Rabu, 04 Maret 2015

Ini Cara Deteksi Dini dan Pencegahan Kaki Diabetik

Sidoarjo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Faktor resiko utama terjadinya kaki diabet adalah adanya gangguan saraf dan gangguan aliran darah pada penderita diabetes mellitus. Di mana hal tersebut biasanya dialami oleh penderita diabetes mellitus yang sudah lama, serta diperberat oleh pengendalian gula darah yang tidak baik. Pernyataan tersebut disampaikan dokter Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dr. Atik Yuniani kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Selasa (27/9).

?

Ini Cara Deteksi Dini dan Pencegahan Kaki Diabetik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Deteksi Dini dan Pencegahan Kaki Diabetik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Deteksi Dini dan Pencegahan Kaki Diabetik

Dijelaskan Atik, ada beberapa keadaan yang mempermudah terjadinya kaki diabet, yaitu kelainan bentuk kaki, kelainan tulang kaki, peningkatan tekanan atau beban pada kaki, kelainan pertumbuhan kuku, pemakaian sepatu yang tidak sesuai, riwayat luka pada kaki serta kurangnya perhatian penderita terhadap perawatan kaki.

?

"Bagi penyandang diabetes mellitus, masalah kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi penyakit yang paling ditakuti, karena dapat menyebabkan pembusukan dan amputasi kaki, belum lagi mengingat dampak ekonomis yang sangat besar, baik terhadap pasien, keluarga, maupun pemerintah," jelas Atik.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pasien dengan kaki diabetik membutuhkan perawatan yang lama, biaya yang tidak sedikit serta risiko amputasi yang cukup besar. Kaki diabetes biasanya diawali adanya luka. Pengenalan terhadap faktor-faktor risiko dan pengenalan kelainan dini pada kaki diabetik akan sangat bermanfaat terhadap usaha pencegahan atau menurunkan kejadian kaki diabetik.

?

Gangguan saraf yang sering dikeluhkan penderita diabetes mellitus yakni rasa nyeri pada kaki seperti rasa terbakar, rasa tebal pada kaki, perasaan panas atau dingin, penurunan ambang rasa sakit-mati rasa terhadap suhu, rasa getar, produksi keringat yang menurun, kulit yang kering dan pecah-pecah dan kaki terasa lebih hangat.

?

Lebih lanjut Atik menjelaskan, gangguan aliran darah pada penderita diabetes di karenakan adanya pengerasan pada dinding pembuluh darah, penyempitan lubang pembuluh darah maupun adanya sumbatan pembuluh darah. Selain tingginya kadar gula darah, faktor tekanan darah, kadar kolesterol serta merokok merupakan faktor resiko untuk timbulnya sumbatan pada pembuluh darah. Sehinggga pengendalian yang optimal terhadap kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah serta berhenti merokok merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh penderita diabetes mellitus.

?

"Gangguan aliran darah pada penderita diabetes mellitus ditandai nyeri saat istirahat, terutama malam hari, ujung-ujung jari yang menghitam, luka yang tidak sembuh-sembuh, luka pada kaki atau jari-jari, kaki yang pucat saat diangkat ke atas, kulit kering dan bersisik, otot kaki yang mengecil, bulu-bulu rambut yang menipis," ungkapnya.

?

Upaya pencegahan kaki diabetik menjadi sangat penting. Beberapa upaya yang bisa dilakukan di antaranya memeriksaan kaki secara berkala, mengenali faktor resiko terjadinya kaki diabetic, edukasi pada pasien, keluarga dan petugas kesehatan, gunakan alas kaki yang sesuai, atasi kelainan kaki yang ada sebelum timbul luka serta penanganan luka segera.

?

"Materi edukasi yang harus disampaikan kepada penyandang diabetes mellitus dan keluarga yakni melakukan pemeriksaan kaki setiap hari, jika pasien tidak dapat melakukannya harus ada seseorang yang melakukannya, cuci kaki setiap hari secara teratur dan langsung dikeringkan sampai sela-sela jari, selalu gunakan alas kaki saat berjalan baik saat di dalam maupun di luar rumah," katanya.

?

Tak hanya itu saja, sambung dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU ini, gunakan kaos kaki yang menyerap keringat jika memakai sepatu, jika menggunakan air hangat untuk mandi atau mencuci kaki, temperatur air tidak boleh lebih dari 37 derajat Celcius, gunakan thermometer untuk mengukur temperatur air, jangan gunakan bahan-bahan kimia untuk menghilangkan kalus (penebalan pada telapak kaki), periksa bagian dalam sepatu setiap akan dipakai, jika ada gangguan pada penglihatan, sebaiknya jangan memotong kuku sendiri.

?

Selain itu, gunakan pelembab atau krim untuk kulit kaki yang kering kecuali pada sela jari kaki, hindari penggunaan krim yang mengandung alkohol, ganti kaos kaki setiap hari, gunakan kaos kaki dengan lipatan menghadap keluar atau pilih kaos kaki yang tanpa lipatan.

?

"Penggunaan alas kaki yang tidak sesuai dengan bentuk kaki, merupakan salah satu faktor penting timbulnya luka diabetik. Penyandang diabetes mellitus yang belum mengalami gangguan saraf, gangguan aliran darah maupun yang belum mengalami kelainan biomekanik pada kaki. Sepatu tidak boleh terlalu sempit atau terlalu longgar. Pilih sepatu yang lebih panjang sekitar 1-2 centimeter dari panjang telapak kaki. Lebar sepatuh arus sama dengan lebar kaki," ujarnya.

?

Mencoba sepatu baru sebaiknya pada posisi berdiri dan dilakukan pada sore hari. Cobalah sepatu pada kedua ? kaki. Jangan memilih bentuk sepatu yang runcing pada bagian depan. Untuk wanita hindari pemakaian sepatu dengan hak tinggi. Jika sudah terdapat tanda- tanda kelainan pada kaki, seperti terdapatnya penonjolan tulang sebaiknya pasien disarankan untuk konsultasi pada seorang ahli pembuat sepatu pada unit rehabilitasi medik Rumah Sakit terdekat. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, AlaSantri, Budaya PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 02 Maret 2015

SBY-JK Jadi Saksi Akad Yenny, Mahar 10 Ekor Sapi

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Yenny Wahid akhinya resmi melepas masa lajangnya, menikah dengan Dhohir Farisi. Dalam akad nikah yang berlangsung di masjid Al Munawwarah Ciganjur, Kamis siang, Dhohir mengucapkan ijab Kabul dengan saksi presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Gus Dur sendiri didampingi oleh Gus Mus.

Sebagaimana tradisi yang berlaku di lingkungan pesantren, saat akad, Yenny tidak dihadirkan. Ia berada di rumah Gus Dur sampai kemudian dipertemukan setelah selesainya acara ijab kabul itu.

SBY-JK Jadi Saksi Akad Yenny, Mahar 10 Ekor Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
SBY-JK Jadi Saksi Akad Yenny, Mahar 10 Ekor Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

SBY-JK Jadi Saksi Akad Yenny, Mahar 10 Ekor Sapi

Yenny mendapatkan mahar berupa 10 ekor sapi, yang diserahkan dalam bentuk sertifikat kepemilikan. Mahar sapi merupakan simbol kebudayaan orang Madura sebagai kesiapan membangun rumah tangga. Dhohir Farisi masih keturunan Madura, tetapi tinggal di Probolinggo. Sasrahan lain yang diberikan adalah perhiasan emas, perlengkapan sholat dan beberapa perlengkapan pribadi wanita.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Pengantin pria memberikan 10 ekor sapi, karena sapi identik dengan orang Madura. Karena itu binatang piaraan orang Madura," kata Humas Panitia Pernikahan Yenny-Farisi, Akuat Supriyanto di kediaman Gus Dur.

Sebagai tuan rumah dari mempelai wanita, keluarga Gus Dur menggunakan adat Surakarta seperti masang bleketepe yang dilakukan oleh Gus Dur langsung dan serangkaian adat lainnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kemarin waktu acara adat Yenny itu pake baju kebaya jadul, karena ingin seperti pernikahan ibunya dulu. Dan yang musti diingat ini adalah mantu pertama Gus Dur yang punya trah NU. Karena Farisi sejak kesil suka nganterin majalah NU pake sepeda di Probolinggo," terang Akuat

Beberapa undangan yang hadir dalam acara akad nikah diantaranya dr Umar Wahid, Hasyim Muzadi, KH Nuril Huda, KH Tolhah Hasan, Prabowo Subianto, Siti Fadillah Supari, KH Said Aqil Siradj, Syaifullah Yusuf, Mahfud MD, Effendy Choirie, KH Nur Iskandar SQ, KH Salahuddin Wahid, KH Mutawakkil Allallah, Soerjadi Soedirdja serta beberapa tamu lainnya. (mkf/min)Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 25 Februari 2015

Sayyidina Ali Jual-Beli dengan Dua Malaikat

Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari kakeknya. Suatu ketika, cerita kakek Ja’far, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Di rumah itu Ali menjumpai istrinya, Sayyidah Fathimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya tengah menggelar wol.

Sayyidina Ali Jual-Beli dengan Dua Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayyidina Ali Jual-Beli dengan Dua Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayyidina Ali Jual-Beli dengan Dua Malaikat

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada istrinya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,” jawabnya. “Uang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Bawa kemari uang itu.” Fathimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba ia bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (karena) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya bisa menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fathimah, tanda bahwa ia menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya uang sepeser pun.”

“Ah, kau bisa bayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badui lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badui membayarnya kontan, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku kabar, atau aku yang akan memberimu kabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi kabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badui yang menjual unta kepadamu dan orang Badui yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawaban.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman karena Allah sebesar enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badui yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badui yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah yang bisa kita baca dari kitab al-Aqthaf ad-Daniyah ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya.

Keluasan hati istrinya, Fathimah, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dukungan penuh dari Fathimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Santri PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 21 Februari 2015

Pemudik Banser Bisa Makan Gratis di Sop Ikan Abah Anwar

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ramadhan membawa berkah. Semangat itulah yang menjadi motivasi pemilik rumah makan sop ikan Abah Anwar, Mohammad Aan Anwarudin untuk memberikan pelayanan khusus di bulan puasa ini, terutama saat arus mudik Lebaran.

Kuliner yang berada di rest area kilometer 207 Mundu ruas tol Palimanan-Kanci (Palikanci) Kabupaten Cirebon itu memberikan layanan gratis bagi konsumennya. Eit..., ketentuan dan syarat berlaku loh.

Pemudik Banser Bisa Makan Gratis di Sop Ikan Abah Anwar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemudik Banser Bisa Makan Gratis di Sop Ikan Abah Anwar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemudik Banser Bisa Makan Gratis di Sop Ikan Abah Anwar

Kepada koresponden PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pemuda yang akrab disapa Aan itu mengatakan, layanan makan gratis tersebut diperuntukkan bagi konsumen tertentu.?

"Oh, tidak semua konsumen gratis mas, ada syaratnya," kata mantan aktivis mahasiswa itu, Selasa (20/6).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lalu apa saja syaratnya? Aan menjelaskan, layanan gratis hanya diperuntukkan bagi para pemudik dari kalangan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) dan wartawan media nasional.

Untuk memastikan keanggotaan Banser, pihaknya cukup melihat baju yang dikenakan atau kartu anggotanya. Pun demikian dengan wartawan nasional, harus memiliki identitas dan media yang jelas, bukan abal-abal.

"Monggo, bagi anggota Banser atau wartawan media nasional singgah di Rumah Makan Sop Ikan Abah Anwar. Kami akan berikan gratis 100 persen," lanjut pengurus PC GP Ansor Kabupaten Cirebon itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, pelayanan gratis diberikan sebagai bentuk apresiasi atau penghormatan atas pengabdian Banser GP Ansor dalam menjaga bangsa dan atas profesi para kuli tinta. (Kalil Sadewo/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Olahraga PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 25 Januari 2015

LBM PBNU Haramkan Membuat dan Menyebarkan Berita Hoax

Jakarta,PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan haram perilaku membuat dan menyebarkan berita palsu, bohong, menipu atau dikenal dengan hoax. Pernyataan tersebut mengemuka pada forum bahtsul masail yang digelar di PBNU, Jakarta pada Kamis (1/12). ?

LBM PBNU Haramkan Membuat dan Menyebarkan Berita Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
LBM PBNU Haramkan Membuat dan Menyebarkan Berita Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

LBM PBNU Haramkan Membuat dan Menyebarkan Berita Hoax

Menurut salah seorang pengurus LBM PBNU H. Sarmidi Husna hasil bahtsul masail tersebut dalam waktu dekat akan diserahkan kepada syuriyah PBNU untuk ditashih atau verifikasi. Kemudian PBNU akan membuat keputusan tentang hal itu berdasarkan fiqih. ?

Ia menambahkan, LBM PBNU merespon situasi saat ini yang makin marak terkait perilaku membuat dan menyebarkan berita hoax. Hal semacam itu bisa menyebabkan tersebarnya kebencian dan permusuhan di kalangan masyarakat dan lebih jauhnya bisa menyebabkan disintegrasi nasional.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Seharusnya media sosial menjadi sarana sliaturahim dan perekat persatuan, bukan kebencian dan permusuhan,” ungkapnya.

Ia mengimbau semakin canggihnya teknologi informasi seharusnya dibarengi dengan kemampuan menyeleksi dan berita.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Forum bahtsul masail tersebut dihadiri 30 anggota LBM PBNU. Sebelumnya peserta berdiskusi terlibih dahulu dengan tenaga Ahli Bidang Diseminasi Informasi Publik Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Ismail Cawidu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Olahraga, Humor Islam, Lomba PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 18 Januari 2015

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asyari, KH AsyAd Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi.

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asyari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi.?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asyari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim.?

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asyari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu. "Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asyari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim.

Tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah didirikan sejak tahun 1787 oleh KH Hamdani, ulama besar asal Pasuruan. Kini usia Ponpes Al-Hamdaniyah telah mencapai usia 228 tahun atau dua abad lebih. KH Hamdani sendiri merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah, yakni silsilah ke-27.

“Dulu asalnya daerah ini rawa dan oleh beliau (KH Hamdani) berdoa minta kepada Allah SWT, semoga tanah yang asalnya rawah bisa menjadi tanah,” ungkap Gus Hasyim Fahrur Rozi.

Pondok ini masih memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik. Terutama keunikan bangunan para santrinya. Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton, membuat asrama santri ini nampak seperti rumah Joglo. Bahkan ada beberapa asrama santri yang kondisinya sudah memprihatinkan. Namun, Pengasuh pondok masih mempertahankan keunikan pondok tertua di Jawa Timur ini.

Setiap asrama dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukura ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah, tempat para santri belajar dan beristirahrat.

“Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo yang pada akhirnya melahirkan Laskar Hizbullah,” kata Agus Muchlis Asyari, wakil pengasuh Ponpes.

Namun sayang, keunikan pondok ini yang juga sebagai kunci sejarah dan warisan kebudayaan tertua belum mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Harusnya, pondok tertua seperti Ponpes Al Hamdaniyah ini dilestarikan dan dijaga keasliannya.

Menurut riwayat, pada waktu KH. Hamdani membangun Pondok, dia mendatangkan kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan dinaikkan perahu besar/kapal. Namun ditengah jalan perahunya pecah berantakan. Akan tetapi Allah Maha Besar, kayu-kayu tersebut berjalan sendiri melewati sungai dan berhenti persis di depan area Pondok.?

Di Pondok ini, dulu juga sering dibuat pertemuan tokoh-tokoh Nasional pada Zaman Revolusi, diantaranya adalah Ir. Soekarno, Bung Hatta, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Hamka, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh besar lain.?

Adapun urutan kepengurusan Pondok adalah sebagai berikut:

Periode II: KH. Ya’qub dan KH. Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani) ?

Periode III: KH. Hasyim Abd Rohim dan KH. Khozin Fahruddin,

Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH. Sholeh Hasyim, dan KH. Basuni Khozin. ? ? ? ? ? ?

Periode ? V: KH. Abdulloh Siddiq dan KH. Haiyi Asmu’i.

Periode ? VI: KH. Rifa’i Jufri, KH. Abd Haq, dan KH. Asmu’i . ?

Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrochman R.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Puluhan Warga Donorkan Darah di LAZISNU Kudus

Kudus, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Aksi donor darah Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kudus dan Palang Merah Indonesia di Kantor PCNU Kudus, Selasa (8/10), mendapat respon baik masyarakat. Selain aktivis, pengurus hingga kader NU, warga dengan sukarela mendonorkan darahnya pada aksi kemanusiaan ini.

Puluhan Warga Donorkan Darah di LAZISNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Warga Donorkan Darah di LAZISNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Warga Donorkan Darah di LAZISNU Kudus

Warga Undaan Kudus, Abu Hasan Asyari mendukung aksi yang diinisiasi LAZISNU Kudus ini. “Kegiatan sosial ini sangat bermanfaat bagi orang lain. Mereka yang membutuhkan darah, memahami betul arti aksi kemanusiaan ini.”

Menurut Kades Demangan Alek Fahmi, donor darah tidak hanya sekedar membantu orang lain tetapi mampu menyehatkan tubuh bagi yang menyumbangkan darah. "Di sini, saya ikut donor ke-54, tubuh sehat tidak terkena penyakit," katanya usai diambil darahnya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua LAZISNU Kudus Syakroni menyatakan, program donor darah ini akan rutin digelar dengan waktu yang telah ditentukan PMI, selama 73 hari sekali. "Alhamdulillah, baru pertama kali 37 dari 47 pendaftar diambil darahnya. Semoga ke depan nanti semakin banyak," kata Syakroni singkat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

LAZISNU, kata Syakroni, akan terus mendorong kesadaran masyarakat memiliki kepedulian sosial berbagi antarsesama baik berupa amal zakat, infaq, darah, maupun shodaqoh. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Santri, Tokoh, Halaqoh PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah