Minggu, 02 Juli 2017

Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu

Surabaya, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Banyak yang terkejut saat hadir pada pesta pernikahan putri Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar Ahad (6/4) kemarin. Mengapa? Tuan rumah memberikan suvenir berupa buku "Benturan NU-PKI 1948-1965" kepada tamu undangan.

Sehari usai resepsi, Kiai Miftah, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menandaskan bahwa ada sejumlah alasan mengapa mempersembahkan buku tersebut. "Para kiai Nahdlatul Ulama bisa membaca dan akhirnya tahu peristiwa sesungguhnya dari tragedi PKI," katanya melalui telepon selulernya, Senin pagi (7/4).

Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Kiai Miftah Bagikan Buku Putih NU-PKI Kala Mantu

Buku itu juga akan bisa menjawab tuduhan sebagian kalangan yang telah menulis buku maupun liputan di media yang menyatakan bahwa kiai dan warga NU telah membunuh para pegiat PKI.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Karena kalau berbicara korban peristiwa PKI, justru jumlah warga dan kiai NU yang meninggal lebih banyak," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunah Surabaya ini. Akan tetapi fakta yang dikemukakan oleh simpatisan PKI justru sebaliknya.

"Dengan membaca buku "Benturan NU-PKI 1948-1965" ini maka para pengurus NU akan sadar bahwa saat itu posisi para kiai sangat tersudut," lanjutnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Miftah sangat menyayangkan kalau fakta-fakta yang sebenarnya justru dihilangkan. "Yang sekarang muncul adalah pandangan bahwa para kiai dan ulama serta warga NU membunuh dengan membabi buta," ungkapnya.

Membaca buku ini, lanjut Kiai Miftah, akan memberikan pemahaman kepada para kiai khususnya anak cucu NU akan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Kiai Miftah juga menandaskan bahwa dengan fakta yang mengemuka, tidak pada tempatnya kalau kemudian NU menyampaikan maaf atas peristiwa tahun 1948 dan 1965 tersebut. "Karena pengucapan maaf adalah pengakuan bahwa kita telah melakukan kesalahan," terang Kiai Miftah. Dan banyak kalangan berusaha dengan sejumlah argumen agar NU dan kiai berkenan menyampaikan maaf atas peristiwa tersebut. "Padahal itu dilakukan sebagai legitimasi atas kesalahan yang dilakukan para kiai dan ulama NU," katanya.

Kendati demikian Kiai Miftah sangat terbuka kalau antara elemen bangsa dilakukan rekonsiliasi. Hal itu tentu saja membutuhkan nilai-nilai kesadaran dengan menjaga agar peristiwa serupa tidak terulang. Kejadian kemanusiaan tersebut hendaknya menjadi bahan refleksi bagi semua kalangan agar tidak terulang.

"Mari kita kubur peristiwa yang telah lewat dengan menjadi anak bangsa yang bisa memberikan maslahah untuk umat," pungkas Kiai Miftah.

Buku "Benturan NU-PKI 1948-1965" berjumlah 208 halaman yang diterbitkan PBNU dan ditulis sejarawan NU yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Abdul Munim DZ, dengan editor Enceng Shobirin dan Adnan Anwar.

Buku ini menjadi suvenir pernikahan putri Kiai Miftah, Mauhibah Al-Luluiyah yang dipersunting Agus HM Syafiq putra dari KH Aniq Muhammadun dari Pati Jawa Tengah. Prosesi akad nikah dilangsungkan di mushalla pesantren setempat, Ahad (6/4). (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hikmah, Berita, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama?

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Masalah penodaan agama bukanlah isu baru. Sejak Kemerdekaan Indonesia, masalah ini sudah mengemuka. Presiden Soekarno telah mengeluarkan Penetapan Presiden No.1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian dinamakan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.?

Untuk melihat pandangan para tokoh agama terhadap UU tersebut, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama (2013) melakukan penelitian untuk melihat pandangan para pemuka agama terhadap isi UU No.1/PNPS/1965. Termasuk yang ditanyakan adalah soal berapa lama hukuman yang layak bagi para pelaku penodaan agama.

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama?

Hasil riset tersebut menemukan, para pemuka agama Islam terbagi ke dalam 2 bagian. Pertama, pemuka agama Islam memandang bahwa hukuman maksimal 5 tahun penjara sudah dianggap memadai apabila dilaksanakan dengan benar. Kedua, pemuka agama Islam memandang bahwa hukuman maksimal 5 tahun dianggap kurang memadai terlebih bagi para penggagas dan pemimpin faham yang dianggap telah melakukan penistaan/penodaan agama. Hukuman berat tersebut penting sebagai upaya memberikan efek jera serta langkah preventif agar tidak terjadi lagi tindakan penistaan/penodaan terhadap agama.?

Mengenai perlu atau tidaknya pendekatan persuasif terhadap pelaku penistaan/penodaan agama, para pemuka agama Islam pada umumnya menyatakan perlu dilakukan dialog dan konsultatif sebelum diajukan ke pengadilan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut para pemuka agama Islam, pokok-pokok ajaran Islam yaitu Rukun Iman, Rukun Islam, dan Akhlak. Namun demikian perbedaan sekte/aliran dalam Islam, mereka sepakat bahwa selama perbedaan itu masih dalam koridor ikhtilaf (perbedaan pendapat yang tidak qath’i), maka ia dipandang tidak menodai agama. Namun apabila sudah menyangkut perbedaan ikhtirof (perbedaan pendapat yang qath’i), maka jelas mengandung unsur penistaan/penodaan agama.

Pandangan pemuka agama terhadap pelaksanaan UU No.1/PNPS/1965 terbagi dua: Pertama, pemerintah dinilai belum benar-benar melaksanakan UU tersebut. Kedua, pemerintah dinilai sudah melaksanakan dengan baik UU tersebut.

Selanjutnya pandangan pemuka agama Islam terhadap siapa yang paling berhak menentukan bentuk penistaan/penodaan agama, pemuka agama Islam menyatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Agama RI yang berhak menentukan bentuk penodaan agama dengan tetap memperhatikan pandangan dari pemuka agama Islam di MUI dan ormas Islam. Meskipun demikian terdapat pandangan lain yang menyatakan bahwa MUI yang paling otoritatif dalam menentukan bentuk penistaan/penodaan agama. (Mukafi Niam)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Jadwal Kajian, Nahdlatul PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 01 Juli 2017

Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk memperkaya tradisi lokal dan mempertahankan eksistensi desa adat, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat adat. Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Marwan Jafar di Jakarta, Kamis (21/7).

Marwan dalam hal ini, tengah giat memberikan berbagai pelatihan terhadap masyarakat adat. Hal tersebut tentu berkaitan dengan penguatan tradisi dan budaya lokal, berikut pengembangan agar selaras dengan perkembangan zaman.

Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkaya Tradisi Lokal, Kemendes Perkuat SDM Masyarakat Adat

"Desa adat membutuhkan perhatian khusus untuk memperkecil kemungkinan terkikisnya budaya lokal. Masyarakat di desa adat juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman, agar adat budaya Indonesia tetap terjaga eksistensinya," ujarnya.

Dia mencontohkan, pelatihan dan pembinaan masyarakat adat pernah digelar di Bali Bulan Juni 2016 lalu. Tema yang diambil adalah Mejejahitan, yakni keterampilan dari dari dedaunan yang erat kaitannya dengan upacara keagamaan di Bali.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Mejejaitan ini khas sekali di Bali. Jangan sampai ini terlupakan, karena ini adalah salah satu dari identitas bangsa kita," katanya.

Menurut Marwan, pelatihan dan pembinaan terhadap masyarakat adat tidak serta merta hanya berkaitan dengan tradisi dan budaya saja. Namun pelatihan juga digelar, agar masyarakat adat dapat memanfaatkan potensi lokal untuk kesejahteraan dan peningkatan ekonomi desa.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Misalnya di Kalimantan Selatan kemarin, kita latih masyarakat adat di sana dalam hal ini suku dayak, untuk bagaimana dapat mengelola dan memasarkan hasil pertanian dengan baik. Karena bicara soal tradisi, mereka sudah sangat menguasai. Tinggal bagaimana masyarakat adat di sana bisa bertahan hidup dan taraf ekonominya meningkat," urai Marwan.

Menurutnya, pelatihan terhadap masyarakat adat yang difasilitasi oleh Kemendes PDTT tersebut, disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan masyarakat adat setempat. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budaya, Tegal, Santri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam

Mataram, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PBNU bercita-cita menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat. Untuk tujuan itu digelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di 17 provinsi dan Rapat Pimpinan Daerah di 50 kabupaten dan kota.

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam

Sekretaris LTM PBNU Ibnu Hazen mengatakan, ternyata Rapimnas dan Rapimda itu tidak cukup, “Tidak cukup rapat ternyata. Kemudian LTM PBNU berdiskusi dengan lembaga kompeten, yaitu PP Lakpesdam NU untuk menciptakan program lanjut.”

Ibnu mengatakan hal itu pada Pelatihan (Diklat) Muharrik (penggerak) masjid NU dalam rangka pemakmuran masjid dan jamaah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, (28/6).  

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kemudian, sambung Ibnu, muncullah program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Muharrik (penggerak)   masjid NU. Peran penggerak masjid NU adalah mengatur dan menggarakan pengurus DKM-DKM masjid NU di wilayah masing-masing.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lakpesdam dalam hal ini, kata Ibnu, menjadi fasilitator supaya diklat ini lebih terakrah, “Kita kan tidak punya keahlian ini. Lakpesdam yang punya,” katanya.

Habis diklat ini ada evaluasi, sehingga ada modul yang akan dibagikan untuk tingkat bawah, “Biasanya bikin modul dulu, lalu didiklatkan, tapi ini dibalik dari bawah dulu kemudian disarikan, lalu dikembalikan lagi ke bawah untuk dijadikan acuan,” pungkasnya.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 30 Juni 2017

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Lembaga Perguruan Tinggi PBNU akan melepaskan 22 balon dan 22 burung merpati area Monumen Nasional (monas) pada peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang.

Menurut Sekretaris LPT PBNU Lukmanul Hakim, pelepasan merpati dan balon adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan bangsa Indonesia. Salah satu elemen yang turut berjuang adalah kalangan santri.

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas

“Salah satu simbol perjuangan kalangan santri adalah ketika mengeluarkan Resolusi Jihad NU yang ditetapkan Presiden sebagai Hari Santri pada tanggal 22 Oktober,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, (4/10) selepas rapat persiapan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bulan depan.?

Jumlah 22 balon dan merpati, lanjutnya, simbol dari tanggal ditetapkannya Hari Santri pada 2015 lalu.?

LPTNU kata dia, meminta seluruh perguruan tinggi NU untuk memperingati Hari Santri. Tak hanya itu, Hari Santri harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat di bidang intelektual dan spiritual.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, peserta pelepasan merpati dan balon di Monas akan diikuti mahasiswa dan santri dari perwakilan pendidikan tinggi NU di Jakarta dan sekitarnya.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Pelepasan balon dan merpati akan dilakukan sambil membaca Shalawat Nariyah untuk mendoakan agar bangsa kita bersatu, aman lepas dari segala bencana. Dan berharap seluruh bangsa Indonesia mengedepankan akal sehat. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 29 Juni 2017

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut

Pacitan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bencana alam berupa banjir bandang yang menerjang Garut, Jawa Barat, pekan lalu, telah menggerakkan hati banyak orang untuk membantu meringankan beban para korban. Hingga saat ini bantuan itu masih datang silih berganti berbagai daerah di Indonesia. Seperti halnya Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang turut menggirimkan bantuan untuk korban banjir bandang di Garut.

Bantuan yang dikirimkan berupa peralatan sekolah dan bahan makanan pokok. Bantuan secara langsung diterima oleh perwakilan IPNU IPPNU Garut dan Fatayat NU Garut, Senin (3/10). Selanjutnya bantuan langsung didistribusikan kepada para korban yang membutuhkan, yang difokuskan di SMA 15 Garut dan di Rumah Sakit Dr Slamet Garut.

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut

Ketua IPPNU Garut, Jawa Barat, Lilis Sa’adah menyampaikan terima kasih atas kepedulian masyarakat Pacitan yang turut membantu para korban banjir bandang yang menimpa Garut. dia berharap bantuan tersebut bisa bermanfaat dan dapat meringankan beban para korban.

“Terima kasih pula kepada IPNU IPPNU Pacitan ? yang tanggap dan peduli terhadap sesama serta sudah mempercayakan penyaluran bantuan ini kepada kami, IPNU IPPNU Garut,” tulisnya melalui pesan Whatsaps yang dikirim kepada IPNU IPPNU di Pacitan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua IPNU Pacitan, Amrudin, mengatakan, bantuan tersebut merupakan hasil donasi dari masyarakat Pacitan, yang dikumpulkan oleh IPNU IPPNU Pacitan melalui aksi peduli bencana Pacitan dan Garut. Dari penggalangan donasi tersebut, berhasil terkumpul uang sebesar Rp.10.911.800. Donasi ini dibagi untuk korban bencana di Pacitan dan Garut, Jawa Barat.

“Untuk bantuan korban banjir bandang di Garut kami fokuskan untuk para pelajar yang kehilangan banyak peralatan sekolahnya, seperti buku dan alat tulis lainya, ” jelasnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

IPNU IPPNU Pacitan menyampaikan terima kasih kepada IPNU IPPNU Garut, yang atas kerjasamanya dapat menyalurkan bantuan dari masyarakat Pacitan kepada masyarakat Garut.

Sementara itu, pada pekan lalu, dua desa di Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan, yaitu Klesem dan Sidomulya diterjang bencana tanah longsor akibat hujan deras yang terus menerus menguyur Pacitan. Longsor mengakibatkan beberapa rumah warga rusak dan menutup akses Jalur Lintas Selatan (JLS) di Pacitan.

Atas kejadian itu, IPNU IPPNU telah memberikan bantuan berupa bahan makanan pokok, yang diserahkan langsung kepada salah satu korban bernama Katemi, warga desa Sidomulyo, Selasa (27/9) lalu.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IPNU IPPNU Pacitan mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Pacitan yang telah menyisihkan sebagian rizkinya ? untuk para korban bencana alam di Pacitan dan Garut.” Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan ? dan partisipasi masyarakat Pacitan semuanya,” ucap Amrudin. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, Ubudiyah, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 28 Juni 2017

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.





Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah, Kiai, Budaya PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah