Senin, 10 Juli 2017

Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban

Oleh Aswab Mahasin

Setiap tahun seluruh umat Islam di dunia merayakan hari raya Idul Adha, biasa kita kenal juga hari raya Qurban. Peristiwa ini menjadi sebuah gerakan sosial luar biasa, di Indonesia sendiri kalau kita sensus jumlah qurban Kambing/Sapi, mungkin jumlahnya bisa puluhan ribu, atau ratusan ribu, atau bahkan jutaan (saya belum menemukan data yang pasti), yang jelas sangat banyak—karena penyembelihan hewan qurban hampir dilakukan dari mulai mushola tingkat RT sampai Presiden.

Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban

Magnet yang ditularkan luar biasa, semua lapisan masyarakat (bawah – atas) menikmati daging qurban. Sesungguhnya, dalam hal ini dimensi apa yang ingin disampaikan, khususnya dalam relasi umat manusia?

Menurut Pakar Tafsir, Muhammad Quraish Shihab dalam wawancaranya bersama Republika, tertanggal 18 Desember 2008, beliau menyampaikan, “Qurban adalah jenis ibadah paling tua di dunia. Filosofi dari peristiwa penyembelihan Ismail putra Nabi Ibrahim, adalah kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Ada dua hikmah dari peristiwa ini, pertama, jangan pernah menganggap sesuatu itu mahal untuk mempertahankan dan menyemarakan nilai-nilai Ilahi, dan kedua, di sisi lain jangan sekali-kali melecehkan manusia, megambil hak-hak manusia karena manusia itu makhluk agung yang dikasihi Allah. Karena kasihnya Allah kepada manusia, maka digantilah Ismail dengan seekor binatang”.

Dalam hal ini yang ingin saya kupas adalah dimensi manusia sebagai makhluk spiritual dan sosial (sebagai implementasi dari makhluk berkurban). Yang mana pada setiap diri manusia Allah SWT telah menginstal softwere/dimensi ketuhanan/dimensi kemanusiaan.

Saya teringat karya Ibn Tufail, Hayy ibn Yaqzon yang menyiratkan, “Perjalanan seorang manusia menggali pengalaman spiritualnya. Mencari jalan yang benar dengan berbagai macam tindakan dan pengamatan. Hayy adalah manusia yang hidup di hutan belantara, dan diasuh oleh Rusa, ia pun sebagai manusia yang berakal, berpikir, dan bernurani (mempunyai jiwa), mencoba menemukan kebenaran sejati melalui penghlihatannya, pendengarannya, rasionya, dan jiwanya. Hayy mengamati berbagai macam kebiasaan, binatang, alam, tumbuhan, perubahan cuaca, dan berbagai macam gejala. Dan setelah melakukan perenungan panjang, akhirnya ia menemukan Sang Kebenaran, Esensi dari segala Esensi.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Membaca cerita tersebut, banyak hal menarik, seorang manusia dalam asuhan rusa melakukan proses pencarian terhadap Sang Penciptanya. Tidak lain itu adalah dorongan spiritual manusia sebagai homo spiritus. Akan tetapi, dimensi spritual itu tidak serta merta muncul dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses kesadaran manusia. Realitas kehidupan dengan berbagai atributnya terkadang menjadi tabir, menghabat potensi kebaikan kita.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Allah SWT telah memberikan gambaran besar dalam al-Qur’an Surat Asy-Syams [91], ayat 7-10, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Dengan demikian, Allah SWT telah memberikan pelajaran/pilihan dari dua sudut yang berbeda, ketakwaan dan kefasikan (kejahatan). Sesungguhnya, semua itu terbentuk oleh bagaimana tindakan manusia dalam menjalani proses hidupnya. Apakah ia tercemari oleh virus kebaikan, atau ia memasang anti virus sebagi penghalau keburukan yang akan memengaruhinya.?

Kalau kita kaji lebih luas lagi mengenai makna spiritual, tugas spirtual manusia sejatinya mengatasi kesombongannya. Karena hakikat kenyataan, hubungan manusia tidak hanya berhenti dengan Tuhan, melainkan dengan seluruh ciptaanNya. Usaha spritual ini, yang dilakukan oleh setiap manusia sebagai strategi bagi perubahan sosial ke arah lebih baik. Artinya, kegiatan spiritual manusia harus mengisi sebagian besar wujud dan eksistensinya. Dengan demikian, momen hari raya qurban bisa dijadikan sebagai bagian dari eksistensi manusia dalam menebarkan nilai-nilai spirtualitasnya; kasih sayang, kemanfaatan, dan berbagi.

Dimensi sosial dan spiritual

Membicarakan apapun tentang manusia, sebetulnya bukan perkara mudah. Manusia merupakan eksemplar yang sulit dibaca, sedangkan manusia sendiri adalah “makhluk membaca”. Kita semua tahu Firman Allah yang pertama kali turun adalah perintah membaca; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Lih. QS. Al-‘Alaq [95]: 1-2). Hal ini menyiratkan, agama sejatinya tidak hanya terbatas pada ritualitas-ritualitas monolitik belaka, spektrumnya lebih dari itu.?

Dalam penggalan ayat tersebut, ada dua prinsip penting, yaitu; keTuhanan dan kemanusiaan. Ada continum yang tak terputus, meminjam istilahnya Gus Dur, “Guru realitasku adalah spiritualitas, dan guru spiritualitasku adalah realitas.”

Beranjak dari itu semua, manusia dilahirkan dalam keadaan putih (kosong), ia belum paham dan belum mampu memahami apapun. Bertumbuhnya manusia menjadi dewasa, ia dituntut oleh fakta yang melingkarinya; agama, keluarga, budaya, dan lingkungan.

Manusia akan bersinggungan dengan manusia lainnya, untuk membaca watak dan karakter. Namun, lebih dari itu, pesan Rasulullah Saw “sebaik-baiknya manusia/seideal-idealnya manusia adalah manusia yang bermanfaat.” Nabi pun berpesan kembali, “Amal manusia akan terputus kecuali tiga hal, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mengalirkan doa kepada orang tuanya.” Telah jelas titik pijaknya; “manfaat”.?

Oleh karena itu, konsep dasarnya, membaca manusia, membaca alam, dan membaca seluruh ciptaan Tuhan, standarnya adalah “kemanfaatan”, lebih tepatnya “manfaat untuk kebaikan” dan “baik untuk kemanfatan”.?

Kemanfatan identik dengan “pengorbanan”, baik itu secara ensensi maupun simbol. Bisa dikatakan untuk mencapai kemanfaatan yang agung, manusia kadang harus melakukan pengorbanan, atau berkurban; berkurban menenggelamkan hawa nafsu, berkurban dari hal-hal negatif, dan sebagainya.?

Seperti apa yang diisyaratkan dari definisi Idul Adha itu sendiri, Idul Adha yang terdiri dari dua suku kata berasal dari bahasa Arab. Pertama idul bersal dari kata ‘aada-ya’uudu-awdatan wa ‘idan yang berarti kembali. Sedangkan adhaakar katanya yaitu adha-yudhii-udhiyatan yang berarti berkorban. Kalau kita bedah lebih lanjut lagi, kurban secara bahasa juga berasal dari bahasa Arab qurbaan yang asalanya adalah qaruba-yaqrubu-qurbaan artinya kedekatan yang sangat.?

Kata qurbaan adalah bentuk tafdhil menunjukan penguatan terhadap sifat yang dikandung kata tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan, berqurban dengan ikhlas dan tulus, tanpa embel-embel legitimasi dari pihak manapun seorang hamba akan semakin dekat (qariib) dengan Allah Swt; Sungguh shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan seluruh alam.

Oleh karena itu, dalam Idul Qurban kita diingatkan banyak hal, khsusnya ajaran tentang iman, islam, dan ikhsan. Hal tersebut menyiratkan qurban mempunyai dimensi spiritual dan sosial. Di mana visi kultural dari qurban adalah merajut “rukun sosial”.

Dalam dimensi spiritual, kita semua tahu bagaimana awal mula ibadah qurban itu terlahir. Di mulai dari mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Perintah Tuhan ini oleh Nabi Ibrhamin disampaikan kepada Ismail dengan berdiskusi, dan tanpa pikir panjang Ismail sebagai hamba yang dipuji Allah (karena sabarnya) meng-“iya”-kan apa yang telah menjadi perintah Allah SWT.Kemudian Ibrahim dan Ismail menentukan tempat penyembelihannya, akhirnya diputuskan pada tanggal 10 Zulhijah dan bertempat di Mina.?

Perjalanan Nabi Ibrahim dan Ismail ke Mina banyak gangguan yang datang, setan-setan itu pun mencoba menggagalkan ritual agung dari perintah Tuhan. Namun, setan-setan itu dikisahkan dilempari batu oleh Ibrahim dan Ismail, dan peristiwa itu dikenal sebagai melontar jumrah dalam ibadah Haji.?

Sesampainya di tempat, Ibrahim mengambil posisi membaringkan Ismail di bongkahan batu, sambil matanya di tutup dan tangannya diikat ke belakang. Namun, pedang hampir saja dihunus, Malaikat Jibril membawa pesan dari Allah SWT harap mengganti sesembelihan itu dengan binatang. Peristiwa itu yang sekarang kita kenal dengan Ibadah Qurban. Di awali dari keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan seorang ayah dan anaknya, qurban menjadi perantara pendekatan diri kita terhadap Sang Pencipta. (Lih. QS. Ash-Shaffat [37]: 102-107).

Sekarang kita coba tarik pada dimensi sosial, kita semua pasti sepakat, berbagi untuk tolong menolong adalah kebaikan. Tidak ada yang sia-sia dalam memberi. Apalagi al-Quran telah mengamanatkan kepada kita semua, “tolong-menolonglah untuk berbuat baik dan takwa”.

Qurban bagian dari pendidikan tolong menolong, di mana kita diajarkan untuk berbagi dengan nilai yang tidak biasa. Biasanya kita hanya memasukan uang di kotak amal 1.000/2.000, namun dalam ibadah Qurban kita melakukannya lebih dari itu, dengan tujuan mensemarakan cinta kasih dalam lingkungan masyarakat.?

Apalagi di era modern ini, tidak mudah mendorong manusia untuk “memberi lebih”, kebanyakan dari mereka “ingin menerima lebih”. Identitas itulah yang sekarang terbangun, sehingga menumbuhkan sikap rakus dalam diri manusia modern, tidak lagi memerhatikan nilai-nilai dan kualitas hidup bersama.?

Saya teringat dengan kata Sally Koch, “Great opportunities to-help other seldom come, but small ones surround us every day.” (Sangat jarang kita kedatangan kesempatan luar biasa untuk membantu orang lain, tetapi kita menemukan hal yang kecil-kecil setiap hari).?

Idul Qurban adalah kesempatan luar biasa bagi kita untuk memberi/berbagi dengan orang lain, karena hanya datang setahun sekali. Jika kita tinjau menurut kajian psikologi, seperti yang diutarakan oleh Stephen Post dan Jill Neimark dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People (2011), menuliskan, sungguh memberi akan merubah diri kita menjadi lebih senang, lebih bahagia, lebih sehat, dan serasa hidup lebih abadi. Perantara memberi itu juga yang akan menghancurkan sifat-sifat negatif kita yang terus bergemuruh, seperti hawa nafsu, sombong, iri hati, dengki, yang tentu menyumbangkan terlahirnya berbagai penyakit fisik dan mental.

Memberi di sini sejatinya harus dimaknai tidak sekedar memberi, namun mempunyai dimensi lain, yaitu sebagai pijakan menumbuhkan kesadaran sosial, keakraban dengan sesama manusia, dan kerukunan antar tetangga. Banyak “jebakan” dalam akitiftas memberi jika tidak dibarengi dengan keinginan membangun.?

Yang terpenting adalah membangun kesadaran di setiap diri manusia, bahwa “manusia adalah makhluk berqurban (baca: berkorban)”, dalam hal apapun demi menebar kebaikan dan kemanfaatan.

Tulisan ini akan ditutup dengan petuah dari Ayah saya yang baru saja saya terima, “Jika kita belum mampu menyembelih hewan qurban, maka sembelihlah sifat sombong dan sum’ah dalam diri kita, jika kita belum mampu melempar Jumroh ‘Aqobah, maka lemparlah sifat kebencian dan egoisme dalam hati kita, dan jika kita belum mampu mengelilingi Ka’bah atau thawaf ifadzoh, maka kelilingilah tempat sanak saudara, tetangga, dan sahabat, untuk menjalin ukhuwah, serta berbagilah dengan sesama.” Selamat menyambut Hari Raya ‘Idil Qurban 1438 H.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren, Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama, Ahlussunnah, AlaSantri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU

Yogyakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dunia mahasiswa merupakan masa dimana semangat muda menggebu-gebu.? Ada sebagian dari mereka memanfaatkannya dengan terjun dalam dunia politik, tapi tidak sedikit pula yang jenuh dengan dunia itu. Terkadang mereka lebih memilih aktif menyibukkan diri dengan ritual ubudiyah. Itulah yang dirasakan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Gadjah Mada (KMNU UGM).?

Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU

KMNU UGM lahir akibat keprihatinan akan banyaknya mahasiswa berlatar belakangan NU yang lebih memilih aktif di organisasi kemahasiswaan yang ketika selesai studi melanjutkan kariernya di dunia politik praktis. Hal ini menjadi semacam kelaziman. Alumni HMI, misalnya melanjutkan karirnya sebagai politisi Golkar, GMNI ke PDI-P, KAMMI ke PKS, dan PMII ke PKB.

“Beberapa teman merasa kondisi ini akan membuat perpecahan yang tak perlu. Oleh karenanya, perlu sebuah payung bersama anak-anak NU di kampus yang mampu membuat semua pihak merasa nyaman. Mereka sepakat mendirikan sebuah ‘organisasi kemahasiswaan’ yang berisi anak-anak NU yang bersifat bebas dan terbuka,” kata Wildan Sayidi yang pernah menjadi pengurus KMNU UGM.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wildan menambahkan, “pada tahun 2001 wadah tersebut diberi nama KMNU dengan mengambil konsep gerakan kultural sebagai penguatan dakwah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) ala NU. Secara de jure, ada dua pemikiran utama dalam mendirikan KMNU UGM.?

Pertama, mahasiswa NU di UGM belum terorganisir dengan baik. Banyak mahasiswa NU kebingungan memilih aktif di organisasi mana. Mereka tidak menemukan organisasi mahasiswa yang berlabel NU, meskipun telah ada PMII.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kedua, mahasiswa NU harus bisa memanfaatkan basis kultural ke-NU-annya dalam melakukan aktivitas keagamaan di lingkungan kampus UGM. Di sisi lain, saat ini penyebaran pemahaman dan aliran-aliran non-aswajadi UGM semakin kuat. Tren ini terjadi di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Memang KMNU UGM khusus bergerak pada bidang dakwah dan ubudiyah sebagai sarana membentengi mahasiswa NU UGM dari serangan ideologi-ideologi non-Ahlusunnah wal Jamaah,” kata Wildan.

Deklarasi KMNU UGM pertama kali dilakukan di ruang 110 Fakultas Pertanian UGM lama dengan mempercayakan Faisol Mas’ud sebagai ketua KMNU UGM pertama. Mahasiswa angkatan 1998 ini memulai KMNU dengan menghidupkan kembali tradisi-tradisi NU di lingkungan kampus UGM, seperti sholawatan, barzanji, tahlil, yasinan, dan ziarah ke makam para ulama.?

Dapat dikatakan peran KMNU UGM di lingkungan kampus UGM menjadi urgen ditengah-tengah serangan aqidah non-Aswaja. Meski KMNU UGM ini termasuk organisasi bil ghoib, namun eksistensi KMNU UGM mampu memberikan sumbangan nyata dalam menjaga tradisi-tradisi Aswaja di lingkungan kampus UGM.?

Banyak kegiatan yang telah dilakukan KMNU UGM. Salah satunya adalah workshop dan pelatihan kepemimpinan kader-kader NU di Pondok Bina Akhlak Plosokuning, Sleman, Yogyakarta pada 10 Mei 2009, pelayanan Kesehatan Masyarakat dalam memeriahkan acara Kids Fun Day ke-2 yang diselenggarakan oleh SD NU Yogyakarta, 2012, dan lain sebagainya.?

Sampai saat ini, tercatat setidaknya ada 500 mahasiswa yang menjadi anggota KMNU UGM. KMNU juga bergerak di dunia maya. Di jejaring sosial Facebook, fanspage KMNU Komunitas memiliki 1.079 penggemar.

Belum lama ini KMNU mengadakan majma’unnahdliyin atau pertemuan warga NU dalam rangka pergantian pengurus periode 2010-2012 di Pesantren Inayatullah Yogyakarta, Sabtu (12/05/12). Pertemuan itu, kemudian memilih Izzul Abid sebagai ketua KMNU UGM periode 2012-2013.?

“Tantangan terberat KMNU UGM saat ini adalah dakwah di kampus. Banyak anggota yang sering tergoyahkan oleh aqidah-aqidah non-Aswaja. Mereka dakwahnya ngeri-ngeri. Mereka sering mengharamkan ubudiyah aswaja, lewat buletin-buletin yang tersebar secara gratis di lingkungan kampus UGM,” tambah Wildan.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim, Taufiqurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Fragmen PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kami Bukan Organisasi Banyak Omong Tanpa Karya

Waykanan,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada tahun 2015 Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung memfasilitasi lima alumni pelajar SMA memasuki perguruan tinggi negeri (PTN) idaman. GP Ansor memfasilitasi mereka melalui Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN).

"Ansor ialah organisasi yang mempunyai visi dan misi. Ansor ialah organisasi yang memiliki pendirian bagaimana membentuk suatu bangsa bermutu dengan bertanggung jawab," ujar Provost Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Kabupaten Waykanan Hudi Rahman, di Blambangan Umpu, Ahad (30/8).

Kami Bukan Organisasi Banyak Omong Tanpa Karya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kami Bukan Organisasi Banyak Omong Tanpa Karya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kami Bukan Organisasi Banyak Omong Tanpa Karya

Berkaitan dengan pelaksanaan dan realisasi Sanlat BPUN di Waykanan, sejumlah pengajar setempat mengapresiasi dan menilai program Yayasan Mata Air tersebut maslahat, bagus dan berguna bagi pelajar sehubungan membekali kapasitas intelektual calon mahasiswa, hingga aspek spiritualitas mereka.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hal lain dilakukan GP Ansor Waykanan berkaitan dengan edukasi ialah berbagi ratusan buku dari International Organization for Migration (IOM) kepada 227 kepala kampung, 14 camat dan 89 SMA sederajat di daerah itu. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Alumni Sanlat BPUN 2015, PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Waykanan.

"Ansor bukan organisasi yang kegiatannya ditunjang APBD sebagaimana SKPD. Tetapi fakta bicara, Ansor bisa mendatangkan pejabat setingkat menteri, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid pada 7 Maret 2015. Hal tersebut membuat Bupati Kabupaten Waykanan periode 2010-2015 Bustami Zainudin menyatakan terima kasih kepada Gerakan Pemuda Ansor yang menjembatani kehadiran Kepala BNP2TKI ke Waykanan," kata Hudi lagi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Apresiasi positif terhadap GP Ansor Waykanan juga diberikan Ketua DWP atau Darma Wanita Persatuan Dr Farida Aryani MPd. Dr Farida yang juga Ketua Dewan Pendidikan setempat mengaku bangga dengan kreativitas dan aktivitas Gerakan Pemuda Ansor di daerah yang berada di selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatan ini.

Dr Farida merespon positif sejumlah kegiatan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) setempat, termasuk program Sanlat BPUN Yayasan Mata Air Jakarta yang digelar PC GP Ansor di Waykanan. Akademisi Unila itu menilai, program tersebut berguna untuk mendorong kemajuan daerah melalui perbaikan pendidikan bagi generasinya.

Adapun Ketua DPRD Kabupaten Way Kanan Raden Adipati Surya pasca upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-86 tahun di Blambangan Umpu, Selasa (28/10/14), mengapresiasi Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor. Menurut Adipati, yang juga Ketua DPD KNPI Waykanan itu, Ansor sebagai organisasi kepemudaan atau OKP yang hidup atau tidak mati.

"Dengan fakta-fakta tersebut, kami tegaskan, kami bukan organisasi yang banyak omong tak ada karya, bukan pula organisasi bodoh tak berakal. Jangan pernah setir kami untuk kepentingan politik praktis," ujar Hudi lagi. (Tegar Inartsa Tantra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional, Tegal, Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Satkornas Banser Luncurkan Buku Pedoman Operasional Kebanseran

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni mengumumkan bahwa Satkornas Banser telah merilis buku kebanseran. Buku ini memuat peraturan yang berkaitan dengan kegiatan dan operasi Banser di semua tingkatan.

Demikian disampaikan H Alfa Isnaeni di hadapan sedikitnya 700 ratus orang pada acara Malam Tasyakuran Kemerdekaan Ke-72 RI di Kantor Sekretariat PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya Nomor 65 A, Jakarta Pusat, Senin (28/8) malam.

Satkornas Banser Luncurkan Buku Pedoman Operasional Kebanseran (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkornas Banser Luncurkan Buku Pedoman Operasional Kebanseran (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkornas Banser Luncurkan Buku Pedoman Operasional Kebanseran

“Satkornas sudah menyusun buku juklak kebanseran. Buku ini lahir sebagai amanat kebanseran kepada Satkornas Banser,” kata Alfa pada malam tasyakuran yang juga dimeriahkan oleh pertunjukan grup Wayang Kampung Sebelah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, buku kebanseran ini juga menjelaskan hubungan Ansor dan Banser.

Buku ini, ia melanjutkan, sudah dicetak. Buku ini pedoman kebanseran untuk seluruh Indonesia.

“Buku ini gratis, boleh diambil satkorwil untuk pedoman ke bawah di ruang sebelah, tapi alangkah baiknya mengganti ongkos cetak,” kata Alfa disambut tawa para hadirin. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, Ahlussunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 09 Juli 2017

Terungkap, Hadratussyekh KH Hasyim Asya’ari Ditawari Jadi Presiden Indonesia

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Setelah berhasil mengalahkan Belanda dan berhasil menduduki bumi Indonesia, Jepang mengambil alih kekuasaan. Mereka segera mendekati para tokoh pribumi untuk menggerakkan Indonesia. Demikian disampaikan Zainul Milal Bizawie dalam diskusi rutin di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat Tangerang Selatan, Banten Sabtu (5/8).

Terungkap, Hadratussyekh KH Hasyim Asya’ari Ditawari Jadi Presiden Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Terungkap, Hadratussyekh KH Hasyim Asya’ari Ditawari Jadi Presiden Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Terungkap, Hadratussyekh KH Hasyim Asya’ari Ditawari Jadi Presiden Indonesia

Penulis buku Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad? itu menambahkan, ketika Jepang telah mengalahkan Belanda, mereka sudah mengetahui siapa saja tokoh Indonesia yang paling memiliki pengaruh. "Jepang tahu yang paling berpengaruh adalah Hadratussyekh Hasyim Asyari," tegas Milal.?

Menurut Milal, Jepang melalui utusan yang dikirim bertandang menemui Hadratussyekh. Hal tersebut disebabkan kakek Gus Dur itu adalah satu-satunya tokoh yang memiliki pengaruh sampai ke akar rumput.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Uniknya, imbuh Milal, Jepang lebih memilih kelompok-kelompok yang ada di luar keraton seperti pesantren dan tokoh agama. Jepang menilai bahwa pihak keraton atau ningrat lebih dekat kepada Belanda karena seringkali mendapatkan fasilitas dari Belanda. "Di sinilah pesantren dan kiainya dirangkul dan didekati," ujar Milal.

Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara? itu mengungkapkan, Jepang telah mengirim informannya beberapa tahun sebelum mengusir Belanda. Sehingga mereka sudah mengetahui pondok mana saja yang harus didekati. Meski demikian, Hadratussyekh pernah dipenjara karena dianggap melawan kebijakan Jepang.

Lebih lanjut, masih kata Milal, pihak Jepang melontarkan pertanyaan perihal siapa yang pantas menjadi pemimpin Indonesia.

"Dari berbagai masukan, disimpulkan yang paling pantas dan mendapat dukungan luas menjadi presiden memimpin Indonesia ini adalah KH Hasyim Asyari," ungkap Milal.

Kemudian Jepang mengirim seorang tokoh pergerakan bernama Maruto, seorang tokoh Murba untuk menemui Hadratussyekh Hasyim Asyari.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut putranya, jelas Milal, Maruto menyampaikan pesan dari seorang jenderal bahwa Jepang menginginkan Hadratussyekh Hasyim Asyari untuk menjadi presiden, tetapi hal itu ditolak.?

Setelah beberapa kali utusan tersebut datang,Hadratussyekh Hasyim mengatakan, yang pantas memimpin Indonesia adalah Soekarno. "Karena itu, dengan dukungan KH Hasyim Asyari, Soekarno memperoleh pengaruh kuat dalam lingkungan pesantren dan kelompok Islam," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, Berita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 06 Juli 2017

Banyak Orang Cari Pembenaran, bukan Kebenaran di Media Sosial

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Perilaku masyarakat dalam berselancar di dunia maya dan bermedia sosial saat ini sudah sangat memprihatinkan. Di satu sisi perkembangan teknologi adalah sebuah keniscayaan dan dapat memberikan manfaat kemudahan bagi manusia. Hanya saja di sisi lain ada bahaya yang mengintai dan saat ini sudah tampak terlihat.

Di antara bahaya dari perkembangan internet khususnya media sosial adalah mudahnya masyarakat mempercayai hoax atau berita palsu. Masyarakat saat ini dengan gampangnya menyebarkan konten-konten yang tidak jelas tanpa terlebih dahulu dicerna dan diklarifikasi.

Banyak Orang Cari Pembenaran, bukan Kebenaran di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Cari Pembenaran, bukan Kebenaran di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Cari Pembenaran, bukan Kebenaran di Media Sosial

"Masyarakat cenderung bangga menjadi yang pertama membagikan sebuah berita tanpa melihat kebenaran dari berita yang disebarkannya. Hoax adalah penyakit sosial," kata? Septiaji Eko Nugroho dari Komunitas Masyarakat Anti-Fitnah dan Hoax, Kamis (23/3).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Perilaku masyarakat dalam berselancar di internet saat ini dalam menyikapi berita adalah tidak untuk mencari kebenaran namun untuk mencari pembenaran. Netizen, menurutnya, cenderung tidak mau menerima kebenaran yang berasal bukan dari kelompoknya.

"Hal ini disebabkan oleh rendahnya literasi masyarakat Indonesia sehingga adanya internet tidak membuat wawasan terbuka namun malah menjadi sarana mencari pembenaran pihak masing-masing," katanya di depan peserta Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme didunia Maya Bersama OKP dan Ormas di Hotel Millenium Jakarta, Rabu-Jumat (22-24/3).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia menjelaskan, banyak sekali motif orang dalam membuat berita hoax di antaranya faktor ekonomi untuk mendapatkan uang. "Motivasi ideologi, politik dan kebencian kepada individu atau kelompok juga merupakan salah satu modus orang membuat berita hoax," katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk waspada dalam meyakini dan memahami duduk permasalahan dari sebuah berita yang berkembang.

Selain itu internet dan gawai saat ini sudah menjadi bagian baru dari tubuh manusia dan jangan sampai ini membawa kemudlaratan dalam kehidupan. "Kita harus bisa membagi waktu kapan berinteraksi di dunia maya dan kapan berinteraksi sosial dengan sesama di dunia nyata," sarannya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 04 Juli 2017

Prihatin Akhlak Siswa, IPNU NTB Serukan Ayo Mondok!

Lombok Tengah, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Nusa Tenggara Barat menyerukan kepada para orang tua agar mendorong putra-putrinya untuk belajar di pesantren. Ajakan ini disampaikan Syamsul Hadi, Ketua PW IPNU NTB.

PW IPNU NTB prihatin dengan perilaku peserta didik dalam menyikapi cara guru memberi sanksi mereka dalam proses belajar mengajar. Menurutnya, akhir-akhir ini begitu banyak peserta didik melaporkan gurunya ke pihak polisi lataran dicubit atau ditegur.

Prihatin Akhlak Siswa, IPNU NTB Serukan Ayo Mondok! (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Akhlak Siswa, IPNU NTB Serukan Ayo Mondok! (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Akhlak Siswa, IPNU NTB Serukan Ayo Mondok!

“Kalau karakter generasi sekarang seperti itu lalu apa jadinya bangsa ini. Dan guru tentu tidak akan berani mendidik melainkan hanya mengajar,” ujarnya pada acara Safari Ramadhan di Yayasan Mambaul Ulum Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Selasa (28/06) malam. Safari Ramadhan dirangkai dengan santunan anak yatim.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Oleh karen itu, lanjutnya, madarasah dan pesantren khususnya adalah harapan terakhir yang bisa membentengi generasi ini untuk memiliki karakter yang baik dan tidak melawan kepada guru.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dia juga berpesan kepada siswa Yayasan Mambaaul Ulum yang hadir saat itu agar bangga menjadi siswa madrasah meskipun swasta.

“Dunia sudah terbuka lebar, alumni swasta maupun negeri sama-sama memiliki ruang dan peluang kompetensi yang sama. Dan pesantren memiliki kalebihan tersendiri? ? yaitu tertanamnya karakter santri yang bertaqwa, berbudi luhur dan menghargai guru serta hidup sederhana,” tuturnya.

Kemajuan teknologi yang begitu pesat saat ini juga bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak ke hal yang tidak baik jika tidak diimbangi dengan pendidikan yang baik.

Kasi Kelmbagaan Sistem Informasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementrian Agama Provinsi NTB H Kabarudin yang hadir dalam itu mengatakan hal yang sama. Ia berpesan agar anak-anak dibina dan diawasi perkembangannya.

“Banyak anak yang melawan orang tua bahkan orang tuanya dilaporkan ke polisi. Yang lebih disayangkan lagi juga ada anak yang bunuh orang tuanya gara-gara tidak mampu orang tuanya memenuhi keinginan si anak,” ujarnya. (Muslim/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah