Kamis, 13 Oktober 2016

Putri Muslimah Indonesia, Tak Boleh Sekedar Cantik Fisik

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa kecantikan seorang perempuan tidak hanya dinilai dari penampilan fisik semata. Lebih dari itu, menurut putera mantan Menag KH Saifuddin Zuhri (alm) ini, kecantikan tidak terlepas dari soal pengetahuan, bakat, dan wawasan.

“Kecantikan tidak semata dinilai dari penampilan fisik belaka, tapi juga pengetahuan, wawasan, bakatnya dan kemampuan membaca Al-Quran,” demikian dikatakan Menag saat menghadiri malam pemilihan Puteri Muslimah Indonesia tahun 2015 yang disiarkan secara langsung di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Rabu (13/05) malam seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id. ? Ikut hadir mendampingi Menag dalam kesempatan ini, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Rudi Subiyantoro.

Putri Muslimah Indonesia, Tak Boleh Sekedar Cantik Fisik (Sumber Gambar : Nu Online)
Putri Muslimah Indonesia, Tak Boleh Sekedar Cantik Fisik (Sumber Gambar : Nu Online)

Putri Muslimah Indonesia, Tak Boleh Sekedar Cantik Fisik

“Jadi hal positif yang lebih bermutu, dari pada kontes yang hanya menilai fisik saja,” tambah Menag sembari mengapresiasi terobosan yang dilakukan dalam pemilihan ini dalam menilai wanita Indonesia.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kepada para finalis, Menag mengingatkan bahwa para finalis yang tampil sesungguhnya tidak lagi menjadi objek, tapi subjek. ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Finalis ini sekarang adalah subjek yang dituntut menunjukan potensi dirinya sehingga mampu memotivasi dan menginspirasi kita semua,” jelas Menag.?

Dalam ajang kali ini, juara Putri Muslimah Indonesia 2015 diraih oleh Nesa Aqila Herryanto Putri dari Medan, Sumatera Utara. Ia berhak membawa pulang uang hadiah sebesar 50 juta rupiah.

Sementara juara dua diraih oleh Inka Noor Aulia, kontestan asal Indramayu, Jawa Barat. Ia berhak memboyong hadiah uang sebesar 30 juta rupiah. Selanjutnya, juara ketiga diraih Bunga Ade Tama dari Jakarta yang berhak mendapat hadiah uang sebesar 20 juta rupiah. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama, Ubudiyah, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 10 Oktober 2016

Pergunu DKI Jakarta Rayakan Hari Santri dengan Sarasehan Aswaja

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta turut gembira dan bangga dengan diperingatinya hari santri l, setelah ditetapkan oleh Presiden RI pada tahun 2015. Dalam rangka turut merayakan Hari Santri Nasional 2017, Pergunu DKI Jakarta menggelar kegiatan Sarasehan Ahlussunah wal Jamaah untuk Islam rahmatan lil alamin.

Kegiatan dilaksanakan di Masjid Raya KH Hasyim Asyari, Jakarta Barat, 21 Oktober 2017. Dengan tema Meneguhkan Komitmen Islam Ahlussunah wal Jamaah untuk Islam Rahmatan lil Alamin kegiatan diikuti oleh Guru Pergunu, berjumlah sekitar 200 orang.

Pergunu DKI Jakarta Rayakan Hari Santri dengan Sarasehan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Jakarta Rayakan Hari Santri dengan Sarasehan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Jakarta Rayakan Hari Santri dengan Sarasehan Aswaja

Kegiatan juga dirangkai dengan Pelantikan PAC Pergunu se-Jakarta Barat. Ketua Panitia Pelaksana, H. Matali mengungkapkan pentingnya bagi guru memahami Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyah. Karena menurutnya, Guru adalah garda terdepan untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa. 

Semangat hari santri harus dapat diambil teladan yang baik. Sarasehan ini bertepatan hari santri nasional, kita berharap para guru Pergunu mampu meneladani para santri dan para kiai di masa lampau, terutama dalam prinsip keagamaan yang rahmatan lil alamin".

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut, di antaranya KH Mujib Qulyubi. Dalam wajangannya, Kiai Mujib menekankan kepada para guru agar memberikan pemahaman pada murid tentang pentingnya mencintai agama dan negara. 

Karena itu adalah salah satu ajaran para alim ulama salafunassholikh. Selain itu, Katib Syuriyah PBNU itu juga berpesan agar para Guru NU waspada dan ikut menolak aliran-aliran Islam fundamental dan ekstrim yang masuk ke sekolah atau madrasah dengan menghadirkan nilai-nilai dan amaliyah Islam Ahlussunah wal Jamaah yang rahmatan lil alamin.

Pada kesempatan yang sama, H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU menekankan kepada peserta sarasehan untuk memegang teguh prinsip-prinsip ke-NU-an dan perilaku sosial yang selalu mengedepankan kemanfaatan bagi orang lain. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Pergunu sebagai badan otonom NU harus begerak secara organisatoris, sistematis, dan visibel. Bawa dan sebarkan pada murid prinsip Islam yang dikembangkan NU. Berikan manfaat kepada orang lain, karena dengan itu orang lain juga akan lebih banyak lagi memberikan manfaat kepada kita," kata Marsudi.

Sarasehan Aswaja Pergunu DKI Jakarta, juga dihadiri oleh Jajaran Pengurus PWNU DKI Jakarta, PCNU Jakarta, Takmir Masjid JIC, Takmir Masjid Raya KH Hasyim Asyari, dan tokoh masyarakat lainnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jadwal Kajian PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 09 Oktober 2016

Kisah Perdebatan Dua Ulama Top NU soal Hakim Perempuan

KH A Wahid Hasyim saat menjadi Menteri Agama telah membuka pintu secara administratif perempuan untuk bisa menjadi hakim, namun landasan fiqh-nya belum sempat dirumuskan. Di sana-sini masih banyak penolakan para alim ulama akan status dan kedudukan perempuan sebagai hakim di Pengadilan Agama.

Jumhur ulama dari mazhab Syafii, Hanbali dan Maliki tidak membolehkan. Imam Abu Hanifah membolehkan dalam kasus di luar hudud dan qisas. Ibn Jarir al-Thabari membolehkan secara mutlak. Pendapat mana yang mau dipilih?

Kisah Perdebatan Dua Ulama Top NU soal Hakim Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Perdebatan Dua Ulama Top NU soal Hakim Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Perdebatan Dua Ulama Top NU soal Hakim Perempuan

Maka terjadilah Bahtsul Masail para ulama top di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pandangan para ulama NU mengerucut pada dua blok besar: mereka yang mengikuti pandangan KH Marus Ali dari Pesantren Lirboyo, dan mereka yang mengikuti pandangan Prof KH Ibrahim Hosen (Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat dan Rektor Institut Ilmu Al-Quran Jakarta). Kiai Mahrus tidak membolehkan dengan mengikuti jumhur sedangkan Abahku membolehkan dengan mengikuti pendapat Hanafi dan Thabari. Sebagai catatan, pendapat Hanafi dan Thabari bisa digabungkan karena yurisdiksi Peradilan Agama di Indonesia terbatas pada masalah akhwalus syakhsiyah dan tidak masuk wilayah jinayah.

Perdebatan kedua kubu sangat panas dengan masing-masing mengeluarkan argumentasi dan rujukannya. Akhirnya diskusi diskors untuk makan siang dan shalat zuhur. Di saat itulah Abah mendekati Kiai Mahrus Ali dan melancarkan jurus diplomasinya. Abah berkata: "Pak Kiai, sebelum saya berangkat sekolah ke al-Azhar Kairo, saya belajar khusus kepada Kiai Abbas di Buntet". Kiai Mahrus langsung bangun dari kursinya dan memeluk Abah, "Kiai Abbas itu Waliyullah, beliau paman saya!"

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah dialog tersebut sesi diskusi segera dibuka kembali. Kiai Mahrus mengangkat tangannya: "Diskusi tidak perlu dilanjutkan, sudah selesai, saya setuju perempuan boleh menjadi hakim", maka terdengarlah surat al-Fatihah dibacakan bersama. Para kiai yang lain keheranan apa yang terjadi mengapa perdebatan panas sebelumnya langsung hilang?

Abah saya belakangan menjelaskan kepada saya saat mengenang Kiai Mahrus Ali. Sambil berkaca-kaca Abah berkata: "Kiai Mahrus Ali itu ulama besar. Beliau paham perbedaan mazhab. Beliau hanya ingin diyakinkan bahwa Abah sudah menghitung dampak dari memilih mazhab Hanafi dan Thabari untuk masalah ini. Ketika disampaikan bahwa Abah santri kesayangan dari Kiai Abbas Buntet, Kiai Mahrus Ali seketika menjadi yakin bahwa seorang santri Buntet dibawah bimbingan langsung Kiai Abbas akan tahu bahwa fatwa itu tidak boleh sembarangan dikeluarkan. Kiai Abbas memang waliyullah."

Abah kemudian bercerita hubungan eratnya dengan Kiai Mahrus. Kiai Mahrus menanyakan perkembangan Institut Ilmu al-Quran (IIQ) bahkan meng-ijazahi shalawat untuk kelangsungannya. Belakangan saat Muktamar NU di Pesantren Lirboyo 1999 saya sowan ke rumah Kiai Kafabihi Mahrus, putra Kiai Mahrus. Beliau memeluk saya dan berkata, "Abah saya (Kiai Mahrus) pesan: Kiai yang alim soal ushul al-fiqh itu Prof KH Ibrahim Hosen".

Begitulah para Kiai NU. Mereka tahu argumen masing-masing. Mereka saling mencintai dan memghormati. Tinggal kita saja generasi berikutnya yang harus melanjutkan nilai-nilai yang para masyayikh sudah ajarkan kepada kita. Kalau sekarang anda melihat banyak perempuan yang menjadi hakim di Pengadilan Agama, ingatlah dengan kisah ini: semuanya dimulai dari diskusi para ulama kami.

Lahumul fatihah ....

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 05 Oktober 2016

Anak Indonesia Lebih Kenal Sincan dan Teletabis daripada Nabi

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Si Raja Dongeng Kusumo Priyono merasa prihatin dengan tayangan TV di Indonesia yang tidak mendidik dan mengandung nilai-nilai keagamaan sehingga kini anak-anak lebih mengenal tokoh kartun seperti Sincan dan Teletubis daripada para Rasul dan Nabi.

Hal ini dikemukakan dalam seminar Pendidikan Madrasah dan Tantangan Global yang diselenggarakan oleh Departemen Agama di gedung MK, Jakarta, Rabu (23/7).

Anak Indonesia Lebih Kenal Sincan dan Teletabis daripada Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Indonesia Lebih Kenal Sincan dan Teletabis daripada Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Indonesia Lebih Kenal Sincan dan Teletabis daripada Nabi

“Perilaku anak Indonesia, saat ini kondisinya memprihatinkan, ini dampak globalisasi sangat berpengaruh sehingga anak Indonesia tak mengenal kebanggaan pada nabi Muhammad. Idolanya Sincan dan Telebutis,” katanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gaya tayangan TV saat ini menurut pakar psikologi ini sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti bangsa Indonesia. Tayangan yang bernuansa Islam kesannya juga pada hal-hal yang berbau mistik.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kita perlu bersikap kritis, karena menyangkut moral adil, anak sampai dengan cucu kita yang akan mengalami degradasi. Orang jadi gampang bunuh diri, unggah-ungguh juga hilang,” terangnya.

Tayangan asing yang memiliki latar belakang budaya yang bertolak belakang dengan Indonesia juga banyak disukai masyarakat. Ia menceritakan saat mengisi sebuah acara di Sumatra Barat harus ditunda sebenar karena bertepatan dengan tayangan Maria Mercedes.

“Padahal budaya kita jauh berbeda, disana orang kumpul kebo dianggap biasa, selingkuh biasa, punya anak tanpa punya kawin juga dianggap wajar dan perkawinan hanya nomor dua,” imbuhnya.

Salah satu upaya untuk mengurangi dampak buruk globalisasi pada anak-anak adalah pendidikan di madrasah yang memberikan bekal agama. Sayangnya, berdasarkan pengalamannya mengajar di berbagai tempat, lembaga pendidikan Islam ini sangat ketinggalan.

“Sekolah di madrasah tak ada kebanggaan, padahal madrasah itu lapisan dasar bagi pembinaan akhlak bagi anak yang mengenalkan mereka pada agama,” katanya.

Dan yang paling diperlukan, terutama bagi para pengambil kebijakan adalah keberanian untuk mengambil sikap tegas terhadap tayangan yang merugikan masyarakat. Ia mengaku dipecat dari lembaga sensor film gara-gara banyak menggunting film yang mengandung unsur pornografi. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Nurul Fathonah Pimpin PW IPPNU Jawa Barat

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Nurul Fathonah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua IPPNU Jawa Barat dalam Konferensi Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Barat. Nurul akan memimpin gerakan pelajar putri NU Jabar untuk masa khidmah tiga tahun ke depan. Nurul sebelumnya pernah menjadi Ketua IPPNU Garut.

Konferensi Wilayah IPPNU Jabar berlangsung di Pesantren Assiddiqiyah 3-4, Cilamaya, Karawang, Sabtu-Ahad (26-27/11). Konferensi ini diikuti sedikitnya 25 cabang IPPNU utusan cabang dan kabupaten se-Jawa Barat.

Nurul Fathonah Pimpin PW IPPNU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurul Fathonah Pimpin PW IPPNU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurul Fathonah Pimpin PW IPPNU Jawa Barat

Nurul Fathonah mengajak segenap kader IPPNU di Jawa Barat untuk menjadikan IPPNU Jawa Barat sebagai wadah aktualisasi pelajar dalam mengawal kader Islam Aswaja An-Nahdliyah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Mari jadikan IPPNU sebagai benteng negara dalam menjaga pelajar Indonesia terhadap bahaya pergaulan bebas, narkoba, dan paham-paham radikalisme di kalangan pelajar,” kata Nurul.

Setiap cabang IPPNU mengutus minimal empat delegasinya dalam forum konferensi ini. Sementara dalam pembukaan tampak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Ketua PWNU Jabar, Bupati Karawang, Camat Cilamaya, dan aparat desa setempat. (Alhafiz K)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan, Khutbah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PBNU: Afi Nihaya Faradisa Tak Hanya Didukung Banser dan Ansor

Surabaya, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Nenek moyang telah menyadarkan bahwa kebinekaan adalah hal yang melekat bagi negeri ini. Berbagai suku, agama, ras dan antargolongan juga sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan. Karenanya, tugas generasi muda adalah merawat keragaman agar tetap lestari.

Ketua PBNU: Afi Nihaya Faradisa Tak Hanya Didukung Banser dan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Afi Nihaya Faradisa Tak Hanya Didukung Banser dan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Afi Nihaya Faradisa Tak Hanya Didukung Banser dan Ansor

Penegasan ini disampaikan KH Robikin Emhas kala tampil pada diskusi Cangkir9 dengan tema “Romadonesia; Meneguhkan kembali Khittah Keindonesiaan menuju Seribu Bulan Kemerdekaan Indonesia”. Diskusi yang digagas sejumlah lembaga dan badan otonom PWNU Jatim pada Jumat (9/6) malam itu juga menghadirkan Afi Nihaya Faradisa yang lebih akrab disapa Afi.

"Tuhan juga telah menegaskan bahwa manusia terlahir dengan perbedaan baik laki-laki dan perempuan, aneka bangsa serta suku dan golongan," kata Ketua PBNU ini sembari membacakan ayat ke 13 dari surat al-Hujurat. Karenanya, sudah selayaknya para penduduk di negeri ini turut mendukung, memberikan perlindungan kepada mereka yang mengampanyekan toleransi dan saling menghargai ini, lanjutnya.

Baginya, sosok Afi yang sempat memantik pro dan kontra lantaran idenya yang mendukung semangat keragaman tersebut untuk didukung. "Bukan hanya didukung oleh Banser dan Ansor, juga warga NU di mana pun berada," ungkap Haji Robikin.

Apalagi mereka yang terus bersuara lantang melawan kebinekaan jumlahnya hanyalah sedikit. "Percayalah bahwa yang mayoritas adalah kalangan yang mendukung ide dan gagasan kebinekaan, termasuk di dalamnya NU," tandasnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Karenanya, Haji Robikin sependapat dengan apa yang dikemukakan Afi bahwa tugas berat menyemai perdamaian di tengah perbedaan harus terus dikumandangkan. "Semangat menghargai perbedaan harus terus digelorakan oleh golongan mayoritas seperti kita, baik di dunia nyata serta maya," harapnya. Oleh sebab itu aktivis hukum di PBNU ini berharap agar seluruh komponen bangsa bersama-sama melawan kelompok yang tidak mendukung keragaman.

Ratusan peserta antusias menyimak paparan dua narasumber ini. Sebelumnya, mereka disuguhkan dengan penampilan lagu Indonesia Raya serta mars Syubbanul Wathan yang diaransemen dengan musik hadrah. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

Afi, Haji Robikin serta Hakim Jayli

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh, Ulama PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 03 Oktober 2016

Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid

Oleh Darul Qutni



Wali Songo adalah teladan bagi kita dalam memakmurkan masjid-masjid Allah subhanahu wa taala. Mereka adalah para muballigh Islam dan dai penyebar Islam di Indonesia di abad 15 Masehi. Keberhasilan mereka dalam berdakwah masih terasa hingga saat ini. Penyiaran Islam yang dilakukan Wali Songo sangat rapat hubungannya dengan masjid dan pesantren-pesantren. Bagaimanakah konsep mereka memakmurkan Masjid di masanya? Dapatkah hal itu dicontoh pada masa kini?

Pertama, Masjid sebagai pusat ibadah. Ditunjukkan oleh Kanjeng Syekh Sunan Ampel rahimahullah saat membangun langgar sederhana yang kemudian besar, megah dan bertahan sampai sekarang dan diberi nama Masjid Rahmad. Setibanya di Ampel langkah pertama Raden Rahmat rahimahullah adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah (Purwadi, 2009)

Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid

Hal ini juga dilakukan Kanjeng Syekh Sunan Kudus rahimahullah saat membuat masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Masjid Kudus didirikan tahun 956 H/ 1549 M.

Kedua, masjid sebagai pusat dakwah dan penyebaran Islam. Hal ini dicontohkan oleh Kanjeng Syekh Sunan Kalijaga rahimahullah. Dia mengonsep pendirian Masjid Demak sebagai pusat agama dan penuntasan Islamisasi di seluruh Jawa. Gerakan Islamisasi dilakukan melalui masjid mengingat lembaga pesantren kala itu belum menemukan bentuk yang final. 

Ketiga, masjid sebagai tempat pengajian. Dilakukan oleh Kanjeng Syekh Sunan Drajat rahimahullah. Dia membuat masjid yang agak jauh dari tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk. Pengajian di masjid atau langgar adalah salah satu dari 5 (lima) cara dakwah Kanjeng Syekh Sunan Drajat rahimahullah. Adapun cara yang kedua, adalah dengan metode pendidikan di pesantren. Ketiga, fatwa atau petuah. Keempat, kesenian tradisional. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Keempat, kesatuan masjid dan pesantren. Ini merupakan konsep yang khas dari Wali Songo di mana penyebaran Islam melalui masjid merupakan sesuatu yang include dengan pesantren. Contoh kesatuan masjid dan pesantren adalah apa yang dilakukan oleh Kanjeng Syekh Sunan Ampel rahimahullah  yang mendirikan pesantren sekaligus masjid. Beliau kerap mengelilingi pesantren dan masjidnya itu untuk mengetahui keadaan para muridnya yang belajar dan tidur di dalamnya (H. Aboe Bakar Atcheh, 2011).

Kelima, masjid yang berkebudayaan. Konsep ini juga merupakan kekhasan konsep dakwah Wali Songo yang tidak frontal dalam berdakwah namun menggunakan strategi kebudayaan. Kanjeng Syekh Sunan Kudus rahimahullah membangun menara untuk azan dengan desain seperti bangunan hindu yang saat ini dikenal dengan menara kudus. Menara berasal dari bentuk kata tempat (shigat isim makan) dalam bahasa arab yang artinya tempat api/cahaya. Menara ini kemudian dimanfaatkan untuk menyeru orang sembahyang.

Kanjeng Syekh Sunan Kudus rahimahullah juga menggunakan beduk untuk mengundang jamaah ke masjid untuk mengumumkan itsbat awal Ramadhan. Beduk yang tergantung pada tiap-tiap serambi masjid itu, yang dipukul untuk memperingatkan kepada waktu shalat, bukanlah sesuatu yang baru sejak zaman dahulu pun sudah dialami oleh rakyat memukul tambur periuk dan perunggu yang berasal dari zaman purbakala.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Aboe Bakar Atcheh mengatakan, (2011) di dalam masjid Demak, masih dapat dilihat beberapa bagian yang berukir menurut motif kebudayaan Hindu dan zaman Majapahit itu, misalnya, tiang yang bernama Soko Majapahit pada pendopo Masjid itu. Begitu juga keadaannya masih sangat jelas menggambarkan bentuk Kesenian Hindu-Jawa. Dalam pada itu, kita dapati beberapa buah masjid yang di sekelilingnya ada selokan air. Keadaan yang mengingatkan kita kepada telaga-telaga suci yang biasanya terdapat pada candi-candi Hindu, misalnya, Candi Jawi. 

Konsep masjid yang berkebudayaan ini menurut Syaiful Arif (2009) dianggap sebagai keberhasilan rekonsiliasi antara Islam dan budaya yang bertitik tolak dari kemampuan memahami wahyu dengan mempertimbangkan berbagai faktor konstektual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilan. Keberhasilan proses pribumisasi Islam dapat dilihat dari kemampuan kamu Muslim seluas mungkin mengembangkan aplikasi wahyu guna memenuhi kebutuhan masyarakat, misalnya arsitektur ranggon atau atap dari Masjid Demak. Lapis atap masjid tersebut diambil dari konsep meru agama Hindu yang kemudian diislamkan dari sembilan susun menjadi tiga susun. Konsepnya merujuk pada tahapan kesempurnaan hamba di hadapan Gusti Allah Taala yakni iman (Muslim meraih keyakinan monoteistik), Islam (kesadaran syariat), dan ihsan di mana Muslim sudah mendalami tasawuf, hakikat dan marifat. Pada tingkat ini mulai disadari keyakinan tauhid dan ketaatan syariat mesti berwujud kecintaan kepada sesama manusia. 

Tiap masjid terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai pendopo atau serambi di depannya, yang sukar kita terka maksud asalnya, apakah supaya bentuknya mirip rumah peribadatan Hindu ataukah untuk tempat mengadakan sedekah-sedekah untuk arwah mereka yang sudah meninggal, jelas keadaan sudah mendekati Islam, sajen lama sudah berganti dengan doa, zikir dan bacaan Al-Quran. 

Pada waktu mengadakan perayaan Maulid Nabi ini seminggu sebelumnya dipukul gamelan di halaman depan masjid. Hal yang mungkin bertentangan dengan Islam karena Islam menghendaki ketenangan. Tetapi oleh mubaligh zaman yang lampau itu dikemukakan sebagai alasan bahwa tabuh-tabuhan itu gunanya untuk menarik rakyat umum datang ke Masjid dan bukanlah untuk memanggil jiwa halus dan para nenek moyang supaya turut makan bersama sama anak cucunya yang masih hidup. 

Sampai kepada bentuk masjid di era Wali Songo disesuaikan dengan bangunan yang sudah galib dalam masa Hindu. Ia harus mempunyai atap bertingkat supaya sesuai dengan bentuk gedung-gedung umum pada masa itu, untuk tempat rapat, perayaan, dsb, seperti yang sampai sekarang masih terdapat di Bali dengan nama Badung, tempat mengadu ayam.





Penulis adalah Sekretaris LTM PCNU Kota Depok

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Doa, Budaya PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah