Rabu, 11 Desember 2013

Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah

Malang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Hasyim bin Yahya ditetapkan kembali menjadi Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) periode 2012 - 2016. Sementara Mudir Aam dipercayakan kepada KH Abdul Muthi Nurhadi yang sebelumnya menjabat sebagai Mudir Idaroh Wustho Jatman Propinsi Jawa Timur.

Keputusan penetapan pasangan Habib Luthfy dan KH Muthi dilakukan melalui sidang Komisi Majelis Ifta yang berlangsung Jumat (13/1) tadi malam, yang dipimpin langsung oleh Habib Luthfy bersama anggota majelis ifta yang diwakili dari unsur Idaroh Aliyah dan Rais Idaroh Wustho yang diambil dari unsur perwakilan Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah

Sedangkan Posisi Katib Aam, Sekretaris Jendral dan Bendahara Umum masih dijabat pengurus lama yakni KH. Zaini Mawardi, KH. Mohammad Masroni dan Ir. Bambang Iriyanto.   

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Mohammad Masroni kepada PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, hasil sidang majelis ifta baru menghasilkan sebagian kepungurusan idaroh aliyah Jatman, sedangkan kelengkapan kepengurusannya baru akan dibahas pada pertemuan lanjutan tanggal 2 Pebruari 2012 di Pekalongan.

Sebagaimana dalam tata tertib Muktamar XI Jatman pasal 19 bahwa pengangkatan Rais Aam diserahkan kepada Majelis Ifta sedangkan untuk Mudir Aam dipilih oleh Rais Aam atas pertimbangan Majelis Ifta setelah diajukan oleh peserta muktamar.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hal ini sangat berbeda pada Muktamar NU yang selama ini berlangsung, dimana proses penetapan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU melalui pemilihan langsung oleh peserta muktamar dan kelengkapan pengurus dilakukan melalui rapat tim formatur.

Acara penutupan Muktamar XI Jatman akan dilakukan hari ini, Sabtu (14/1) pagi, oleh Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa yang didahului dengan ceramah dan deklarasi Mahasiswa Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (MATAN) dan pengumuman hasil sidang Majelis Ifta tentang susunan kepengurusan Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah periode 2012 - 2017 hasil Muktamar XI Jatman yang berlangsung di Pesantren Al Munawariyah Bululawang Kabupaten Malang Jawa Timur.

Redaktur     : A.Khoirul Anam

Kontributor : Abdul Muis

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Internasional, AlaNu PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 04 Desember 2013

Sekjen PBNU: Ngaji Kitab Bagian dari Pembentukan Karakter Bangsa

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sekjen PBNU Ahmad Helmy Faishal Zaini mengatakan kegiatan mengkaji kitab yang dilakukan santri dan pondok pesantren adalah bagian dari membangun spirit dan karakter kebangsaan. 

Tak kurang Dokter Sutomo yang merupakan tokoh nasional dan pendiri Budi Utomo bahkan mengatakan sistem pendidikan pondok pesantren telah lebih dulu ada jauh sebelum Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah. 

Sekjen PBNU: Ngaji Kitab Bagian dari Pembentukan Karakter Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU: Ngaji Kitab Bagian dari Pembentukan Karakter Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU: Ngaji Kitab Bagian dari Pembentukan Karakter Bangsa

“Pendidikan di pondok pesantren sebagai mata air ilmu di Nusantara, dan saat ini masih terus menjadi pilar utama pembentukan karakter babgsa,” demikian Sekjen dalam sambutan pembukaan Teleconference dan Ngaji Kitab Adabul ‘Alim Wal Mutaallimin, di Gedung PBNU Jakart Pusat, Rabu (6/12) sore.

Ngaji kitab juga menjadi bagian dari NU yang lebih besar dalam bidang kemasyarakatan dan kebangsaan (wathaniyah).

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sekjen menyebut NU telah menjadi pemersatu umat.

“Tidak mudah menyatukan umat di mana Indonesia punya plurailtas dalam keagamaan dan kebhinekaan yang begitu rupa banyaknya,” sambung Sekjen.

Tidak ada negara yang serumit Indonesia, namun umat di Indonesia dapat disatukan. Menyatukan bangsa Indonesia menjadi satu sesunggunya adalah hal yang susah. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Namun, jamaah dan jamiyah NU terbukti menjadi bagain penting dari penegakkan keberlangsungan kehidupan kebangsaan,” kata Sekjen Helmy.

Atas dasar itu, lanjut Sekjen, banyak pihak yang mengatakan tidak ada NU, Indonesia bubar.

“Panglima TNI, Kapolri, dan Presiden Jokowi mengakui itu. Karenanya teruslah hidupkan khasanah pesantren sebagai penggerak dan modal membangun spirit kebangsaan,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriah PBNU KH Mustafa Aqil, Pimpinan Majelis Muwashalah Habib Soleh Aljufri.

Teleconference dilakukan dengan Habib Umar bin Hafiz dari Yaman. dan acara disiarkan langsung melalui 164 Channel, Nabawi TV dan PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba, Meme Islam PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini

Depok, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di hadapan lebih dari 600 kaum ibu peserta Festival Toleransi 2015, Direktur The Wahid Institute (TWI) Zannuba Arifah Chafsoh Rahman alias Yenny Wahid mengajak masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini mulai dari lingkungan keluarga. Festival digelar di lapangan Pusaka, Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (13/12).

Dalam orasinya, Yenny Wahid mengingatkan peran penting para ibu rumah tangga dalam menyemai toleransi. Para ibu rumah tangga yang juga anggota Koperasi Cinta Damai (KCD) ini tampak semangat merayakan toleransi.?

Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini

“Ibu-ibu punya peran besar membangun toleransi. Jika ibu-ibu di sini hatinya damai dan toleran, keluarganya akan damai. Jika keluarga damai, kampung ini damai. Jika kampung ini damai, bangsa ini kira-kira damai tidak?” tanya puteri kedua mendiang KH Abdurrahman Wahid itu disambut teriakan damai para peserta. ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bangsa ini beruntung, lanjut Yenny, sejumlah negara di Timur Tengah seperti Suriah sekarang berada dalam situasi konflik dan saling bunuh. Kita, terangnya, harus berusaha agar bangsa tetap damai. “Caranya sederhana. Mulailah dari sendiri, dari lingkungan keluarga ibu-ibu. Contohnya tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menggunjing tetangga.”

Di tempat yang sama, Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Abdul Moqsith Ghazali juga menyampaikan pentingnya menyebar perdamaian dan toleransi.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Toleransi merupakan ajaran dasar Islam yang disebarkan Nabi Muhammad. Di akhir shalat kita biasa mengucapkan salam ke kiri dan ke kanan. Artinya, kita diminta selalu menyebar perdamaian. Kepada siapapun, termasuk bagi mereka yang berbeda agama,” tandas Moqsith.

Menurut salah seorang panitia, Alamsyah M Ja’far, festival tersebut juga diramaikan sejumlah kegiatan. Mulai perlombaan menggambar untuk anak-anak, tasyakuran usaha cuci pakaian Koperasi Cinta Damai, pemberian modal usaha Rp 30 juta untuk anggota, hingga pembacaan deklarasi damai.

“Di lapangan pelosok kampung ini mereka berikrar sembari ngobrol soal toleransi dan kerukunan. Mereka bergembira bersama. Mereka juga membawa serta balita dan anak-anak, sebagian ikut lomba menggambar,” ujar Alam.

Disinggung soal KCD yang diinisiasi TWI ini, Alam menuturkan bahwa koperasi ini memiliki ‘Deklarasi Perempuan Cinta Damai’ yang biasa dibacakan dalam pertemuan rutin anggota. Isinya komitmen untuk hidup dalam cinta dengan segenap lapisan masyarakat dari berbagai suku, agama, dan keyakinan. “Mereka berjanji untuk menjadikan masa depan keluarga sebagai komitmen dan pendidikan anak sebagai ikhtiar bersama,” tandasnya.

Hingga tahun 2015, anggota KCD mencapai 1200 orang dari kalangan ibu rumah tangga. Mereka tersebar di sejumlah titik di Depok dan Parung, Bogor. Usaha yang dilakukan berupa koperasi simpan pinjam. Sebagian kelompok kini tengah mengembangkan sejumlah usaha, antara lain bergerak di kuliner dan kerajinan tangan. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Warta PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 02 Desember 2013

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Yogyakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tahun 2017 ini Yogyakarta menjadi tempat bertarungnya sekitar 2000 siswa madrasah dengan level prestasi tingkat nasional dan internasional.

Mereka berkompetisi di ajang Ajang Kreasi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 pada 7-12 Agustus 2017.

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Kompetisi dipusatkan di dua tempat yaitu Stadion Mandala Krida dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Siswa Madrasah dari semua jenjang ini memperebutkan supremasi tertinggi di antara para siswa madrasah seluruh Indonesia.

Pembukaan kegiatan Aksioma-KSM 2017 ini dipusatkan di Stadion Mandala Krida, Senin (7/8) malam. Berbagai penampilan seni dan budaya disuguhkan dengan baik oleh siswa dari sejumlah siswa di Yogyakarta, salah satunya dari MAN 2 Yogyakarta.

Lengkap dengan busana ala Keraton, mereka menampilkan karnaval budaya dengan pergerakan lincah menelusuri salah satu sudut stadion Mandala Krida.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ribuan siswa berprestasi dari 34 Provinsi itu siap berkompetisi secara sportif. Mereka bangga memilih madrasah sebagai tempat menempuh ilmu dan akhlak.

"Saya bangga menjadi bagian dari siswa madrasah. Saya sangat siap berkompetisi dengan siswa-siswi lain dari seluruh Indonesia," ujar Kholida Nailul Muna, siswa MAN 3 Bantul, DIY juara ajang matematika internasional di Vietnam pada Juli 2017 lalu.

Senada dengan Kholida, Satria Widyanto yang merupakan siswa Madrasah Muallimin Yogyakarta juga siap mempertahankan emas yang dia peroleh dalam ajang KSM di Pontianak.

"Saya meraih emas di KSM Pontianak, saya siap menghadapi teman-teman dari seluruh Indonesia. Saya bangga madrasah," ujarnya mengucapkan rasa antusiasmenya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Seluruh kontingen yang mengisi penuh setiap tribun stadion menyambut penuh gembira dan semangat untuk menghadapi ajang sains ini.

Selain 2000 kontingen, Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh provinsi juga mengirimkan sekitar 10.000 pendamping yang terdiri dari guru, pelatih, Kepala Kanwil, dan para kepala bidang.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba, Hadits, Warta PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 29 November 2013

Menyibak Kekerasan Berkedok Agama

Judul Buku : Agama dan Kekerasan dalam Transisi Demokrasi di Indonesia

Penulis : Haqqul Yaqin

Penerbit : eLSAQ Press, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Agustus 2009

Menyibak Kekerasan Berkedok Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyibak Kekerasan Berkedok Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyibak Kekerasan Berkedok Agama

Tebal : vii + 196 halaman

Harga : Rp 29.000,-

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Peresensi : Supriyadi*


Ledakan bom di Mega Kuningan yang meluluhlantahkan hotel berbintang JW Marriott dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu, sangat menyedot perhatian publik. Sorotan terhadap aksi terorisme pun tidak dapat disangkal lagi. Dan memang terbukti hal itu adalah aksi dari pada terorisme. Opini publik pun mengarah kepada para radikalis Islam yang mana mempunyai jaringan teroris. Noordin M Top sebagai teroris nomor satu di Indonesia, menjadi dalang dari peristiwa-peristiwa terorisme yang selama ini terjadi di Indonesia. Islam sebagai agama diaku oleh para teroris sebagai legitimasi pembenaran aksi terorisme mereka. Tidak aneh jika Islam kini menjadi sorotan.

Haqqul Yaqin dalam bukunya yang berjudul “Agama dan Kekerasan dalam Transisi Demokrasi di Indonesia” menyangkal bahwa agama dijadikan sebagai legitimasi atas kekerasan seperti pembenar aksi terorisme. Misi agama adalah sebagai media perdamaian umat, bukan pembenar atas tindakan kekerasan. Hal itu berlaku bagi seluruh agama bahwa agama tidak mengajarkan kekerasan.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Peristiwa terorisme di dua hotel berbintang, yakni JW Marriott dan Ritz Carlton tersebut sangat menyudutkan agama terutama Islam sebagai pembenar adanya aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan para teroris tersebut mengatasnamakan agama (Islam) sebagai landasan dan argumen mereka. Padahal, hal itu tidaklah benar.

Akibatnya, dengan ketat setiap gerakan Islam kini diawasi segala tindakannya. Terutama lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren yang mana disinyalir mengajarkan pendidikan kekerasan kepada para santrinya. Hal itu sangat memprihatinkan, Islam yang dalam sejarahnya datang ke Indonesia secara damai dan toleransi terhadap tradisi lokal, kini menjadi obyek yang seolah-olah disalahkan.

Ajaran Kekerasan

Kekerasan adalah suatu aksi yang mana mengakibatkan kerugian pada pihak lain. Kekerasan lahir dari sikap amoral brutal. Tidak ada pembenaran atas amoralitas yang mana menjadi dasar dari pada kekerasan. Sementara itu, agama bersifat sakral yang mana sangat menjunjung dan mengedepankan perdamaian. Dengan demikian, agama mustahil mengajarkan kekerasan. Akan tetapi, sebagian umat beragama seringkali mengatasnamakan agama atas aksi kekerasannya sebagai legitimasinya.

Semua agama menolak kekerasan sebagai prinsip dalam melakukan suatu tindakan. Pada dasarnya kekerasan adalah prinsip yang bersifat amoral karena kekerasan selalu mengandaikan pemaksaan kehendak terhadap pihak lain yang berarti pelanggaran terhadap asas kebebasan dalam interaksi sosial. Karena itu, setiap tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama merupakan suatu sikap oxymoron (hal. 2).

Kekerasan yang mengatasnamakan agama pada dasarnya tidak ada pembenarannya. Barangkali, pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama berangkat dari penafsiran teks-teks kitab suci. Kitab suci merupakan pedoman bagi umat beragama karena dalam kitab suci tersebut mengandung ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin.

Hanya saja, penafsiran antara seorang dengan orang yang lain tidaklah berakhir pada hasil yang sama. Penafsiran terhadap kitab suci terkadang disesuaikan dengan kultur, karakter manusia, kekuatan berpikir, politik, rasionalitas, dan pemahaman yang berbeda pada masing-masing mufassir (penafsir). Hal itu juga terjadi pada ayat-ayat yang melandasi aksi kekerasan yang mana ditafsirkan oleh mufassir sebagai argumen legitimasi atas aksi kekerasan tersebut.

Hal itu tidaklah benar adanya, meski bersumber dari teks kitab suci, akan tetapi akhirnya adalah terletak pada si mufassir itu. Jika mufassir itu menafsirkan demikian, maka itulah yang dianut sehingga melahirkan suatu implementasi dan pengamalan ajaran dari kitab suci. Namun jika dilihat dari sisi esensial agama, hal itu tentunya sangat kontradiktif mengingat agama pada dasarnya adalah misionaris perdamaian untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Jadi mufassir yang menafsirkan ayat dari kitab suci sebagai landasan kekerasan adalah salah menafsirkan.

Agama dan kekerasan adalah dua persoalan yang saling menegasikan dan tidak mungkin dikonvergensikan dalam satu bentuk pemahaman yang utuh. Agama mengakui kekerasan sebagai perumpamaan dari realitas dunia yang tidak ideal, sarat dengan hawa nafsu dan keberdosaan. Karena itu kekerasan yang secara konstitutif inheren dalam agama justru diarahkan untuk menegasikan realisasi praktik-praktik kekerasan itu sendiri. Kekerasan dalam agama adalah hukuman yang dikenakan untuk anggota komunitas umat yang terbukti tidak mematuhi perintah Tuhan sebagaimana terdapat dalam ajaran agama (hal. 43).

Keterkaitannya dengan fenomena pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu, pelaku dari pengeboman tersebut adalah teroris yang mengatasnamakan agama (Islam) dalam aksinya. Islam kemudian dijadikan sebagai kambing hitam atas sakralitas aksi terorisme yang dianggap sebagai jihad. Hal itu mengakibatkan citra Islam menjadi buruk di mata dunia. Dunia (terutama orang-orang Barat) mengklaim Islam sebagai agama teroris, yakni pembenar aksi-aksi terorisme. Padahal, Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang berarti rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Akan tetapi, makna tersebut menjadi terbalik menjadi ancaman (kekerasan) bagi seluruh alam, karena aksi para teroris tersebut.

Dengan membaca buku yang berjudul “Agama dan Kekerasan dalam Transisi Demokrasi di Indonesia”, para pembaca diajak untuk menyelami makna agama secara orisinil beserta ajarannya yang tidak mengajarkan kekerasan. Buku tersebut layak dipublikasikan dengan tujuan untuk menepis anggapan bahwa aksi terorisme atau kekerasan itu diajarkan oleh agama (Islam). Dengan demikian, umat beragama harus menyadari makna agama secara total sehingga doktrin kekerasan berkedok agama mampu ditepis.

*) Peresensi adalah pustakawan yang aktif pada Cholishiyyah Community, UIN Sunan Kalijaga dan Kelompok Diskusi Granat (GDC), Yogyakarta.Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 26 November 2013

Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Besar Nadlaltul Ulama (PBNU) menerbitkan “Deklarasi Nahdlatul Ulama” dalam International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, yang dihelat sejak Senin (9/5).

Deklarasi tersebut dibacakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Selasa (10/9) sore, di hadapan para ulama dari berbagai negara. Naskah deklarasi dirumuskan setelah PBNU menggelar pertemuan terbatas dengan para ulama itu pada siang harinya.

Berikut naskah lengkah “Deklarasi Nahdlatul Ulama” di ujung forum internasional yang mengusung tema “Islam Nusantara, Inspirasi untuk Peradaban Dunia” ini:

Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia

Deklarasi Nahdlatul Ulama?

? ? ? ?

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

? ? ? ? ?

? (?: 107)

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? (?: 70)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra`: 70)

? ? ? ? ? ? ?

(?:78)

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (QS. Al-Hajj: 78)

? ? ? ? ?

(? ?)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(? ?)

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(? ?)

“Seorang muslim sejatinya adalah orang yang seluruh manusia selamat dari lisan dan tangannya. Sedang seorang mukmin adalah orang yang mendatangkan rasa aman kepada orang lain dalam darah dan hartanya” (HR. An-Nasai)

? ? ? ? ? ? ? (? ?)

“Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam semua urusan” (Muttafaq ‘Alaih)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? 1379? ? 10? ?. 440)

“Ibnu Baththal berkata: ‘Hadits ini mengandung anjuran kuat untuk bersikap penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, baik mukmin maupun kafir, binatang piaraan maupun binatang liar, dan termasuk juga di dalamnya adalah komitmen untuk memberikan bantuan makanan dan minuman (kepada yang membutuhkan), meringankan beban, dan menghindari berbuat kekerasan terhadap seluruh makhluk” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz, XI, h. 440)?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? (? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?)

“Telah dimaklumi bahwa manusia niscaya bermasyarakat, bercampur dengan yang lain; sebab tak mungkin seorang pun mampu sendirian memenuhi segala kebutuhan--kebutuhannya. Maka mau tidak mau ia harus bermasyarakat dalam cara yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak ancaman bahaya dari padanya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu dalam memperjuangkan kepentingan bersama dan kebersamaan dalam satu kata adalah sumber paling penting bagi kebahagiaan dan faktor paling kuat bagi terciptanya persaudaraan dan kasih sayang. Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh” (Rais Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi)

Nahdlatul Ulama telah merampungkan munaadharah dalam “International Summit of Moderate Islamic Leaders” (Isomil), “Muktamar Internasional Para Pemimpin Islam Moderat”, yang diselenggarakan pada tanggal 9-11 Mei di Jakarta, Indonesia. Setelah berkonsultasi dan berdikusi secara ekstensif bersama banyak ahli dari berbagai bidang yang ikut serta dalam Muktamar ini, Nahdlatul Ulama berbulat hati menyiarkan “Deklarasi Nahdlatul Ulama” sebagai berikut:?

1. Nahdlatul Ulama menawarkan wawasan dan pengalaman Islam Nusantara kepada dunia sebagai paradigma Islam yang layak diteladani, bahwa agama menyumbang kepada peradaban dengan menghargai budaya yang telah ada serta mengedepankan harmoni dan perdamaian.

2. Nahdlatul Ulama tidak bermaksud untuk mengekspor Islam Nusantara ke kawasan lain di dunia, tapi sekadar mengajak komunitas-komunitas Muslim lainnya untuk mengingat kembali keindahan dan kedinamisan yang terbit dari pertemuan sejarah antara semangat dan ajaran-ajaran Islam dengan realitas budaya-budaya lokal di seantero dunia, yang telah melahirkan beragam peradaban-peradaban besar, sebagaimana di Nusantara.?

3. Islam Nusantara bukanlah agama atau madzhab baru melainkan sekadar pengejawantahan Islam yang secara alami berkembang di tengah budaya Nusantara dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam sebagaimana dipahami, diajarkan dan diamalkan oleh kaum Ahlussunnah wal Jama’ah di seluruh dunia.?

4. Dalam cara pandang Islam Nusantara, tidak ada pertentangan antara agama dan kebangsaan. Hubbul watan minal iman: “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Barangsiapa tidak memiliki kebangsaan, tidak akan memiliki tanah air. Barangsiapa tidak memiliki tanah air, tidak akan punya sejarah.

5. Dalam cara pandang Islam Nusantara, Islam tidak menggalang pemeluk-pemeluknya untuk menaklukkan dunia, tapi mendorong untuk terus-menerus berupaya menyempurnakan akhlaqul karimah, karena hanya dengan cara itulah Islam dapat sungguh-sungguh mewujud sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).

6. Islam Nusantara secara teguh mengikuti dan menghidupkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam yang mendasar, termasuk tawassuth (jalan tengah, yaitu jalan moderat), tawaazun (keseimbangan; harmoni), tasaamuh (kelemah-lembutan dan kasih-sayang, bukan kekerasan dan pemaksaan) dan i‘tidaal (keadilan).

7. Sebagai organisasi Ahlussunnah wal Jama’ah terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama berbagi keprihatinan yang dirasakan oleh sebagian besar warga Muslim dan non-Muslim di seluruh dunia, tentang merajalelanya ekstremisme agama, teror, konflik di Timur Tengah dan gelombang pasang Islamofobia di Barat.?

8. Nahdlatul Ulama menilai bahwa model-model tertentu dalam penafsiran Islamlah yang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap penyebaran ekstremisme agama di kalangan umat Islam.

9. Selama beberapa dekade ini, berbagai pemerintah negara di Timur Tengah telah mengeksploitasi perbedaan-perbedaan keagamaan dan sejarah permusuhan di antara aliran-aliran yang ada, tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya terhadap kemanusiaan secara luas. Dengan cara mengembuskan perbedaan-perbedaan sektarian, negara-negara tersebut memburu soft power (pengaruh opini) dan hard power (pengaruh politik, ekonomi serta militer) dan mengekspor konflik mereka ke seluruh dunia. Propaganda-propaganda sektarian tersebut dengan sengaja memupuk ekstremisme agama dan mendorong penyebaran terorisme ke seluruh dunia.?

10. Penyebaran ektremisme agama dan terorisme ini secara langsung berperan menciptakan gelombang pasang Islamofobia di kalangan non-Muslim.

11. Pemerintahan negara-negara tertentu di Timur Tengah mendasarkan legitimasi politiknya diambil justru dari tafsir-tafsir keagamaan yang mendasari dan menggerakkan ekstremisme agama dan teror. Ancaman ekstremisme agama dan teror dapat diatasi hanya jika pemerintahan-pemerintahan tersebut bersedia membuka diri dan membangun sumber-sumber alternatif bagi legitimasi politik mereka.?

12. Nahdlatul Ulama siap membantu dalam upaya ini.

13. Realitas ketidakadilan ekonomi dan politik serta kemiskinan massal di dunia Islam turut menyumbang pula terhadap berkembangnya ekstremisme agama dan terorisme. Realitas tersebut senantiasa dijadikan bahan propaganda ekstremisme dan terorisme, sebagai bagian dari alasan keberadaannya dan untuk memperkuat ilusi masa depan yang dijanjikannya. Maka masalah ketidakadilan dan kemiskinan ini tak dapat dipisahkan pula dari masalah ektremisme dan terorisme.?

14. Walaupun maraknya konflik yang meminta korban tak terhitung jumlahnya di Timur Tengah seolah-olah tak dapat diselesaikan, kita tidak boleh memunggungi masalah ataupun berlepas diri dari mereka yang menjadi korban. Nahdlatul Ulama mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dan konstruktif dalam mencari jalan keluar bagi konflik multi-faset yang merajalela di Timur Tengah.

15. Nahdlatul Ulama menyeru siapa saja yang memiliki iktikad baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam upaya membangun konsensus global untuk tidak mempolitisasi Islam, dan memarjinalkan mereka yang hendak mengeksploitasi Islam sedemikian rupa untuk menyakiti sesama.

16. Nahdlatul Ulama akan berjuang untuk mengonsolidasikan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sedunia demi memperjuangkan terwujudnya dunia di mana Islam dan kaum Muslimin sungguh-sungguh menjadi pembawa kebaikan dan berkontribusi bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.?

Jakarta, 10 Mei 2016

? ? ? ? ? ? ? ? Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, MA? ? ? ? ? ? ? ? Dr. Ir. Helmi Faisal Zaini

Ketua Umum? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Sekretaris Jenderal

Dr. K.H. Ma’ruf Amin? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? K.H. Yahya Cholil Staquf?

Rais ‘Aam? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Katib ‘Aam

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 20 November 2013

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Cirebon, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat melalui Lembaga TaMir Masjid NU (LTMNU) tengah mengembangkan radio FM sebagai media dakwah.?

Hal ini tampak ketika Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengunjungi studio radio Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al Biruni di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (6/1). Radio ini cukup lama pasif hingga akhirnya bekerjasama dengan PWNU Jabar.

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

"Ini radio swasta yang kurang bisa mengembangkan kreativitas. Kita coba dorong untuk bisa aktif kembali bersama NU Jawa Barat," kata Ketua LTMNU Jabar HM Syaifullah Amin.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syaifullah menargetkan, bulan depan radio siap mengudara dan bisa diakses oleh seluruh penduduk di kawasan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Ditambahkan, pengembangan radio dimaksudkan untuk memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Rencananya, radio ini akan diisi sejumlah kegiatan, seperti pengajian, dialog interaktif, pemberitaan, dan lain-lain.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani yang juga meninjau studio radio mendukung penuh lahirnya radio berbasis NU di Cirebon. Ia berharap, prestasi ini dapat ditingkatkan dan menjadi percontohan bagi pengurus LTMNU lain di seluruh Indonesia.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Khutbah, RMI NU PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah