Minggu, 06 Maret 2016

PTKIN Perlu Turun Tangan Tangkal Radikalisme

Bandung, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Kementerian Agama melalui Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan mengajak kalangan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk turun ke masyarakat dalam upaya menangkal paham radikalisme agama yang belakangan semakin marak.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Abdurahman Mas’ud, dalam pengarahan? pembukaan acara Workshop Pengengembangan Laboraturium Dakwah di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) di Hotel California, Bandung dalam release yang dikirimkan ke PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (17/3).

PTKIN Perlu Turun Tangan Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PTKIN Perlu Turun Tangan Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PTKIN Perlu Turun Tangan Tangkal Radikalisme

Mengutip Asghar Enginer, Abdurahman Mas’ud menyebutkan bahwa dakwah harus diniati untuk menciptakan kedamaian. Dakwah menjadi tidak wajib kalau dakwah hanya menghilangkan ketenangan masyarakat dan hanya menghasilkan konflik sosial. Sekarang ini banyak pelaku dakwah yang kerjanya hanya memanasi keadaan, membenturkan kelompok sosial keagamaan, tanpa mencarikan langkah konstruktif? yang membuat pemeluk agama nyaman menjalankan agamanya masing-masing. Karena tujuannya mulia, dakwah menurut Kepala Badan harus diniati oleh semua Muslim, minimal sekali seumur hidup, imbuhnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kegiatan penyusunan pedoman Laboratorium Dakwah merupakan kegiatan kerjasama Bidang Litbang Pendidikan Nonformal/Informal Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan gunung Djati Bandung. Kegiatan ini berlangsung 3 hari (17-19 Maret 2016) dihadiri oleh peserta dari berbagai elemen yang terdiri dari akademisi, peneliti, penyuluh, pelaku dakwah di Bandung dan sekitarnya.

Kehadiran Laboraturium Dakwah di PTKIN diperlukan untuk memetakan permasalahan keagamaan yang ada di masyarakat sehingga pelaku dakwah mempunyai cukup data untuk membekali umat dari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti membanjirnya peredaran narkoba, semaraknya paham radikal, kebebasan informasi melalui media sosial (medsos) yang membuat pornografi bebas ditonton oleh anak-anak. Dengan Laboratorium Dakwah yang didukung data akurat sangat penting untuk mengantisipasi semua itu. Demikian papar Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Hamdar Arraiyah, dalam sambutan selaku penanggung jawab laporan penyelenggara.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, “Sekalipun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam ada di mana-mana, mahasiswa juga jumlahnya besar, namun ternyata kita temukan di salah satu masjid di Toraja, Sulawesi kekurangan tenaga khotib untuk shalat Jum’at. Karena menunggu khotib datang, tidak jarang pelaksanaan khutbah Jum’at dilakukan pada pukul 13.30 waktu setempat. Padahal jamaah sudah berkumpul sejak jam 12.00.”

Itu menunjukkan bahwa agamawan terpusat di kota-kota, atau desa-desa tertentu? dan belum tersedia di daerah lain. Itu fungsi yang harus menjadi? Laboraturium Dakwah nantinya, tambahnya.

Ahmad Sarbini, mewakili Rektor UIN Sunan Gunung Djati, menyambut baik kerjasama ini dan menganggap kegiatan ini istimewa karena bekerjasama langsung dengan Badan Litbang Kementerian Agama. Menurutnya, kehadiran Laboratorium Dakwah dapat menjadi pendukung melahirkan pelaku-pelaku dakwah yang berpengetahuan dan memiliki daya saing dalam konteks globalisasi informasi saat ini. kehadiran meme, iklan harus juga dihasilkan dari Laboraturium dakwah ini, pesan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung ini.

Kegiatan Penyusunan Pedoman Laboratorium dakwah ini menurut Murtadho, Penyelenggara sekaligus Kepala Bidang Litbang Pendidikan Nonformal/Informal Kementerian Agama, dimaksudkan untuk membuat pedoman yang bisa dipakai tidak saja pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang di sana ada Fakultas dakwahnya, tetapi juga perguruan Tinggi Keagamaan Islam? yang tidak ada Fakultas Dakwahnya. Untuk itu kegiatan penjaringan pemikiran sekaligus penyusunan pedoman ini akan dilakukan dengan bekerjasama dengan beberapa pihak seperti Fakultas Dakwah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Perguruan Tinggi As’adiyah Sengkang Sulawesi, dan Organisasi Keagamaan Muslimat di Jakarta.

“Semoga dampak dari ikhtiar penyusunan pedoman ini nantinya dapat menghantarkan umat semakin religius, harmoni dan maju. Doakan ya,” imbuhnya.? Red: Mukafi NiamDari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam, Tokoh, Warta PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 29 Februari 2016

Jadi Pengabdi Umat, Fatayat NU Songgom Perkuat Kapasitas Pengurus

Brebes, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menggelar upgrading dalam rangka menguatkan kapasitas pengurus. Hal itu dilakukan agar organisasi menjadi pengabdi umat.

Hal tersebut disampaikan Ketua PAC Fatayat NU Songgom Hj Sumiyati, di sela acara di aula Kecamatan Songgom, Senin (8/2).

Jadi Pengabdi Umat, Fatayat NU Songgom Perkuat Kapasitas Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Pengabdi Umat, Fatayat NU Songgom Perkuat Kapasitas Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Pengabdi Umat, Fatayat NU Songgom Perkuat Kapasitas Pengurus

?

Menurut Sumiyati, kegiatan upgrading dalam rangka orientasi dan penguatan kapasitas pengurus Fatayat NU Songgom masa khidmat 2016-2021.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Diharapkan, para pengurus Fatayat NU periode ini mampu memahami secara komprehensif mengenai visi misi Fatayat NU. Dia menyadari kalau anggota dan pengurusnya belum paham tentang Fatayat NU. “Banyak yang menganggap kalau kegiatan fatayat hanyalah pengajian saja,” kata Sumiyati.

Padahal, banyak banyak hal yang bisa diperbuat Fatayat termasuk peningkatan ekonomi keluarga, ketahanan keluarga, peningkatan pendidikan dan kesehatan keluarga. “Lewat upgrading, diharapkan ada pemahaman yang konfrehensip,” terangnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Disamping itu, lewat upgrading diupayakan para pengurus mampu mengemban amanah yang diberikan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Kegiatan ini juga menitikberatkan pada konsistensi pengurus untuk bisa membangun Fatayat NU di Songgom menjadi lebih baik.

Kewaspadaan terhadap narkoba dan aliran sesat juga menjadi tugas para pengurus Fatayat. Peran Fatayat, antara lain melakukan pembinaan dan pembentukan moral anak-anak bangsa melalui pengajian-pengajian khusus para remaja.

Anggota DPRD Brebes Imam Royani mengaku bangga dengan aktivitas yang telah dilakukan Fatayat dalam kegiatannya. Dia berpesan, agar anggota Fatayat bisa menjadi kader bangsa yang berkualitas. Berbagai keterampilan perlu dimiliki ibu-ibu Fatayat dengan matang. Apalagi, kini memasuki era MEA, yang tentunya wanita Indonesia harus memiliki kualitas terhadap persaingan global.

“Fatayat harus siap menghadapi MEA, karena akan membawa keuntungan bila masyarakat Indonesia siap menghadapi era pasar bebas,” kata Imam Royani.

Ketua Jurusan PGMI Universitas Wahid Hasyim Semarang Sari Hernawati selaku narasumber dalam kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya peran wanita dalam menegakan bangsa. Perempuan, sangat strategis dalam memajukan daerah, yang diawali dari kehidupan keluarganya. “Bila di dalam keluarga sudah kokoh, maka tidak akan sulit menjadi pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Sri Hernawati.

Sari menegaskan, keluarga Fatayat harus memasang strategi yang jitu dalam mengemban amanat organisasi yang bisa meningkatkan keharmonisan keluarga.

Acara diikuti 65 peserta dari 18 ranting se Kecamatan Songgom juga dihadiri Camat Songgom Edy Yusuf. Selaku pimpinan wilayah, dirinya memberikan keleluasaan penggunaan fasilitas yang dimiliki kecamatan untuk dipergunakan ormas seperti Fatayat. Dia melihat, Fatayat sangat membantu mensosialisasikan maupun mengaktualisasikan program pemerintah. “Ada sinergi yang bisa dibangun dalam mewujudkan pembangunan daerah,” tegasnya. (wasdiun/abdullah alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Doa PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 28 Februari 2016

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal, Kiai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 25 Februari 2016

Draf Metodologi Fiqih Siap Disahkan di Muktamar

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Komisi bahtsul masail diniyah maudl’uiyah, menyusun draf praktis perihal taqlid manhaji yang pernah ditetapkan para kiai di Munas NU di Lampung 1992. Komisi yang dipimpin Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir ini membuat rumusan sederhana yang bersifat praktis untuk diterapkan pada forum bahtsul masail NU di tingkat manapun.

Draf Metodologi Fiqih Siap Disahkan di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Draf Metodologi Fiqih Siap Disahkan di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Draf Metodologi Fiqih Siap Disahkan di Muktamar

“Sebenarnya, praktik dari metode ini sudah dijalankan oleh para kiai kita misalnya ketika para kiai sesepuh NU memecahkan masalah gono-gini. Mereka jelas menggunakan fiqih secara metodologi, bukan secara qauli,” kata Ketua LBM PBNU KH Arwani Faisal yang memimpin rapat komisi ini di Jakarta sejak Rabu-Kamis (22-23/4).

Sementara Kiai Afif mengusulkan metode bayani, qiyasi, dan istishlahi sebagai cara penanganan atas persoalan fiqih. Berhubung tidak hadir pada rapat ini, Kiai Afif menitipkan usulannya itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam aspek ibadah, ketundukan pada nash ditekankan. Sementara pada aspek hudud, verifikasi atas praktik hukum (tahqiqul manath) sangat ditegaskan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kalau potong tangan itu wajib secara qath’i bagi bagi pencuri, tetapi tidak setiap pencuri dipotong tangan. Artinya, perlu ada semacam penyelidikan lebih lanjut apakah kasus pencurian yang terjadi sudah memenuhi syarat dan yang dimaksud oleh nash?

Sementara pencatatan nikah yang tidak ada nashnya menjadi sebuah keniscayaan. Kewajiban untuk mencatatkan pernikahan merupakan upaya-upaya dalam menjaga kejelasan status pernikahan.

“Dengan draf ini, ada kemajuan dalam tradisi bahtsul masail di NU karena ini akan menjadi semacam penguatan atas praktik fiqih selama ini di masyarakat kita,” kata Kiai Arwani.

Sementara Abdul Jalil menganggap perlunya rumusan sederhana untuk menjadi sistem yang operasional.

Komisi ini juga akan meminta para peserta Muktamar NU Agustus mendatang untuk menawarkan metodologi-metodologi lain yang bersifat praktis sebagai panduan berbahtsul masail di NU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 24 Februari 2016

Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Pesantren dan santri selalu terlibat dalam setiap peristiwa penting di Indonesia. Salah satunya dalam perumusan dasar negara Pancasila. Peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diabaikan. Dengan peranan sepenting itu santri tidak perlu malu menunjukkan identitas kesantriannya.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo KH Melvien Zainul Asyiqin (Gus Iing) dalam acara Halal Bihlalal dan Haul Masyayikh Lirboyo di Yayasan Umdaturasikhien, Cakung, Jakarta Timur, Ahad (9/8).

Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas

"Jangan malu menjadi santri. Yang menggagas dasar-dasar Indonesia salah satunya adalah (perwakilan) santri," kata Gus Iing di hadapan ratusan santri dan alumni Al-Mahrusiyah se-Jabodetabek yang hadir dalam acara itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kepada ratusan santri dan alumni Al-Mahrusiyah, Gus Iing juga menekankan pentingnya melanjutkan peran yang telah diambil santri zaman dahulu. Peran penting itu, lanjut Gus Iing, harus dipertahankan dan dikembangkan santri masa sekarang.

Peran penting itu, lanjut Gus Iing, bisa ditanggung santri masa sekarang dengan syarat mengusai pengetahuan kemasyarakatan yang memadai. Santri, seperti terlihat pada sosok KH Hasyim Asyari dan santri sezamannya, tidak hanya paham masalah akhirat tapi juga dunia, yaitu urusan kebangsaan dan kenegaraan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Santri zaman dulu paham masalah dunia dan akhirat sekaligus," tegas Gus Iing.

Halal Bihalal dan Haul Masyayikh Lirboyo digelar oleh Ikatan Silaturahim Keluarga Al-Mahrusiyah (Istikmal) Jabodetabek. Selain ceramah agama, acara juga diisi istighotsah kubro yang melibatkan warga dari sejumlah majelis taklim di Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib, Daerah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 15 Februari 2016

Ikut Munas, Nikmati Sega Jamblang

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebelum persidangan komisidi mulai, Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012 rame-rame peserta menikmati sarapan pagi dengan menu Sega (nasi) Jamblang. Mereka jalan beberapa kilometer dari arena munas.



Ikut Munas, Nikmati Sega Jamblang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikut Munas, Nikmati Sega Jamblang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikut Munas, Nikmati Sega Jamblang

“Wah, aku pengin nikmati nasi jamblang, rek,” ujar Anam, salah seorang peserta dari Jawa Timur  dengan logat jawa timuran yang kental. Anam beserta tujuh orang temannya pinjem mobil panitia untuk menikmati nasi jamblang Ahad pagi (16/9).

Mencari makanan khas wong Cirebon itu tidaklah susah, karena banyak di jajakan penjual di sepanjang raya Jamblang, asal muasal makanan itu. Dari arena Munas, diperempatan Palimanan ke kiri, hanya berjarak lebih kurang 3 kilometer ke arah Jawa Tengah.  

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam sejarah tercatat, sega Jamblang pada awalnya diperuntukan bagi para pekerja paksa pada zaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati wilayah Kabupaten Cirebon.

Sega Jamblang saat itu dibungkus dengan daun jati, mengingat bila dibungkus dengan daun pisang kurang tahan lama sedangkan jika dengan daun jati bisa tahan lama dan tetap terasa pulen. Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu yang lama.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Walaupun menunya sangat beraneka ragam, namun harga makanan ini relatif sangat murah. Karena pada awalnya makanan tersebut diperuntukan bagi para pekerja buruh kasar di Pelabuhan dan kuli angkut di jalan Pekalipan

Menu yang tersedia biasanya antara lain sambal goreng, tahu sayur, paru-paru (pusu), semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Wasdiun 

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Lomba, IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketum PBNU: Radikalisme Rusak Islam dan Indonesia

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya menjalankan prinsip toleransi di tengah perayaan Natal dan Tahun Baru 2013. Radikalisme dalam bentuk teror dinilai justru merusak nama Islam dan Indonesia di mata dunia internasional.

"Tidak ada gunanya melakukan teror, baik di Natal dan Tahun Baru sekarang ini atau di waktu lain. Radikalisme, apapun itu bentuknya, termasuk teror, hanya akan merusak nama Islam," tegas Kiai Said, Senin (24/12), malam waktu Singapura. Kiai Said berada di Singapura dalam rangka menjalani medical check up atas penyakit jantung yang dideritanya.

Ketum PBNU: Radikalisme Rusak Islam dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Radikalisme Rusak Islam dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Radikalisme Rusak Islam dan Indonesia

Radikalisme, terutama dalam bentuk aksi teror, juga dinilai dapat merusak citra Indonesia yang sudah sejak lama dikenal sebagai bangsa yang plural, namun tetap dapat hidup berdampingan dengan baik.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Indonesia di mata internasional dikenal sebagai bangsa yang bisa menerapkan toleransi dengan baik. Aksi-aksi radikalisme, terorisme, atau yang sejenisnya, akan menjadikan nama Indonesia rusak," tambah Kiai Said.

?

Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, tersebut juga secara khusus menyampaikan ucapan selamat Natal untuk umat Kriatiani di Indonesia. "Semoga Natal tahun ini aman dan membawa berkah untuk perayaan Tahun Baru 2013," ujarnya.

?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk terciptanya perayaan Natal dan Tahun Baru 2013 yang aman, baik Polisi maupun TNI diminta untuk saling bersinergi menjalankan tugas dengan baik. Meski demikian masyarakat juga diminta ikut berpartisipasi menciptakan keamanan, melalui perilaku yang tidak memancing timbulnya kerawanan.

?

"Saya secara pribadi dan atas nama Nahdlatul Ulama mengapresiasi apa yang dilakukan GP Anshor dengan keikutsertaannya mengamankan Natal dan Tahun Baru. Terciptanya keamanan tugas kita bersama, termasuk masyarakat sipil yang tidak bergabung di Ormas juga harus bisa menciptakan rasa aman," pungkas Kiai Said. (*)

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah