Sabtu, 01 Juli 2017

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam

Mataram, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PBNU bercita-cita menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat. Untuk tujuan itu digelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di 17 provinsi dan Rapat Pimpinan Daerah di 50 kabupaten dan kota.

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggerakkan Masjid, LTMNU Gandeng Lakpesdam

Sekretaris LTM PBNU Ibnu Hazen mengatakan, ternyata Rapimnas dan Rapimda itu tidak cukup, “Tidak cukup rapat ternyata. Kemudian LTM PBNU berdiskusi dengan lembaga kompeten, yaitu PP Lakpesdam NU untuk menciptakan program lanjut.”

Ibnu mengatakan hal itu pada Pelatihan (Diklat) Muharrik (penggerak) masjid NU dalam rangka pemakmuran masjid dan jamaah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, (28/6).  

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kemudian, sambung Ibnu, muncullah program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Muharrik (penggerak)   masjid NU. Peran penggerak masjid NU adalah mengatur dan menggarakan pengurus DKM-DKM masjid NU di wilayah masing-masing.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lakpesdam dalam hal ini, kata Ibnu, menjadi fasilitator supaya diklat ini lebih terakrah, “Kita kan tidak punya keahlian ini. Lakpesdam yang punya,” katanya.

Habis diklat ini ada evaluasi, sehingga ada modul yang akan dibagikan untuk tingkat bawah, “Biasanya bikin modul dulu, lalu didiklatkan, tapi ini dibalik dari bawah dulu kemudian disarikan, lalu dikembalikan lagi ke bawah untuk dijadikan acuan,” pungkasnya.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 30 Juni 2017

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Lembaga Perguruan Tinggi PBNU akan melepaskan 22 balon dan 22 burung merpati area Monumen Nasional (monas) pada peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang.

Menurut Sekretaris LPT PBNU Lukmanul Hakim, pelepasan merpati dan balon adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan bangsa Indonesia. Salah satu elemen yang turut berjuang adalah kalangan santri.

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas

“Salah satu simbol perjuangan kalangan santri adalah ketika mengeluarkan Resolusi Jihad NU yang ditetapkan Presiden sebagai Hari Santri pada tanggal 22 Oktober,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, (4/10) selepas rapat persiapan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bulan depan.?

Jumlah 22 balon dan merpati, lanjutnya, simbol dari tanggal ditetapkannya Hari Santri pada 2015 lalu.?

LPTNU kata dia, meminta seluruh perguruan tinggi NU untuk memperingati Hari Santri. Tak hanya itu, Hari Santri harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat di bidang intelektual dan spiritual.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut dia, peserta pelepasan merpati dan balon di Monas akan diikuti mahasiswa dan santri dari perwakilan pendidikan tinggi NU di Jakarta dan sekitarnya.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Pelepasan balon dan merpati akan dilakukan sambil membaca Shalawat Nariyah untuk mendoakan agar bangsa kita bersatu, aman lepas dari segala bencana. Dan berharap seluruh bangsa Indonesia mengedepankan akal sehat. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 29 Juni 2017

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut

Pacitan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bencana alam berupa banjir bandang yang menerjang Garut, Jawa Barat, pekan lalu, telah menggerakkan hati banyak orang untuk membantu meringankan beban para korban. Hingga saat ini bantuan itu masih datang silih berganti berbagai daerah di Indonesia. Seperti halnya Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang turut menggirimkan bantuan untuk korban banjir bandang di Garut.

Bantuan yang dikirimkan berupa peralatan sekolah dan bahan makanan pokok. Bantuan secara langsung diterima oleh perwakilan IPNU IPPNU Garut dan Fatayat NU Garut, Senin (3/10). Selanjutnya bantuan langsung didistribusikan kepada para korban yang membutuhkan, yang difokuskan di SMA 15 Garut dan di Rumah Sakit Dr Slamet Garut.

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pacitan Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Garut

Ketua IPPNU Garut, Jawa Barat, Lilis Sa’adah menyampaikan terima kasih atas kepedulian masyarakat Pacitan yang turut membantu para korban banjir bandang yang menimpa Garut. dia berharap bantuan tersebut bisa bermanfaat dan dapat meringankan beban para korban.

“Terima kasih pula kepada IPNU IPPNU Pacitan ? yang tanggap dan peduli terhadap sesama serta sudah mempercayakan penyaluran bantuan ini kepada kami, IPNU IPPNU Garut,” tulisnya melalui pesan Whatsaps yang dikirim kepada IPNU IPPNU di Pacitan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua IPNU Pacitan, Amrudin, mengatakan, bantuan tersebut merupakan hasil donasi dari masyarakat Pacitan, yang dikumpulkan oleh IPNU IPPNU Pacitan melalui aksi peduli bencana Pacitan dan Garut. Dari penggalangan donasi tersebut, berhasil terkumpul uang sebesar Rp.10.911.800. Donasi ini dibagi untuk korban bencana di Pacitan dan Garut, Jawa Barat.

“Untuk bantuan korban banjir bandang di Garut kami fokuskan untuk para pelajar yang kehilangan banyak peralatan sekolahnya, seperti buku dan alat tulis lainya, ” jelasnya kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

IPNU IPPNU Pacitan menyampaikan terima kasih kepada IPNU IPPNU Garut, yang atas kerjasamanya dapat menyalurkan bantuan dari masyarakat Pacitan kepada masyarakat Garut.

Sementara itu, pada pekan lalu, dua desa di Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan, yaitu Klesem dan Sidomulya diterjang bencana tanah longsor akibat hujan deras yang terus menerus menguyur Pacitan. Longsor mengakibatkan beberapa rumah warga rusak dan menutup akses Jalur Lintas Selatan (JLS) di Pacitan.

Atas kejadian itu, IPNU IPPNU telah memberikan bantuan berupa bahan makanan pokok, yang diserahkan langsung kepada salah satu korban bernama Katemi, warga desa Sidomulyo, Selasa (27/9) lalu.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IPNU IPPNU Pacitan mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Pacitan yang telah menyisihkan sebagian rizkinya ? untuk para korban bencana alam di Pacitan dan Garut.” Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan ? dan partisipasi masyarakat Pacitan semuanya,” ucap Amrudin. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, Ubudiyah, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 28 Juni 2017

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.





Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah, Kiai, Budaya PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 27 Juni 2017

Malam Ini, Pengajian Tastafi di Banda Aceh Berlanjut

Banda Aceh, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Setelah memulai pengajian tasawuf, tauhid, dan fiqih (Tastafi) perdananya di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, pada awal Maret lalu, Syekh Hasanoel Basri (Abu MUDI) akan kembali melanjutkan pengajian serupa malam ini, Jumat (4/4), pukul 21.00 WIB di lokasi yang sama.

Malam Ini, Pengajian Tastafi di Banda Aceh Berlanjut (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Ini, Pengajian Tastafi di Banda Aceh Berlanjut (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Ini, Pengajian Tastafi di Banda Aceh Berlanjut

Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) tersebut bulan yang lalu bersama masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya bulan lalu mengulas secara detail kandungan kitab Sirus Salikin mengenai syariat, thariqat, dan haqiqat.

Jamaah Pengajian Tastafi malam ini diperkirakan semakin ramai karena masyarakat dari luar Kota Banda Aceh juga berencana untuk mengikuti pengajian ini secara langsung di Masjid Raya Baiturrahman. Pihak Panitia telah jauh hari menyosialisasikan pengajian ini baik melalui surat kabar maupun di jejaring sosial.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua pantia Tgk Marwan Yusuf berharap, Pengajian Tastafi di Masjid Raya dapat menjadi momentum untuk mengembalikan masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini seperti yang tertera dalam Qanun Meukuta Alam, “Ahlussunnah Waljamaah I’tiqadan dan Syafii Mazhaban”.

Pada sesi terakhir pengajian, panitia memberikan kesempatan kepada para Jamaah untuk bertanya langsung kepada Abu MUDI. Adapun bagi masyarakat yang berada di luar Kota Banda Aceh, pengajian ini bisa diikuti melalui Radio Pro 1 RRI Banda Aceh dan pertanyaan bisa diajukan melalui SMS dengan mengetik BNA(Spasi)Isi Pertanyaan ke nomor 0852-1322-3010.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam pengajian bulan lalu, Abu MUDI di antaranya memaparkan, Syariat dan Thariqat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang telah menerima syariat shalat masih menunggu thariqat (metode) pelaksanaannya. Sedangkan hakikat, menurutnya, bukan sesuatu yang dapat dipelajari, melainkan merupakan satu kedudukan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang telah menjalankan syariat dan thariqat secara benar.

Sebelumnya, Pengajian Tastafi diadakan di Meunasah Al-Latief Kampung Baro, tepat di belakang Mesjid Raya Baiturrahman. Namun, mengingat jumlah jamaah yang semakin meningkat, tempat ini tidak muat lagi menampung jamaah dan panitia mengambil inisiatif untuk memindahkan lokasi pengajian ke Mesjid Raya Baiturrahman. Pengajian ini diadakan sebulan sekali setiap Jumat malam saban awal bulan. (Muhammad Iqbal Jalil/Mahbib)

Foto: Suasana Pengajian Tastafi 7 Maret lalu di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal, Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 26 Juni 2017

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga jamiyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) sudah semakin gandrung dengan media internet dalam memperkuat fungsi keorganisasian baik ke dalam maupun keluar. Dalam hal ini PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai situs resmi PBNU menjadi kekuatan perekat dan pemandu bagi terciptanya konsolidasi organisasi.

“Tahun 1980-an saat membuat website www.bumi-nu.com saya masih merasa sendirian. Namun sekarang lembaga-lembaga di bawah naungan NU sudah memakai media internet untuk keperluan organisasi masing-masing,” kata H Said Budairi, usai menerima penghargaan sebagai salah seorang tokoh NU yang berjasa dalam pengembangan teknologi informasi pada acara Tasyakuran Harlah ke-84 NU dan ke-4 PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (28/8) tadi malam.

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebutuhan Internet Tak Terelakkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan

Selain Said Budairi, 3 tokoh lainnya yang mendapat penghargaan adalah Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Wakil Rais Syuriah NU Sumatra Barat Tuanku Bagindo Haji Mohhammad Letter, dan Pemimpin Pondok Pesantren Luhur Al-Wasilah Garut KH Thonthowi Djauhari Musaddad.

Keempat tokoh tersebut dinilai berjasa dalam pengembangan dan pemamfaatan teknologi informasi untuk kebutuhan organisasi NU. Sebelumnya direncanakan hanya tiga tokoh NU yang mendapat pernghargaan. “Namun Alhamdulillah Bagindo Leter bisa hadir,” kata Suwadi DP, Ketua Pelaksana Acara.

Pada malam Tasyakuran Harlah ke-84 NU dan ke-4 PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga dianugerahkan penghargaan kepada empat websiter terbaik di lingkungan NU, berturut-turut www.pmii.or.id, www.gp-ansor.orgwww.lakpesdamjombang.org, dan www.muslimat-nu.or.id

Keempat website terbaik itu dipilih dari 22 website yang memenuhi kriteria penilaian, yakni website milik perangkat-perangkat organisasi NU (lajnah, lembaga, dan badan otonom) baik tingkat pusat dan daerah, juga website Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di luar negeri. Aspek yang dinilai adalah kelengkapan teknis semisal desain grafis, standar kepantasan, keamanan, kemudahan navigasi, pencarian internal, dan kelancaran mesin pencari data.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara kelengkapan non teknis meliputi isi website baik menyangkut kontinuitas, konsistensi dan relevansi dengan back-ground instansi, juga menyangkut jumlah pengunjung dan respon publik, inovasi teknologi serta dampak dan manfaat website bagi masyarakat.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba, Ubudiyah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 25 Juni 2017

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sepuluh santri dari berbagai pesantren kembali terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri (LKTIS). Para santri tersebut didaulat mempresentasikan hasil risetnya di hadapan para doktor dan guru besar pada seminar hasil pengembangan Karya Ilmiah Santri di Pusdiklat Kemenag, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin-Kamis, 1-3 Desember 2015.

Program tahunan ini diinisiasi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag. Menurut Tarif, salah seorang peneliti Puslitbang Penda, pengembangan karya tulis ilmiah santri sudah dilaksanakan sejak tahun 2008. "Memang pernah terputus, namun itu tidak mengurangi semangat kami untuk tetap melaksanakan program tersebut," ujarnya.

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015

Sementara itu, Kepala Puslitbang Penda, HM Hamdar Arraiyyah berpesan, khusus kepada para santri agar terus belajar menulis baik dari segi kebenaran isi dan logika kalimatnya. "Sebab, jika ada pernyataan yang salah lalu dipoles sedikit saja kalimat yang salah bisa jadi benar," ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Terkait rencana Kepala Bidang Litbang Nonformal-Informal Muhamad Murtadho yang akan menerbitkan karya para santri tersebut menjadi buku atau bunga rampai pesantren, Hamdar mengaku sangat senang. "Saya termasuk orang yang gembira jika naskah karya santri ini benar-benar dibukukan," tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sepuluh santri peneliti

Berikut ini sepuluh santri berikut karya risetnya yang dipilih oleh para peneliti Puslitbang Penda. Pertama, Muhamad Risqil Azizi (Mahad Aly Sukorejo,  Situbondo, Jawa Timur). Judul risetnya: "Nuansa Toleransi dalam Fiqih Kaum Santri: Kajian atas Pandangan Pesantren tentang Relasi Muslim dan Nonmuslim”. Kedua, Ardi Putra (PP Lingkar Studi Al-Quran Ar-Rahmah Yogyakarta): "Implementasi Pendidikan Karakter Toleransi di PP LSQ Yogyakarta."

Ketiga, Asror Basuki (Mahad Aly Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur): "Penanaman Karakter Moderat di Pesantren: Studi Kasus Pembelajaran Pesantren di Mahad Sukorejo Situbondo". Keempat, Laili Nur Azizah (PP Nawesea Yogyakarta). "Pendidikan Karakter Kemandirian Finansial berlandaskan Prophetic Intelligence: Studi Kewirausahaan di PP Raudlatul Muttaqien Kalasan Sleman”.

Kelima, tiga serangkai terdiri atas Syihabuddin Alwy, Ahmad Mushonnif Alfi, dan M Akrom Adabi (PP Al-Anwar 1 Sarang, Rembang, Jawa Tengah): "Nilai Kepedulian Sosial di Pesantren Al-Anwar 1 Sarang Rembang”. Keenam, Siti Nurul Marifah dan Ahmad Riyadi (PP Al-Muayyad Windan, Sukoharjo, Jawa Tengah): "Pengaruh Urban Farming terhadap Kemandirian dan Kepedulian Lingkungan pada Santri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan”.

Ketujuh, Sahal Mahfudh (PP Mathaliul Huda Pusat, Kajen, Pati, Jawa Tengah): "Model Pembentukan Karakter Religius (Religious Character Building) Santri Tahfidz al-Quran di Pesantren Mathaliul Huda Pusat Kajen”. Kedelapan, Nur Amanah (PP Al-Hidayah, Cibiru Wetan, Bandung, Jawa Barat): "Implementasi Pendidikan Karakter Kejujuran dan Tanggung Jawab di Pesantren Al-Hidayah Kabupaten Bandung”.

Kesembilan, Feny Nida Fitriyani dan Dede Sukirah (PP Az-Zahra Purwokerto, Jawa Tengah): "Pengembangan Kreativitas Bahasa dan Warna di Pesantren Az-Zahra Karanglesem, Purwokerto, Jawa tengah”. Kesepuluh, Risdianto (PP Mahasiswa An-Najah Purwokerto): "Pengembangan Pesantren Hijau: Upaya Meningkatkan Environment Enterpreneur Santri, Studi Kasus pada PP Mahasiswa An-Najah Purwokerto, Jawa Tengah”. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Foto: Usai presentasi hasil riset di Pusdiklat Kemenag Ciputat, Rabu (2/12), sebagian santri berpose dengan para narasumber dan peneliti.

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pondok Pesantren, Humor Islam, Kiai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah