Selasa, 04 Juli 2017

NU Jombang Tekankan Tiga Aspek Penting Penilaian Kinerja

Jombang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur menggelar halal bihalal di halaman kantor PCNU setempat, Ahad (24/7/2016) siang.?

Halal bihalal kali ini yang dimotori langsung oleh PCNU Jombang menekankan tiga aspek penting yang senantiasa menjadi ruh gerakan Nahdliyin dari masa ke masa.?

NU Jombang Tekankan Tiga Aspek Penting Penilaian Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jombang Tekankan Tiga Aspek Penting Penilaian Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jombang Tekankan Tiga Aspek Penting Penilaian Kinerja

Seperti disampaikan KH Isrofil Amar, Ketua Tanfidziyah PCNU Jombang saat memberikan sambutannya di depan khalayak. Ia mengungkapkan bahwa kinerja pengurus NU tidak terlepas dengan tiga aspek, yakni aspek kenegaraan, keagamaan dan keumatan.?

"Pada kegiatan halal bihalal kali ini, kami mengajak keluarga besar NU Jombang khususnya untuk terus memperjuangkan aspek kenegaraan, keagamaan, dan aspek sosial," katanya.?

Tiga aspek tersebut menjadi visi dan misi utama NU pada umumnya di semua tingkatan kepengurusan. Semua program yang dicanangkan dan upaya untuk melaksanakan program tersebut harus berbasis tiga hal itu.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Warga Nahdliyin harus berbakti kepada negara, kepada agama, dan kepada masyarakat," tuturnya.?

Untuk itu, Kiai Isrofil mengimbau pengurus NU memiliki pola gerak yang seragam agar lebih mudah mensukseskan sejumlah agenda yang sudah dirumuskan di masing-masing pengurus lembaga atau banom NU. Tak kalah lebih penting kesetiaan pengurus terhadap NU.?

"Mari samakan gerak kita, sekali NU tetap NU, bergerak untuk negara, bergerak untuk agama, dan bergerak untuk umat," imbuhnya.?

Sementara itu, ia mengaku selama ini pihaknya sudah berupaya menyemangati pengurus NU agar tak berhenti melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, terutama kepada masyarakat luas.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Semua itu tiada lain hanya untuk meneruskan perjuangan para pendiri (muassis) NU yang telah membesarkan NU hingga sekarang ini," ujarnya.?

Sanhaji Sholeh, perwakilan PWNU Jawa Timur meminta agar halal bihalal dijadikan momentum menyambung kasih sayang dan saling memaafkan kekeliruan antar satu dengan yang lainnya.?

"Halal bihalal harus kita manfaatkan menjadi ajang silaturrahim dan saling memaafkan dengan lembaga satu dengan yang lain (NU), dengan satu kelompok dengan kelompok yang lain, lembaga swasta dengan pemerintah," pungkasnya.?

Puluhan pengurus perwakilan dari lembaga dan sejumlah badan otonom (banom) NU Jombang memadati tempat acara. Hadir juga perwakilan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, Hj Mundjidah Wahab (Wabup), Kodim, beberapa pengurus partai politik dan perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. ? (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam, Makam, Ahlussunnah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 02 Juli 2017

Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu

Surabaya, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Banyak yang terkejut saat hadir pada pesta pernikahan putri Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar Ahad (6/4) kemarin. Mengapa? Tuan rumah memberikan suvenir berupa buku "Benturan NU-PKI 1948-1965" kepada tamu undangan.

Sehari usai resepsi, Kiai Miftah, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menandaskan bahwa ada sejumlah alasan mengapa mempersembahkan buku tersebut. "Para kiai Nahdlatul Ulama bisa membaca dan akhirnya tahu peristiwa sesungguhnya dari tragedi PKI," katanya melalui telepon selulernya, Senin pagi (7/4).

Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu

Buku itu juga akan bisa menjawab tuduhan sebagian kalangan yang telah menulis buku maupun liputan di media yang menyatakan bahwa kiai dan warga NU telah membunuh para pegiat PKI.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Karena kalau berbicara korban peristiwa PKI, justru jumlah warga dan kiai NU yang meninggal lebih banyak," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunah Surabaya ini. Akan tetapi fakta yang dikemukakan oleh simpatisan PKI justru sebaliknya.

"Dengan membaca buku "Benturan NU-PKI 1948-1965" ini maka para pengurus NU akan sadar bahwa saat itu posisi para kiai sangat tersudut," lanjutnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Miftah sangat menyayangkan kalau fakta-fakta yang sebenarnya justru dihilangkan. "Yang sekarang muncul adalah pandangan bahwa para kiai dan ulama serta warga NU membunuh dengan membabi buta," ungkapnya.

Membaca buku ini, lanjut Kiai Miftah, akan memberikan pemahaman kepada para kiai khususnya anak cucu NU akan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Kiai Miftah juga menandaskan bahwa dengan fakta yang mengemuka, tidak pada tempatnya kalau kemudian NU menyampaikan maaf atas peristiwa tahun 1948 dan 1965 tersebut. "Karena pengucapan maaf adalah pengakuan bahwa kita telah melakukan kesalahan," terang Kiai Miftah. Dan banyak kalangan berusaha dengan sejumlah argumen agar NU dan kiai berkenan menyampaikan maaf atas peristiwa tersebut. "Padahal itu dilakukan sebagai legitimasi atas kesalahan yang dilakukan para kiai dan ulama NU," katanya.

Kendati demikian Kiai Miftah sangat terbuka kalau antara elemen bangsa dilakukan rekonsiliasi. Hal itu tentu saja membutuhkan nilai-nilai kesadaran dengan menjaga agar peristiwa serupa tidak terulang. Kejadian kemanusiaan tersebut hendaknya menjadi bahan refleksi bagi semua kalangan agar tidak terulang.

"Mari kita kubur peristiwa yang telah lewat dengan menjadi anak bangsa yang bisa memberikan maslahah untuk umat," pungkas Kiai Miftah.

Buku "Benturan NU-PKI 1948-1965" berjumlah 208 halaman yang diterbitkan PBNU dan ditulis sejarawan NU yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Abdul Munim DZ, dengan editor Enceng Shobirin dan Adnan Anwar.

Buku ini menjadi suvenir pernikahan putri Kiai Miftah, Mauhibah Al-Luluiyah yang dipersunting Agus HM Syafiq putra dari KH Aniq Muhammadun dari Pati Jawa Tengah. Prosesi akad nikah dilangsungkan di mushalla pesantren setempat, Ahad (6/4). (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hikmah, Berita, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama?

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Masalah penodaan agama bukanlah isu baru. Sejak Kemerdekaan Indonesia, masalah ini sudah mengemuka. Presiden Soekarno telah mengeluarkan Penetapan Presiden No.1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian dinamakan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.?

Untuk melihat pandangan para tokoh agama terhadap UU tersebut, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama (2013) melakukan penelitian untuk melihat pandangan para pemuka agama terhadap isi UU No.1/PNPS/1965. Termasuk yang ditanyakan adalah soal berapa lama hukuman yang layak bagi para pelaku penodaan agama.

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama?

Hasil riset tersebut menemukan, para pemuka agama Islam terbagi ke dalam 2 bagian. Pertama, pemuka agama Islam memandang bahwa hukuman maksimal 5 tahun penjara sudah dianggap memadai apabila dilaksanakan dengan benar. Kedua, pemuka agama Islam memandang bahwa hukuman maksimal 5 tahun dianggap kurang memadai terlebih bagi para penggagas dan pemimpin faham yang dianggap telah melakukan penistaan/penodaan agama. Hukuman berat tersebut penting sebagai upaya memberikan efek jera serta langkah preventif agar tidak terjadi lagi tindakan penistaan/penodaan terhadap agama.?

Mengenai perlu atau tidaknya pendekatan persuasif terhadap pelaku penistaan/penodaan agama, para pemuka agama Islam pada umumnya menyatakan perlu dilakukan dialog dan konsultatif sebelum diajukan ke pengadilan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut para pemuka agama Islam, pokok-pokok ajaran Islam yaitu Rukun Iman, Rukun Islam, dan Akhlak. Namun demikian perbedaan sekte/aliran dalam Islam, mereka sepakat bahwa selama perbedaan itu masih dalam koridor ikhtilaf (perbedaan pendapat yang tidak qath’i), maka ia dipandang tidak menodai agama. Namun apabila sudah menyangkut perbedaan ikhtirof (perbedaan pendapat yang qath’i), maka jelas mengandung unsur penistaan/penodaan agama.

Pandangan pemuka agama terhadap pelaksanaan UU No.1/PNPS/1965 terbagi dua: Pertama, pemerintah dinilai belum benar-benar melaksanakan UU tersebut. Kedua, pemerintah dinilai sudah melaksanakan dengan baik UU tersebut.

Selanjutnya pandangan pemuka agama Islam terhadap siapa yang paling berhak menentukan bentuk penistaan/penodaan agama, pemuka agama Islam menyatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Agama RI yang berhak menentukan bentuk penodaan agama dengan tetap memperhatikan pandangan dari pemuka agama Islam di MUI dan ormas Islam. Meskipun demikian terdapat pandangan lain yang menyatakan bahwa MUI yang paling otoritatif dalam menentukan bentuk penistaan/penodaan agama. (Mukafi Niam)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Jadwal Kajian, Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 01 Juli 2017

Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk memperkaya tradisi lokal dan mempertahankan eksistensi desa adat, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat adat. Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Marwan Jafar di Jakarta, Kamis (21/7).

Marwan dalam hal ini, tengah giat memberikan berbagai pelatihan terhadap masyarakat adat. Hal tersebut tentu berkaitan dengan penguatan tradisi dan budaya lokal, berikut pengembangan agar selaras dengan perkembangan zaman.

Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat

"Desa adat membutuhkan perhatian khusus untuk memperkecil kemungkinan terkikisnya budaya lokal. Masyarakat di desa adat juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman, agar adat budaya Indonesia tetap terjaga eksistensinya," ujarnya.

Dia mencontohkan, pelatihan dan pembinaan masyarakat adat pernah digelar di Bali Bulan Juni 2016 lalu. Tema yang diambil adalah Mejejahitan, yakni keterampilan dari dari dedaunan yang erat kaitannya dengan upacara keagamaan di Bali.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Mejejaitan ini khas sekali di Bali. Jangan sampai ini terlupakan, karena ini adalah salah satu dari identitas bangsa kita," katanya.

Menurut Marwan, pelatihan dan pembinaan terhadap masyarakat adat tidak serta merta hanya berkaitan dengan tradisi dan budaya saja. Namun pelatihan juga digelar, agar masyarakat adat dapat memanfaatkan potensi lokal untuk kesejahteraan dan peningkatan ekonomi desa.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Misalnya di Kalimantan Selatan kemarin, kita latih masyarakat adat di sana dalam hal ini suku dayak, untuk bagaimana dapat mengelola dan memasarkan hasil pertanian dengan baik. Karena bicara soal tradisi, mereka sudah sangat menguasai. Tinggal bagaimana masyarakat adat di sana bisa bertahan hidup dan taraf ekonominya meningkat," urai Marwan.

Menurutnya, pelatihan terhadap masyarakat adat yang difasilitasi oleh Kemendes PDTT tersebut, disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan masyarakat adat setempat. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budaya, Tegal, Santri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam

Mataram, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PBNU bercita-cita menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat. Untuk tujuan itu digelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di 17 provinsi dan Rapat Pimpinan Daerah di 50 kabupaten dan kota.

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam

Sekretaris LTM PBNU Ibnu Hazen mengatakan, ternyata Rapimnas dan Rapimda itu tidak cukup, “Tidak cukup rapat ternyata. Kemudian LTM PBNU berdiskusi dengan lembaga kompeten, yaitu PP Lakpesdam NU untuk menciptakan program lanjut.”

Ibnu mengatakan hal itu pada Pelatihan (Diklat) Muharrik (penggerak) masjid NU dalam rangka pemakmuran masjid dan jamaah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, (28/6).  

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kemudian, sambung Ibnu, muncullah program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Muharrik (penggerak)   masjid NU. Peran penggerak masjid NU adalah mengatur dan menggarakan pengurus DKM-DKM masjid NU di wilayah masing-masing.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lakpesdam dalam hal ini, kata Ibnu, menjadi fasilitator supaya diklat ini lebih terakrah, “Kita kan tidak punya keahlian ini. Lakpesdam yang punya,” katanya.

Habis diklat ini ada evaluasi, sehingga ada modul yang akan dibagikan untuk tingkat bawah, “Biasanya bikin modul dulu, lalu didiklatkan, tapi ini dibalik dari bawah dulu kemudian disarikan, lalu dikembalikan lagi ke bawah untuk dijadikan acuan,” pungkasnya.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 30 Juni 2017

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Lembaga Perguruan Tinggi PBNU akan melepaskan 22 balon dan 22 burung merpati area Monumen Nasional (monas) pada peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang.

Menurut Sekretaris LPT PBNU Lukmanul Hakim, pelepasan merpati dan balon adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan bangsa Indonesia. Salah satu elemen yang turut berjuang adalah kalangan santri.

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas

“Salah satu simbol perjuangan kalangan santri adalah ketika mengeluarkan Resolusi Jihad NU yang ditetapkan Presiden sebagai Hari Santri pada tanggal 22 Oktober,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, (4/10) selepas rapat persiapan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bulan depan.?

Jumlah 22 balon dan merpati, lanjutnya, simbol dari tanggal ditetapkannya Hari Santri pada 2015 lalu.?

LPTNU kata dia, meminta seluruh perguruan tinggi NU untuk memperingati Hari Santri. Tak hanya itu, Hari Santri harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat di bidang intelektual dan spiritual.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, peserta pelepasan merpati dan balon di Monas akan diikuti mahasiswa dan santri dari perwakilan pendidikan tinggi NU di Jakarta dan sekitarnya.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Pelepasan balon dan merpati akan dilakukan sambil membaca Shalawat Nariyah untuk mendoakan agar bangsa kita bersatu, aman lepas dari segala bencana. Dan berharap seluruh bangsa Indonesia mengedepankan akal sehat. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 29 Juni 2017

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut

Pacitan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bencana alam berupa banjir bandang yang menerjang Garut, Jawa Barat, pekan lalu, telah menggerakkan hati banyak orang untuk membantu meringankan beban para korban. Hingga saat ini bantuan itu masih datang silih berganti berbagai daerah di Indonesia. Seperti halnya Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang turut menggirimkan bantuan untuk korban banjir bandang di Garut.

Bantuan yang dikirimkan berupa peralatan sekolah dan bahan makanan pokok. Bantuan secara langsung diterima oleh perwakilan IPNU IPPNU Garut dan Fatayat NU Garut, Senin (3/10). Selanjutnya bantuan langsung didistribusikan kepada para korban yang membutuhkan, yang difokuskan di SMA 15 Garut dan di Rumah Sakit Dr Slamet Garut.

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut

Ketua IPPNU Garut, Jawa Barat, Lilis Sa’adah menyampaikan terima kasih atas kepedulian masyarakat Pacitan yang turut membantu para korban banjir bandang yang menimpa Garut. dia berharap bantuan tersebut bisa bermanfaat dan dapat meringankan beban para korban.

“Terima kasih pula kepada IPNU IPPNU Pacitan ? yang tanggap dan peduli terhadap sesama serta sudah mempercayakan penyaluran bantuan ini kepada kami, IPNU IPPNU Garut,” tulisnya melalui pesan Whatsaps yang dikirim kepada IPNU IPPNU di Pacitan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua IPNU Pacitan, Amrudin, mengatakan, bantuan tersebut merupakan hasil donasi dari masyarakat Pacitan, yang dikumpulkan oleh IPNU IPPNU Pacitan melalui aksi peduli bencana Pacitan dan Garut. Dari penggalangan donasi tersebut, berhasil terkumpul uang sebesar Rp.10.911.800. Donasi ini dibagi untuk korban bencana di Pacitan dan Garut, Jawa Barat.

“Untuk bantuan korban banjir bandang di Garut kami fokuskan untuk para pelajar yang kehilangan banyak peralatan sekolahnya, seperti buku dan alat tulis lainya, ” jelasnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

IPNU IPPNU Pacitan menyampaikan terima kasih kepada IPNU IPPNU Garut, yang atas kerjasamanya dapat menyalurkan bantuan dari masyarakat Pacitan kepada masyarakat Garut.

Sementara itu, pada pekan lalu, dua desa di Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan, yaitu Klesem dan Sidomulya diterjang bencana tanah longsor akibat hujan deras yang terus menerus menguyur Pacitan. Longsor mengakibatkan beberapa rumah warga rusak dan menutup akses Jalur Lintas Selatan (JLS) di Pacitan.

Atas kejadian itu, IPNU IPPNU telah memberikan bantuan berupa bahan makanan pokok, yang diserahkan langsung kepada salah satu korban bernama Katemi, warga desa Sidomulyo, Selasa (27/9) lalu.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IPNU IPPNU Pacitan mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Pacitan yang telah menyisihkan sebagian rizkinya ? untuk para korban bencana alam di Pacitan dan Garut.” Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan ? dan partisipasi masyarakat Pacitan semuanya,” ucap Amrudin. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, Ubudiyah, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah