebanggaan bagi kami dan masyarakat warga Buaran dan masyarakat Kota maupun Kabupaten Pekalongan, karena di samping bisa membantu menyediakan penginapan bagi tamu Habib Luthfi, juga mereka bisa beli oleh-oleh khas Pekalongan berupa batik untuk dibawa pulang usai acara," ujar Muhtarom. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Warta, Nahdlatul Ulama, Meme Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Fajrul Falaakh, Mantan Ketua PBNU Meninggal Dunia

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiun. Mantan Ketua PBNU, ahli hukum tata negara HM. Fajrul Falaakh meninggal dunia di RS Harapan Kita, Jakarta, Rabu (12/2) hari ini, sekitar pukul 13.10 WIB. Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Dato Tonggara No 8, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Fajrul Falaakh, Mantan Ketua PBNU Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Fajrul Falaakh, Mantan Ketua PBNU Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Fajrul Falaakh, Mantan Ketua PBNU Meninggal Dunia

Informasi disampaikan adik Fajrul Falaakh, M Romahurmuzi melalui pesan singkat yang diterima PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Almarhum meninggal karena sakit dan sempat dirawat karena mengalami gagal ginjal.

Anggota Komisi Hukum Nasional itu lahir di Gresik Jawa Timur, tanggal 2 April 1959 silam. Ia bergelut di bidang ilmu hukum sejak menempuh pendidikan di? Fakultas Hukum UGM Yogyakarta. Ia juga sempat memperdalam ilmu hukum di Inggris dan Amerika Serikat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Fajrul Falaakh menjadi anggota majelis Dewan Kehormatan Pusat Perhimpunan Advokat Indonesia (sejak 2008), dan anggota Komisi Hukum Nasional RI (sejak 2000). Ia juga memperoleh Satya Lencana Pengabdian 17 tahun dari Presiden RI tahun 2004.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Putra pendiri IPNU KH Tholchah Mansyur, kakak kandung Mantan Ketua Umum IPPNU Safira Rosa Machrusah itu masuk dalam kepengurusan NU di tingkat pusat pada periode kepengurusan KH Hasyim Muzadi, sebagai salah satu Ketua PBNU yang membidangi persoalan hukum.

Fajrul Falaakh dikenal anak-anak muda NU sebagai sosok senior yang mumpuni di bidang ilmu hukum dan tata negara. Menurut mantan Ketua Umum IPNU H Asrorun Niam, meski aktif di bidang akademis, Fajrul tetap selalu mendampingi anak muda NU dan para aktivis. Ia memberikan banyak informasi dalam persoalan hukum dan tata negara.

“Pada saat anak muda NU larut di dunia aktivis, beliau malah berkecimpung di dunia akademis. Beliau merupakan inspirasi zamannya. Kita tentunya merasa sangat kehilangan sosok yang mengayomi dan aktif mendampingi anak-anak muda,” kata Niam. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Pertandingan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 16 Juli 2017

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik

Waykanan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada diklatsar dan PKD di Blambangan Umpu, Selasa (25/4), Gerakan Pemuda Ansor Waykanan menandatangani sembilan sikapnya menghadapi pemilu April mendatang. Sembilan poin ini menjadi pedoman politik kader GP Ansor dan Banser Waykanan.

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik

Dalam Sembilan poin itu, GP Ansor Waykanan menyatakan, memegang teguh Khittah NU 1926, mengajak warga menciptakan perdamaian, mengawal dan mewujudkan Pemilu damai 2014, ? menjamin kebebasan hak asasi setiap anggota untuk menggunakan hak pilih sesuai kehendak hati, tidak memihak calon atau partai peserta Pemilu 2014.

Kecuali itu, GP Ansor Waykanan mengimbau kader dan warga menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2014, mengharapkan kadernya untuk menjadi pemilih cerdas, memilih caleg berdasarkan rekam jejak dan kapasitasnya, mengimbau warga menjaga persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI, dan mengimbau kader dan warga menolak politik uang demi menciptakan Pemilu 2014 yang bersih.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PC GP Ansor Waykanan mengatakan, “GP Ansor sebagai elemen kepemudaan perlu terlibat konkret dalam Pemilu ini, sebagai bagian pengawalan jalannya demokrasi di NKRI.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sembilan sikap ini merupakan nota kesepahaman antara GP Ansor dan KPU Waykanan di pesantren Roudhotul Mutaqin. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 14 Juli 2017

Yang Bertempur Lawan Tentara Inggris itu Berkopiah dan Bersarung

Trenggalek, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pondok Pesantren Qomarul Hidayah (PPQH) —salah satu pesantren tertua di Trenggalek— menggelar Bincang Santai Nasionalisme Kaum Santri, Ahad (19/11). Kegiatan bertempat di aula PPQH II Tugu, Trenggalek, Bincang Santai mengambil tajuk Nasionalisme Religius Kaum Santri, Meneguhkan Kecintaan Kepada NKRI.



Yang Bertempur Lawan Tentara Inggris itu Berkopiah dan Bersarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Bertempur Lawan Tentara Inggris itu Berkopiah dan Bersarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Bertempur Lawan Tentara Inggris itu Berkopiah dan Bersarung

Bincang Santai yang diikuti seratusan santri dan banom NU Trenggalek menghadirkan Rijal Mumazziq Z, Ketua Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) PCNU Surabaya, dan Dosen UIN Maliki Malang Misbahus Surur.

Dengan selingan humor khas santri, Gus Rijal bercerita panjang lebar mengenai perjuangan para santri dan kiai dalam pertempuran November di Surabaya, karena adanya fatwa Resolusi Jihad dari Hadratussyaikh Hasyim Asyari.

"Jadi, jangan dikira yang bertempur melawan tentara Inggris itu berpakaian doreng bersenjata lengkap, gagah, seperti di film Rambo. Tapi (yang bertempur itu) mereka yang memakai sarung dan kopiah, dengan senjata seadanya," tutur Gus Rijal.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara Surur memaparkan tentang kebhinekaan dan sifat toleran yang menjadi karakter masyarakat nusantara sejak sebelum Islam datang.

Selepas acara, Ketua Panitia, Gus Mahbub Cholil (Gus Abub) mengatakan kegiatan Bincang Santai tersebut merupakan agenda awal sebelum diadakan pelatihan jurnalistik santri.

"Santri Trenggalek harus menguasai jurnalistik untuk menghadapi propaganda dari media-media radikal dan intoleran yang merongrong NKRI," tutur Gus Abub. (Androw Dzulfikar/Kendi Setiawan)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah